Lovely Yours

Lovely Yours
Luka Masa Lalu 2



Kwangmin muncul bersamaan dengan desiran angin. Ia berada di depan rumahnya. Baru ia akan masuk untuk menemui Youngmin, sebuah tangan menarik bahunya dari belakang. Kwangmin menoleh dan melihat Andrew.


“Kau harus pergi…” ucap Andrew.


Kwangmin menahan nafas. “Apa?? Wa-waktuku kan masih ada 4 bulan lagi.”


“Bukan itu maksudku…” kata Andrew, “Ini mengenai duka yang akan ditransfer ke Youngmin…”


Kwangmin menggeleng tegas sementara matanya membesar. “Kumohon… tolong jangan lakukan itu lagi padanya.”


“Ini yang terakhir. Ketika itu selesai, kau benar-benar menjadi 100% malaikat.”


“Aku tidak butuh itu!” seru Kwangmin setengah marah, “Kenapa kejam sekali? Youngmin tidak perlu menanggung kesedihan yang bukan miliknya. Akulah yang bersalah karna masih menyimpan duka dan luka. Hukum saja aku!”


Andrew memegang kedua lengan Kwangmin. “Ini karna kalian kembar dan karna kau sudah menjadi malaikat untuknya!! Bukankah kau sendiri yang menyetujuinya ketika aku menyebutkan konsekuensi ini?”


Kwangmin tersentak. Ia langsung terdiam. Dia memang menyesali hal itu. Jadi bukankah karna dia juga Youngmin akan mengalami penderitaan dan kesedihan?


“Mengertilah… ini untuk kebaikanmu juga. Kau sudah tidak sepantasnya lagi menyimpan duka manusia. Kau harus membuangnya. Dan hanya ini caranya!”


“Tapi…” Mata Kwangmin mulai berkaca-kaca. Ia tau satu duka apa yang akan ditransfer hari ini. Pasti mengenai lukanya karna melihat Hyurin dan Youngmin bersama di kafe. Dan itu… bukanlah luka yang kecil…


“Satu kebenaran yang sekarang harus kau tau…” ujar Andrew, “Youngmin dan wanita yang kau sukai itu tidak seperti yang kau bayangkan. Semua itu hanya kesalahpahaman.”


Air mata Kwangmin menetes. “Apa?”


“Kau hanya melihat di momen yang tidak pas saja. Saudara kembarmu itu sedang bercanda dan mempraktekan saat kau akan menyatakan cinta. Youngmin tidak pernah menghianatimu… Dia tidak menusukmu dari belakang.”


“Tidak…” Kwangmin menggeleng-geleng. Kepalanya terasa berat. Ja-jadi semua ini hanyalah kesalahpahaman? Youngmin tidak pernah menghianatinya? dan sebenarnya Hyurin pun menerima cintanya???


Kwangmin menjambak rambutnya sambil menangis. Hatinya pedih. Ia membungkuk merasakan luka dan kepedihannya. Ternyata salah paham?? Dan kalau saja Kwangmin tidak langsung mempercayai apa yang dilihatnya saat itu… apakah dia tidak akan jadi meninggal ditabrak mobil??


“KENAPA!!!!!” teriaknya sambil menangis.


Andrew memegangi Kwangmin. “Ayo… kita harus pergi. Kau tidak boleh di sekitar sini.”


“Tidak!” seru Kwangmin sambil menjauhkan tangannya dari pegangan Andrew. “Aku tidak mau membiarkan Youngmin sendirian dengan luka ini. Aku harus menemaninya!”


Andrew menggeleng. “Tidak bisa—“


“Ini urusanku! Kau tidak perlu ikut campur!!”


“Kwangmin!!” bentak Andrew akhirnya, “Kalau kau di sini, hyungmu akan mati, apa kau mau?!!”


Kwangmin tersentak. Ia terdiam sementara air matanya masih mengalir.


“Ayo…” ucap Andrew sambil menarik Kwangmin karna sebentar lagi Youngmin akan keluar. Manusia itu sudah mendengar teriakan Kwangmin.


Kwangmin menyerah dan pasrah saja dibawa Andrew. Ia masih menangis saat keduanya menghilang ditelan udara.


Bersamaan dengan itu Youngmin membuka pintu rumahnya dan melihat sekeliling.


“Kwangmin??” Youngmin jadi bingung, “Lho tidak ada… Aku yakin tadi mendengar teriakannya dari sini.” Youngmin geleng-geleng, apa dia sudah salah dengar?


Youngmin kembali masuk ke dalam rumah. Ia melihat jam dinding. Sudah jam tiga lewat. Mana ya pembantu barunya? Hihi. Hari ini adalah saat dimana Narmi harus menjadi pembantu Youngmin dalam 1 hari. Youngmin berniat akan mengerjai wanita itu, menyuruhnya ini—itu, hehehe *devil smile


Youngmin duduk di sofa ruang keluarga. Ia mengambil remote. Baru saja akan menyalakan TV, tiba-tiba……


DEG!


Youngmin langsung memegang dadanya yang tiba-tiba sakit. Remote terjatuh dari pegangannya. Air matanya langsung saja mengalir deras. Duka macam apa ini? Begitu menyakitkan, menyedihkan…. Seperti kesedihan karna dilukai, dikhianati, ditinggalkan, dilupakan dan patah hati… Semua jenis kesedihan kini seolah menghujam hati Youngmin.


Youngmin meremas T-Shirt yang menutupi hatinya. Rasanya begitu menyiksa.


Ingatan kelam dan menyedihkan bersahut-sahutan, menggema memenuhi pikirannya sekarang. Sekelebat ingatan ketika ibu meninggal… kematian Kwangmin… lalu ada pula bayangan ketika Kwangmin menangis di tengah hujan. Apakah itu, Youngmin sendiri tidak tau. Dan mengapa bayangan Kwangmin itu begitu jelas dan menyakitkan menangis di dalam hujan…? Mengapa adiknya kelihatan begitu merana?


“AKH!!” seru Youngmin sudah tak tahan lagi. Ia menggeliat tak tentu di atas sofa. “Kyaaa!!” isaknya. Dia merasa hatinya seperti sedang dibakar dengan api hitam—api luka dan nestapa.


“Tidakk! Hentikan!!” serunya menangis kencang. Youngmin menutup wajahnya yang penuh air mata. “Hentikan… huhu.. hentikan… aku mohon..!!”


Youngmin sampai memukul-mukul dadanya sendiri, menyuruh semua memori pahit itu segera keluar dari dadanya. Tapi seolah tak mendengar, luka itu terus menerus masuk seperti merobek-robek hatinya.


Youngmin menangis. “Kwangmin!!!!” serunya memanggil untuk meminta bantuan. Dia tak tahan dengan luka ini. Dia membutuhkan Kwangmin di sisinya. “Kwangmiiiin!!!!”


Dimanakah adik sekaligus malaikat penjaganya itu? Apa tangis dan teriakannya tidak dapat didengar Kwangmin?


DEG!


.


.


Narmi yang baru saja memasuki gerbang, sontak terkejut saat mendengar teriakan Youngmin dari dalam rumah. Buru-buru—dengan sangat cemas—Narmi berlarian masuk ke dalam rumah yang tidak dikunci itu.


“Youngmin??” panggilnya mencari-cari pria itu.


Narmi menemukan Youngmin yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai ruang keluarga. Melihat lelaki itu yang benar-benar tak berdaya, Narmi berlari mendatanginya, “Youngmin?!”


Pria itu masih mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya yang seolah terbakar.


Narmi benar-benar panik. Apakah yang harus ia lakukan? Dia sendiri tidak tau apa yang tengah menimpa namja ini. Apa Youngmin punya suatu penyakit? Dan di rumah ini pun sepertinya tak ada siapa-siapa selain Youngmin.


“Huaaa…” Youngmin masih menangis sambil memejamkan mata seperti sedang kesakitan. “Hentikan… Hik…”


“Youngmin… ada apa…?” tanyanya cemas sambil mendudukkan pria itu.


Youngmin hanya menggeleng-geleng dan air matanya kian deras mengalir. Tubuhnya sudah lemas. Sekarang dia tidak bisa lagi berontak pada duka-duka yang masuk ini.


“Youngmiiin…” Narmi ikut-ikutan menangis. 'Kenapa pria ini??'


“A… a…” ucap Youngmin. Bahkan untuk berbicara pun dia sudah tidak punya kekuatan.


Narmi menangis dan memeluk Youngmin. Ia berharap pria ini segera pulih. Apapun kesedihan dan luka yang menimpa Youngmin…


Youngmin menangis dan memeluk Narmi dengan erat. Dia memang membutuhkan seseorang di sampingnya di saat seperti ini. “Hik… hik…” Air matanya membasahi baju Narmi sudah.


Narmi mengelus-elus punggung Youngmin. “Tidak apa-apa…” isaknya, “Kau akan baik-baik saja… dan aku akan disini menjagamu…”


Youngmin menangis sampai akhirnya dia jatuh tertidur karna staminanya yang lemas.


.


.


Narmi duduk di lantai, dekat sofa tempat Youngmin berbaring sekarang. Narmi sebenarnya lebih ingin Youngmin di atas tempat tidur. Tapi dia mana bisa mengangkat pria itu -,- Sudah empat jam Youngmin belum juga sadarkan diri. Tapi untunglah demamnya sudah agak turun tidak seperti tadi— seperti panci penggorengan.


Narmi menyentuh dahi Youngmin. Panasnya semakin menurun.


Narmi menghela nafas dan memegang kepalanya. Cowok ini sebenarnya kenapa?? Apa yang sudah terjadi??


Narmi meringis melihat ke sekeliling rumah. Bahkan untuk rumah sebesar ini pun 'Youngmin tinggal sendiri?? Kemana ayah ibunya?'


Wanita itu menggenggam tangan Youngmin. Matanya berkaca-kaca. 'Apakah pria ini memang tinggal sendirian? Dan apakah sifat ketus dan dinginnya itu merupakan akibat dari hidupnya yang begini?'


Ternyata nasibnya dan nasib Youngmin tak jauh berbeda. Sama-sama kesepian dan sendiri.


“Kau tidak seterusnya sendirian……” ucap Narmi pelan, “Dan tidak akan seterusnya kau mengalami kesedihan…”


Air mata Narmi itu menetes membasahi tangan Youngmin. Narmi tersentak saat tangannya yang tengah menggenggam Youngmin, mendapat respon. Tangan Youngmin balas menggenggamnya.


Pelan-pelan pria itu membuka matanya. Matanya kering dan ia merasa seperti baru bangun dari tidur panjang. Ia menatap Narmi.


Narmi merasa seolah sudah kepergok(?) langsung menjadi salah tingkah. Cepat-cepat ia menghapus air matanya. Omo, apa tadi Youngmin mendengar suaranya? Dia berusaha melepaskan tangan Youngmin namun cowok itu terus menggenggam tangannya.


Youngmin menatap Narmi dengan sayu. Wanita itu sudah menjaganya sejak tadi kan?? Wanita inilah yang muncul saat ia membutuhkan pertolongan.


Wajah Narmi sudah merah. Apa yang mau dikatakan Youngmin ini?


“Thanks…” ucap cowok itu dengan suara yang serak.


“I-iya…” sahut Narmi berusaha tenang. “A-ahh… kau pasti haus… aku buatkan minum ne…”


Youngmin mengangguk pelan dan akhirnya melepaskan tangan Narmi dan membiarkan yeoja itu pergi. Narmi bergegas menuju dapur dengan badan masih setengah gemetar. Asataga semoga muka blushingnya tidak disadari Youngmin.


Di balik jendela, Kwangmin menatap hyungnya yang terbaring di atas sofa. Mata Kwangmin berkaca-kaca. Wajahnya sendu. Ia benar-benar merasa bersalah.. hyungnya yang tidak bersalah ini justru menanggung kesedihan yang menyakitkan.


Air mata Kwangmin mengalir. Ia memegang dadanya. Sekarang dia sudah tidak menyimpan kesedihan atau luka batin apapun, karna semuanya sudah tuntas ditransferkan pada hyungnya. Ini menyedihkan melihat saudara kembarmu tersakiti hatinya menanggung kesedihan milikmu sendiri.


“Tenanglah hyung…… sebentar lagi aku pasti akan menjadi manusia.”