
Suara orang menuruni tangga dengan cepat membuatnya mengerjapkan mata dan buru buru menoleh ke belakang, "Siapa yang datang kesini?" gumamnya merasa aneh, karena jarang sekali siswa yang datang ke rooftop di jam segini karena panas yang mulai menyengat. Mengendikkan bahunya singkat dan merapikan seragamnya yang sedikit kusut lantaran ketiduran.
Padahal seingatnya ia tadi sedang membaca novel mungkin karna semilir angin membuatnya tidak sadar sudah larut ke dalam mimpi.
Buru buru mengambil barang yang dibawanya tadi lalu turun kebawah dengan manata kembali raut wajahnya seperti biasa.
Berjalan pelan menuju kelasnya yang berada di lantai tiga membuatnya sedikit malas untuk menaiki tangga yang biasanya ramai diduduki adik kelas atau teman seangkatannya?mungkin. Ia terlampau malas untuk tau siapa saja teman seangkatannya, bahkan jumlah siswa kelas 12 yang sekarang jadi angkatannya ini pun ia tak tau.
Beruntung saat ia lewat, tangga sedang kosong sehingga ia tidak perlu repot repot menulikan pendengaran dari kata kata mereka.
Di depan sana tinggal belok kiri dan berjalan sedikit ia sampai di kelasnya membuatnya semakin malas untuk memijakkan kakinya di kelas yang isinya pasti anak anak ambis. memuakkan
Beberapa langkah lagi ia sampai di pintu kelas dan mengerutkan kening karna suara berisik dari dalam kelasnya terdengar sampai dirinya yang berada beberapa langkah lagi dari kelas tidak biasanya gumamnya dalam hati.
Lagu dangdut berjudul jaran goyang itu terdengar dinyanyikan dengan teriakan semangat serta sahutan kompak dari kelasnya membuat kelas itu makin berisik
Mahira melangkahkan kakinya dengan tenang mendekati kelasnya dan berhenti karna seorang laki laki bersender di pintu sambil menatap ke dalam kelas sambil tertawa tawa.
"Misi" ucapnya pelan menunggu di belakang pemuda itu, pemuda itu refleks latah kecil dan menoleh kaget ke belakang.
Padahal Mahira kan ga ngagetin dia ngomong permisi pun ia ucap dengan pelan.
Pemuda yang berdiri di depan pintu itu meringis kecil karna malu ketauan latah, lalu dengan gugup berucap "Eh iya mau masuk ya?" Mahira hanya mengangguk dan pemuda itu menggeser tubuhnya memberi jalan, 'Ngapain gua latah sih tadi ****** bikin malu aja.'
Mahira masuk dan mendapati kelasnya hening tiba tiba membuatnya jadi canggung sendiri, seakan dipause Debi yang akan melanjutkan pengumumannya langsung mengatupkan mulut dan menyapa Mahira, "Ra mau ikut dangdutan ga? kelas kita mau dibikin arena dangdut soalnya!" ucapnya semangat, Mahira hanya tersenyum samar dan berlalu ke kursinya.
Lagi lagi meninggalkan tatapan aneh dari seluruh orang yang ada dikelasnya.
☄☄☄
Bel pulang berdering nyaring membuat kelasnya kembali rusuh tak karuan bahkan di tempat duduknya sekarang Mahira masih bisa mendengar teman temannya sudah janjian akan pergi bersenang senang satu sama lain membuatnya diam diam merasa iri melihat gampangnya seseorang untuk akrab dengan orang lain.
Bangkit dari kursinya lalu keluar dari celah belakang bangku Debi dengan tembok di belakangnya karna tempat duduk mereka yang berada di bagian belakang paling pojok.
Tanpa perlu repot repot berpamitan melangkahkan kakinya dengan tenang sampai sebuah suara memanggilnya "Ra," yang dipanggil menengok dengan tatapan bingung, terlihat Debi menghampirinya dengan sebuah cardigan di tangan, "Lo mau pake cardigan gue ga? buat nutupin seragam lo" ucapnya tersenyum. Mahira merasakan hangat menjalar kehatinya karna tawaran kecil itu.
Tapi ini Mahira perempuan dengan sejuta ego yang sudah tertanam sejak kecil lalu berucap sambil melirik sekilas cardigan itu "Ga perlu. Thanks." kembali berbalik badan melanjutkan langkah meninggalkan perempuan di belakangnya dengan tatapan miris.
☄☄☄
"Kiri bang" ucapnya membuat angkot yang ditumpanginya berhenti di depan gerbang perumahan seperti biasa, menyerahkan selembar uang lalu berucap terima kasih kepada supir angkot.
Terik matahari siang menyengat tubuhnya membuat wajahnya yang putih menjadi merah seperti kepiting rebus, lalu mempercepat langkahnya untuk segera tiba di rumah.
Buru buru membuka pagar rumahnya dan berlari kecil melewati jalan setapak yang kanan kirinya dipenuhi taman taman kecil yang asri, membuka pintu rumahnya dan menjatuhkan dirinya di sofa empuk di ruang tamu tiba tiba terdengar suara "Mba Ira kenapa ga minta jemput aja sih mbak?!" ucap Bi Minan khawatir.
Bi Minan adalah asisten rumah tangga di rumahnya orang yang mengasuhnya sejak kecil, mengantarnya ke sekolah setiap pagi, bahkan mengambilkan rapotnya saat kedua orang tuanya tidak bisa datang. Tidak heran sebegitu sayangnya Mahira kepada perempuan yang sudah berumur ini.
"Gapapa bi udah biasa" ucapnya sambil tersenyum. "Bibi buatin es kopi ya, Mba Ira sekarang ke kamar ganti baju" ujarnya lembut.
"Bi kan aku udah bilang aku mau dipanggil Ira aja ga usah pake mba," rengeknya kecil karna sudah diingatkan beberapa kali Bi Minan selalu memanggilnya dengan sebutan mba.
"Cepet ke kamar dan ganti baju atau es kopinya ga jadi nih?" ucap Bi Minan lagi "Eh iya iya Bi" potong Mahira lagi cengengesan. Lalu berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua, meninggalkan Bi Minan yang tersenyum kecil.
Sampai di kamar bukannya berganti baju ia malah tiduran di ambal berbulu yang terdapat di kamarnya melanjutkan tiduran disana lalu meraih remot ac untuk mengatur suhu kamarnya agar lebih dingin.
Saat hampir terlelap suara Bi Minan terdengar lagi menyuruhnya berganti baju sambil menyodorkan es kopi membuatnya mau tidak mau duduk dan menerima es kopi kesukaannya. "Mba Ira ganti baju dulu dong baru tidur itu badannya udah lengket gitu masa mau tidur" tutur Bi Minan lagi seakan tidak pernah bosan untuk mengingatkannya.
"Iya Bi yatuhan ini Ira ganti baju nih," balasnya sambil menuju lemari dan berjalan ogah ogahan ke kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya. "Pokoknya Bibi kesini lagi harus udah selesai ya?" ucapnya lagi, "Iya Bi iya" sahutnya sambil sedikit meminum es kopinya lalu membiarkan Bi Minan keluar dari kamarnya.
Setidaknya Mahira masih bersyukur karna memiliki Bi Minan yang tulus peduli dengannya. Batinnya lalu tersenyum samar.