MAHIRA

MAHIRA
bab 17 | Nanti Belum Saatnya



"Ra ayo balik lo mau nginep disini temenin pak satpam?" ajak Debi membangunkan Mahira yang tertidur pulas di mejanya.


"Lo ngapain bawa tas?" tanya gadis itu melihat Debi sudah memakai tas bersiap pulang.


"Ira ini dah jam pulang ya makanya lo kalo tidur jangan pake headset mulu ga denger kan" cerocos Debi.


Mahira membereskan barang barangnya lalu menggendong ranselnya menyusul Debi yang berada di ambang pintu kelas.


Sambil berjalan Debi bercerita bahwa tadi saat ia ke toilet membayangkan bagaimana kalo setannya muncul dan menculiknya membuat Mahira geleng kepala melihat kelakuan gadis ini.


Selain itu ia juga mempraktekan gaya berjalan setan di film tadi malam membuat Mahira menyeletuk santai, "Didatengin lo ntar malem" sahutnya santai membuat Debi mendadak diam dan tak lama mendorong gadis itu sampai ke tepian koridor.


Dari jarak jauh Debi sudah melihat siluet pemuda itu yang memandangi Mahira yang belum sadar jika dirinya sedang diperhatikan, membuat Debi menyenggol lengan Mahira, "Ditungguin tuh" ujarnya sambil menggerakkan dagu ke arah pemuda itu.


"Lo mau pulang sama dia? Atau sama gue?" kata Debi lagi sebelum meninggalkan Mahira ke parkiran.


"Lo" sahut Mahira singkat membuat Debi mengangguk, "Gue tunggu diparkiran" ucapnya lalu melangkah meninggalkan gadis itu.


Debi memejamkan mata sesaat ia harus bicara.


☄☄☄


Damar melangkah ke arah Mahira lalu tersenyum, "Nanti malem ada waktu?" tanya pemuda itu.


Mahira hanya mengangguk kecil.


Membuat Damar didepannya tersenyum, "Gue ajak keluar mau?" ajak pemuda itu.


Mahira menggeleng, "Gue harus bantu Bi Minan" ucapnya singkat membuat Damar menipiskan bibir lalu tersenyum.


Sebenarnya itu hanya alasan saja agar Damar tidak mengajak Mahira keluar malam ini, Mahira harus membatasi kedekatannya dengan laki laki, ia tidak mau melanggar batas perasaannya jika nantinya ia yang harus menanggung semuanya sendiri.


"Oke, next time deh" ucap Damar lagi.


Mahira tidak mengangguk tapi tidak juga menggeleng karna memang tidak tau harus menjawab apa.


"Pulang sama siapa? Sama gue gimana?" tanya Damar lagi berharap gadis ini mengiyakan.


Tapi lagi lagi gelengan kepala membuat Damar harus menahan kecewa dalam dirinya.


"Gue bareng Debi" sahutnya singkat lalu mencoba melihat ekspresi pemuda ini.


Raut wajahnya berubah sedikit walau tidak kentara tapi Mahira sempat melihat perubahan raut itu.


Membuatnya menepis perasaan tidak enak yang datang tiba tiba itu dalam pikirannya.


"Kalau gitu hati hati" balas Damar lalu mengacak puncak kepala gadis itu lalu tersenyum.


Degupan jantung Mahira berdetak cepat hanya karna perilaku kecil tersebut.


Membuatnya terdiam lalu membalas senyum itu dengan senyum samar lalu berbalik badan segera menuju parkiran.


Kasihan Debi pasti sudah menunggu lama.


☄☄☄


Mahira melihat mobil Debi lalu segera masuk ke dalamnya.


Lalu tersentak melihat gadis itu sedang mengusap matanya.


"Lo kenapa?" tanya Mahira pelan.


"Engga engga gue ga papa" jawab gadis itu dengan nada sedikit serak lalu tersenyum.


"Lo bisa cerita sama gue" ucap Mahira memberanikan diri mengusap pundak gadis itu.


"Gue ga perlu cerita sama lo Ra, minjem bahu lo aja boleh?" jawab Debi parau.


Mahira diam perlahan menganggukkan kepala membuat Debi perlahan memeluk gadis itu menumpahkan semuanya di pundak Mahira.


"Gue disini" bisik Mahira pelan.


Membuat isakan Debi semakin kencang yang membuat Mahira refleks mengeratkan pelukan mereka.


Dipelukannya Debi merasa menjadi perempuan jahat jika nantinya gadis ini yang akan tersakiti. Membuatnya memilih bungkam mencoba mengulur waktu sampai nanti waktunya.


"Apapun yang terjadi lo bakal tetep sama gue kan Ra?" tanya Debi sesenggukan.


Kali ini Mahira samar mengernyitkan kening merasa ada sesuatu.


Tapi mencoba ia tepis lalu menganggukkan kepala.


Mereka menguraikan pelukannya membuat Debi malu sendiri karna sudah nangis dihadapan gadis ini.


"Ah malu gue" ucapnya sambil menutup muka. Membuat Mahira mendengus.


"Biasa malu maluin juga" jawab Mahira tanpa dosa membuat Debi mendelik.


"Sini gue yang nyetir yang ada ntar kita masuk kandang buaya kalo lo yang nyetir" kata Mahira menawarkan diri karna melihat kondisi gadis disebelahnya yang masih belum tenang dari sesenggukannya.


Walau mencoba tersenyum Mahira tau ada masalah berat yang disembunyikan gadis ini membuatnya tidak memaksa Debi bercerita, karna jika sudah waktunya gadis ini pasti akan cerita.


☄☄☄


Mahira mengantarkan gadis ini pulang kerumahnya membuat Debi merasa tidak enak karna harusnya ia yang mengantarkan Mahira.


"Udah gue balik" pamit Mahira.


"Eh Raa lo naik apa pulangnya?" tanya Mahira menahan gadis ini.


Mahira menoleh lalu berucap singkat, "Taksi."


"Bawa aja deh mobil gue, kasian lo kalo harus nyari taksi lagi panas banget soalnya" ucapnya sambil menyerahkan kuncil mobil.


"Ga usah gue naik taksi" jawab Mahira lagi.


"Bawa aja Ra jadi besok pagi lo jemput gue" kekeh Debi.


"Ogah" sahut Mahira.


Membuat Debi gemas lalu menarik gadis ini memasukkannya ke dalam mobil seperti memasukan anak kucing ke tempat sampah.


"Dah sono jangan lupa jemput gue besok, hati hati ya!" ucapnya lalu melambai riang.


Mahira memutar bola mata malas lalu menghidupkan mesin.


"Duluan" pamit gadis itu singkat, menjalankan mobil menjauhi Debi yang masih melambai riang.


Sampai mobilnya hilang dibelokan perumahan, Debi menurunkan tangannya lalu berjalan pelan masuk ke rumah dengan air mata yang kembali menetes.


☄☄☄


Malam ini cuaca mendung seakan akan mendukung perasaanya yang masih belum membaik dari siang tadi.


Memeluk lututnya diatas tempat tidur lalu menahan air mata yang lagi lagi kembali mendesak ingin keluar.


Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini semua memang kesalahan, tapi semakin ia menepis semuanya kenyataan itu semakin datang menyeruak membuat dadanya kembali sesak.


Debi terdiam mencoba memikirkan baik baik langkah apa yang akan selanjutnya ia ambil.


Membuatnya berfikir jika ia salah melangkah bukan hanya dirinya saja yang terluka tapi ada orang lain yang akan merasakan dampaknya. orang baru yang tidak mengerti tapi harus ikut terluka juga.


Debi menelungkupkan wajahnya menenggelamkannya ke lutut yang ditekuk lalu merengek rengek tidak jelas.


Sampai tiba tiba ia diam teringat sesuatu lalu mengangkat wajah menoleh ke meja belajarnya lalu terlonjak, "MASYAALLAH PR KIMIA! GUE BELUM NGERJAIN!!" teriaknya lalu melompat segera mengambil buku tersebut.


Melupakan perasaan sesaknya begitu saja.