Lovely Yours

Lovely Yours
Flashback



~ Flashback ~


…Kejadian satu setengah tahun yang lalu saat Kwangmin meninggal karna kecelakaan…


Youngmin bergerak resah di tempat tidurnya. Tadi dia pingsan setelah mengetahui dan melihat kematian adik kembarnya, Kwangmin. Suster dan dokter sudah memindahkan Youngmin ke atas tempat tidur.


Youngmin semakin bergerak resah. Ia pun terbangun dan langsung memanggil nama Kwangmin. “Kwangmin…!”


Youngmin duduk dan menyadari kalau dia berada di sebuah kamar pasien. Ia memandang ke sekeliling. Ternyata memang bukan mimpi. Kematian Kwangmin itu nyata.


“Mana Kwangmin?” seru Youngmin pada seorang suster di sisinya. “Aku ingin bertemu dengannya!”


“Saudara kembarmu sudah meninggal.. Sekarang mayatnya sedang diberi pengawet.”


“No!!” bentak Youngmin sambil menutup kedua kupingnya. “Dia belum mati! Dia belum mati!!!”


“Tuan… Anda tenang dulu…” ucap suster karna Youngmin berusaha beranjak dari tempat tidur, “Anda masih perlu beristirahat.”


“Aku ingin bertemu Kwangmin!” seru Youngmin dan air matanya kembali mengalir. Dia tidak mau menghadapi kenyataan ini. Dia tidak mau menghadapi hidup tanpa Kwangmin.


“Tuan… saudara kembar Anda sudah—“


“Shut up!” tukas Youngmin, “Kwangmin belum meninggal, jangan ucapkan kebohongan!”


Dua dokter dan dua suster masuk ke kamar itu setelah keributan yang dibuat Youngmin yang membuat rumah sakit kembali gempar. Mereka berusaha menenangkan Youngmin yang bersikeras ingin bertemu Kwangmin padahal dongsaengnya itu sudah meninggal.


“Biarkan aku bertemu Kwangmin!” seru Youngmin bercampur isak tangis. Dua penjaga sampai datang dan berusaha menahan kedua tangan Youngmin.


Youngmin meronta sekuat tenaga, berusaha lepas dari dua penjaga yang menahan tangannya. Karna kekuatan Youngmin itu, penjaga makin mencengkram pergelangan Youngmin.


“Akh..! Lepaskan!!” seru Youngmin sambil menangis. Dia bahkan sampai mencakar dan melukai dirinya sendiri supaya dua penjaga itu mau melepaskannya. “Arghh~”


“Tuan, Anda harus tenang…” ujar salah satu dokter, “Anda bisa menemui jenazah saudara Anda nanti.”


Dua dokter saling bertatap-tatapan. Youngmin terus saja meronta bahkan sampai menyakiti diri sendiri. Kulit Youngmin sudah luka dan merah-merah akibat dicengkram penjaga. Ada juga yang sampai berdarah. Akhirnya dua dokter itu saling mengangguk, memutuskan untuk menyuntikkan obat penenang pada Youngmin walau sebetulnya mereka harus ijin dulu pada keluarga. Tapi belum ada keluarga si kembar yang datang.


Youngmin melihat salah seorang dokter mengeluarkan jarum suntik.


“Tidak!! Biarkan aku bertemu Kwangmin! KUMOHON!!” isaknya dan terus meronta walau dirinya sudah kelelahan dan lemas.


“Anda harus mengerti…” sahut seorang dokter sambil mendekati Youngmin.


“Tidak!” isak Youngmin. “Kwangmin!! Kwangmin!!!!”


Dokter pun menyuntikkan obat penenang itu ke kulit lengan Youngmin. Akibat suntikan itu Youngmin langsung merasa kelelahan dan mengantuk.


“Kwang…” isak Youngmin dan kaki tangannya mulai lemas, “Tolong… biarkan… aku… ber-temu…”


Youngmin pun langsung tak sadarkan diri. Ia terjatuh dan pingsan. Dua penjaga langsung memapahnya ke atas tempat tidur. Untuk berjaga-jaga—karna siapa tau Youngmin sadar dan langsung menyakiti diri lagi—dokter memerintahkan suster untuk mengikat tangan dan kaki Youngmin ke tempat tidur.


Kwangmin sejak tadi menyaksikan di sana. Ia berdiri menatap hyungnya yang sudah dibius. Kwangmin menutup mulut dengan tangan lalu menangis. Melihat hyungnya seperti ini sudah melukai hatinya.


Seorang malaikat yang sejak tadi menemani Kwangmin, menepuk bahu Kwangmin. Malaikat itu adalah Andrew.


Kwangmin berjalan mendekati hyungnya. Ia makin menangis melihat banyak luka cakar di kulit Youngmin. Merah dan tidak sedikit yang berdarah. Youngmin yang walaupun sudah dibius dan tertidur namun masih saja menangis dan mengeluarkan air mata.


“Dia sangat depresi akibat kematianmu…” ujar Andrew.


Kwangmin menyentuh tangan Youngmin. “Hyung……” isaknya. “Jangan menangis lagi, hyung… Jangan menyakiti diri lagi… Bagaimanapun juga aku sudah mati…… Kita tidak dapat bersama lagi…”


Kwangmin menangis tersedu-sedu. Ia merasa payah sekali, melihat saudara kembarnya diikat seperti ini.


Andrew menepuk pundak Kwangmin. Akibat tangisan dan air mata Kwangmin, bunga yang ada di dalam vas bunga di atas meja tiba-tiba layu. Tangisan dan air mata orang yang sudah mati menyebabkan tumbuhan di sekitarnya menjadi layu.


~ Flashback end ~