Lovely Yours

Lovely Yours
Sehari sebelumnya



Sore itu Youngmin berjalan pelan menyusuri jalan itu. Ia menatap ke depan, memandang seorang wanita yang diam-diam ia ikuti. Youngmin memandangnya sendu. Narmi—wanita itu—terlihat begitu lemas dan lemah. Ia sepertinya baru dari minimarket. Dan lihat. Betapa ia terlihat tidak berenergi, kelihatan berhati-hati saat berjalan. Ada apa dengannya? Dan mengapa Narmi terlihat begitu kurus, lemas dan tak berdaya?


Youngmin memegang kepalanya yang stres. ‘Ada apakah denganmu? Kenapa kau tidak pernah menceritakan apapun? Kenapa kau slalu mengatakan dirimu baik-baik saja??’


Youngmin sendiri merasa tak berguna sebagai pacar Narmi. Apa dia tidak dipercaya sampai Narmi tidak pernah menceritakan apa-apa?


Tangan Youngmin bergetar dan dingin. Dia tidak mau kehilangan Narmi kalau ternyata wanita itu memiliki penyakit mematikan. Oh jangan sampai. Youngmin memandang ke langit dengan wajah memohon pada Tuhan. Jangan sampai Narmi memang memiliki penyakit mematikan.


Narmi yang berjalan lesu, sudah tak kuat lagi. Ia semakin lama semakin mudah lelah. Jantungnya juga melambat membuatnya harus bisa mengatur nafas dengan baik.


Akhirnya ia jatuh tersungkur ke tanah. Barang belanjaannya berserakan. Ia meringis. Bahkan untuk berjalan saja dia seperti ini!


Melihat itu Youngmin terkejut dan langsung berlari mendatangi Narmi. “Kau baik-baik saja?” tanyanya cemas setengah mati.


Narmi mendongak, dilihatnya Youngmin yang tiba-tiba muncul. Walau sebetulnya dia ingin sekali menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, tapi dia sudah tak bisa melakukannya lagi.


Youngmin membantu Narmi untuk bangun dan membantu membereskan barang belanjaan Narmi. Lelaki itu berjongkok di depan Narmi menandakan bahwa ia akan menggendong Narmi di punggungnya.


“Tidak, tak perlu…” gumam Narmi menolak.


“Jangan bantah aku.” sahut Youngmin.


Narmi meringis dan ia pun menurut saja, membiarkan dirinya digendong di belakang punggung Youngmin.


Mereka terdiam lama sementara Youngmin menggendong Narmi. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Youngmin menatap lurus ke depan dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Ada apa ini? Mengapa hatinya sekarang begitu takut kehilangan Narmi? Apakah akan ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada wanita ini?


Narmi memeluk leher Youngmin dan menangis tanpa suara di punggung lelaki itu.


Seandainya waktu bisa berhenti. Ya.


Seandainya waktu bisa berhenti.


Kwangmin yang berdiri di atas atap melihat keduanya dari kejauhan. Hatinya pun ikut bersedih. Saat ini dia bisa mengerti bagaimana perasaan hyungnya. Walaupun dia juga mencintai Narmi…


Kwangmin menunduk. Apakah yang harus ia lakukan??


Kwangmin duduk sendirian di atas atap sebuah gedung. Ia memandang langit senja dengan sendu. Sebentar lagi dia akan menjadi manusia… tapi kenapa dia tidak terlalu bahagia?


Sepanjang hari ini dia melihat hyungnya yang lesu. Youngmin memang tidak menceritakan apa-apa tapi Kwangmin mengerti semuanya ini mengenai siapa. Hyungnya itu pasti bingung sekaligus khawatir dengan kondisi Narmi.


Kwangmin mengingat kalau awalnya dia begitu menggebu-gebu untuk menjadi manusia, mencari perempuan yang beranugrah khusus. Dan setelah ia menemukan Narmi, ia selalu berharap dengan sangat Narmi dan Youngmin bisa saling mencintai supaya dirinya bisa mendapatkan peluang 1% sekalipun kelihatannya mustahil karna Youngmin diberikan sifat anti wanita. Dan saat ulangtahun si kembar, Youngmin mengumumkan bahwa ia mencintai Narmi. Hal ini bukankah seolah menjadi kado terspesial yang didapat Kwangmin? Awalnya Kwangmin bahagia memperoleh harapan bahwa dirinya akan menjadi manusia. Namun…… dia juga menyukai Narmi. Dia menyayangi wanita itu. Melihat Narmi yang melewati tahap demi tahap kematian yang mengerikan, jiwa Kwangmin sebetulnya menangis. Melihat perempuan yang kau cintai menderita dan sekarat bukanlah hal yang mudah dilewati.


Tapi Kwangmin berusaha mengalah. Ya, dia berusaha mengalahkan perasaan cintanya demi egonya untuk hidup kembali menjadi manusia. Saat dia kembali menjadi manusia, bukankah hidupnya akan mundur ke 2 tahun yang lalu sebelum ia kecelakaan? Itu artinya dia dan Youngmin belum bertemu dengan Narmi dan tidak akan mengingat perempuan itu!


Lebih tragis saat membayangkan bahwa dirinya sendiri yang harus dihapus dari memori Youngmin juga semua manusia yang mengenalnya. Hal ini tak lain karna Kwangmin sudah menjadi malaikat penjaga Youngmin. Kalau memori mengenai Kwangmin tidak dihapus, bisa saja Youngmin akan mencari-cari serta memberitau orang-orang mengenai pengalamannya dijaga dan dilindungi orang terdekatnya yang meninggal. Dan kemungkinan seperti ini tidak boleh terjadi. Itu sebabnya dengan kejam, ingatan mengenai Kwangmin harus dihapuskan dan dia harus dianggap tidak pernah dilahirkan.


Kwangmin menunduk sedih. Apakah yang harus ia lakukan??? Ia tau kalau Youngmin menyayanginya. Tapi bukankah Narmi juga berhak dicintai Youngmin?? Kenapa wanita itu harus mendapatkan kutuk begitu besar saat dirinya mencintai Youngmin? Atau kenapa harus wanita itu yang mendapatkan anugrah khusus? Bukankah ia tentunya akan bertanya-tanya suatu saat nanti saat ia tau FAKTAnya!


“Besok adalah waktumu.”


Kwangmin menoleh terkejut dan melihat Yesung yang sudah muncul entah sejak kapan dan duduk di sebelahnya. “Besok?” tanya Kwangmin mengernyit.


Yesung mengekeh. “Besok wanita itu akan melewati tahap 7, tahap terakhir kematiannya. Dan bersamaan dengan itu pula kau akan hidup kembali.”


Mata Kwangmin membesar. Jadi besok adalah tahap terakhir dan Narmi akan… mati??


“Aku tak sabar melihatnya. Sejujurnya aku belum pernah melihat atau merasakan peristiwa langka begini.”


Kwangmin menunduk. Legenda seribu tahun yang lalu akan terulang ya…


“Kau pasti senang kan karna kau akan hidup kembali…” ujar Yesung, “Dunia manusia akan mundur ke 2 tahun yang lalu sebelum kau kecelakaan. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan kan karna kau bisa mengulang kembali waktu sehingga kau tidak perlu mati.”


Mata Kwangmin nanar. Sejujurnya dia tidak merasakan bahagia.


“Tapi tenang saja..” sahut Yesung seolah mengerti dengan kesedihan Kwangmin, “Baik kau atau hyungmu dan manusia yang lain… tidak akan mengingat apapun mengenai masa ini, kecuali kami para makhluk dunia lain. Kau dan hyungmu pun tidak akan mengingat Narmi. Bukankah itu adil?”


Kwangmin tak menjawab. ‘Adil?’ batinnya.


“Jadi kau tidak perlu merasakan rasa bersalah akibat kematian wanita itu…” ucap Yesung, “Nikmatilah hidupmu yang baru…” Yesung terkekeh panjang lalu akhirnya dia menghilang dari sana.


Kwangmin menunduk. Air matanya kini mengalir.