
Narmi duduk berbaring di sofa ruang keluarga rumah Youngmin sore itu. Hari ini dia main ke rumah pacarnya. Sementara Youngmin sedang menyiapkan minuman dan cemilan, Narmi mengambil foto album dari lemari dan melihat-lihat isinya.
Foto itu dimulai dari masa orangtua Youngmin pacaran. Lalu ada juga foto pernikahan mereka yang so sweet karna di pantai.
“Lihat apa?” tanya Youngmin yang datang sambil membawa nampan berisi minuman dan cemilan.
Narmi mengekeh. “Aku sedang melihat foto pernikahan orangtuamu. Baru kali ini aku melihat mereka. Ibumu cantik dan Ayahmu sangat tampan.”
Youngmin tersenyum dan duduk di sofa lain. “Mataku mirip dengan Ibu kan? Tapi dia sudah lama meninggal.”
Narmi mengangguk mengerti. Dia memang sudah tau kalau ibu Youngmin telah lama meninggal.
Narmi membalik halaman foto selanjutnya dan melihat foto Youngmin saat bayi. “Aihh menggemaskan...” seru Narmi sambil mengelus-elus wajah Youngmin cilik di foto itu.
Youngmin hanya terkekeh.
Narmi melihat ada foto Youngmin saat makan, saat bermain ataupun saat tertawa. Tapi Narmi tidak menyadari kalau ada beberapa foto yang ia lihat merupakan Kwangmin—bukan Youngmin. Sayangnya di foto itu tak ada foto si kembar saat bersama karna semua foto itu sudah ditempel di dinding kamar Youngmin kan.
Narmi tertawa dengan wajah merah saat melihat foto Youngmin yang sedang memegang mainan Pikachu sambil tertawa menggemaskan. Padahal di foto itu adalah Kwangmin. “Aigoo… Lucu sekali! Youngminku tampan sekali saat kecil… Aigoo aigoo~”
Youngmin terbahak melihat Narmi malah menciumi foto itu. “Ya, kau gila?”
Narmi menunjukkan foto itu. “Lihat saja sendiri. Kau memang menggemaskan.”
Youngmin terkejut saat melihat foto Kwangminlah yang sedang dilihat Narmi. Dia sendiri memang belum menceritakan bahwa dirinya memiliki saudara kembar yang sudah meninggal. “Itu bukan aku.”
“Hah?” Narmi malah tertawa lebar, “Bagaimana mungkin ini bukan dirimu? Dasar!”
“Eyy.. itu memang bukan aku. Dia Kwangmin, saudara kembarku.”
“Apa?” Narmi kini terkejut, “Kwangmin? Saudara kembarmu?” Narmi kembali menatap foto itu dan Youngmin bergantian. 'Tapi mereka mirip sekali!!'
Youngmin mengangguk. “Aku memiliki saudara kembar, namanya Kwangmin. Tapi dia sudah meninggal satu setengah tahun yang lalu.”
Narmi hampir tersedak mendengarnya. Ia menatap Youngmin sungguh-sungguh. Saudara kembar Youngmin meninggal? Ibunya juga meninggal. Entah kenapa Narmi merasa sangat kasihan dan iba.
“Anniyo, aku tidak apa-apa…” sahut Youngmin seolah menangkap sinyal dari ekspresi yeoja itu.
Narmi kembali memandang foto Kwangmin yang sedang memegang mainan Pikachu itu. Betapa menyedihkannya bahwa seorang manusia meninggal begitu cepat di saat masih muda kan?
Youngmin tersenyum tipis. Narmi belum tau saja kalau Kwangmin kini menjadi malaikat penjaga untuk Youngmin, makanya ia tidak terlalu sedih atau depresi.
----skip----
Sore ini Youngmin dan Kwangmin sedang berjalan-jalan bersama sambil mengobrol.
“Kwang…”
“Hem?”
Youngmin memandang adiknya itu. “Kau kan sudah mati… Apakah kau pernah bertemu dengan Ibu?”
Kwangmin terkejut mendengar pertanyaan itu. Selama ini Youngmin belum pernah menanyakan mengenai dunia selain dunia manusia. Baru kali ini sajalah Youngmin membahasnya. “Kenapa? Apa kau merindukannya?”
Kwangmin tersenyum tipis dan menepuk bahu hyungnya. “Dunia kami berbeda.”
“Apa maksudmu?” Youngmin mendongak dan terkejut mendengarnya.
“Aku adalah malaikat, Youngmin… sedangkan Ibu bukan…”
Youngmin menelan ludah. “Apa ibu kini menjadi hantu?”
“Bukan, bukan…” Kwangmin menggeleng-geleng. “Dia… yah.. bagaimana ya aku menjelaskannya. Kau tau tidak kalau orang yang sudah mati tidak akan mengingat apa-apa mengenai kehidupannya. Dia sudah bahagia di alam sana, sudah mengakhiri aktivitasnya di dunia… Sedangkan aku…” Kwangmin menunduk.
Youngmin menggigit bibir menatap Kwangmin. Dia sebetulnya belum begitu mengerti.
“Aku terpilih sebagai malaikat…” lanjut Kwangmin, “Terkadang aku sendiri bertanya kenapa aku terpilih. Dan sekarang aku tau jawabannya.” Kwangmin menatap Youngmin dalam-dalam.
“Apa?” tanya Youngmin penasaran.
“Untuk dirimu, Young…” Kwangmin tersenyum dengan mata berkaca-kaca, “Aku harus menjadi malaikat penjagamu…”
Youngmin sangat sangat terharu mendengarnya. Begitu baiknya Tuhan terhadap hidupnya sehingga mengirim Kwang sebagai malaikat penjaganya. Ia merangkul bahu adiknya. “Gomawo..”
Kwangmin tersenyum. Sebenarnya dia justru sedih, dia sendiri tidak tau kenapa. Bukankah harusnya dia bahagia karna sebentar lagi dia akan menjadi manusia? Tapi mengapa dia begitu merasa bersalah pada hyungnya… juga pada Narmi.
“Menjadi malaikat atau pun manusia sama saja kan?” ucap Youngmin sambil tertawa.
Kwangmin tersentak mendengarnya.
“Kau tetap selalu bersamaku… hihi…”
Senyum Kwangmin langsung mengembang. Dia tertawa bersama dengan hyungnya. 'Benar juga ya…'
Sementara itu tak jauh dari sana, Narmi sedang berjalan, setelah belanja dari minimarket. Ia memegang punggungnya kenapa baru jalan sejauh ini saja dia sudah merasa capek begini ya? Apakah yang terjadi pada tubuhnya sampai dia akhir-akhir ini gampang lelah?
Narmi tak sengaja melihat ke depan, melihat dua pria dari belakang. Salah satunya adalah Youngmin yang sedang tertawa dan merangkul bahu lelaki di sampingnya.
“Ah itu Youngmin…” ucap Narmi pada diri sendiri. Baru dia akan memanggil, langsung terhenti karna saat melihat bahwa lelaki yang di sebelah Youngmin mirip sekali dengan Youngmin.
Narmi menyipit. Apa dia sudah salah lihat? Kenapa keduanya begitu mirip? Seperti saudara kembar saja.
Narmi tersentak. Baru ingat kalau Youngmin kemarin menceritakan mengenai saudara kembarnya yang sudah meninggal. Narmi menatap sosok llaki di sebelah Youngmin, yang mirip sekali dengan Youngmin. Narmi menelan ludah. 'Masa itu Kwangmin? Bukankah katanya Kwangmin sudah meninggal??'
Glek.
Narmi menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa justru bahkan sekarang dia melihat hantu Kwangmin? La-lantas kenapa Youngmin bisa melihat saudara kembarnya yang sudah meninggal?? Narmi semakin bingung dan kepalanya mendadak pusing. Tubuhnya kembali diserang lagi.
Wanita itu membungkuk memegang dadanya yang sesak. Ia terbatuk dan kembali memandang Youngmin dan pria itu yang berjalan makin jauh.
“Ahh…” erangnya karna merasa dadanya begitu sesak. Narmi pun akhirnya memilih untuk cepat pulang, tidak jadi memanggil Youngmin. Tubuhnya terlalu lemah sekarang.
'Tapi…… sosok di sebelah Youngmin itu… memang Kwangmin kan..? Bagaimana bisa……???'