
Suara sepeda motor yang cukup mengganggu bergerum kencang di depan sebuah halaman rumah besar. Sang pengendara membuka helmnya dan menengadah melihat ke atas, ke arah loteng rumahnya yang biasa dijadikan balkon dan tempat bersantai. Youngmin—pria itu—nyengir. Ia meletakkan helmnya dan merapikan rambutnya yang agak gondrong itu.
Ia masuk ke dalam rumah dan berlari kecil menuju balkon atas. Dia merindukan seseorang yang berada di balkon itu sekarang.
Youngmin membuka pintu atas dan tersenyum lebar melihat saudara kembarnya di sana sedang menikmati langit sore kesukaannya.
“Kwangmin!!” seru Youngmin bahagia dan berlari mendekati adik kembarnya itu.
Kwangmin menoleh dan tersenyum. “Anyyeong… bagaimana sekolahmu?”
Youngmin menggeleng-geleng, “So boring! Membosankan…” sahut Youngmin.
“Eyy… kau harus belajar dengan giat..”
“Aku lebih suka di sini, bersamamu…” ujar Youngmin menatap saudara kembarnya, “Aish.. kenapa sih kau selalu memaksaku untuk terus sekolah? Ayah saja tidak peduli dengan kehidupanku. Dia sibuk bekerja di luar negeri.”
Kwangmin memasang wajah cemberut. “Kau selalu saja mengeluh tentang sekolah dan berharap ijin dariku untuk membolos. Remember! Sekali kau bolos, aku tidak akan menemuimu lagi…”
“Jangan… jangan…” sahut Youngmin langsung memelas manja, “Jangan tinggalkan aku…”
Kwangmin menghela nafas.
“Kapankah aku bisa menyusulmu?” tanya Youngmin setelah sekian lama mereka terdiam.
Kwangmin menoleh dan mengernyit tak mengerti.
“Aku juga bosan dengan dunia ini…” ucap Youngmin sambil memandang langit, “Bolehkah aku menyusulmu dan menghadapi kematian?”
Kwangmin tercengang. “Hey!”
“Bercanda.. bercanda…” sahut Youngmin cepat.
“Sekali lagi kau mengatakan hal itu—“
“Eyy…” potong Youngmin, “Aku bercanda, Kwangmin-ah… Aish… apa malaikat tidak punya selera humor?”
Kwangmin berusaha menenangkan pikirannya. Kakaknya ini selalu saja membuatnya cemas. Youngmin pernah beberapa kali berusaha bunuh diri dengan alasan ingin bersama dengannya saja dan meninggalkan dunia yang fana ini. Dan itu membuat Kwangmin sangat khawatir.
“Kau ini…” gumam Kwangmin, “Slalu saja asal bicara …”
Youngmin meleletkan lidahnya dengan geli. Ia memandang Kwangmin yang kembali menatap langit. Sebetulnya dari kedalaman hati Youngmin… ia ingin terus bersama Kwangmin. Dia merasa hidupnya di dunia ini sudah tidak berguna, kehilangan semangat hidup. Ayah sibuk bekerja di luar negeri dan pulang setahun sekali. Kwangmin adalah satu-satunya semangat Youngmin untuk hidup tapi adik kembarnya meninggal satu setengah tahun yang lalu. Awalnya kematian Kwangmin meninggalkan luka yang sangat mendalam, membuat Youngmin sempat ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Namun tiba-tiba saja Kwangmin sering muncul dan mengaku menjadi malaikat penjaga bagi Youngmin. Tentu saja Youngmin sangat bahagia.
Youngmin tersenyum melihat wajah saudara kembarnya. Dia berharap terus seperti ini. Sekalipun Kwangmin sudah meninggal tapi Kwangmin terus berada di sisinya selamanya.
Kwangmin mengepalkan tangannya. Dia berharap… berharap suatu saat nanti Youngmin mulai bisa hidup tanpanya. Bagaimanapun dia sudah mati dan dia tidak diberikan banyak waktu untuk menjadi malaikat penjaga bagi saudara kembarnya.
.
.
.
Lovely Yours Episode 1
~ Flashback ~
Satu setengah tahun yang lalu……
Saat itu hujan turun dengan deras. Kwangmin berlari setelah dari sebuah kafe kecil. Tetesan air hujan membasahi rambut dan tubuhnya… namun ia tak peduli dan terus berlari.
Kwangmin yang berlari itu tak sengaja terpeleset dan ia terjatuh di aspal. Lututnya perih yang ternyata sudah tergores dan mengeluarkan darah.
Kwangmin meringis dan malah menangis. Di wajahnya sudah tidak bisa lagi dibedakan mana air mata dan mana air hujan. Bercampur menjadi satu. Dia bukan menangis karna lututnya yang berdarah.. tapi hatinya sangat terluka… Perih dan menyedihkan…
Kwangmin menyeka wajahnya yang basah. Hatinya masih perih. ‘Ibu…’ Kwangmin masih terisak. Ia ingin bertemu dengan ibunya.. teman curhat lain selain Youngmin, saudara kembarnya. Namun ibunya sudah meninggal lima tahun yang lalu. Saat ini Kwangmin benar-benar merasa sangat kesepian. Dia butuh teman bicara untuk mengeluarkan semua kepedihan hatinya…
“Apa kau baik-baik saja?” tanya seseorang yang tau-tau tanpa Kwangmin sadari sudah berdiri di depannya dan memayunginya.
Kwangmin menengadah dan melihat seorang wanita tak ia kenal.
‘Sial…’ pikir Kwangmin. Di saat kacau begini mengapa muncul seorang wanita?
Kwangmin berusaha berdiri namun sulit juga karna kakinya yang nyeri. Perempuan itu berusaha membantu Kwangmin dengan memegang tangannya namun langsung saja Kwangmin tepis. Kwangmin terkejut juga mengapa sikapnya bisa jahat begini bahkan wanita itu hanya berusaha menolongnya berdiri.
Wanita itu terdiam kaku dan tetap berdiri memayungi Kwangmin.
Kwangmin menunduk, malu karna sudah bertindak kasar dan salah. “Maaf…” ucapnya pelan, “Dan trimakasih…” Kwangmin pun langsung pergi berlari kembali menerobos hujan sekalipun lututnya masih kesakitan.
Wanita itu menatap kepergian Kwangmin dengan cemas.
Kwangmin berdiri di pinggir jalan, di tempat perteduhan. Tetes-tetes air dari rambutnya menetes turun ke pipi. Kwangmin tersenyum tipis. Dia baru kali ini merasakan patah hati… dan itu sangat menyakitkan. Bibir Kwangmin bergetar. “Kenapa…?” bisiknya pelan sambil menahan tangis.
Kwangmin kembali berlari menerobos hujan sambil berusaha menepis perasaan lukanya. Kwangmin yang terlalu stres dan kalut, hingga tidak melihat mobil yang melintas di depannya. Supir sudah berusaha menghindari tabrakan namun terlambat. Kwangmin tertabrak dan tubuhnya terlempar ke aspal. Darah mengucur di keningnya.
Kwangmin mengerang ngilu. Hujan masih turun membasahinya sementara orang-orang di sekelilingnya mulai ramai dan mengerumuninya.
Kwangmin sama sekali tidak dapat menggerakkan anggota badannya. Sakitnya pun makin tak tertahankan. “Hyung…” isaknya seolah meminta tolong dan matanya langsung terpejam. (Hyung adalah panggilan dalam bahasa korea untuk kakak laki-laki)
Malam ini Youngmin mengendarai motornya dengan tak karuan. Ia sudah tidak peduli lagi dengan kecepatannya atau resiko ditangkap polisi. Kecemasan memenuhi otak dan hatinya. Kwangmin… adiknyanya kecelakaan dan kini dibawa ke rumah sakit.
Youngmin memarkir motornya dengan asal dan ia langsung berlari memasuki rumah sakit. Dengan cepat Youngmin langsung menuju sebuah kamar setelah tadi dia bertanya di bagian informasi.
Ia masuk ke sebuah kamar pasien, melihat Kwangmin yang baru saja menghembuskan nafasnya yang terakhir. Para dokter terlihat pasrah dan hanya menatap Kwangmin dengan iba.
Youngmin berjalan menuju tempat tidur, tempat Kwangmin dibaringkan. Youngmin memegang kepalanya. Kalap.
Ia memandang dongsaengnya yang sudah terbujur kaku di atas tempat tidur. Youngmin terisak. “Tidak mungkin…” Youngmin menggeleng-geleng. Saudara yang selama ini bersamanya, yang selalu mendamaikan hatinya saat dia marah dan sedih.. Satu-satunya orang yang paling berarti untuknya… saudara kembarnya… kini membujur kaku di atas tempat tidur dan menghadapi kematian…? Meninggalkannya?
Youngmin memeluk mayat Kwangmin. “Tidak!!!! Tidak, Kwangmin! Jangan pergi!!!”
Teriakan Youngmin itu cukup membuat rumah sakit geger. Lagipula tangisan Youngmin sangat menyedihkan untuk didengar. Dokter dan suster berusaha menenangkan dan mengatakan kalau tak ada lagi cara untuk menghidupkan Kwangmin.
“KENAPA???!!!” pekik Youngmin memandang saudaranya. Air matanya sudah membasahi pakaian yang dipakai Kwangmin. Youngmin tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Kwangmin. Slama ini hanya Kwangmin yang menjadi sandaran dan semangat hidupnya. Ibu mereka sudah meninggal dan Ayah pun memilih menyibukkan diri bekerja di luar negeri.
Hati Youngmin sangat terluka. Ia tak kuasa menahan perih hatinya. Pria ini sejak kecil memang memiliki hati yang tak sanggup menahan kesedihan. Youngmin memegang dadanya yang sesak dan ia langsung jatuh pingsan dengan berlinang air mata.
--------
Youngmin duduk di balkon sendirian. Matanya kosong dan hampa. Sudah sebulan semenjak kepergian Kwangmin. Ia masih berharap semua ini hanyalah mimpi. Di rumah ini Youngmin sendirian. Ayahnya kembali bekerja seperti biasa. Banyak teman sekolah yang prihatin dengan hidup Youngmin karna Youngmin semakin cuek, tidak peduli dengan apapun dan lebih sering melamun.
Youngmin berdiri dan menaiki tembok pembatas. Ia melihat ke bawah, ke halaman yang jaraknya 6 meter dari pijakan ia berdiri. Ia memegang dadanya yang slalu terasa sakit sejak kematian Kwangmin. Dan ia sudah tak tahan menyimpannya.
Setetes air mata mengalir dari ujung mata Youngmin. Hidupnya terasa kosong tanpa kehadiran Kwangmin. Di rumah ini dia sudah sendirian… dia merasa sama saja seperti mati. Tanpa Kwangmin dia merasa hidupnya dingin dan kosong. Tanpa saudara kembarnya, sebagian jiwa Youngmin seolah terenggut.
Youngmin berdiri dan menatap langit.
Sementara itu di atap rumah lain, tak jauh dari tempat Youngmin… Kwangmin dan salah seorang malaikat sedang berbicara sambil memperhatikan Youngmin.
Malaikat yang biasa dipanggil Andrew itu menghela nafas. “Lihat… dia mencoba bunuh diri lagi…”
Kwangmin menggeleng-geleng menatap hyungnya. “Tidak.. Jangan, Youngmin…”
Andrew melirik Kwangmin. “Belum saatnya dia meninggal…”
“Lantas harus bagaimana?” tanya Kwangmin cemas.
“Begini…” sahut malaikat Andrew, “Kau akan diberi waktu 365 hari untuk tetap berada di sampingnya sebagai malaikat penjaga.”
“Be-benarkah?” tanya Kwangmin langsung bahagia.
Andrew mengangguk, “Tapi hanya 365 hari, sampai Youngmin mandiri dan sudah bisa hidup tanpamu.”
Kwangmin mengangguk-angguk. “Jadi dia akan bisa melihatku? Dan aku akan berada di sisinya?”
“Ya… Manusia memang merepotkan. Dia hidup seenaknya tanpa mensyukuri apa yang masih tersisa di hidupnya.”
Kwangmin menunduk sedih. “Hyung kesepian. Dia masih bergantung padaku. Kematianku pasti merupakan pukulan berat untuknya.”
“Benar.. tapi ada konsekuensi yang harus diterima Youngmin selama kau menjadi malaikat penjaga untuknya.”
“Apa itu?” tanya Kwangmin.
“Youngmin akan anti dengan kaum yeoja.”
Kwangmin meringis, maunya sih tertawa karna persyaratannya begitu konyol dan menggelikan. Dia yang masih tergolong kaum awam di dunia lain ini, merasa begitu anehnya persyaratan yang diberikan.
“Dan…” lanjut malaikat Andrew, “Youngmin juga akan merasakan semua kepedihan hatimu slama kau hidup dulu.”
“Apa?” Kwangmin melotot tak percaya.
Kwangmin menelan ludah. “Ta-tapi… itu…” Kwangmin ingat kalau kakaknya itu tidak bisa merasakan kesedihan. Kalau Youngmin mulai sedih, hatinya benar-benar akan terasa sakit. Dan seperti sekarang ini. Youngmin sudah terlihat putus asa menyimpan semua kesedihannya dan memilih jalan pintas untuk bunuh diri, mungkin sudah tak kuat lagi dengan kepedihan yang ia alami akibat kematian Kwangmin.
“Kalau kau merasa keberatan, ya sudah… Kau tidak perlu menjadi malaikat penjaga untuknya… Dan lihat…” Andrew menunjuk ke arah Youngmin yang sudah berdiri di ujung atap. Wajah Youngmin terlihat sangat depresi dan sepertinya dia mencoba bunuh diri dengan loncat dari atap. “Dia akan mencoba bunuh diri kembali. Tapi kau tau kan orang yang bunuh diri memiliki dosa yang sangat besar terhadap dirinya sendiri?”
Kwangmin menggigit bibir menatap hyungnya.
“Semua persyaratan yang tadi aku sebutkan, sebenarnya berguna bagi masa depan Youngmin juga…” gumam Andrew lagi.
Kwangmin mengangguk cepat. “Oke, baiklah… Ijinkanlah aku menjadi malaikat penjaga untuk Youngmin hyung!”
Andrew tersenyum. “Silakan.. pergilah… datangi hyungmu itu.” Ia menghilang dalam sekejap dan Kwangmin juga menghilang.
Sedetik kemudian ia sudah berdiri di belakang Youngmin yang sudah siap akan meloncat.
Kwangmin memandang punggung hyungnya dengan sedih. “Youngmin!!!!” teriaknya.
Youngmin terkejut mendengar suara yang familiar di telinganya. Suara yang selama ini ia rindukan. Youngmin menoleh dan kaget saat melihat Kwangmin di belakangnya. Ia mengerjap berkali-kali, menyangka ia berhalusinasi atau bermimpi. “Kwa-Kwangmin…?”
“Youngmin!!!!” teriak Kwangmin lagi. Matanya berkaca-kaca. Ia bisa berhadap-hadapan dengan saudara kembarnya seperti sebuah mimpi. Rasanya sudah terlalu lama dia tidak dipandang seperti itu oleh Youngmin. “Apa yang mau kau lakukan? Apa kau mau bunuh diri? Bodoh! Cepat turun…!”
Youngmin masih tercengang namun ia turun juga dari pijakannya. Kalau ini mimpi dia tidak mau bangun. Air matanya langsung berlinang dan ia berlari memeluk adik kembarnya…
Kwangmin menepuk-nepuk punggung Youngmin sementara hyungnya itu terus menangis tersedu-sedu di pelukannya.
“I-ini bukan mimpi kan…?” isak Youngmin, “Kau memang Kwangmin kan…?”
“Iya…” gumam Kwangmin lembut, merasakan kerinduan hyungnya itu.
Youngmin terus menangis. Dia merasa doanya sudah terjawab. Dia tidak akan merasa sendirian lagi. Dia tidak akan merasa kesepian lagi. Dia tidak akan merasa hidupnya tidak berguna lagi. Karna orang yang berarti untuknya sudah hadir… “Kau tidak akan meninggalkanku kan, Kwangmin?”
Kwangmin melepaskan pelukannya dan menyeka air mata hyungnya. Kwangmin berusaha tersenyum walau hatinya kembali pedih. “Aku… Mulai sekarang… adalah malaikat penjagamu, Youngmin…”
“Apa?” seru Youngmin serak.
.
.
.
~ Flashback berakhir ~
--------
Seorang wanita berlari-lari menuju sebuah sekolah. Omo, dia sudah hampir terlambat.
“Akhh…” tukasnya saat melirik jam tangannya, “Ayah.. help me… semoga tidak terlambat.”
Narmi, begitulah nama wanita itu, mempercepat larinya. Dia sebenarnya cantik hanya saja tidak begitu mempedulikan penampilan -_-“ Seperti sekarang, dia membiarkan saja rambutnya berantakan. Dan kadang dia juga berpenampilan tidak cocok membuatnya kelihatan tidak menarik.
Dari kejauhan sebuah motor terdengar menggerum dengan kencang. Si pengendara rupanya sedang mengebut karna takut terlambat juga ke sekolah (walau sebenarnya kadang dia tidak peduli). Saat melewati kubangan berair pun si pengendara tidak peduli dan tetap saja mengebut. Akibatnya langsung menyipratkan air kubangan itu pada Narmi yang kebetulan sedang berlari dekat situ.
“Huaa..!!” ucap Narmi terkejut setengah mati saat sadar seragamnya sudah belepotan air lumpur kecoklatan. Menyadari bahwa motor yang baru saja melewatinyalah yang merupakan pelaku tunggal, Narmi berteriak marah, “Hey!”
Seolah tidak mendengar, motor itu terus saja melaju.
“HEYY!!!” pekik Narmi lagi.
Teriakan toa Narmi itu kontan membuat setiap orang yang berada di sana menoleh heran. Si pengendara motor pun memberhentikan motornya bertepatan dengan suara bel sekolah yang sayup-sayup berbunyi. Namja itu menoleh, tanpa membuka helm yang menutupi wajahnya. Sebenarnya kesal juga mengapa wanita itu berteriak-teriak.
Dengan kesal Narmi mendatangi laki-laki itu. “Ya! Apa kau tidak diajari mengendarai motor dengan benar? Lihat bajuku!”
Youngmin—si pengendara tak tau diri itu—nyengir tipis di balik helmnya. Ia berkata, “Dan apa kau juga tidak diajari memanggil dengan sopan?”
Narmi sudah ingin mengomel dan berteriak-teriak lagi, namun menahannya karna kan katanya dia harus dengan sopan. “Hei… apa kau tidak mau meminta maaf?” Narmi memandang seragamnya kembali dengan putus asa. “Aish seragamku… bagaimana..?”
“Akh.. gara-gara ocehanmu, aku terlambat…” tukas Youngmin kesal dan berusaha kembali menstarter motornya.
“Hey!” ucap Narmi, “Kau menyalahkanku? Semua ini juga gara-gara dirimu! Lagipula aku juga ada test Science—“
Youngmin memutar bola matanya. “Talk to my hand.” tukasnya lantas pergi begitu saja meninggalkan Narmi yang kesel abis.
“Akhhh~!!” Narmi menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. Sadar kalau dia juga terlambat, Narmi berlari menuju sekolah. Di gerbang sekolah—seperti biasa—guru kedisiplinan sudah menunggu korban-korban yang terlambat untuk diberi hukuman spesial.
Narmi dan beberapa murid lainnya yang terlambat disuruh berdiri di tengah lapangan sambil mengangkat kedua tangan selama dua jam pelajaran.
Narmi memonyongkan bibirnya kesal, Dia sudah sial pagi ini. Dan seragamnya pun belepotan begini. Tadi guru kedisiplinan sudah mengomeli seragamnya itu. Narmi memicingkan matanya ke arah parkiran motor. Dia mana mungkin melupakan motor sport berwarna silver sialan itu. Motor yang sudah membuatnya sial. Ah tidak. Si pengendara motor itu yang sudah membuatnya sial.
Si pengendara motor terlihat begitu santai melepaskan helm dan membereskan perlengkapan berkendaranya (padahal guru kedisiplinan sudah menatapnya gemas dan tidak sabaran). Youngmin merapikan rambut coklatnya yang agak gondrong dan berjalan gontai menuju tempat hukuman tanpa disuruh.
Narmi menatap pria itu. Tampan juga memang ia akui. Matanya besar, lekuk wajahnya sangat sempurna dan menarik. Narmi merasa kalau pria itu tersenyum atau tertawa pasti akan lebih tampan lagi. Seolah tersadar, Narmi langsung menggeleng-geleng. ‘Tidak, tidak… dia pria jahat.’
Youngmin berhenti sesaat, membalas tatapan Narmi dengan matanya yang tajam. Narmi malah meleletkan lidah. Youngmin menghela nafas saja. Dia akhirnya berdiri di sebelah Narmi—agak menjauhi sebenarnya—dan mulai menjalani hukuman. Berdiri sambil mengangkat kedua tangan.
Narmi melirik kepada laki-laki tinggi di sebelahnya. Dia masih memendam kekesalan. “Ish…” gumamnya seolah jijik.
Youngmin resah juga terus dipandangi seperti itu, seolah dia itu kuman atau sesuatu yang harus dibasmi. “Kenapa?” tukas Youngmin.
Narmi langsung membuang muka. “Kalau saja tadi aku tidak sial, aku pasti tidak terlambat.”
Youngmin mendengus keras-keras. “Dan kalau saja aku tidak perlu berhenti, meladeni yeoja cerewet sepertimu, aku pasti tidak terlambat.”
“Apa katamu!”
Youngmin dan Narmi sama-sama saling berhadapan dan memelototi. Dari mata mereka terpancar kemarahan dan luapan emosi.
“Hey kalian berdua!” seru guru kedisiplinan dari jauh, menyadari ada dua muridnya yang tidak menjalani hukuman dengan sempurna. “Jangan mengobrol! Angkat kedua tangan kalian!”
Sambil mendumel, Youngmin dan Narmi kembali menjalani hukuman.
Sekalipun masih pagi, tapi tumben sekali, matahari bersinar dengan teriknya, membuat para korban hukuman langsung keringatan dan kepanasan. Narmi merasa dia makin sial.
Narmi menyeka keningnya yang keringatan. Sementara itu Youngmin celingak celinguk, melihat sekeliling. Dia mencari-cari Kwangmin. Terkadang Kwangmin sering datang juga ke sekolah. Tapi memang jarang sih. Youngmin ingin sekali malaikat penjaganya itu muncul. Youngmin mengekeh pelan, rasanya sangat mengasyikkan kalau tiba-tiba Kwangmin membuatnya lolos dari hukuman. Yeah.. membuatnya menghilang dari tempat ini kan cukup keren juga.
Narmi memonyongkan bibirnya. Ia makin menganggap pria di sebelahnya itu sedikit sinting juga karna tertawa sendiri.
Youngmin makin celingak-celinguk, sama sekali tidak ada tanda-tanda kehadiran Kwangmin. Di atas pohon tidak ada, di sampingnya pun tidak ada. “Where are you…?” bisiknya pelan.
Narmi mengerling pada Youngmin. Sudah tak tahan juga pada namja yang ia anggap angkuh dan sinting itu. “Hey, apa kau gila berbicara sendiri? Lagipula kau ini nge-sok sekali, bicara dengan bahasa inggris! Sombong!”
Youngmin memutar bola matanya. Inilah sebabnya ia membenci wanita (entah sejak kapan, dia juga tidak sadar). Baginya wanita merepotkan dan sama sekali bukan teman bicara yang baik. “Bicara dengan bahasa inggris kau anggap sombong? Jadi untuk apa kita sekolah belajar bahasa asing?”
Narmi sudah akan membantah namun Youngmin dengan cepat memotong, “Lagipulaaaa… Ayahku lahir di Amerika. Dan aku pun sempat tinggal di sana saat kecil. Apa kau masih ingin menganggapku sombong, Nona-Sok-Tau?”
Narmi menelan ludah. Ternyata dialah yang sudah salah bicara. ‘Pantas saja dia pintar bahasa inggris.. dan wajahnya juga tampan pasti dari ayahnya…’ pikirnya. Narmi langsung geleng-geleng, menyadarkan otaknya sendiri.
Youngmin langsung membuang muka.
Narmi kembali memonyongkan bibirnya. Selalu saja dia kalah argumen. Dengan teman-temannya pun Narmi selalu kalah argumen membuat Narmi kadang dirugikan. Yah seperti sekarang ini. Dia seharusnya bisa saja kan marah-marah karna dia adalah korban. Seragamnya masih kotor karena lumpur.
Akhirnya selama dua jam pelajaran keduanya sudah tidak banyak bicara lagi karna pada ujungnya pasti akan berdebat. Saat bel jam pelajaran kedua, para murid yang dihukum langsung menurunkan tangan mereka sambil mengerang keras karna pegal.
“Aduhh... tanganku sakit sekali…” keluh Narmi sambil memijiti tangannya yang langsung keram.
Youngmin mendengus saja.
Narmi melirik tajam dan langsung pergi, lebih cepat meninggalkan tempat itu lebih baik menurutnya.
“Hey!” panggil Youngmin dari belakang tapi tidak Narmi hiraukan dan ia terus saja berjalan.
“Hey, perempuan tuli!” panggil Youngmin lagi.
Narmi berhenti berjalan dan ia mengepalkan tangannya dengan marah. Kalau pria itu memanggil hanya untuk menghinanya, maka Narmi akan…
Narmi menoleh dan.. BUG! Wajah yeoja itu malah dilempari sesuatu oleh Youngmin.
“Hey!” tukas Narmi marah juga sambil mengambil sapu tangan dari mukanya yang tadi dilempar Youngmin.
Youngmin menunjukkan devil smilenya. Ini pertama kali dilihat Narmi. Senyum yang pahit, jahat namun seksi(?). “Pakai itu untuk melap bajumu… juga untuk keringatmu yang bau itu.” Youngmin langsung pergi melewati Narmi, sudah tidak peduli lagi pada yeoja yang makin mendidih karna marah itu.
“Hey kau..! Aish pria sinting!” tukas Narmi namun Youngmin mengabaikannya dan terus berjalan sampai menghilang saat di belokan. Narmi menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia memandang sapu tangan itu. Tadi Youngmin memberinya sapu tangan supaya ia bisa melap keringatnya yang bau??? Narmi menggeram. Namun ia ingat juga dengan ucapan Youngmin, supaya sapu tangan ini digunakan untuk melap bajunya yang kotor. Entah kenapa Narmi agak tersentuh namun…
‘Hei untuk apa aku tersentuh dengan sapu tangannya ini?’ pikir Narmi dan kembali ingat dengan ucapan Youngmin mengenai keringatnya yang bau. “Arrrgghhh~!”
-------