
Esok sorenya, Kwangmin yang menyamar sebagai Beomgyu muncul di rumah Narmi saat wanita itu tengah mengerjakan PR. Narmi terlihat lemas dan kian tak bertenaga. Semalam dia mengalami kesakitan lagi (Kematian Tahap 5) dan hampir-hampir merasa akan mati.
“Heeeeii..” sapa Narmi saat melihat Beomgyu tau-tau muncul dan duduk di sebelahnya. “Aku sedang mengerjakan PR.”
Beomgyu hanya tersenyum tipis.
Narmi memandang Beomgyu “Kenapa?? Kenapa kau kelihatan tidak bersemangat?”
“Itu adalah pertanyaan yang justru akan kulontarkan padamu. Kau kelihatan lemah dan sakit.”
“Jinjja?” Narmi berusaha ceria dan meregangkan otot seolah dia masih bugar, “Aku sehat sekali.”
“Bohong.”
Narmi tersentak mendengar ucapan sedingin es itu. Ditatapnya Beomgyu yang memang terlihat bukan sedang mengolok-olok atau menggodanya. Malaikat itu sepertinya mengetahui sesuatu dan terlihat begitu mencemaskannya.
“Apa kau merasa akhir-akhir ini kesakitan atau ditimpa suatu penyakit aneh??” tanya Beomgyu pada akhirnya.
Narmi melotot dan ia mengangguk lambat, sudah tidak mau berbohong lagi.
Beomgyu tersenyum tipis. “Apa kau mau tau alasannya?”
Narmi menelan ludah. Ditatapnya malaikat itu sungguh-sungguh. Sejujurnya Narmi tidak pernah menaruh curiga sedikit pun pada Beomgyu. Dia slalu percaya pada semua ucapan Beomgyu—kan malaikat!
“Kenapa???”
“Aku hanya bisa memberitaukan jalan keluarnya…” Beomgyu menatap Narmi dengan mata sendu. Sebetulnya dia tidak mau melihat Narmi menderita. Jadi dia putuskan dia akan memberitau jalan keluarnya untuk Narmi. “Lupakan Youngmin… Tinggalkan dia dan berhentilah mencintainya.”
Narmi hampir tersedak. “A-apa?”
“Kau akan mati kalau kau terus mencintainya…” lanjut Beomgyu setengah mendesak.
“Aku tidak berbohong. Aku mengatakan yang sejujurnya..” ucap Beomgyu dengan bibir bergetar, “Aku mohon padamu… kalau kau tidak mau mati karna mencintainya—“
“Cukup.” potong Narmi. “Cukup, Beomgyu.”
“Narmi-ah…” Beomgyu memegang lengan Narmi setengah memohon. “Aku tidak mau melihatmu mati. Sebentar lagi—“
“Cukup!!!” Narmi menutup kedua telinga sambil memejamkan mata. Air matanya mengalir deras. Hatinya terluka mendengar semua ini. Kalau benar apa yang dikatakan Beomgyu, tapi kenapa??? Kenapa nasib ini harus ia terima? Di saat dia begitu bahagia karna menemukan pria seperti Youngmin, mengapa takdir berkata lain?
Narmi menangis terisak-isak. Ia memegang dadanya yang nyeri. Sejujurnya dia juga tidak suka kalau harus mengalami penderitaan di tubuhnya ini. Tubuh yang lemah tak berdaya, nafas terputus-putus, maag, sakit lambung, hati dan organ dalam lainnya… dia juga tidak suka menerimanya! Tapi…… kalau disuruh untuk berhenti mencintai Youngmin… dia merasa dia akan menyesal karna sudah menghianati Youngmin dan menipu dirinya sendiri.
Beomgyu juga ikut menangis tanpa suara melihat manusia di depannya terus terpejam dan menutup kedua telinga. “Narmi-ah… Kau mungkin tidak mengerti mengapa. Tapi kau tidak boleh mati sia-sia. Aku memberitaumu karna aku peduli.”
Narmi menggeleng-geleng dan terus menutup kuping. “Aku tidak akan pernah melakukannya. Tidak akan! Kalau Tuhan mau mengambil nyawaku, dia bisa melakukannya.”
Narmi menangis terisak-isak. Hatinya sebetulnya perih. Apakah salahnya kalau dia mencintai Youngmin? Kenapa ia harus menanggung penderitaan seperti ini? Bahkan kondisi ayahnya pun kian memburuk. Sebetulnya Narmi belum mau mati… karna Ayahnya……
Beomgyu memegang kepalanya dan meneteskan air mata.
Narmi menarik nafas, berusaha tegar. Ia memandang Beomgyu. “Maaf… saat ini aku hanya ingin sendiri… bisakah kau pergi meninggalkanku…?”
“Narmi-ah..”
“Kumohon…” potong Narmi cepat.
Beomgyu tersenyum tipis. Dia sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Beomgyu pun langsung menghilang dari tempat itu meninggalkan Narmi.
Narmi memegang dadanya yang sesak. Kini ia semakin menangis dan air matanya deras mengalir. Ketakutannya yang sekarang adalah bukan menghadapi kematian… tapi meninggalkan ayah dan Youngmin… dua orang yang sangat ia cintai…