MAHIRA

MAHIRA
bab 21 | Pernyataan Damar



Mahira melangkahkan kakinya pelan ke arah kelas, senyuman manis dari pemuda itu membuat perasaannya kian ringan.


Tadi saat gadis itu melewati lapangan ia melihat Damar sedang bermain basket dengan senyum lebarnya membuat Mahira tanpa sadar ikut tersenyum juga, lalu tanpa sengaja pemuda itu menoleh memberikan senyum manisnya membuat Mahira tergagap begitu saja.


Buru buru ia menunduk dan menaiki tangga.


Dengan pipi yang sudah berubah menjadi warna tomat gadis itu berlari kecil menyembunyikan salah tingkahnya.


☄️☄️☄️


Jam terakhir sebelum istirahat adalah kelas Pak Darsim guru mata pelajaran Sejarah Indonesia. Pak Darsim itu tipe guru yang kalo ngajar suaranya cuma bisa dimengerti sama dia aja.


Maksudnya terlalu kecil dan berbelit belit sampe kita pun ga paham apa yang dijelasin sama guru ini. Tapi Pak Darsim salah satu guru yang paling santai jika nilai tugas sudah lengkap dan ulangan diatas rata rata guru itu akan membiarkan muridnya bebas melakukan apa saja di jamnya.


Membuat sebagian kelas ini sudah larut dalam mimpinya, beda halnya jika sedang di ajar oleh Bu Ana guru bahasa inggris yang pasti bakal membuat anak kelas duduk tegak dengan mata fokus ke papan tulis kalau tidak ingin terkena ucapan pedas guru itu.


Mahira menopang dagu dengan tangan kiri, sudah mulai mengantuk efek suasana dan heningnya kelas ini.


Menoleh ke Debi disampingnya yang sudah pulas dengan bantal kecil dan cardigan menyelimuti tubuhnya.


Mahira mengambil tasnya menaruh dimeja untuk dijadikan bantal kemudian menarik cardigan di laci meja untuk menyelimuti tubuhnya.


Tanpa perlu waktu lama sudah terlelap ke alam mimpinya.


Dengan bayang senyum pemuda itu membuat tersenyum samar.


☄️☄️☄️


Bel istirahat berbunyi nyaring membuat 12 IPA 2 sontak bangun.


Tidak terkecuali Debi dan Mahira, setelahnya Debi sibuk mengeluarkan baju, selendang, mahkota dan barang barang lain yang tidak diketahui Mahira dari tote bag yang ia bawa.


"Mau ngapain?" tanya Mahira.


"Kita bakal ngisi jam kosong dengan kegiatan yang bermanfaat!" jawabnya riang.


"Ha?"


"Lo liat aja dulu, makanya jangan kemana mana"


Selanjutnya Debi berlari ke depan papan tulis membawa barang barangnya serta tote bag itu.


Kemudian gadis itu berjalan ke pojok jelas dan dengan bantuan beberapa anak cewe yang memegang kain untuk menutupi tubuh gadis itu.


Mahira menggelengkan kepalanya bingung sendiri ada ada saja tingkah gadis itu.


Setelahnya Debi keluar dengan rok abu abunya sudah diganti menjadi rok hijau toska dengan panjangnya sampai bawah betis.


Lalu tak lama Nino masuk ke dalam kelas dengan pakaian lusuh khas orang tidak berada.


Membuat Mahira mengerutkan kening belum paham apa yang akan mereka lakukan.


Tak lama Adilla ikut masuk ke kelas dengan rok abu abunya juga yang sudah diganti menjadi kain batik. Setelahnya ia memakai cardigan.


Reva datang lalu mencepol rambut gadis itu kemudian ditutup dengan kain.


Setelahnya Mahira baru sadar mereka akan melakukan apa.


Mereka bermain drama. Iya drama. Drama Malin Kundang.


Dengan Nino menjadi Malin Kundang dan Adilla menjadi ibunya.


Karna mereka tau nanti jam istirahat sampai pulang adalah jam kosong. Akhirnya sepakat membuat kegiatan yang bisa mengisi waktu kosong mereka.


"Debi lo nanti dulu aktingnya." ujar Sean selaku sutradara.


Debi bergumam saja karna sedang fokus mengecek ponselnya.


Setelahnya meja meja kursi diawaskan agar kosong dibagian tengahnya. Membuat Mahira terpaksa bangkit.


Lambaian tangan seseorang memanggilnya, itu Abel.


Abel memanggil ia agar duduk disampingnya membuat Mahira berjalan ragu.


"Sini aja Ra duduk samping gue" ucapnya kemudian tersenyum menepuk nepuk sebelah kursinya.


Mahira mengangguk balas tersenyum kepada gadis itu kemudian duduk melihat anak anak cowo yang lain sudah sibuk membereskan meja.


Setelahnya drama itu dimulai.


Dengan Nino dan Adilla berakting menjadi ibu dan anak.


Akting mereka berakhir dengan jambakan Adilla di kepala Nino membuat pemuda itu menggeram, "HE TADI LO MAIN KETAPEL BAGUS BANGET YA!" ucap gadis itu ngegas.


"YA BAGUS DONG!" sahut Nino ikut ngegas.


"IYA BAGUS BANGET SAMPE KENA PALA GUE!" sewot gadis itu sebal.


Tidak tau bagaimana ceritanya disaat adegan Nino main ketapel dengan penghapus, penghapus itu malah mengenai kepala Adilla membuat gadis itu harus menahan umpatan karna masih disorot oleh kamera.


Adegan demi adegan berlalu kini saatnya Malin Kundang harus pergi merantau meninggalkan ibunya.


Lalu dengan kapal yang terbuat dari kursi kursi Nino menaiki kapal itu lalu melambai kepada ibunya yang sudah menangis efek diberi insto. Obat mata.


Membuat anak kelas mencoba menahan tawa yang ingin meledak.


Lalu kapal itu pergi ditarik dengan tali oleh beberapa anak cowo dengan Nino yang masih melambai lambai.


"Lo berat amat sih monyet" ucap Edo.


"Ho kebanyakan dosa lo ya" sahut Beben ikutan.


"Tadi mah kita tarik sampe parit aja ya" ucap Aziz tanpa dosa.


"Gue lagi ga pengen ngumpat ya anjeng" kata Nino.


"Itu lo ngumpat ******" ucap Beben menjitak kepala pemuda itu.


Membuat Nino mengumpat kecil tau sedang dibodoh bodohi oleh teman temannya.


Lalu adegan Nino bertemu dengan anak saudagar kaya yang diperankan Debi kemudian mereka menikah lalu kembali ke kampung halamannya Malin.


Dengan menaiki kursi lagi yang sekarang tambah berat karna Debi juga ikutan naik. Membuat Sean juga ikut menarik tali itu.


Mereka berdua sampai dikampung halamannya Malin. Lalu Malin melihat ibunya yang sudah semakin tua membuat pemuda itu malu dan tak mengakui bahwa wanita tua itu adalah ibunya.


Ibunya yang tak lain Adilla kecewa lalu mengutuk pemuda itu menjadi batu dengan gagang sapu yang sudah patah yang jadi tongkatnya.


Membuat Nino refleks mengumpat dalam hati, bagaimana bisa Sean menyuruh untuk memakai gagang sapu?


Merasa itu hanya bualan, Nino dan Debi memutuskan kembali ke kapal membuat Adilla menangis sampai terduduk duduk.


Kapal yang dinaiki mereka kembali berjalan dengan anak anak cowo itu yang menariknya, sampai ditengah perjalanan angin kencang mulai datang dengan bantuan kipas besar yang mereka pinjam dari ruang osis.


Lalu tak lama kapal itu oleng membuat cowo cowo itu menggoyang goyangkan kursinya membuat Debi menahan umpatan karna tau mereka sengaja.


Sampai akhirnya kapal itu oleng ke kanan dan jatuh begitu saja membuat Nino dan Debi tercebur lalu berpisah karna berusaha menyelamatkan diri.


Yang lain sontak tertawa tertahan melihat kelakuan dua manusia itu yang kini benar benar seperti orang bodoh.


Singkat cerita Nino sudah menjadi batu yang ditutupi oleh kain berwarna abu abu untuk totalitas padahal jatuhnya bukan totalitas tapi ga jelas.


Cerita berakhir begitu saja dengan tawa mereka yang meledak memenuhi ruangan kelas itu.


Mahira kali ini tertawa ikut menikmati kebodohan teman temannya.


Lalu menoleh kesamping kirinya menemukan Abel sudah tertawa riang lalu menemukan Hana disamping kanannya sudah tertawa ngakak.


Dua gadis itu dari tadi mengajaknya bercanda, mengobrol, bahkan sempat bertanya dimana rumahnya membuat Mahira seperti dianggap ada oleh kelas ini.


Tanpa sadar ia tersenyum mulai merasa nyaman dengan kelas ini.


☄️☄️☄️


Mahira keluar kelas paling akhir membuat yang lain menyapanya untuk pamit.


Tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi mereka. Debi tadi pamit duluan karna harus membeli barang untuk keperluan rumahnya.


Membuat Mahira menganggukkan kepala saat gadis itu meminta maaf tidak bisa mengantarkannya.


Langit mendung saat Mahira baru keluar dari kelas membuatnya berdoa agar tidak hujan dulu sebelum ia sampai dirumah.


Membuatnya berlari kecil melewati koridor untuk melewati lapangan, sepertinya ia akan naik bus kota hari ini.


Tapi Dewi fortuna sepertinya tidak memihak padanya hari ini, karna saat berlari hujan datang tiba tiba membuatnya makin mempercepat langkah untuk sampai halte didepan sekolah.


Mahira sampai dihalte dengan keadaan yang sudah basah membuatnya tanpa sadar menggigil begitu saja. Ia mendongak memandang hujan menikmati suara jatuhnya dan suasana heningnya.


Sampai ia benar benar terkejut karna melihat seseorang menyampirkan jaket ditubuhnya.


Ia menoleh melihat Damar yang sekarang sedang menatap hujan membuat pemuda itu menoleh padanya, "Gue tungguin lo dari tadi" ucap pemuda itu tenang sambil menatap mata Mahira.


Mahira gugup begitu saja, mengalihkan pandangannya. "Kenapa" tanya gadis itu.


"Lo tau jawabannya Ra." jawab pemuda itu.


Mahira menoleh melihat ke pemuda itu lalu menggelengkan kepala pelan, "Gue ga ngerti" ucapnya pelan.


"Gue sayang sama lo ra." tutur pemuda itu jujur, selanjutnya memutar tubuh gadis itu agar berhadapan dengannya.


Mahira terkejut, benar benat terkejut karna selama ia hidup tidak pernah ada cowo yang menyatakan perasaan padanya.


"Kenapa" tanya Mahira pelan.


"Kenapa gue sayang sama lo? Gue ga tau sejak kapan gue mulai ngerasain ini sama lo, lo beda Mahira, lo satu satunya cewe yang selalu menghindar saat gue berusaha deketin, lo satu satunya cewe sederhana yang buat gue ngerasa lo istimewa." jelas pemuda itu memegang pundak Mahira.


Mahira meneguk ludah menepis tangan cowo itu dari pundaknya.


"Jangan suka sama gue." ucap gadis itu dingin.


"Lo ga berhak ngelarang gue suka sama lo Ra, gue cuma pengen lo tau kalo gue bakal selalu ada untuk lo." jawab pemuda itu.


"Dan gue juga berhak untuk ngelarang orang suka sama gue, gue ga seperti apa yang lo bayangkan Damar. Gue... gue" lirih Mahira.


"Lo ga pantes sayang sama gue." lirih gadis itu menahan air mata yang sudah siap jatuh.


"Gue duluan" pamit gadis itu.


"Gue anter Ra" jawab Damar menahan tangan gadis itu.


Mahira menggelengkan kepala lalu berjalan ke arah bus kota yang sudah datang.


Selanjutnya menoleh kembali ke belakang, "Gue kembaliin besok jaket lo" ucapnya lalu melangkah memasuki bus.


Damar menghela napas pelan memandangi kepergian gadis itu dengan tatapan sendu. Seolah menyadari akan mendapat perlakuan lebih dari ini jika semuanya sudah terungkap.


☄️☄️☄️


Mahira melamun menatap kosong pemandangan dari jendela bus kota disampingnya, menutup mata mencoba menghilangkan bayang pemuda itu.


Ia sadar bahwa selama ini ia pun juga sudah jatuh pada pemuda itu tapi berusaha mengelak semuanya.


Ia hanya takut jika kembali ditinggalkan lagi lalu benar benar menjadi rapuh.


Kalau boleh jujur kalimat itu adalah salah satu kalimat yang Mahira tunggu, tapi ketakutannya sendiri yang membuatnya harus menolak lalu menjauh.


Lebih memilih ego daripada hatinya sendiri.


Karna perasaannya mengatakan ada sesuatu yang akan pergi setelah ini tapi ia tidak tau siapa yang akan pergi.


Sisa perjalanan di bus itu dipakai Mahira untuk melamun, bertekad akan berusaha sekuat mungkin menahan perasaannya yang pasti kian hari akan semakin tumbuh.