
5 orang itu kini benar benar manjalankan misinya, misi menjinakkan ratu serigala begitu kata Beben. Adilla memberi kode ke Hana yang berdiri di depan pintu kelas. Hana mengangguk lalu berikutnya..
"KAASIHHH KUUU SAMPAII DISINIII KISAH KITAA JANGAN TANGISI KEADAANNYAAA BUKAN KARNAA KITA BERRBEDAAAA"
Debi yang mendengar Adilla menyanyi tiba tiba itu mengumpat walau ia sudah mengerti rencananya, tapi tetap saja ia terlonjak.
Lalu berikutnya Beben menyusul, dengan Nino ikut mengambil sapu menjadikannya sebagai gitar. Lalu ia melirik, Hana sudah menutup pintu kelas lalu bersender disana dengan sengaja.
Debi berdehem kecil menyadari kini anak anak kelasnya sudah larut dengan nyanyian, ia menoleh melihat Mahira masih khusyuk membaca buku seakan tidak terganggu dengan sekitarnya.
"Ra" panggil Debi.
Mahira diam saja, gadis itu kini mulai menulis. "Sibuk ya?" tanya gadis itu.
"Ra, jalan yuk. Udah lama ga jalan sama lo" ajak Debi riang.
"Ah, tapi lo belajar terus. Gue yakin kok lo pasti keterima jalur undangan," Mahira melirik tapi ia diam saja.
"Emm, gue tau lo gamau denger ini, tapi lo dengerin aja ya. Foto polaroid waktu itu, elo Ra. Panggilan ra itu untuk lo."
"Gue gatau mau jujur sama lo dengan cara apa, sejak Damar pindah ke sini gue tau, lo bakal tau semuanya cepat atau lambat."
"Gue salah. Gue tau dengan sembunyiin ini dari lo, semua bakal rumit kaya gini," Debi menarik nafas menghembuskan pelan "Damar sayang sama lo Ra. Dihatinya udah ga ada nama Debi, tapi Mahira."
Mahira berhenti menulis, gadis itu mengalihkan wajah memperhatikan kelasnya yang sudah tenggelam dengan suara nyanyian.
"Lo ga perlu cape cape jelasin, karna gue udah ga peduli." sahut Mahira dingin.
Debi memainkan kukunya dengan wajah sendu, "Jangan kaya gini Ra, gue gamau masa masa akhir SMA gue diisi dengan kenangan pahit sama lo. Gue mau kita sahabatan kaya dulu lagi." pinta Debi pelan.
"Semua udah berubah saat gue tau kalian bohongin gue," ucap Mahira datar lalu kembali melanjutkan "Lo temen gue. Tapi gue ga bisa kaya dulu lagi." putus gadis itu.
Debi merapatkan bibir, terhenyak dengan mata kembali menghangat.
☄☄☄
Sore itu hujan. Mahira duduk di tepi lapangan sekolahnya yang sudah sepi karna jam pulang sekolah sudah dari tadi. Gadis itu melamun.
Lalu sayup sayup terdengar suara kucing di telinganya, ia menengok kanan kiri lalu tak lama pandangannya jatuh ke seberang lapangan dimana seekor kucing mencoba berlindung di bawah dahan menghindari cipratan air.
Ia mendesah pelan, mengambil cardigan di tas lalu mulai berjalan menyebrangi lapangan tanpa peduli tubuhnya akan basah. Ia mengambil kucing itu, membungkusnya dengan cardigan lalu kembali berlari ke koridor tempat ia duduk tadi. Meletakkan kucing itu disana dan mengusapnya dengan cardigan agar tidak terlalu basah.
"Hidup kamu enak, bisa ngelakuin apapun tanpa harus mikir apa resikonya." ucap Mahira tersenyum tipis sambil mengelus kepala kucing tersebut.
Ia lalu meraih ransel bersiap pulang walau hujan belum juga reda, toh ia juga sudah basah kuyup. Saat akan melewati gerbang, deruman suara motor terdengar membuat nya melirik motor itu berhenti di depannya.
Pengendara itu membuka helm, Mahira tersentak ketika matanya bertubrukan dengan mata teduh itu.
"Naik Ra, gue anter" ucapnya.
Mahira bergeming ditempatnya menatap lurus Damar yang kini juga menatapnya balik. Mahira melanjutkan langkah sampai Damar menahan tangannya membuat Mahira menoleh.
"Hujan Ra. Lo bisa sakit" ucap Damar.
Mahira menatap pemuda itu, "Kenapa?" Damar mengangkat alis tidak mengerti.
"Udah terlanjur, gue udah sakit." Damar menatap dalam gadis itu, menarik nafas lalu meraih tangan gadis itu kembali.
"Ayo naik."
☄☄☄
Motor hitam besar itu berhenti didepan rumah mewah bercat putih itu. Hujan sudah berhenti tapi keduanya sudah terlanjur basah kuyup.
"Thanks, mampir?" tanya Mahira pelan.
"Ra" panggilan itu membuatnya berhenti.
"Gue harus apa supaya lo maafin?" Mahira berbalik badan, mengepalkan tangan menguatkan diri.
Damar turun dari motor lalu berdiri tepat didepannya, "Gue brengsek banget Ra, nyakitin cewe kaya lo."
"Bahkan kalo gue bisa muter waktu, gue gamau ketemu sama lo Ra" Mahira tersentak menatap pemuda ini.
"Biar gue ga pernah nyakitin lo. Biar gue ga pernah buat lo nangis." Mahira mengalihkan wajah bertepatan dengan hujan yang kembali turun.
"Gue udah bilang jangan jatuh cinta sama gue" sahut Mahira dingin.
"Gue ga peduli alasan apapun yang ngebuat lo larang gue untuk jatuh cinta sama lo Ra, gue ga peduli." bantah Damar tegas.
"Sejak kali pertama ngeliat lo, gue tau gue harus melangkah kemana."
"Ke jurang?" tanya Mahira sarkas. Menolehkan kepala menatap Damar dingin.
"Ke tempat dimana lo buat sakit diri lo sendiri Mar."
Damar menggeleng, menatap Mahira lekat. Kedua manusia itu kini berdiri berhadapan dibawah hujan yang semakin deras.
"Gue udah terlanjur jatuh untuk kembali percaya" ucap Mahira pelan, bulir air itu turun dari matanya. Setidaknya Mahira bersyukur karna hujan bisa menyamarkan air matanya.
Damar mengalihkan wajah, menggigit bibir bagian dalam merasa terluka kembali. Ia mengusap rambutnya kebelakang mencoba menjernihkan pikiran.
"Kenapa lo kaya gini Ra?" tanya pemuda itu.
Mahira menatap wajah manis pemuda itu, "Kenapa rasanya lo terlalu fiksi untuk gue gapai?"
"Emang apa yang mau lo harapin dari seorang anak yang bahkan ga pernah diinginkan?" jawab Mahira telak.
Damar tercekat, mencoba menatap manik mata gadis didepannya yang kini mengalihkan wajah.
"Ra..."
"Kenapa? Gue udah bilang, gue udah hancur dari dulu, Mar."
Damar mencoba tersenyum dibawah hujan, lalu memberanikan diri memegang bahu gadis itu, "Lo cewe kuat."
"Lo perempuan pertama yang gue tau sekuat ini." ujar Damar.
Mahira menolehkan wajah menatap Damar, tanpa bisa ia tahan air matanya kembali turun.
"Lo perempuan sempura, Mahira Hashinta." ucap Damar dengan intonasi dalam.
Seakan ada yang memanah jantungnya tepat membuatnya merasa terluka saat mendengar kalimat itu.
"Gue benci sama lo Damar, gue harap lo pergi dari kehidupan gue." lirih Mahira kini tak dapat menahan air matanya yang mengalir.
Damar tanpa kata memeluk gadis itu, menyalurkan perasaan yang tidak pernah bisa ia sampaikan. Mengusap rambut panjang gadis itu yang kini terisak di dada bidangnya.
"Gue bakal selalu jadi orang yang pertama untuk lo Ra. Untuk hidup lo." ucap Damar mengeratkan pelukannya.
Mahira memejamkan mata rapat, menahan sesak yang kembali datang dengan kenyataan menyakitkan. Ia hanya bisa menangis dengan suara tangisan lirih seakan meminta semesta untuk menyudahi semuanya.
Menyudahi semua hal yang memaksanya untuk terlihat kuat.
Dibawah hujan yang mengguyur bumi itu menjadi saksi bisu bahwa mereka, dua manusia yang saling mencintai tapi dipaksa menyakiti satu sama lain.
Di titik ini Mahira paham bahwa hujan yang selalu ia tunggu tunggu agar bisa berada dibawahnya untuk membuang segala resah dan berganti menjadi kebahagiaan, tidak lebih dari hujan yang menghantarkan luka menyakitkan untuknya.