
Siang ini Kwangmin berkeliaran. Dia terbang mencari seseorang. “Dimana ya…?” ucapnya resah sambil mencari ke sekeliling. Yang dicari Kwangmin adalah Yesung, hantu yang waktu dulu pernah memberitaukannya mengenai rahasia bahwa dia bisa hidup kembali jika Narmi dan Youngmin bisa saling mencintai. Kwangmin ingin bertemu Yesung, menanyakan perihal Minho, iblis yang juga mengincar Narmi.
Kwangmin menemukan Yesung yang sedang duduk di atap sebuah bangunan tinggi. Hantu itu sedang melamun tak ada kerjaan. Kwangmin menghilang dan lalu muncul di samping hantu itu.
Yesung menoleh tenang. Dia tersenyum menghina. “Kau mencariku? Apa pantas seorang malaikat mencari hantu?”
“Ada hal penting yang ingin kutanyakan—“
“Mengenai Minho?” tukas Yesung memotong ucapan Kwangmin. “Kau ingin menanyakan itu kan?”
Kwangmin mengangguk. “Apa Minho mengincar Narmi sama sepertiku yaitu supaya dia bisa hidup kembali?”
Yesung tertawa keras membuat Kwangmin sampai menjauhkan badan saking kerasnya tertawa hantu itu. “Kau bercanda? Iblis mana bisa menjadi manusia!! Aku kan sudah bilang hanya kasus manusia kembar yang bisa seperti itu.”
“Lantas apa tujuannya? Andrew tidak mengatakan apapun padaku.”
“Minho ingin mengambil jiwa manusia itu. Jika ia memilikinya, dia akan makin kuat dan jahat…” sahut Yesung, “Dan kalau dia makin jahat, dia sulit dihentikan. Sebenarnya merebut jiwa manusia dengan paksa merupakan kesalahan fatal. Dia bisa mendapat hukuman ekstrem karnanya.” Yesung melirik pada malaikat di sebelahnya, “Sebenarnya kau juga tidak boleh mengincar wanita itu untuk membuatmu hidup kembali. Tapi seperti yang kuduga, Andrew atau malaikat lainnya tidak mencegahmu walau mereka sudah tau…”
Kwangmin tersenyum tipis.
“Karna bagi mereka hanya 1% kemungkinan kau berhasil membuat perempuan itu dan saudara kembarmu saling mencintai.” lanjut Yesung, “Saudara kembarmu sudah diberikan sifat anti wanita yang akan membuatnya mustahil jatuh cinta selama kau masih menjadi malaikat penjaganya.”
Kwangmin menggaruk-garuk rambutnya. Dia sendiri tau kalau kemungkinannya untuk berhasil sangatlah kecil, namun Kwangmin masih belum menyerah untuk saat ini. “Lalu bagaimana dengan Narmi? Aku takut Minho datang kembali dan melakukan ritual lagi.”
Yesung terdiam lama dan hanya menatap langit. Lantas ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil bening berisi kapsul hitam dan kapsul putih. Yesung memberikan kotak itu pada Kwangmin.
“Ini apa?” tanya Kwangmin sama sekali tidak mengerti.
Yesung menghela nafas. “Dua ratus tahun yang lalu juga ada kejadian sepertimu. Malaikat yang ingin menjadi manusia dan ingin kembali hidup bersama saudara kembarnya. Tapi dia memilih menyerah karna tidak menemukan manusia yang diberikan anugrah khusus. Dia meninggalkan kapsul ini dan aku memungutnya.”
“Tapi untuk apa?”
Yesung memandang Kwangmin. Dia sendiri heran untuk apa dia membantu malaikat ini. “Kapsul putih ini suruhlah wanita itu menelannya. Jiwanya tidak akan bisa diambil oleh siapapun karna dia akan terikat pada perjanjianmu…”
“Jadi kalau Narmi menelan pil putih, Minho tidak akan bisa mengambil jiwanya??”
Yesung mengangguk. “Tapi kau tidak boleh memaksanya… Dia akan menelan kapsul ini kalau dia percaya padamu. Lagipula ini bukan sembarang kapsul. Saat dia menelannya, itu sama saja artinya dia menyerahkan nyawanya padamu.”
“Lalu kapsul hitam untuk apa?” tanya Kwangmin lagi.
Yesung menyeringai seram. “Itu untukmu.. kalau kau sudah putus asa telanlah itu. Seketika kau akan lenyap,, semua ingatan dan kenangan mengenai dirimu sebagai manusia akan dihapus dari pikiran manusia yang mengenalmu. Singkatnya, kau tidak akan diingat pernah dilahirkan.”
Kwangmin menelan ludah pahit. Ia menatap kapsul hitam itu. Betapa mengerikannya kalau dia langsung menelan kapsul ini.
“Simpan saja…” tukas Yesung, “Kau tidak boleh membuangnya.. karna siapa tau pikiranmu berubah…”
Kwangmin menggeram. Tentu saja tidak. Hal terbodoh yang pernah ia lakukan kalau dia menelan kapsul hitam ini. Dia akan membuat dirinya menjadi manusia kembali. Dia berjanji. Dan dia akan selalu bersama Youngmin……
----skip----
Kwangmin berdiri sambil menatap kapsul putih dan kapsul hitam dalam kotak kaca kecil yang ia pegang. Benar tidak ya apa yang hendak dia lakukan ini?? Tapi kenapa muncul rasa bersalah di dalam hatinya ya???
Kwangmin menepis perasaan itu dalam-dalam. ‘Tidak… kau ingin bersama dengan Youngmin kan? Youngmin juga ingin bersamamu… kau tidak boleh menyerah. Hanya ini satu-satunya jalan…’
Pintu rumah itu terbuka. Narmi masuk ke dalam rumahnya dan terkejut saat melihat tau-tau Beomgyu sudah ada di sana. “Hai!” sapa Narmi semangat dan berlari kecil mendekati malaikat itu.
Kwangmin (yang penampilannya adalah Beomgyu) mendongak dan tersenyum manis. “Halo~ Bagaimana sekolahmu?”
“Kekeke… tadi aku sudah mengerjai si makhluk hijau. Dia sampai berteriak ketakutan.”
“Ahaha ohya?"
“Iya… apa kau tidak tau… Aku sudah tidak takut lagi dengan dunia kalian, keke.”
Beomgyu tersenyum tipis. “Ng, apa Minho masih berani mendatangimu?”
Manusia itu malah tertawa lebar, seolah tidak takut sama sekali dengan apa yang baru saja ia alami. “Dia tidak pernah menampakkan dirinya lagi…”
Beomgyu tersenyum tipis dan memandang wanita itu. Sepertinya Narmi tidak ingat kejadian seluruhnya kalau Minho berusaha menyedot jiwanya. Yang Narmi tau kalau Minho hanya berniat jahat saja.
Beomgyu menarik lengan Narmi dan mendudukkannya di sofa. “Ingat, kalau dia mendatangimu lagi, kau tinggal teriak saja, oke? Aku akan langsung datang…”
Narmi tersentak dan mengangguk saja. Ia berusaha menyelami kedalaman mata Beomgyu yang chic dan berbinar itu. Ada apa dengan malaikat ini? Kenapa begitu mencemaskannya sampai menjanjikan akan langsung datang kalau Narmi berteriak? Apa sebegitu burukkah Minho itu?? Apakah bahkan berhubungan dengan hidup atau mati?
“Jangan pernah percayai makhluk apapun yang ada di dunia lain. Termasuk Minho..” lanjutnya. Dalam hati Beomgyu meringis, secara tidak langsung dia mengatakan pada Narmi untuk juga tidak mempercayainya.
Beomgyu memberikan sebuah kapsul putih pada Narmi. “Telanlah ini… Kelak akan ada banyak hantu dan iblis yang berusaha mengganggumu… tapi jika kapsul ini kau telan, mereka takkan bisa mengganggumu.”
Narmi menatap kapsul itu. Ia sendiri tidak mengerti apa-apa dengan dunia lain. Ia memandang Minwoo dan mengangguk. Wanita ini memilih untuk percaya pada semua yang Beomgyu katakan. Entah kenapa ia selalu menganggap Beomgyu sebagai makhluk yang baik dan tulus padanya. Narmi pun langsung menelan kapsul putih itu.
Bwomgyu agak terkejut juga melihat respon Narmi yang begitu saja menelan kapsul itu tanpa mencurigainya sedikit pun. Apa manusia ini sebegitu mempercayainya???
Narmi tersenyum lebar pada Beomgyu. “Sudah kutelan… Beres kan?? Aku percaya padamu.”
Beomgyu tercengang dan wajahnya langsung memerah. ‘Wanita ini benar-benar……’
Beomgyu menepuk lembut kepala Narmi.
Senyum wanita itu makin merekah seperti anak kecil. Senyuman yang mampu membuat hati Beomgyu tidak enak dan merasa bersalah. Apa benar yang ia lakukan ini terhadap Narmi???
.
.
Jauh dari rumah itu, Minho menatap keduanya dengan benci. Dia belum selesai. Ya dia belum selesai. “Aku tidak akan membiarkan malaikat itu berhasil dengan rencananya. Akan kugagalkan… karna dia pun menggagalkan rencanaku.”
----skip----
Narmi duduk di pinggir lapangan bersama dengan Jiyoung, Eunsu, dan Hwayoung. Para wanita ini menonton saja teman mereka yang sedang bermain basket. Jeongmin, Hyunseong, Donghyun dan Youngmin sedang bermain basket di lapanga sambil tertawa-tawa.
Narmi memandang Donghyun. Akhirnya laki-laki itu sudah mengatakan semuanya, kalau dia dan Jiyoung memang berpacaran. Mendengar itu yang lain mengatakan tidak masalah. Lagipula sudah banyak yang menduganya karna Donghyun dan Jiyoung agak lain. Sebenarnya Narmi masih terluka karna patah hati, tapi dia berusaha menepis semuanya itu. Bagaimanapun dia sangat menyayangi Jiyoung. Bukan haknya kalau Narmi harus marah dan merasa dikhianati. Cinta memang tidak bisa dipaksakan.
Narmi menatap Jeongmin. Pria itu juga…… Sikapnya masih lain. Terkadang dia kikuk kalau melihat Narmi. Apa Jeongmin masih kesal dengan perbuatan Narmi yang sudah memukul kepalanya? Lagipula… cowok itu kini terlihat dekat dengan Eunsu. Narmi semakin merasa kesepian.
Kwangmin yang duduk di atas atap, tersenyum melihat saudara kembarnya yang kini mulai bergaul dengan manusia lain. Lihat saja… Youngmin sudah tampak ceria dan seperti dulu lagi. Ia bermain basket sambil bercanda dengan teman yang lain.
Mereka berempat pun memutuskan untuk menghentikan permainan karna sudah lelah dan haus sekali.
“Babe~~” panggil Hyunseong sambil berlari kecil ke arah Hwayoung, kekasihnya. Hyunseong ingin mengadu karna timnya sudah kalah.
Hwayoung tersenyum keibuan dan memberikan minum untuk pacarnya.
Donghyun juga duduk di samping Jiyoung, yeojachingunya. Ia tersenyum saat Jiyoung mulai mengipas-ngipasi dan melap keringatnya. Mereka mengobrol dan cekikikan sendiri.
Eunsu memberikan sapu tangan dan air mineral untuk Jeongmin. Jeongmin tersenyum lebar dan menerima ketulusan Eunsu itu.
Sementara yang lain mengobrol dengan couplenya masing-masing, Narmi mempoutkan bibir. Sekarang dia sendirian kan? Yang lain malah asik dengan couplenya. Malangnya menjadi single.
Youngmin duduk saja di sebelah Narmi sambil mengipas-ngipasi diri. Ia melirik cewek di sebelahnya yang seperti sedang menggerutu sendiri. “Hei, kau punya minum tidak?”
Dengan enggan, Narmi berikan saja botol mineralnya yang masih terisi setengah.
Youngmin minum sambil melirik Narmi lalu melirik yang lain yang tidak mengajak Narmi bicara. Youngmin menghela nafas. Melihat ekspresi wanita itu saja Youngmin sudah dapat menebak apa yang sedang dipikirkan Narmi. “Kau lapar tidak? Kita ke kantin saja…”
Narmi menoleh. “Apa?”
“Apa kau tahan disini?” bisik Youngmin sambil menunjuk 3 couple dengan matanya, “Biarkan saja mereka.”
Narmi tersadar. Benar juga ya… daripada di sini dan jadi kambing congek kan… lebih baik dia angkat kaki sekalian.
Youngmin bangkit berdiri. “Ayo…”
“Oke…” Narmi pun menurut saja dan meninggalkan lapangan, bersama Youngmin menuju kantin. Narmi heran sendiri kenapa dia menurut pada Youngmin ya?? Tumben-tumbennya. Apa karna senasib sepenanggungan? Cowok itu juga.. tumben sekali mengajaknya makan.
Wajah Narmi memerah. Bukankah artinya.. kalau begini… dia pun secara tak langsung menjadi couple Youngmin??
----skip----
Malam ini Narmi berjalan sendirian, pulang dari supermarket untuk berbelanja kebutuhan hidupnya. Ia berjalan lesu. Bagaimana ini. Makin lama uang asuransi ayahnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya untuk sebulan. Ada saja kebutuhan mendesak yang berkenaan dengan sekolah. Narmi menendang kerikil. Ini sih dia harus berhemat. Kondisi ayahnya juga bukan kian membaik malah memburuk. Semua ini membuat Narmi terkadang tak tahan menanggung semuanya sendirian. Dia membutuhkan sandaran. Seseorang yang bisa diandalkan dan menghiburnya. Pacar mungkin??
Narmi menendang kerikil kuat-kuat hingga kerikil itu terbang dan jatuh mengenai kepala lelaki yang sedang nongkrong dengan teman-tenannya.
Lelaki itu mengerang kesal. Ia menoleh dan mendapati Narmi yang tadi menendangnya. Yah mau siapa lagi? Di tempat sepi ini tidak ada orang lain selain Narmi.
Narmi berhenti melangkah, baru sadar kalau dia sudah berjalan ke tempat sepi dimana ada 3 cowok yang sedang nongkrong. Dari perawakannya saja, Narmi sudah mencetuskan dalam hati kalau dia harus lari sekarang juga.
Lelaki yang kepalanya tadi kena kerikil malah tertawa senang, melihat ada mangsa. Kebetulan dia dan temannya tidak punya uang. Ia berjalan mendekati Narmi. “Dompet.. berikan kami dompet…”
Narmi mundur selangkah demi selangkah sementara 3 pria itu mendekatinya. Narmi menggeleng. Dia mana punya uang! Akhirnya Narmi langsung berlari sekencang-kencangnya untuk kabur. Tiga pria itu pun seolah tidak mau kehilangan mangsa, mereka juga mengejar.
“Kyaaa…” pekik Narmi ketakutan karna cepat lambat dia akan tertangkap juga. Larinya kan tidak sekencang laki-laki. ‘Tolong.. tolong aku…’
“Tunggu!” seru preman itu sambil mengekeh keras. Mereka tidak perlu khawatir, tempat ini terlalu sepi dan angker. Tak akan ada orang yang lewat. “Tunggu, Cantik!!”
“Kyaaa…” Narmi berbelok di pertigaan gang. Dan tiba-tiba saja sebuah tangan menarik lengannya cepat. Orang itu menarik Narmi bersembunyi di balik tiang listrik. Narmi terkejut, dilihatnya Youngmin yang ternyata tadi sudah menariknya ke sini. “A…a…”
“Ssst…” bisik Youngmin sambil mengintip keluar.
Tiga pria yang mengejar Narmi kebingungan saat di belokan, tau-tau Narmi sudah menghilang.
“Dia kemana, bos?”
“Dia pasti belum jauh…” tukas seorang namja yang merupakan bos. Ia dan anak buahnya pun langsung berlari menuju belokan kedua dan menghilang.
Narmi masih berada dalam pelukan Youngmin.
Hening.
Wanita itu merasa desahan nafasnya pasti akan terdengar. Lagipula.. kenapa Youngmin memeluk kuat begini? Seolah Narmi akan kabur saja. Dan entah kenapa… ia merasa jantungnya berdebar tak karuan. Atau jantungnya Youngmin ya??
Youngmin menundukkan kepalanya, melihat ke wajah Narmi. Aigoo.. bagaimana bisa ia sedekat ini dengan wanita?? Youngmin tidak melepaskan matanya juga pelukannya.
Mereka berdua saling bertatap-tatapan.
Hening.
Perasaan aneh apakah ini??
Perlahan Youngmin melonggarkan pelukannya. Entah kenapa ia salah tingkah dan wajahnya juga panas. Narmi yang merasakan hal yang sama dan baru saja akan mengucapkan ‘gomawo’ langsung beku saat melihat sesosok makhluk di dekat kakinya.
Mata Narmi membesar melihat hantu perempuan pucat pasi ngesot dekat kakinya. Hantu itu mendelik sewot pada Narmi. Ia menunjukkan perutnya yang bolong (sundel bolong versi Korea?!). “Dasar manusia tidak tau aturan! seenaknya saja bermesraan di tempatku ini. Pergi.. Pergi..!”
“KYAAA!!!” Narmi berteriak dan langsung lari ketakukan meninggalkan tempat itu sekarang juga.
Youngmin yang tidak mengerti dengan tindakan Narmi yang tiba-tiba itu, langsung mengejar. “Hey! Narmi, tunggu aku!!”
.
.
Beberapa saat kemudian keduanya sudah duduk berhadap-hadapan di kedai minuman. Narmi malah tertawa sendiri, menyadari kekonyolannya yang lagi-lagi berlari tunggang langgang melihat hantu. Bukankah dia sudah biasa melihat hantu??
Youngmin menatap wanita di hadapannya. Ia geleng-geleng. Apa coba yang membuat Narmi tadi lari ketakutan? Apa dia kira Youngmin akan melakukan hal yang aneh-aneh??
Narmi masih tertawa dan memukul-mukul meja. Ia juga heran kenapa tadi itu suasananya dengan Youngmin—si musuh bebuyutan—terasa canggung? Dan pelukan apa itu? Narmi berusaha menyadarkan dirinya sendiri dari fantasi berlebihan.
“Ish, apa sih yang kau tertawakan sejak tadi? Kau gila?” tukas Youngmin.
Narmi mendelik. “Ish…”
“Kau bukannya berterimakasih karna sudah kuselamatkan malah berlari pontang panting seperti aku ini hantu saja.”
Narmi tersenyum tipis. Tadi itu dia juga sebenarnya mau mengucapkan terimakasih kalii.. tapi keburu ada hantu yang nongol. “Ye ye ye.. gomawo.”
Youngmin menghela nafas. “Lain kali kau harus berhati-hati.. berjalan sendirian di tempat sepi selarut ini… apapun bisa terjadi padamu.”
Narmi melirik pria itu. Kenapa Youngmin mengkhawatirkannya? Mereka kan musuh. Narmi membuang muka saat matanya ditangkap oleh Youngmin.
‘Apa-apaan aku ini. Apa yang sudah kupikirkan…’ pikir Narmi. Tak dipungkiri wajahnya memerah dan dadanya berdegup kencang.