
Narmi berdiri di pinggir sekolah sambil memainkan kaki di tanah. Rasanya sangat aneh dan janggal. Hubungannya dengan Jeongmin semakin renggang. Atau katakanlah lebih tepatnya namja itu menjauhinya. Narmi merasa kalau Jeongmin langsung menjauhinya sejak insiden di kantin itu. Sepertinya laki-laki itu trauma ya…? Narmi tau dari Eunsu kalau Jeongmin itu benci hal-hal yang bersifat mistis.
Narmi mempoutkan bibirnya. Apa dia juga mulai dibenci Jeongmin? Narmi memukul-mukul kepalanya sendiri. ‘Kenapa aku bodoh sekali sih??? Kenapa aku harus bersikap aneh sehingga aku disebut cewek aneh di sekolah?’ Narmi teringat di film-film, orang yang bisa melihat hantu bahkan bisa bersikap dewasa—tidak seperti dirinya yang malah lari tunggang langgang, berteriak-teriak bahkan memukul orang yang tidak tau apa-apa.
“Narmi……”
Narmi mendongak dan melihat Hwayoung, kekasih Hyunseong. Narmi tersenyum menyapa, “Kau tidak pulang bersama Hyunseong?”
“Dia ada latihan klub vokal…” sahut Hwayoung, “Kau sedang menunggu siapa?”
“Tidak… Aku—“
Hwayoung langsung memotong, “Kau tau tidak, kemarin aku dan Hyunseong berkunjung ke rumah Donghyun oppa.”
“Oh ya? Untuk apa?” tanya Narmi mulai tertarik dengan pembicaraan ini.
“Sekedar bermain dan ikut makan malam saja, keke… Ibunya terus menerus menceritakan seorang wanita yang tengah dekat dengan Donghyun oppa… Dia itu tipe anak yang akan menceritakan semua wanita yang dekat dengannya.”
“Benarkah?” Entah kenapa wajah Narmi memerah dan jantungnya berdegup kencang. Dia tau siapa cewek itu. Bukankah dirinya??
“Yap…” Hwayoung mengangguk. “Ibunya menyebut satu nama. Akh, aku sudah menduganya sejak awal, bahkan sebelum ibunya itu memberitaukannya.”
Narmi tersenyum bersemangat. ‘Aku.. pasti aku kan orangnya? keke.’ “Siapa? Siapa orangnya??”
“Jiyoung!”
Narmi melongo namun nafasnya hilang beberapa saat. Ia tertawa hambar. “Eyy bohong…”
“Betul! Aku tidak berbohong. Ibunya pun mengatakan itu.”
“Ke-kenapa??”
“Kau tidak merasakannya? Sudah setahun Jiyoung dan oppa itu sangat dekat. Kurasa mereka sudah pacaran hanya saja belum memberitaukannya pada kita karna malu.” ujar Hwayoung sambil mengemut lolipopnya.
Kepala Narmi langsung pusing. “Ta-tapi… mereka tidak terlihat dekat…?”
“Karna mereka menyembunyikannya di depan kita! Aku bersumpah aku pernah melihat mereka di restoran saat aku dengan Hyunseong makan malam di tempat yang sama… Ayolah,, apa kau tidak pernah menyadari gelagat mereka saat kita di kantin??”
“Be-begitu..?” Senyum Narmi memudar. Bibirnya langsung kering. Ada satu ingatan yang terlintas di benak Narmi. Donghyun dan Jiyoung pernah berpandang-pandangan seperti memberikan kode-kode tertentu. Dan hal itu belum pernah dilakukan Donghyun padanya ataupun pada Eunsu!
“Tapi tidak mengapa…” lanjut Hwayoung, “Mereka memang cocok… Donghyun oppa sering bercerita pada Hyunseong kalau Jiyoung sungguh membuatnya jatuh cinta. Romantis sekali kan oppa itu??”
Narmi merasa tubuhnya akan tumbang jika terus menerus mendengar semua itu.
Untunglah ponsel Hwayoung berdering. “Tunggu, Narmi-ah…” gumamnya lalu pergi agak jauh untuk mengangkat panggilan.
Narmi memegang kepalanya yang sakit. Ia pun memilih untuk pergi saja meninggalkan tempat itu. Narmi terhuyung-huyung berjalan. Hatinya dilanda ketidakpastian.
‘Itu semua bohong kan??’ Narmi tersenyum pahit. Jiyoung tidak mungkin sudah menjalin hubungan dengan Donghyun. Jiyoung tidak pernah menceritakan apa-apa mengenai Donghyun!
“Akh kepalaku…” gumamnya memegang kepalanya yang makin stres. Dari kejauhan dia melihat Jiyoung sedang berdiri sendiri, seperti menunggu seseorang. Sudah tak bisa disembunyikan lagi, Narmi akan menanyakannya langsung. “Jiyoung!”
Wanita itu menoleh. Senyumnya merekah dan ia berlari mendekati Narmi. “Narmi, kau juga mau pulang? Ayo… kita bersama-sama saja…” ucapnya sambil menggaet lengan Narmi.
Narmi menatap sahabatnya itu. Ia menggigit bibir. Apa baik ya kalau dia menanyakannya sekarang. “Jiyoung-ah…”
“Ya?”
“Apa kau sudah punya pacar??” tanya Narmi lambat.
Jiyoung membalas mata Narmi yang terlihat cemas dan ragu itu. “Na-Narmi……”
“Katakanlah sejujurnya. Bukankah kita bersahabat?”
Jiyoung akhirnya mengangguk, sudah tidak bisa ditutupi lagi. “Maaf.. aku belum memberitaukan kalian. Aku memang sudah setahun pacaran dengan Donghyun oppa.”
Narmi menelan ludah. Ternyata yang dikatakan Hwayoung benar. Narmi berusaha tersenyum tapi tak bisa.
Jiyoung mengekeh sambil menggaruk-garuk kepala, “Kami hanya terlalu malu untuk mengatakannya.. lagipula oppa ingin fokus pada ujian Negara dulu… Sebenarnya kami berniat akan memberitaukan kalian setelah oppa lulus. Kami berniat menraktir kalian piknik di gunung…”
Narmi tersenyum tipis. Hatinya pedih sudah.
“Awalnya oppa yang mendekatiku.. aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Tapi semakin lama aku semakin tersentuh dengan kebaikannya… dan kami pun berpacaran sampai sekarang……” tutur Jiyoung. Wanita ini berusaha jujur dan mengungkapkan segalanya karna ia sudah menganggap Narmi sebagai sahabat terdekatnya.
“Iya…” ucap Narmi lirih. Ditatapnya sahabatnya itu. Walau sedikit tomboy, tapi Jiyoung sangat cantik, menawan… dan senyumnya membuat siapapun langsung jatuh cinta. Dan ternyata selama ini Narmi salah! menyangka kalau Donghyun menyukainya. Yeoja idaman Donghyun ya yeoja di hadapannya ini: Park Jiyoung!
“Ma-maaf, Jiyoung-ah…” ucap Narmi sambil melepaskan tangannya dari pelukan Jiyoung, “Aku baru ingat kalau aku harus menjenguk Ayah.”
“Oh ya? Aku akan ikut denganmu…” ucap Jiyoung tulus.
“Ti-tidak perlu…” sahut Narmi cepat, “Aku dan Ayah ha-harus mengobrol serius. Ma-maaf…” Narmi langsung berbalik dan berlari meninggalkan Jiyoung.
“Narmi-ah!” panggil Jiyoung yang tidak digubris sama sekali.
Narmi terus berlari sambil menangis. Dadanya terasa sesak dan menyakitkan. Seperti inikah rasanya patah hati cinta pertama? Mengapa begitu menyedihkan???
Narmi mengusap air matanya. Ia akan pergi menuju tempat ayahnya.
Narmi berdiri di ujung taman di panti jompo. Dia langsung ke sini saat suster mengatakan ayahnya berada di taman. Pria itu sedang duduk di kursi roda sambil melamun melihat ke langit. Narmi menggigit bibir, menahan air mata. Dia sudah tidak punya siapapun untuk mencurahkan hatinya kecuali pada ayah. Dia tidak mungkin cerita pada Jiyoung, Eunsu atau bahkan pada Jeongmin.
“Hiks…”
Narmi berjalan mendekati ayahnya sambil menangis. ‘Tidak, tidak, Narmi… Kau tidak boleh menunjukkan air matamu di depan appa…’
Jadi wanita itu pun cepat-cepat mengusap air mata dengan punggung tangannya, menarik nafas untuk mengembalikan keceriaannya.
“Ayah!!” serunya riang dan berlari mendekati appanya.
Ayahnya menoleh. Pria ini sudah tidak bisa berbicara atau bahkan tersenyum (walau dia sangat ingin) akibat penyakit struk yang dideritanya.
“Ayah sudah makan?” tanya Narmi ceria sambil memegang dadanya supaya tidak bersedih lagi.
Pria itu hanya terdiam menatap anaknya.
“Ayah mau jalan-jalan tidak?” tanya Narmi lagi dengan senyum mengembang.
Mata ayahnya malah berkaca-kaca memandang Narmi.
“Kenapa, Yah? Kenapa menatapku begitu..?” tanya Narmi kembali merasakan kepedihan hatinya.
Bibir ayahnya bergetar seperti akan mengucapkan sesuatu. Melihat itu Narmi pun tak kuasa menahan lagi. Ayahnya ini sepertinya sangat mengerti dirinya, tau sekali kalau Narmi memang sedang mengalami kesedihan.
Narmi berjongkok di depan kursi roda itu dan langsung menangis terisak-isak. Ia menangis di lutut ayahnya membuat sebagian kaki ayahnya basah karna air mata Narmi.
“Ayah……” isaknya. “Aku.. hik… aku…… orang yang kusukai pacaran dengan sahabatku sendiri… hik… aku harus bagaimana..?”
Narmi terus menangis pedih di sana sementara sang ayah hanya bisa mengelus-elus rambut anaknya dengan kaku. Ayahnya juga ikut menangis. Dia berharap anaknya yang sebatang kara ini bisa bahagia.
Kwangmin yang sejak tadi duduk di atas pohon, ikut sedih melihat pemandangan itu. Sebenarnya sejak tadi siang diam-diam dia mengikuti Narmi (ingin tau dimana rumah cewek itu). Eehh… Kwangmin malah ikut mendengar dan menyaksikan kepedihan ini.
Narmi memeluk kaki ayahnya. Narmi berharap dia masih memiliki ibu…. dia berharap ayahnya pun tidak seperti ini…… dan dia berharap cintanya tidak kandas…
Narmi terus menangis…
Narmi berjalan lesu menuju rumahnya setelah kunjungannya tadi ke panti jompo. Wajahnya pucat dan matanya sembab. Dia seperti orang putus asa—ekspresi yang jarang sekali dimiliki seorang Narmi. Hantu yang lewat pun tidak dihiraukannya. Dia sudah tidak peduli lagi. Dunia rasanya menjadi terasa sepi saat kau patah hati kan?
Narmi membuka pintu rumahnya. Rumah tua itu hanya terdiri dari dua ruangan. Satu kamar mandi dan satu ruangan yang merupakan kamar dan tempatnya menghabiskan waktu.
Narmi mengerang. Hatinya kembali terluka lagi saat ia ingat kalau Jiyoung dan Donghyun sudah menjalin hubungan SETAHUN!
Narmi merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Ia stres. Ia menutup mata dengan lengannya. Hari ini tubuh dan jiwanya sudah terlalu lelah, menangis dan menangis. Bibir Narmi kembali bergetar. Entah kenapa pikirannya kembali mengingat masa saat ia begitu bahagia mencintai Donghyun, memperhatikan pria itu, berdebar-debar dan merasakan getaran di dada……
Tapi…… apa selama ini dia sudah menipu diri sendiri dengan menganggap Donghyun pun menyukainya? Sebuta dan setuli itukah pikirannya? Sikap baik dan perhatian Donghyun sudah ia salah artikan.
Narmi menangis keras-keras, membuang semua kepedihan hatinya. Ia berusaha membuang semua luka ini. Bagaimanapun Jiyoung adalah sahabat terbaiknya… Yeoja itu begitu tulus menolongnya dan menjadi seorang saudara bagi Narmi. Narmi tidak mungkin tidak bahagia dengan kebahagiaan Jiyoung. Tapi……
Tangisan Narmi semakin keras. Entah kenapa hatinya mellow, mengingat hidupnya yang sebatang kara, hidup pas-pasan bahkan terkadang dilanda kecemasan akan masa depan. Walau di sekolah ceria… namun di rumah dia sangat kesepian.
“Kenala…?” bisiknya lemah dan menangis sampai tertidur.
Seorang pria tampan muncul. Rambutnya hitam dan lekuk wajahnya sempurna. Kwangmin berjalan mendekati Narmi yang sudah tetidur itu. Kwangmin merasa hatinya ikut pedih. Tidak seharusnya dia mengetahui masalah pribadi Narmi ini…
Kwangmin berjongkok di dekat tempat tidur perempuan itu. Ia memperhatikan Narmi yang masih berlinang air mata. Walau sebetulnya Kwangmin tidak mengenali wanita ini… tapi entah kenapa dia sangat simpatik.. dan kasihan dengan hidup Narmi yang sebatang kara, tinggal di rumah kecil ini.
Air mata Kwangmin menetes tanpa ia sadari. Air mata itu mengakibatkan bunga di pot kecil ruangan itu langsung layu seketika karna begitulah demikian, air mata malaikat membuat tumbuhan di sekitarnya layu.
Kwangmin merapikan poni Narmi yang menutupi mata. Ia mengelus pelan pipi cewek itu. “Kau tidak sendirian…… Dan kau manusia yang kuat…”
Wajah Kwangmin mendekati wajah Narmi. Ia kembali mengelus pipi Narmi. Wajahnya mendekat dan makin mendekat… hanya tinggal beberapa inci lagi dari pipi wanita itu… dan…………