
Kwangmin memandang Youngmin yang masih tertidur lelap itu. Padahal sekarang sudah pagi. Kwangmin sebenarnya berharap dia masih menjadi manusia, bisa sekolah, bisa menikmati aktivitas sebagai manusia… Tapi hyungnya yang satu ini malah tidak punya semangat hidup. Sejak kecil Youngmin memang yang paling malas dan cuek dengan apapun. Kematian ibu mereka menjadi pukulan telak baginya. Dan ditambah dengan kematian saudara kembarnya. Youngmin merasa kesepian dan hidupnya terasa sunyi. Ayah sibuk bekerja di luar negeri. Sekalipun semua yang Youngmin inginkan tersedia… tapi Youngmin tetap merasa hidupnya hampa. Inilah sebabnya Kwangmin ditugaskan menjadi malaikat penjaga untuk saudara kembarnya.
“Youngmin… bangun…” ujar Kwangmin pelan.
Youngmin hanya mengerang pelan dan sama sekali enggan membuka kelopak matanya.
“Youngmin…” panggil Kwangmin lagi sambil menepuk-nepuk lengan hyungnya. “Bangun yuk…”
“Ahh… sekarang kan hari Sabtu… Aku malas, Kwang…” sahut Youngmin manja dan masih tidak mau bangun.
Kesabaran Kwangmin habis sudah. Dengan beringas Kwangmin langsung memukul pantat hyungnya. “Oy! Kau ini benar-benar pemalas! Sekarang sudah hampir jam 9!”
Merasakan pukulan keras di pantatnya, Youngmin langsung duduk terbangun sambil berteriak kesakitan. “Aww! Hey, apa kau tidak bisa membangunkanku dengan lebih lembut?”
“Aku tadi sudah membangunkanmu dengan lembut.. tapi kau masih saja tidur.”
Youngmin menggaruk-garuk rambutnya. Ia menatap dongsaengnya. Kebahagiaan terbesarnya ialah saat ia bangun ia sudah melihat adiknya, hehe. Sebulan setelah kematian Kwangmin, Youngmin slalu merasa harinya ditimpa kesedihan saat bangun pagi. Namun sejak Kwangmin slalu muncul menjadi malaikat penjaga untuknya, hidup Youngmin kembali normal seperti dulu.
“Ayo kita olahraga pagi dulu…” ucap Kwangmin.
“Hah?” Youngmin langsung terbahak, “Apa malaikat perlu juga berolahraga?”
Kwangmin memukul lengan saudaranya. “Yang perlu berolahraga itu dirimu! Lihat tanganmu..” Kwangmin menekan-nekan lengan Youngmin. “Lembek sekali… seperti bubur… Kau ini pria. Lagipula olahraga pagi itu bagus untuk kesehatan.”
“Ish…” dengus Youngmin.
“Ayo…” Kwangmin menarik Youngmin untuk berdiri.
Akhirnya mereka pun turun dan keluar untuk berolahraga pagi mengelilingi komplek perumahan. Kwangmin yang walaupun malaikat, ikut saja berlari di sebelah hyungnya.
“Saat ini tidak ada yang bisa melihatmu kan?” tanya Youngmin di sela larinya.
Kwangmin mengangguk.
Youngmin malah mengekeh, “Bagiku kau itu tetap sama seperti dulu, Kwang… Lihat saja penampilanmu. Walau kau malaikat tapi kau tetap berpenampilan seperti manusia.”
Kwangmin mengikik. “Aku ini malaikat yang stylish…”
“Hahaha…” Youngmin tertawa. Orang-orang yang berada di sekitar sana langsung menatap Youngmin heran. Pria itu dari tadi mengobrol dan tertawa dengan siapa?? Youngmin langsung berusaha mengatur ekspresi saja. Sulit juga ya kalau hanya dia yang bisa melihat Kwangmin.
Kwangmin kembali mengikik, “Hati-hati hyung… nanti kau dianggap gila karna bicara sendiri.”
Setelah lelah berlari cukup jauh, keduanya duduk beristirahat di bawah pohon sambil menikmati awan yang berarak.
Youngmin memandang saudara kembarnya, mencermati wajah tampan adiknya itu.
“Kau tidak akan meninggalkanku kan?” tanya Youngmin.
Kwangmin menelan ludah.
Wajah Youngmin semakin serius. “Kau tau kan kalau aku tidak bisa hidup jika hanya sendirian?”
Kwangmin melihat ke arah lain. Hatinya pun sebenarnya pedih.
“Kwangmin!”
Kwangmin menatap saudara kembarnya, “Aku akan terus menjagamu, Youngmin…”
Kwangmin meringis dalam hati. Setelah waktu 365 harinya habis untuk menjaga Youngmin setengah tahun lalu, Andrew memberikan waktu tambahan 365 hari lagi untuk Kwangmin bisa menjaga Youngmin yang nyatanya belum siap dan mandiri untuk ditinggalkan. (jadi Kwangmin sudah menjadi malaikat penjaga selama 1 setengah tahun. Sisa waktunya ialah 6 bulan lagi) Jika dalam tambahan waktu itu, Youngmin masih belum siap maka apapun keputusan Youngmin (entah bunuh diri atau apapun) akan ditanggung Youngmin sendiri. Sedangkan Kwangmin… dia juga akan menerima konsekuensi lain karna mendapatkan tambahan waktu 365 hari menjadi malaikat penjaga Youngmin. Konsekuensi itu bahkan terlalu berat untuk diterima Kwangmin. Tapi Kwangmin tidak punya jalan lain. Dia tidak bisa membiarkan Youngmin hidup dalam kesepian dan keterpurukan. Namun mungkin takdir berkata lain. Kwangmin bertemu dengan hantu yang bernama Yesung. Hantu itu memberitaukannya cara rahasia untuk Kwangmin bisa lolos dari konsekuensi mengerikan yang akan ia terima. Sebelum waktu tambahan 365 hari itu habis, ia harus menemukan seorang wanita yang memiliki anugrah spesial bisa melihat hantu dan malaikat.
Youngmin tersenyum dan bersandar di bahu Kwangmin. “Thanks…”
Kwangmin ingin sekali menangis tapi ia tahan. Dia mengelus rambut hyungnya. “Youngmin, apa kau tau kalau malaikat juga bisa menyamar menjadi wajah lain apapun yang ia suka?”
Youngmin langsung menoleh. “Oh ya? Really cool!”
“Aku sih masih amatiran… Tapi aku sedang melatih untuk bisa berubah menjadi pria yang tampan.”
Youngmin tertawa. “Untuk apa? Kan yang bisa melihatmu hanya aku.”
“Huu siapa bilang~“ Kwangmin mencibir, “Ada beberapa manusia yang diberi anugrah untuk bisa melihat kami.”
“Oh?” Youngmin terkejut mendengarnya, “Benarkah?”
“Ya… Kalau aku bisa bertemu dengan manusia seperti itu, aku pasti akan mengajaknya mengobrol.” Kwangmin menerawang. Dia berharap dia bisa bertemu wanita berkemampuan spesial itu. Karna kunci jalan keluarnya ada pada wanita itu.
“Eyy.. tidak bisa… Kau hanya boleh di sisiku saja.”
Kwangmin mengekeh. “Kan seandainya ada…” Ia itu melihat ke langit, “Aku benar-benar membutuhkannya…” bisiknya yang tidak didengar Youngmin.
Sementara itu di tempat lain, Narmi sedang berlari ketakutan. Ia baru saja belanja dari supermarket. Dan saat keluar dari supermarket, betapa kagetnya ia melihat banyak hantu dan sejenisnya berseliweran di hadapannya. Ada yang wajahnya seperti di film horor, ada juga yang seperti manusia. Beberapa di antaranya juga ada malaikat, yang berusaha mencegah para hantu untuk mengganggu aktivitas manusia, misalnya menyenggol atau menjatuhkan barang.
‘Aish!’ ucap Narmi dalam hati dan terus berlari ketakutan, tidak peduli dengan barang belanjaannya yang sudah berjatuhan di jalan karna kecepatan larinya yang tiada tara. ‘Apa kota ini sekarang dipenuhi hantu??? Atau aku saja yang baru melihat semua ini?’
Narmi terkejut saat melihat di atas tiang listrik sesosok hantu yang seperti manusia sedang bernyanyi. Suaranya parau. Bagi Narmi hantu itu lebih seperti mengaum dibandingkan bernyanyi.
“Aish! Jinjja!!!!” seru Narmi stres dan mempercepat larinya.