
SMA Britania sudah mulai memasuki jadwal jadwal padat untuk kelas 12 dimulai dari latihan soal, ulangan harian, latihan soal kembali, try out, simulasi, Utbk, simulasi kembali lalu terakhir Unbk. Dimana segala kerja keras mereka dari kelas 10 akan ditentukan di ujian akhir nanti.
Sama halnya dengan 12 IPA 2 yang minggu minggu ini bahkan dari bulan kemarin sudah sibuk memegang buku pelajaran masing masing.
Bulan kemarin mereka baru saja pelatihan soal dan ulangan ulangan harian dan bulan ini mereka kelas 12 akan melaksanakan try out lalu dilanjut dengan simulasi.
Sudah tidak ada lagi dangdutan di kelas, tidak ada lagi diskusi tentang cowo ataupun bersenang senang, ataupun pertunjukkan drama untuk mengisi waktu luang.
Waktu luang mereka dihabiskan untuk membaca buku dan diskusi seputar pelajaran serta bolak balik ke perpustakaan, bukan lagi ke kantin ataupun lapangan.
12 IPA 2 kembali menjadi kelas ambis mengikuti arus dari kelas IPA yang lain.
Tidak ketinggalan Mahira semakin banyak membaca buku tentang pelajaran, bukan buku novel lagi yang biasa ia pegang. Debi teman sebangkunya pun kini sudah mulai bolak balik perpustakaan lalu kembali lagi dengan buku buku tebal ditangannya.
Masa masa akhir sekolah sudah mulai terlihat walau masih jauh tapi 12 IPA 2 ingin menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi ujian akhir beberapa bulan lagi.
Kepadatan jadwal itu juga yang membuat Mahira jarang bertemu dengan Damar, entah kemana pemuda itu tapi saat akan ke perpustakaan yang harus melewati lapangan basket, Mahira tidak pernah melihat pemuda itu lagi.
Paling paling hanya bertemu di parkiran setelah pulang sekolah, pemuda itu masih menyapanya, masih mengganggunya seperti biasa.
Kelas ini seperti akan mempersiapkan diri baik baik untuk menghadapi ujian ujian nanti terbukti dengan sudah tidak ada yang tidur di jam pelajaran, menulis semua hal penting yang sedang diterangkan guru dan yang paling kentara adalah semakin banyaknya diskusi pelajaran di tiap sudut kelas.
Entah itu berdebat dengan rumus, mengerjakan soal, tanya jawab, bahkan sampai ulangan individu dilakukan oleh kelas ini.
Membuat Mahira semakin giat belajar agar tetap mempertahankan prestasinya yaitu peringkat ke 3 seangkatan. Jika ia lalai tidak menutup kemungkinan akan direbut oleh yang lain. Dan hal itu tidak akan pernah gadis itu biarkan.
☄️☄️☄️
Mahira datang ke sekolah pagi ini lalu berjalan cepat ke arah kelasnya ingin melihat dimana ruang try outnya kali ini.
Saat sampai dikelas ia melihat teman temannya masih lengkap seakan menunggu yang lain lalu saat Mahira datang, Adilla berucap, "Dah lengkap ayo kita liat dimana ruangannya"
Mahira sedikit tersentak, jadi mereka menunggunya?
Tersenyum kecil lalu mengikuti teman temannya yang lain ke arah mading melihat dimana ruang try out mereka berada.
"Wah gila gua sama Mahira woyy!!" teriak Beben senang.
"Woy gua juga, Alhamdulillah!!" teriak Debi ikutan keluar dari kerumunan.
"Rakyat ku gue juga sama Mahira!!" teriak Nino juga.
Membuat mereka bertiga berangkulan dan melompat lompat.
Mahira yang dibelakang menggelengkan kepala saja.
"Ah monyet, yang satu ruangan sama Mahira ngapa yang ginian semua dah" ucap Idrus nelangsa.
"Yaudah sih namanya juga rezeki anak sholeh!" ucap Debi tertawa lalu bertos ria dengan kedua temannya.
"Udah udah ayo langsung ke ruangan masing masing" ujar Sean lalu menggiring yang lain agar berjalan.
Mahira yang berada di belakang ikut berjalan pelan mengikuti Debi ke ruangan mereka.
Sean yang ia tidak sadar ternyata berada disebelahnya berbisik, "Good luck Ra" ucap pemuda itu lalu tersenyum.
Mahira hanya tersenyum tipis membalas kalimat itu, sementara Debi yang berada di depan Mahira tidak sengaja mendengar kalimat itu sedikit tersentak.
Sean? tanya gadis itu dalam hati.
☄️☄️☄️
Tadi di ruangan try out Debi, Nino serta Beben tidak bisa bertanya sedikit pun pada Mahira karna pengawas ruangan mereka hari ini adalah Bu Rina.
Sementara Mahira yang diperhatikan terus menerus oleh guru itu hanya bisa pasrah saja karna tidak bisa membantu tiga temannya yang lain.
Membuat mereka mendecak decak merasa frustrasi sendiri karna try out pertama tadi adalah matematika. Dan sudah dipastikan nilai 90 tidak ada ditangan mereka.
Berjalan berempat menuju kantin lalu duduk disana masih dengan wajah lusuh masing masing.
"Gue yang pesen deh, mau apa?" tanya Mahira menawarkan diri karna tidak tega juga melihat wajah tiga temannya.
"Samain aja Ra" sahut Debi kembali menelungkupkan wajahnya di meja.
Mahira berlalu pergi ke arah penjual baso lalu memesan 4 porsi serta minuman sekaligus.
Gadis itu menunggu sampai akhirnya penjual baso itu selesai menyiapkan pesanannya yang ditaruh diatas nampan.
Bapa penjual baso itu meminta maaf karna tidak bisa mengantarkan pesanan ke meja karna sedang ramai ramainya yang memesan.
Mahira tersenyum tipis saja selanjutnya membawa nampan tersebut ke meja mereka, karna keadaan kantin yang mulai ramai dengan siswa lain yang sudah ramai ingin memesan makanan, membuat mereka kadang tidak sengaja menyenggol lengannya membuatnya nampan itu bergoyang membuatnya terpaksa harus berhenti sebentar.
Mahira menghela napas pelan lalu melanjutkan langkah dengan pelan berharap orang orang lebih berhati hati.
Saat tiba tiba ada sebuah tangan mengambil alih nampan tersebut dari tangannya membuat Mahira terlonjak begitu saja, menemukan Damar kini sudah memegang nampan tersebut.
Pemuda itu tersenyum lalu berucap, "Lo ambil aja dulu minumnya, gue tunggu disini."
Mahira yang masih bengong itu hanya diam saja membuat Damar gemas pada gadis itu.
"Atau gue aja yang ambil?" bisik pemuda itu disamping telinganya. Mahira buru buru tersadar lalu cepat cepat ke penjual baso tadi mengambil minumannya.
Membuat Damar tertawa melihat gadis itu yang salah tingkah.
Selesai mengambil minumannya tadi mereka berdua berjalan ke arah meja dimana teman temannya sudah seperti orang tidak makan selama sebulan. Iya semelas itu.
Damar meletakkan nampan tersebut membuat mereka yang menelungkupkan wajah di meja kompak mengangkat kepala.
"Akhirnyaaa da... tang" ucapan Nino memelan saat melihat Damar yang ternyata membawa nampan tersebut.
Membuat mereka bertiga saling melirik satu sama lain seakan menyalahkan.
Mahira yang menyadari kecanggungan itu akhirnya mengambil alih keadaan, "Makasih ya udah bawain." ucap Mahira.
Damar tersenyum, lalu mengacak puncak kepala gadis itu merasa gemas setelahnya menatap ke dua laki laki di meja itu, "Lain kali lebih gentle." ucap pemuda itu datar.
Lalu meninggalkan mereka, masih dengan senyuman untuk Mahira yang sekarang merasa tidak enak kepada Beben dan Nino.
"Sorry ya maksudnya engga gitu kok" ucap Mahira tidak enak.
"Gapapa Ra, salah kita juga masa cewe yang pesenin cowo" sahut Beben.
Setelahnya keempat orang itu meraih baso masing masing seakan lupa dengan ucapan Damar tadi, mereka sudah tertawa tawa kembali sibuk mengumpati Beben karna bercerita hal konyol di ruangan tadi.
Tanpa sadar salah satu dari mereka tidak ikut dalam cerita konyol itu sibuk mengaduk ngaduk baso menyembunyikan perasaannya.
Sementara itu Mahira berlagak mengusap ngusap puncak kepalanya, diam diam tersenyum dalam hati menikmati perlakuan sederhana pemuda itu.