MAHIRA

MAHIRA
bab 28 | Rujak dan perasaan sore hari



Setelah seminggu telah menjalankan try out dilanjutkan dengan simulasi para siswa kelas 12 melepas sedikit nafas lega akan beban mereka yang sedikit berkurang.


Membuat 12 IPA 2 pulang simulasi langsung berkumpul di kelas karna selama menjalankan try out dan simulasi mereka tidak pernah ada waktu untuk berkumpul bersama.


Debi, Mahira, Nino dan Beben yang paling akhir datang ke kelas itu langsung merenggut karna ditinggal begitu saja oleh mereka.


Mereka berempat memang keluar paling akhir karna Nino ketahuan bertanya pada Mahira membuat keempat orang itu terpaksa menjalani tes lisan singkat sebagai hukuman.


Saat tiba Beben yang akan mendapat giliran tes, dengan bodohnya pemuda itu bernyanyi lagu Rossa membuat ketiga temannya serta guru pengawas ruangan mereka ternganga begitu saja.


"Tes lisan kan bu? Ini saya nyanyi termasuk lisan kan?" jawab pemuda itu polos.


Membuat Mahira yang disebelah cowo itu hampir mengumpat. Lalu tanpa peringatan tas Debi melayang begitu saja ke wajah pemuda itu lalu jatuh dengan alaynya.


Satu kelas tertawa ngakak saat Debi menceritakan kejadian itu lalu dengan bodohnya Beben memeragakan kembali nyanyian saat ia tes lisan tadi.


Keyna, Reva dan Sean memasuki kelas dengan kantong kresek merah ditangan mereka, membuat yang lain langsung menyerbu tiga orang itu.


"Makan makaaann!!" sorak Abel bertepuk tangan.


"Kepala suku tumben baik amat dah, kita dibeliin jajan." sahut Hana sudah kesenangan.


"Woi Yan sini sini ke sini," ucap Adilla memberi arahan agar mereka bertiga ke depan.


Tepat saat ketiga orang itu menaruh kantong plastik yang mereka bawa membuat yang lain kompak maju membuka isinya.


Mereka bersorak riang saat mendapati kantong plastik itu berisik rujak. Makanan kebanggaan 12 IPA 2.


Membuat murid perempuan menyusun kertas nasi memanjang lalu ditaruh buah buahan dan sambal rujak disampingnya.


Setelah selesai mereka duduk dan bersiap berdoa dengan Sean yang memimpin, setelah selesai mereka semua langsung menyerbu rujak itu memakannya sambil tertawa tawa riang.


Mahira yang biasanya jarang sekali tertawa kini sudah tertawa lepas melihat Aziz dan Edo rebutan biji buah mangga yang masih tersisa daging buahnya yang enak jika di gerogoti, membuat mereka sampai dorong dorongan. Yang berakhir dengan biji buah itu jatuh begitu saja.


Amel yang melihat biji buah itu sudah jatuh dengan tanpa dosa menendangnya sampai ke luar kelas membuat kedua cowo itu makin ternganga.


"Sini lo gue gulingin dari puncak semeru!" seru Aziz murka dan mengejar gadis itu mengelilingi kelas.


Debi yang melihat mereka berlari larian saling mengejar tidak diam saja, langsung bangkit dari duduknya lalu ikut berlari mengikuti dua orang itu, membuat Beben yang tidak sengaja tersenggol kuncirannya oleh Debi sontak ikut bangkit dan ikut berlari juga.


Membuat mereka berempat kini dengan tidak jelasnya sudah saling mengejar satu sama lain. Membuat kelas itu heboh begitu saja.


Mereka berempat terengah engah dengan napas tidak karuan akibat berlari tadi membuat Nino yang melihat itu menyeletuk santai, "Udah jadi orang gilanya?"


Membuat Aziz yang ingin meluruskan kaki kembali bangkit dan maju menyerang cowo blasteran itu.


☄️☄️☄️


Sore kali ini begitu menyenangkan bagi gadis manis dengan kuncir kuda di kepalanya. Ia tersenyum memperhatikan teman temannya bermain kasti dilapangan sekolah dengan riang.


Mahira tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, seperti merasa dejavu saat dulu masih kecil, saat dimana bermain dengan teman teman adalah hal paling menyenangkan.


Gadis itu duduk dibangku panjang lapangan dengan Debi disebelahnya menemani gadis itu, tadi ada Hana dan Amel di sebelahnya tapi kedua gadis itu pamit sebentar untuk ke kantin.


Suara Keyna yang melengking itu membuat Mahira memperhatikan gadis asal Yogyakarta itu yang sekarang sudah mencak mencak ke arah Nino.


Membuat Mahira tersenyum kecil. Sudah lama ia tidak pernah merasakan seperti ini, perasaan dimana ia diterima dan dianggap.


Debi menyenggol lengan Mahira pelan membuat gadis itu menoleh masih sambil tersenyum tipis.


"Kenapa sih Ra dari tau gue perhatiin lo senyum senyum aja" ucap Debi.


"Seneng, bisa ngerasain rasanya dianggap." jawab Mahira sendu.


Debi tersenyum lalu merangkul Mahira sambil menunjuk teman temannya yang lain.


"Masa akhir sekolah itu menyenangkan Ra, makanya Tuhan kirim orang orang idiot kaya mereka untuk temenin lo di akhir masa sekolah."


"Percaya sama gue, beberapa tahun yang akan datang lo bakal kangen sama masa masa ini, masa dimana kebebasan adalah suatu hal wajib bagi seorang pelajar." tutur Debi lalu tersenyum lebar.


Debi sedikit tersentak akan pertanyaan tiba tiba itu, walau terkesan sederhana tapi rasanya ada hal lain.


"Pernah, kenapa?" jawab Debi.


"Gapapa, rasanya bahagia ya?" ucap Mahira.


Debi menahan nafas sebentar berusaha menguatkan diri, perlahan melepaskan rangkulannya.


"Bahagia." jawab gadis itu berusaha tenang.


"Gue boleh tanya?" ucap Mahira sedikit ragu.


"Boleh lahh kaya siapa aja sih lo" jawab Debi.


Mahira menipiskan bibir agak ragu sebenarnya untuk bertanya karna ini menyangkut sedikit privasi gadis itu.


"Waktu gue main ke rumah lo, engga sengaja pas mau ngambil novel horror ada foto polaroid jatuh," ungkap Mahira.


"Gue liat lo foto berdua sama cowo entah siapa gue gatau Bi, tapi gue cuma mau nanya maksud kalimat lo di belakang foto itu apa kalo boleh tau?"


"Ada panggilan ra disana dan bukan gue kan pastinya?" tanya Mahira menoleh.


Debi benar benar terdiam dengan pertanyaan yang diajukan Mahira padanya, seperti ada yang mengikat lehernya membuatnya tidak bisa berbicara.


Sampai Mahira disebelahnya melambai lambaikan tangan di depan wajahnya membuat gadis itu makin linglung.


"Lo kenapa bengong?" tanya Mahira heran.


"Hah? Sorry sorry" jawab Debi lalu tertawa sendiri.


"Itu masa lalu gue, gue.. jadian sama dia tiga tahun yang lalu tepatnya saat kenaikan kelas 9." ucap Debi pelan sambil menghadap ke arah depan.


"Gue... putus sama dia karna dia pindah ke luar kota, awalnya gue ngerasa gue bakal baik baik aja dengan hubungan jarak jauh, tapi ternyata gue ga sanggup dan gue milih untuk selesai sama dia." jujur Debi sedikit bergetar.


Mahira menoleh melihat mata gadis itu berkaca kaca tapi berusaha gadis itu tahan sekuat mungkin.


"Lo masih sayang banget ya sama dia?" tanya Mahira sedikit ragu.


Debi kali ini diam tidak langsung menjawab lalu tak lama setetes air mata itu terjatuh dari matanya membuat Mahira menatap gadis ini.


Hening. Mahira tidak bertanya lagi karna merasa bersalah karna mungkin sedikit membuat gadis itu mengingat kenangannya.


Tak lama suara Debi terdengar, "Kalimat yang lo baca dibelakang foto itu..."


Mahira mengangkat sedikit alis penasaran, tapi tidak bertanya lebih jelas.


"Ra itu... bu- ANJRIT!" ucapan Debi terpotong begitu saja saat sebuah bola kasti menimpuk kepalanya.


Mahira yang disebelah gadis itu juga terkejut saat gadis disebelahnya berteriak tiba tiba.


"Woyy Deb! siniin bolanya!" teriak Nino dari lapangan.


"Deb?! Bolanya gapapa kan??" teriak Edo tanpa dosa.


Debi melotot di tempat bisa bisanya mereka menanyakan bola itu bukan kepalanya.


Gadis itu bangkit lalu berlari ke lapangan begitu saja, mengejar dua orang pemuda itu sambil membawa sapu lidi ditangannya.


Bersiap bertempur dengan dua manusia bodoh itu.


Mahira ditempatnya ternganga tidak habis pikir dengan kelakuan gadis itu.


Hana dan Amel yang datang tiba tiba lalu duduk di samping kanan kirinya membuatnya terapit oleh dua gadis ini.


Lalu dengan rusuh saling berdebat sambil menunjuk satu sama lain, membuat Mahira yang berada di tengah tengah bingung sendiri melihat dua gadis ini datang datang sudah ribut.


Mahira menghela nafas pelan, dalam hati benar benar penasaran maksud kalimat di foto itu.