
Pagi ini saat sekolah, Youngmin berjalan memasuki sekolahnya. Sama seperti siswa lain, ia memakai jas dan kemeja yang sudah terkancing rapi.
Tiba-tiba seseorang menarik lengannya dan menyeretnya ke belakang parkiran. Lagi-lagi Woochun dan teman-temannya. Mereka memang sering mem-bully Youngmin, menganggu, mengejek atau meminta uang.
BUG!
Youngmin ditinju sekali oleh anak buah Woochun itu.
Youngmin tidak membalas—seperti biasa. Walau ia merasakan rasa kebas di rahangnya, tapi ia tidak pernah mau melayangkan pukulannya pada orang-orang itu. Ia merasa akan menjadi seorang pengecut jika melakukan perkelahian. Lagipula ibu melarangnya untuk berkelahi.
Woochun maju ke depan mendekati Youngmin. Ia tersenyum menghina. “Kau berani menantangku, hah! Bukankah aku sudah bilang padamu kalau kemarin kau harus memberikanku seluruh uang tabunganmu?!”
Youngmin tak menyahut. Ia juga tak membalas pandangan Woochun itu. Ia melap ujung bibirnya yang berdarah.
“Dasar tidak berguna!” tukas Woochun dan meninju pipi Youngmin.
Youngmin oleng dan mundur ke belakang. Dua ujung bibirnya berdarah sudah. Dan sekali lagi, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Benar-benar pas dengan julukan yang diberikan untuknya di sekolah ini : pria batu. Dan sejujurnya… akhir-akhir ini Youngmin tidak memiliki semangat hidup, padahal dia baru saja berulangtahun. Entahlah~
“Apa kau ingin mati, bodoh!” Woochun sudah akan meninju Youngmin lagi namun tiba-tiba ada tangan lain yang menghentikan tangannya. Woochun menoleh dan melihat seorang siswa yang tak ia kenal sudah menahan tangannya.
“Perkelahian dilarang di sekolah ini…” ucap lelaki yang menahan lengan Woochun itu. Ia pun malah meninju pipi Woochun. Woochun terjengkang ke belakang akibat pukulan itu.
Anak buah Woochun sudah akan menyerang namun dengan mudahnya pria itu berhasil melawan mereka semua seorang diri.
BAG BUG BAG BUG!!!
Dengan ketakutan, Woochun dan anak buahnya pun lari meninggalkan tempat itu. Betapa hebatnya lelaki itu. Apa seorang anak karate ya?
Pria itu menoleh pada Youngmin. Ia tersenyum lirih dan memberikan sapu tangannya supaya Youngmin bisa melap ujung bibirnya yang berdarah itu.
Youngmin menerimanya dan masih terheran-heran.
Lelaki yang menolong Youngmin itu kembali menyunggingkan senyum. “Kau harus obati dirimu… Ah!” Pria itu seolah tersadar. Ia melirik jam tangannya. “Aku harus cepat-cepat ke ruang guru. Anyyeong~” serunya lalu bergegas pergi dan meninggalkan Youngmin yang masih terbengong di sana.
Youngmin menatap kepergian orang itu. Youngmin bahkan baru pertama kali ini melihatnya. Dan…… entah kenapa hati Youngmin merasa familiar dengan siswa itu. Bahkan hatinya seperti menemukan seseorang yang bisa mengisi kehampaan hatinya.
“Siapa dia??” tanyanya pada diri sendiri.
.
.
.
Youngmin sedang mengeluarkan buku pelajarannya ketika guru mulai berbicara di depan kelas pada pelajaran pertama ini.
“Sebelum kita belajar, ada sedikit pengumuman…” ujarnya, “Sekolah kita kedatangan murid baru, pindahan dari Paris.”
“Murid lelaki baru?? Dari Paris? Kyaaa~” celetuk para siswa wanita sambil melompat-lompat kecil dari tempat duduknya.
Youngmin hanya bertopang dagu tidak tertarik sementara guru keluar kelas dan membawa seseorang yang sejak tadi berdiri menunggu di luar.
Mata Youngmin membesar saat melihat siswa baru yang dimaksud adalah orang yang tadi menyelamatkannya di parkiran!
Murid baru itu tersenyum lebar (membuat para cewek meleleh). Ia membungkuk sopan di depan kelas. “Anyyeonghaseyo… Kim Beomgyu imnida…”
“Kyaaa~~” pekik pelan para siswi melihat Beomgyu, si anak baru, yang nyatanya ganteng sekali.
Youngmin memperhatikan Beomgyu. Kenapa ya kenapa… Kenapa ia merasa Beomgyu begitu familiar? Seolah dia memang sudah mengenal namja itu sejak lama. Dan Youngmin merasa ia seolah de javu. Youngmin memegang kepalanya yang agak meriang.
“Nah… Kim Beomgyu…” ucap sangsaenim, “Silakan kau pilih bangku yang kau suka. Masih banyak bangku kosong di kelas ini.”
Beomgyu terlihat memandang sekeliling sementara para siswi mulai menyisihkan bangku kosong yang ada di samping mereka. Berharap Beomgyu memilih bangku kosong itu.
Beomgyu tersenyum lirih dan ia menunjuk ke arah Youngmin, atau yah tepatnya bangku kosong di sebelah Youngmin itu.
“Benarkah?” tanya sangsaenim seolah berusaha meyakinkan Beomgyu dengan pilihan bangku murid baru ini. Mungkin karena bangku itu terletak paling belakang dan lagipula Youngmin terkenal sebagai lelaki membosankan.
Beomgyu mengangguk riang. Ia pun langsung berjalan menghampiri bangku kosong di sebelah Youngmin, melewati para cewek yang menatapnya terpesona.
Bwomgyu membungkuk pelan, “Anyyeonghaseyo……” Lantas ia pun duduk di sebelah Youngmin.
Youngmin pun membalas dengan cukup ramah. Tumbennya.
Sementara guru sudah mulai mengajar di kelas, Beomgyu dan Youngmin malah diam-diam mengobrol alih-alih mendengarkan penjelasan guru.
“Gomawo untuk pertolonganmu tadi di parkiran…” ucap Youngmin.
Beomgyu mengangguk dan lagi-lagi tersenyum riang. “Aku kebetulan lewat tadi… dan langsung saja menolongmu karna menyangka kau sedang di-bully.”
Youngmin menghela nafas. “Aku memang sedang di-bully dan aku sering diperlakukan seperti itu.”
Beomgyu menatap Youngmin terkejut. Ia sedikit menggeram. “Kenapa?”
Youngmin tersentak melihat sikap Beomgyu yang seolah-olah marah dan tidak terima itu. Youngmin angkat bahu. “Mungkin karna sikapku yang lemah dan yang tidak mau melawan.”
“Tenanglah… mulai detik ini kau tidak akan di-bully lagi…” ujar Beomgyu mulai terlihat tenang dan mengeluarkan buku catatan.
Youngmin menatap Beomgyu tidak mengerti.
Beomgyu menoleh dan memberikan senyum lebarnya. “Karna kita adalah chingu…”
----skip----