
Narmi menatap dirinya di cermin pagi ini. Ia menepuk-nepuk pipinya dengan pelan.
“Tetap semangat.” ucapnya pada diri sendiri. Wajahnya memang masih agak pucat.
Semalam itu dia benar-benar merasa kesakitan sampai tak sadarkan diri. Dan saat tak sadarkan diri seperti itu dia bermimpi sangat buruk. Memimpikan apa dia sendiri tidak ingat. Yang jelas saat bangun air matanya masih mengalir deras.
“Fighting!” gumamnya berusaha menyemangati diri. ‘Tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padamu. Semangatlah, Narmi!’
Narmi mengambil sebuah kotak kecil. Di dalamnya sudah ada coklat-coklat yang kemarin ia buat. Ia akan memberikannya pada Youngmin hari ini, berharap lelaki itu mau menerimanya.
Narmi berjalan pergi meninggalkan rumahnya. Walau tubuhnya masih terasa aneh dan lemah… tapi Narmi tetap akan ke sekolah dengan semangat.
Kwangmin yang berdiri di atas atap memandang wanita itu dari kejauhan. Kwangmin tersenyum tipis. ‘Apakah sudah terjadi sesuatu padanya…? Karna… hyung… sudah jatuh cinta padanya…’
“Ahh~” Kwangmin seolah teringat sesuatu. ‘Kalaupun Youngmin mencintainya… tapi belum tentu kan wanita itu juga mencintai Youngmin…’ Kwangmin memandang Narmi yang semakin lama semakin jauh itu.
Dia masih punya harapan. Waktunya yang tersisa adalah 4 bulan lagi.
Kwangmin meremas tangannya. ‘Aku harus bisa menjadi manusia……’
.
.
Saat pulang sekolah itu, Narmi buru-buru keluar dari kelas. Dia harus menemui Youngmin untuk memberikan coklat ini. Dia berharap Youngmin belum pulang dulu.
Narmi terengah-engah saat sampai di parkiran. Ia memandang sekeliling. Matanya membesar saat melihat motor sport silver sudah tidak ada. “Dia langsung pulang??” gumam Narmi sedih plus kecewa. “Ah, bagaimana ini?”
Narmi berjalan lesu keluar dari gerbang. Seandainya saja pria itu belum pulang… Narmi memandang kotak coklatnya dengan sedih.
Tin,, tin..!
Suara klakson motor mengagetkan Narmi. Narmi mendongak dan melihat sebuah motor sport silver di depannya. Si pengendara yang menggunakan helm itu sepertinya sedang melihat ke arahnya.
Wajah Narmi langsung bersinar melihat namja itu. “Youngmin!” Ia pun berlari mendekat.
Youngmin membuka kaca helmnya sedikit. Ia menatap wanita itu. “Mana? Hari ini ulangtahunku, kau tidak berniat memberikan hadiah?”
Narmi meleletkan lidah dengan geli. “Memangnya kapan aku janji memberikan hadiah?”
“Aishh…”
Narmi menyembunyikan kotak coklat itu di belakang. Untuk memberikannya sekarang Narmi masih malu.
“Ayo…” sahut Youngmin tiba-tiba.
“Apa?”
“Naiklah… Aku akan mentraktirmu makan.”
“Beneran?” Senyuman Narmi merekah lebar. Senyum yang akhir-akhir ini membuat jantung Youngmin berdegup lebih cepat.
“Iya… Dan kali ini aku membawa helm untukkmu.”
Wajah Narmi memerah. Dengan senang hati ia menerima helm itu lalu naik ke atas motor Youngmin. Ah kira-kira pria itu akan membawanya ke mana ya?
“Pegangan yang kuat…” gumam Youngmin.
“Eh???”
Youngmin menunjuk pinggangnya memberi tanda supaya Narmi berpegangan. Wanita itu menurut dan memeluk pinggang Youngmin dengan malu. Youngmin menahan senyum lalu menstarter motornya. Motor itu pun melaju kencang meninggalkan sekolah.
.
.
Setengah jam kemudian, Narmi turun dari motor dan melihat sekeliling. Ternyata Youngmin mengajaknya makan di restoran mewah seperti ini. Wahh~ pria itu benar-benar niat mentraktirnya yah…
Youngmin membuka helmnya dan tersenyum puas melihat wajah Narmi yang melongo-longo itu. Hehehe Youngmin memang akan merencanakan dan mengatakan sesuatu di tempat ini.
Tiba-tiba mata Narmi tak sengaja melihat ke dalam restoran. Ada dua orang yang sangat ia kenal sedang makan di dalam restoran itu. Mata Narmi membulat besar melihat Jiyoung dan Donghyun!! Lelaki itu tengah menyuapi Jiyoung dan sambil tertawa malu keduanya mengobrol.
“Ayo…” ucap Youngmin setelah siap untuk masuk ke dalam restoran. Dilihatnya Narmi yang malah bengong melihat sesuatu,
Youngmin pun melihat apa yang dilihat wanita itu. Youngmin melihat Donghyun yang sedang menyeka pipi Jiyoung yang belepotan saus.
Youngmin menatap Narmi, melihat wajah wanita itu yang sedih. Youngmin tersenyum tipis. Jadi apa benar Narmi memang menyukai Donghyun seperti apa kata Jeongmin?
Youngmin tak tahan lagi. “Ayo.” ucapnya sambil menarik lengan Narmi untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Narmi yang masih galau ditarik begitu saja oleh Youngmin, entah kemana. Narmi heran sendiri, lho bukannya mereka mau makan di restoran itu?? Akhirnya setelah terlalu jauh pergi, Narmi menarik tangannya dari pegangan Youngmin. “Lepaskan…”
Youngmin menoleh.
“Kita mau kemana?” tanya Narmi heran, “Bukannya kita mau makan di restoran itu?”
Youngmin tersenyum tipis. “Kau masih mau makan setelah apa yang kau lihat di sana?”
Narmi tersentak, ternyata Youngmin menyadarinya. “Hei!”
“Apa kau masih menyukai pacar dari sahabatmu sendiri?” tanya Youngmin tajam langsung to the point.
Narmi terdiam tercengang. Matanya langsung berkaca-kaca. ‘Pacar sahabatnya sendiri…?’ Narmi berjalan lemah menuju bangku yang berada di bawah pohon. Ia duduk menunduk di sana.
Youngmin menghela nafas dan duduk di sebelah Narmi.
“Dia…” isak Narmi, “Donghyun oppa… adalah cinta pertamaku dua tahun yang lalu. Kalau kau tanya siapa yang bodoh, maka akulah yang paling bodoh di dunia ini.”
Youngmin terdiam.
“Aku sudah memendam perasaanku dan menganggap bahwa Donghyun oppa pun memiliki perasaan yang sama denganku. Bukankah aku benar-benar tolol??” Narmi menghapus air matanya. Kenapa dia malah menangis begini ya? Padahal kan dia sudah move on dari Donghyun oppa. Narmi hanya merasa tiap kali dia mengenang semua ini, dia slalu menangis karna malu pada dirinya sendiri, sudah menganggap Donghyun oppa mencintainya. “Padahal… yang dicintai oppa adalah Jiyoung, sahabatku sendiri, seperti apa yang kau katakan tadi…”
Youngmin menatap wajah perempuan itu. Jadi… apakah sampai sekarang Narmi masih mencintai Donghyun?? “Apa kau berusaha mengatakan kalau tidak ada pria yang menyukaimu sampai sekarang?”
Narmi mencelos dan menoleh berang. “Apa?!” Sedihnya hilang sudah, digantikan dengan amarah.
Youngmin tersenyum tajam. “Setelah Donghyun hyung… apa kau sudah menemukan pria lain yang menyukaimu?”
“Hei!” Wajah Narmi merah saking kesalnya. Youngmin sudah merendahkan harga dirinya sebagai wanita! Yah memang Narmi dijauhi namjadeul di sekolah karna dianggap aneh, tapi bukan berarti tak ada satu pun lelaki yang menyukainya kan??
“Tapi… aku tau satu hal…” Youngmin menatap mata Narmi lekat-lekat, “Yang sekarang kau sukai adalah aku kan? bukan Donghyun hyung.”
Glek.
Narmi menelan ludah. “A-apa?? Kau gila? Bisa-bisanya kau berpikir setinggi itu mengenai diriku.”
Youngmin menunjukkan senyum manisnya. Ia melirik sebuah kotak yang sejak tadi dipegang Narmi. “Kotak itu pun… hadiah untukku bukan?”
Narmi semakin menelan ludah. Gugup. Cowok ini… sialan… Narmi merasa wajahnya langsung merah ditatap begitu oleh Youngmin. Dan kenapa wajah pria itu makin mendekat ya??
“Kau menyukaiku kan?” tanya Youngmin menatap mata Narmi.
“Tidak.”
“Bohong.” Youngmin menggenggam tangan Narmi yang memegang kotak coklat. “Kau pasti menyukaiku…”
Narmi menjauhkan wajahnya ke belakang karna wajah Youngmin malah mendekati wajahnya. Omo, apa yang mau dilakukan Youngmin? Wajah Narmi benar-benar merah dibuatnya.
Youngmin tersenyum lembut, menunjukkan matanya yang hangat. “Kau memang menyukaiku…” bisiknya.
Narmi menelan ludah. Ia sudah tidak bisa bergerak dan tak menjauhkan wajahnya lagi. Wajah Youngmin malah semakin mendekatinya. Narmi menutup erat matanya saja. Jantungnya berdegup kencang.
Youngmin mendekatkan wajahnya.. semakin lama semakin dekat… dan…………
.