
Mahira bangun dari tidurnya dengan nafas terengah engah serta peluh membasahi wajah dan lehernya.
Memegang dadanya berusaha menormalkan kembali detak jantungnya yang berdetak cepat.
Mimpi itu datang lagi.
Gambaran memori yang dari dulu selalu melekat di ingatannya tentang masa kecil.
Tentang semesta yang ga pernah berlaku adil padanya.
Beranjak dari duduknya meraih segelas air putih di nakas samping tempat tidur meneguknya perlahan membiarkan air itu mengalir membuat perasaannya sedikit tenang.
Meraih ponsel lalu melihat jam pukul 1.30 malam, menarik nafas lalu berjalan pelan keluar kamar menuruni tangga menuju dapur ia butuh kopi untuk membuatnya rileks.
Saat orang tidak suka minum kopi di malam hari karena membuat susah tidur berbeda dengan Mahira yang akan cepat tidur jika ia minum kopi.
Bahkan sudah diingatkan beberapa kali oleh Bi Minan untuk jangan terlalu sering minum kopi dimalam hari, tapi ini sudah seakan jadi kebiasaannya disaat mengalami mimpi buruk, disaat ia rindu dengan kedua orang tuanya, atau mengalami bad day kopi merupakan pelarian terbaik untuknya.
Menyeduh kopi tanpa suara lalu membawanya untuk kembali ke kamarnya.
Sebelum naik ke atas menyempatkan diri ke kamar kedua orangtuanya membuka perlahan lalu mengintip mendapati mamanya sudah tidur pulas dengan selimut menyelimuti tubuhnya disampingnya kosong tidak ada orang pertanda sang papa belum pulang.
Mahira tersenyum sendu bahkan sampai pukul 1 dini hari papanya belum pulang entah benar benar sibuk dengan kerjaan atau hal yang lain. Mahira bahkan terlalu malas memikirkannya.
Menutup kembali pintu dengan pelan agar tidak membangunkan sang mama lalu memutuskan naik ke kamarnya.
082187643324 : Ira?
082187643324 : Udah tidur?
Mahira mengerutkan kening nomor siapa ini sampai akhirnya ia membuka chat dari nomer tersebut lalu tersadar ini nomer Debi yang sengaja ia tidak simpan.
Berfikir "tidak apa apa kalau untuk menyimpan satu nomer temannya" ucapnya dalam hati, setelah menyimpannya ia memilih membalas pesan tersebut.
Mahira : Kenapa?
Tidak ada tanda tanda balasan bahkan ceklis satu, "siapa juga yang masih terjaga sampai pukul segini" membuatnya menaruh kembali ponsel disamping tempat tidur.
Kembali menyelimuti diri dengan selimut serta secangkir kopi di tangan sembari membaca novel yang belum selesai ia baca.
Suhu ac di kamarnya yang sengaja dibuat rendah membuatnya semakin nyaman, tak sadar sudah larut dengan dunianya.
☄☄☄
Mahira kesiangan.
Ditambah angkutan kota yang ia tumpangi mogok.
Salahnya sendiri tadi malam terlalu asik hingga saat Bi Minan meneriakinya untuk bangun ia tidak bisa bangun karna masih sangat mengantuk.
Alhasil ia tergopoh gopoh berlari dari ujung persimpangan sampai ke sekolahnya.
Untungnya mogoknya ga jauh jauh banget berhenti pas dipersimpangan sekolahnya.
Saat akan melewati gerbang sekolah suara klakson dari belakang membuatnya tersentak lalu menoleh ke si pengendara motor hitam itu wajahnya yang tertutup helm full face membuatnya sedikit sulit melihat siapa orang itu.
Cepat cepat berlari menuju kelasnya karna ia tidak tau apa yang akan dilakukan pemuda itu. Ia tidak mau jadi pusat perhatian lagi seperti saat kejadian di parkiran waktu itu.
Damar sepertinya sadar bahwa Mahira berusaha menghindarinya membuatnya memarkirkan motor dengan asal lalu berlari mengejar Mahira yang sudah jauh di depan.
Menghadang langkah Mahira tepat saat gadis itu akan menaiki tangga.
"Tadi gue liat lo lari lari dari simpang depan, angkotnya mogok?" tanya Damar melihat gadis di depannya ini, Mahira hanya diam tidak mengangguk ataupun menggeleng membuat Damar bertanya lagi, "Lo kesiangan? biasanya lo dateng pagi, rumah lo dimana sih emang?" kali ini Mahira menoleh mamandang pemuda ini dengan raut dingin tidak bersahabat dalam hati bergumam, "kenapa dia tau gue suka dateng pagi?"
"Pasti dalem hati lo bingung kan kenapa gue tau lo suka dateng pagi, sebenernya gatau sih Ra gue cuma nebak aja" ucapnya lalu tertawa membuat Mahira tidak peduli melanjutkan langkah ingin menaiki tangga.
Tapi lagi lagi pemuda ini menghadangnya, "Jangan marah gitu dong gue kan bercanda, atau gini aja daripada lo suka telat kaya tadi mending bareng gue aja" tawarnya dengan senyum di wajahnya.
Membuat Mahira tidak tahan dengan pemuda ini, "Gue ga kenal sama lo jadi ga usah so akrab" balasnya dengan intonasi dingin lalu berlalu melewati Damar begitu saja.
Membuat Damar menipiskan bibir memutar badan memandang gadis itu, "Lo tuh siapa sih sebenernya? Kenapa pengen gangguin lo terus?" ucapnya pelan lalu memutar tubuh kembali ingin pergi ke kantin.
☄☄☄
"Iraaaa!" teriakan nyaring itu terdengar saat Mahira sudah hampir terlelap dikursinya membuatnya menoleh dengan tatapan kesal.
Debi berlari kecil ke arah belakang lalu mendudukan diri disampingnya, tidak sadar bahwa lawan bicaranya ini benar benar menampilkan muka mengantuk.
"Eh Ra jangan tidur dulu dong masih pagi ini mending ke lapangan aja yo! nonton basket" ajaknya semangat membuat Mahira memutar bola mata lalu kembali menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangan.
Tapi goyangan di lengannya membuatnya kembali mengangkat wajah, "Oiya Ra tadi malem lo bangun jam segitu?" ucap Debi penasaran.
Mahira menggumam saja sebagai jawaban sebelum ia kembali ke posisi sebelumnya buru buru Debi menahannya.
"Sebenernya tadi malem gue mau cerita sama lo Ra, tapi lo balesnya malem banget gue udah tidur, tadi pagi baru gue buka tapi ga sempet gue bales sorry ya" ucapnya cepat lalu tersenyum.
Membuat Mahira memperhatikan gadis disampingnya ini. Debi sedikit menunduk menghindari tatapan Mahira padanya.
"Kenapa" setelah lama bungkam Mahira bersuara, membuat Debi mengangkat wajah merasa senang tiba tiba.
"Gue inget seseorang di masa lalu gue, udah 3 tahun tapi gue ga pernah lupa Ra" jawabnya lalu tersenyum kecil.
"Next time gue bakal cerita sama lo itupun kalo lo mau dengerin gue hehe" lanjutnya lagi masih dengan senyum tercetak di wajahnya.
Membuat Mahira terdiam tidak memberi respon bukannya tidak peduli tapi karna, sedikit iri kepada gadis didepannya ini yang masih bisa tersenyum walau sedang tidak baik baik saja.
"Eh iya ayo Ra ayo kita ke lapangan yok siapa tau dapet gebetan kan abis dari sana" ajaknya sambil berdiri dengan riang berbanding terbalik dengan keadaannya beberapa menit yang lalu.
Mahira menatap sinis perempuan itu sedangkan yang ditatap hanya cengengesan.
Membuat Mahira menelungkupkan wajahnya lagi pada lipatan tangan meneruskan kegiatannya yang tertunda akibat kedatangan cewe ini.
Membuat Debi mengerucutkan bibir lalu menjadi rusuh karna mulai mengajak yang lain untuk menjadi partnernya.
Partner gilanya.
Membuat Mahira yang belum terlelap sepenuhnya menghela nafas kecil melihat gadis itu lalu menggelengkan kepala tidak peduli.
Karna saat ini yang ia butuhkan hanya tidur!