MAHIRA

MAHIRA
bab 26 | Pelukan dan cerita



Suara musik menghentak keras dengan lampu kelap kelip itu tidak membuat lamunan seorang pemuda manis yang sedang duduk di meja bar itu terganggu.


Damar berkali kali menarik nafas lalu menghembuskannya keras membuat Bintang, sahabatnya mendecak kesal.


"Ck! dah gua bilang kan lo dah salah dari awal, kalo dah gini lo mau apa?" kesal Bintang yang sudah mulai kesal dengan pemuda ini.


Damar diam saja tidak menyahuti karna pikirannya sedang tidak berada disini. Pikirannya sedang menjelajah memikirkan gadis itu.


Klub malam yang mereka datangi kali ini sedang ramai, membuat Damar jengah sendiri karna sedari tadi banyak sekali perempuan perempuan yang menggodanya.


Damar jarang memijakkan kaki ditempat seperti ini, paling paling jika ia merasa sedang kacau seperti sekarang.


Dengan rambut yang sudah berantakan serta jaket yang sudah dibuka resletingnya dan memperlihatkan kaos hitam cowo itu. Tapi tetap saja membuat cowo berdarah kelahiran Nusa Tenggara itu masih terlihat tampan.


Damar mengecek ponsel berharap dihubungi oleh gadis jutek itu, tapi nihil tidak ada notifikasi apapun masuk ke ponselnya.


Bintang yang duduk disebelah cowo itu tiba tiba berdiri dan menarik jaket pemuda itu membuat Damar terkejut.


"Apaan sih lo!" sentak Damar.


"Mending sekarang lo cabut, temuin, jelasin." ucap Bintang datar.


"Ga usah jadi pengecut lo disini" kata Bintang kembali, membuat Damar mengacak rambutnya dan meraih kunci motor pergi darisana.


"Anak bayi sok sok jatuh cinta sih" gumam Bintang pelan.


☄️☄️☄️


Damar memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan pengendara lain yang memakinya karna ia memacu kendaraannya tinggi di hari yang sudah malam seperti ini.


Pikiran pemuda itu kalut, tidak pada tempatnya.


Memikirkan baik baik keputusan apa yang sudah ia pikirkan.


Pemuda itu memelankan kecepatan saat motor besarnya memasuki kawasan perumahan mewah gadis itu. Lalu berhenti disana.


Membuka helm dan menatap jauh rumah berwarna putih bercampur warna emas dengan lampu besar diteras depan membuat rumah itu tambah terlihat mewah.


Mahira, gue minta maaf.


Memejamkan mata sebentar lalu mulai merogoh ponsel, ingin menghubungi gadis itu.


Nada sambung terdengar agak lama sampai akhirnya diangkat oleh sang empu.


"Hai Ra, maaf ganggu malem malem. Boleh ngobrol bentar?" tanya pemuda itu sedikit gugup.


"Gue di gerbang perumahan lo, ngobrol di taman bisa?"


Hening sebentar sampai akhirnya terdengar suara disana.


"Oke." jawab gadis itu pelan diseberang.


Telfon mati, dengan Mahira yang mematikan sambungan begitu saja.


Damar mengerutkan kening, tapi ia tau dari nada suara gadis itu yang sedikit parau menandakan ia baru selesai menangis.


Memutar motornya ke supermarket terdekat dan membeli sesuatu yang sekiranya disukai oleh gadis itu.


☄️☄️☄️


Mahira sampai di dekat taman disekitar rumahnya tapi tidak ada tanda tanda keberadaan pemuda itu disini.


Menghela nafas lelah lalu duduk dikursi taman sambil melamun.


Memikirkan kembali ucapan sang mama tadi, saat wanita itu menyempatkan diri sebentar untuk pulang lalu pergi lagi.


Selalu seperti itu, kadang Mahira lelah jika harus mengharapkan kasih sayang dari orang tuanya sendiri. Seakan akan ia harus mengemis dahulu untuk membuat orang tuanya tetap berada di rumah.


Gadis itu mencoba meredam isakan yang kian membuat dadanya sesak bukan main. Bukan ini yang Mahira harapkan. Bukan hidup dengan rumah mewah, fasilitas lengkap serta uang yang selalu berada di meja belajarnya. Bukan ini.


Keinginannya sederhana, ia hanya ingin memiliki waktu bersama kedua orang tuanya. Walaupun cuma sebentar.


Lamunan gadis itu buyar saat mendengar suara motor besar lalu diikuti lari kecil membuat Mahira menghapus air matanya yang ia tidak sadar sudah jatuh begitu saja.


Ia menoleh mendapati Damar datang dengan tangan memegang kantong plastik dari supermarket. Lalu duduk begitu saja disampingnya.


Hening menyelimuti mereka saat keduanya tidak ada yang memulai pembicaraan, setelahnya Damar mengambil sesuatu dari kantong plastik yang ia bawa tadi mengulurkan pada gadis disampingnya.


Mahira mengernyitkan kening lalu menatap kopi kaleng itu, perlahan tangannya terulur untuk mengambil.


"Lo suka kopi kan? Semoga ngebantu." tutur Damar pelan, Mahira diam saja masih belum meminum kopi kaleng tersebut


"Minum." ucap pemuda itu lagi.


Akhirnya ia membuka tutup kaleng tersebut lalu meneguknya membuat perasaannya sedikit lebih baik. Entah karna kopi atau pemuda disampingnya.


Setelah melihat keadaan Mahira sedikit tenang Damar mulai bertanya pada gadis itu, "Mau cerita?"


Mahira diam saja belum menjawab tapi lagi lagi matanya mulai menghangat membuat gadis itu makin mengeratkan pegangan pada kopi di tangannya.


"Seandainya Tuhan baik sama kita, dia pasti bikin semua orang di dunia ini bahagia dengan mudah." ucap Damar tiba tiba.


"Tapi ga mungkin kan?" jawab pemuda itu sendiri.


Mahira hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


Damar tersenyum lalu menoleh ke arah Mahira menatap lekat bola mata gadis itu yang berwarna coklat.


"Karna kalau didunia ini semua orang dibikin bahagia dengan mudah, Tuhan ga mungkin ciptain kita semua."


"Masalah datang karna Tuhan pengen uji seberapa besar usaha kita untuk kembali bahagia."


Mahira terdiam mulai merasa menjadi orang yang egois.


"Tapi manusia kaya kita belum tentu bisa selesain masalah itu seorang diri, makanya Tuhan kirim seseorang untuk temenin lo."


"Gue bakal selalu ada kalo lo butuh gue Ra." jelas pemuda itu tersenyum tipis.


Membuat pertahanan yang Mahira tahan dari tadi runtuh begitu saja. Gadis itu terisak dengan tangan terkepal diatas paha seakan menyadari ia memang butuh penopang.


Damar menatap gadis itu yang menangis seakan memang itu yang ingin ia keluarkan dari tadi. Perlahan ia menarik tangan Mahira dan merengkuh pelan tubuh rapuh itu.


Isakan gadis itu makin kencang di dadanya, membuat Damar mengusap kepala Mahira mencoba menenangkan.


"Gue harus gimana Mar? Mama bilang ga bisa hidup sama papa lagi. Mereka ga bisa sama sama lagi" tutur gadis itu.


"Gue ga bisa Mar. Semua nyakitin gue!"


Gadis itu terisak dengan jari tanpa sadar memukul punggung pemuda ini pelan membuat Damar makin mengeratkan pelukan mereka.


"Mereka yang terlalu egois atau gue yang terlalu banyak minta Mar?" tanya Mahira lirih dengan nada sarat emosi tertahan.


"Gue cuma mau bahagia! kenapa susah banget sih Tuhan beri gue kesempatan untuk bahagia!"


Tangisan gadis itu makin tidak terkendali dengan luka yang selama ini selalu dipendamnya akhirnya keluar dipelukan Damar.


"Gue benci mereka yang pergi Mar..." lirih Mahira lalu menutup mata mencoba meredam sesak.


Damar tersentak dengan jantung berdegup cepat akan kalimat akhir gadis ini.


Dengan gerakan pasti Damar menguraikan pelukan mereka. Menangkup wajah gadis ini menatap dalam bola mata coklat itu yang jelas sekali terasa sepi disana.


Mata pemuda itu menyayu pelan pelan memajukan tubuh mengecup kening gadis itu lembut.


Mahira yang tidak siap seakan dialiri arus listrik berkekuatan tinggi membuat jantungnya seakan meledak.


"Gue terlalu sayang sama lo Ra. Jangan nangis ya?" tutur pemuda ini lembut.


Mahira membeku. Kelopak matanya menyendu kembali. "Gue boleh pinjem bahu lo?"


Damar tersenyum tipis tanpa kata menarik kepala gadis itu agar bersender padanya memberi tumpuan.


Tangan pemuda itu berada di atas kepala Mahira mengusapnya pelan. Mereka tidak berbicara membiarkan suara jangkrik dan angin malam menjadi penghias. Bahkan tanpa perlu kata kata yang terucap mereka menyadari bahwa seperti ini saja sudah lebih dari cukup.


Diam diam Damar menipiskan bibir. Melirik gadis disebelahnya kini tengah terpejam.


Mencoba menutup mulut dan memberi waktu untuk Mahira, yang akhirnya ada suatu hal tentang semuanya yang pemuda itu lupakan.


Yaitu, tujuannya untuk menemui gadis ini yang akhirnya kembali ia pendam.