MAHIRA

MAHIRA
bab 1 | Awal



"Mah, Ira berangkat dulu" ucap perempuan yang sedang membenarkan ransel di pundaknya. "Iya hati hati" jawab sang mama yang sedang mengetik di laptop dengan singkat tanpa menoleh ke arahnya.


Tanpa kata kata yang biasa seorang ibu katakan untuk anaknya sebelum berangkat ke sekolah, tanpa kecupan di kening, tanpa lambaian tangan. Perempuan itu hanya tersenyum miris bergumam dalam hati 'sudah biasa.'


Namanya Mahira Hashinta gadis pendiam yang seringkali tertutup oleh lingkungannya sendiri sifatnya yang tidak bisa jujur tentang apa yang dia rasakan membuatnya diam saja jika ada orang yang mengejek atau mencibirnya. Serta garis wajahnya yang dingin menambah penilaian orang lain terhadap dirinya sebagai seorang introvert.


Untuk sampai sekolah biasanya ia berjalan kaki sampai depan gerbang perumahan lalu dilanjutkan menaiki angkutan kota, seperti biasa sambil berjalan ia memutar kembali hal hal yang pernah dilaluinya sejak kecil dari yang tidak pernah dianggap, dikucilkan, dimusuhi satu kelas sewaktu sd bahkan sampai sekarang pun ia masih mengalami hal hal itu walau tidak separah dulu 'katanya setiap orang berhak bahagia tapi kenapa susah banget untuk gue bahagia walau sebentar?' gumamnya lirih dalam hati.


Perumahan yang Mahira tempati tampak damai di jam segini ditambah dengan aroma tanah sehabis hujan membuat dirinya semakin merasa sepi.


Sampai depan gerbang perumahan waktu menunjukkan pukul set 7 ditambah dengan angkutan kota yang belum datang, "Duh mana sih" ucapnya dengan wajah panik sambil menengok kanan kiri padahal biasanya saat ia sampai depan gerbang perumahan angkutan kota sudah stand by seakan menunggunya.


Ia mencoba sabar meyakinkan dirinya bahwa angkutan kota akan datang sebentar lagi, sampai jam set 7 lewat angkutan kota belum datang juga membuatnya tidak bisa tenang lagi, saat akan mengambil handphone di saku rok untuk memesan ojek online sebuah motor hitam besar melintasi genangan yang dekat dari tempat ia berdiri, seragamnya yang tadinya putih bersih jadi terdapat bercak bercak coklat khas orang kecipratan.


Ia menoleh pada si pengendara motor yang ia yakini sepantaran dengannya lalu mendecak pada si pengendara motor yang bahkan tidak berhenti untuk mengucap kata maaf, "Dasar sinting." ucapnya yang sudah kelewat kesal.


Angkutan kota datang disaat ia sedang mengibas ngibaskan seragamnya dengan tangan berharap noda itu tersamarkan, gadis itu masuk dan duduk dekat pintu masih sambil mengibaskan seragamnya, kondisi angkot yang ramai membuatnya berusaha bersikap setenang mungkin walau sebenarnya malu diberi tatapan merendahkan dari penumpang lain sambil menunduk ia berbisik dalam hati 'gue dah biasa diberi tatapan gini kenapa harus malu lagi ? '


☄️☄️☄️


Ia langsung berjalan pelan ke arah mading yang ramai di penuhi murid lain yang juga ingin melihat dikelas mana mereka ditempatkan, menunggu sampai keadaan di depan mading sedikit sepi dan mulai maju disaat kerumunan itu mulai berkurang, menelusuri pelan mading dengan jari telunjuk untuk melihat di kelas mana ia ditempatkan.


Mahira Hashinta 12 IPA 2 serta nama nama lain yang tidak ia kenal berada di bawah namanya. Menghela napas pelan lagi lagi masuk jurusan ini.


Ia mundur perlahan menjauhi mading untuk segera menuju kelasnya yang berada di lantai tiga. Saat akan menaiki tangga ia mendengar dua orang perempuan yang kalau tidak salah adalah teman seangkatannya sedang duduk sambil membicarakan dirinya.


"Mahira Ipa 2?" tanya perempuan berbando pink dikepalanya dengan raut wajah seakan tidak percaya.


"Iya Ipa 2 ga nyangka sih gue" jawab perempuan di sampingnya yang duduk sambil bersender ke tembok.


"Pantes sih cupu kaya gitu masuk Ipa" ejek perempuan itu lagi, kemudian keduanya saling tertawa seperti tidak merasa bersalah akan ucapannya.


Disaat yang bersamaan salah satu perempuan itu tidak sengaja menoleh ke arah Mahira dan dengan ekspresi yang dibuat buat seakan tertangkap basah kemudian berkata dengan nada setengah mengejek "Ups sorry ada orangnya ternyata."


Mahira yang tidak mau peduli pun melanjutkan menaiki tangga dengan langkah cepat walau masih sempat mendengar kedua orang itu mengejeknya.