
Narmi memegangi kepalanya bersamaan dengan bel istirahat berbunyi. Makin hari ia merasa dirinya semakin lemah, tidak berenergi seperti dulu lagi. Dan ia pun merasa nafasnya semakin sulit. Tadi saat pelajaran Biologi, dan guru menjelaskan mengenai pertumbuhan manusia, entah mengapa Narmi tertohok saat mendengar penjelasan mengenai pertumbuhan manula (orang yang tua) yang kian hari akan kian lemah, tidak sekuat seperti orang muda. Walau sebenarnya Narmi tidak ingin mengimaninya, tapi dia merasa tubuhnya sekarang seperti manula! Walau fisiknya masih normal dan tidak mengalami perubahan apa-apa, namun secara organ dalam, dia merasa dirinya manula. Dia menjadi lambat dalam berjalan apalagi berlari. Dia merasa lambung dan hatinya tidak sehat. Dia merasa dia sulit mengingat sesuatu.
Narmi memegang dahinya dengan frustasi. Sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya? Apa ini lagi-lagi ulah Minho? Apa dia sedang diguna-guna?
“Narmi..!”
Narmi menoleh dan melihat di pintu, Youngmin berdiri dan tersenyum padanya.
Narmi membalas dengan senyum tapi dalam hati dia meringis. Bagaimana ini.. Semakin hari dia semakin takut…. Takut kehilangan hidup dan nyawanya.. Takut kehilangan Youngmin……
Narmi mendatangi lelaki itu dan berusaha bersikap normal. Youngmin langsung menggandeng tangan Narmi dan mengajaknya menuju kantin untuk makan bersama.
“Aigoo.. ini dia pasangan baru kita…” seru Hyunseong saat melihat Youngmin dan Narmi datang.
Youngmin hanya memberikan cengiran saja dan berhigh five dengan Hyunseong.
Jiyoung dan Eunsu tersenyum penuh arti pada Narmi, merasa kalau Narmi beruntung sekali bisa berpacaran dengan pria tampan dan populer seperti Youngmin!
“Lain kali kita harus kencan 4 couple!” seru Donghyun sambil melirik Jeongmin dan Eunsu yang juga baru saja jadian.
“Setuju..” sahut Jiyoung semangat. “Aku tak menyangka kalau kita berdelapan kini bisa menjadi couple-couple begini ^^”
Jeongmin tersenyum saja. Pria ini memang sudah mau menerima perasaan tulus Eunsu dan perlahan-lahan mulai mencintai wanita itu. “Kita akan kencan berdelapan kemana?”
“Ke gunung bagaimana?” celetuk Hyunseong yang memang sangat menyukai petualangan.
“Ide yang bagus…” sahut Eunsu, “Kita bisa pergi dari pagi kan? Mendaki gunung lalu kemping merupakan pilihan yang bagus.”
Yang lain juga mengangguk-angguk setuju. Sementara Narmi hanya menunduk. Mendaki gunung? Dengan kondisi tubuhnya yang lemah begini sudah dapat dipastikan dia akan pingsan!
Youngmin melirik kekasihnya, menyadari kalau sejak tadi ada yang aneh di ekspresi Narmi. Lagipula wanita itu juga terlihat sakit.
Youngmin menggenggam tangan Narmi yang berada di bawah meja itu. Narmi menoleh dan hanya tersenyum tipis saja. Dia hanya berharap apa yang ia takutkan dan apa yang sering diucapkan hantu padanya, tak akan pernah terjadi.
----skip----
Akhir pekan ini Youngmin sudah menjemput Narmi dari jam 11 siang. Mereka sudah ada janji kencan hari ini. Walau yah sebenarnya seharusnya hari ini adalah kencan kuartet bersama-sama dengan Donghyun, Jeongmin dan yang lain… Namun berhubung Narmi menolak, Youngmin pun menelepon Jeongmin dan meminta maaf karna mereka tidak bisa ikut piknik di gunung.
Youngmin memperhatikan Narmi yang baru keluar dari rumahnya itu. Hari ini kekasihnya itu sudah berpenampilan sangat cantik. Wanita itu memakai bando pita di rambutnya. Dress yang dikenakannya pun begitu imut-imut. Tapi… walaupun Narmi keliatan cantik dan begitu ceria, Youngmin masih merasa janggal. Dia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan Narmi. Wanita itu seolah sedang memendam beban begitu dalam. Dan eh! Bukankah ia juga keliatan kurus dan pucat??
Narmi berdiri di hadapan Youngmin dengan menunjukkan senyum manisnya. “Ayo… Kita mau kemana?”
Narmi mengernyit, “Kenapa???” Narmi langsung mencubit pipi Youngmin.
“Aww~~” Youngmin mengaduh, pura-pura kesakitan.
“Hehehe…” Perempuan itu malah tertawa membuat Youngmin tiba-tiba salah tingkah. “Makanya jangan melamun. Ayo.. Kita mau kemana?”
Youngmin menarik lengan Narmi. “Aku mau menjenguk ayahmu..”
“Apa??” Narmi melotot tak percaya. Dia sih memang sudah cerita kalau ayahnya dirawat di panti jompo karna struk.
Youngmin tersenyum. “Oke?”
Narmi menelan ludah.
Akhirnya keduanya pun pergi ke panti jompo untuk menjenguk ayah Narmi. Yang menyedihkan kondisi ayah Narmi kian memburuk. Pria tua itu kini hanya terbaring tak berdaya akibat penyakit struk yang dideritanya. Kalau dulu beliau masih bisa berada di kursi roda, kini hanya terbaring lemas di ranjang, dengan tatapan kosong dan kebisuan.
Narmi menahan diri untuk tidak menangis. Bagaimanapun Youngmin tengah bersamanya. Dia harus berusaha kelihatan tegar.
“Ayah~~” ucap Narmi ceria. “Lihat sekarang aku bawa siapa. Ini pacarku, Yah.”
Youngmin mendekat dan menepuk lengan ayah Narmi. “Anyyeonghaseyo. Youngmin imnida.”
Pria tua itu tidak bisa bergerak atau pun tersenyum karna memang kondisinya yang sudah tidak memungkinkan untuk bergerak.
Narmi mengekeh pelan walau matanya sudah berkaca-kaca. Ia duduk di samping tempat tidur. “Ayah sudah makin sehat ya… Narmi senang sekali. Sebentar lagi Ayah akan pulang dari panti ini dan kita akan berkumpul kembali dalam satu rumah.”
Youngmin memandang kekasihnya. Hatinya ikut terasa pedih mendengar ucapan Narmi. Seandainya ada yang bisa ia lakukan untuk kesembuhan ayah Narmi.
Ayah Narmi terlihat berusaha bergerak dan berusaha berbicara. Pria tua itu sudah berusaha namun tidak ada anggota tubuh yang menurut perintah otaknya itu. Matanya basah dan hanya bisa bergumam-gumam tak jelas. Pria tua ini sebetulnya ingin mengatakan kalau dia berharap anaknya bahagia. Beliau juga sebetulnya sudah tidak peduli dengan hidupnya sendiri, asalkan Narmi bahagia maka dia pun akan bahagia. Karna Narmi kan tinggal sendiri dan harus hidup dari uang asuransi yang pas-pasan.
“Jangan, Yah..” ucap Narmi mencegah supaya ayahnya itu tidak berusaha bergerak lebih kuat lagi, karna Narmi takut nanti appanya akan menderita. “Narmi bahagia… Sekarang aku sudah punya seseorang yang menjagaku, Ayah…” Narmi menoleh pada Youngmin dan tersenyum sendu. “Dan dia kesini karna ingin menjenguk Ayah.”
Youngmin membalas senyum Narmi berusaha menguatkan pacarnya itu. Ia duduk di samping appa Narmi. Youngmin memegang tangan pria tua itu. “Aku berjanji akan menjaga Narmi…”
Narmi terkekeh pelan sambil mengucek matanya yang sudah basah. Entah kenapa Narmi merasa melloooow sekali hari ini. Dia tidak menginginkan apa-apa saat ini. Kalaupun dia mati karna penyakit misterius yang menggerogotinya dia akan menerimanya, asalkan orang yang ia kasihi bahagia, yaitu Ayahnya dan Youngmin.
Youngmin menepuk-nepuk kepala Narmi dan wanita itu malah semakin menangis.