Lovely Yours

Lovely Yours
Fate



Pagi ini Narmi memasuki gerbang sekolah dengan semangat. Dia tidak terlambat, hehehehe. Fiuh, jadi hari ini dia tidak perlu mengangkat dua tangan di lapangan lagi wekk.


“Nanananna~~~” ucapnya sambil berjalan riang. Langkahnya itu langsung terhenti saat melihat apa yang bertengger di atas gerbang. Atau mungkin lebih tepatnya siapa???!!!


Muka Narmi langsung berubah ungu saat ia melihat di atas gerbang menggantung seorang mayat perempuan asing. Mayat itu pucat abu-abu. Darah kering ada di sekujur tubuhnya. Dan wajah wanita itu.. mengerikan… yang membuat perut Narmi mendadak mual, ingin memuntahkan sarapannya.


Narmi mengira bahwa orang yang lewat tentu saja melihat mayat itu… tapi ternyata.. (lagi-lagi) hanya dia yang bisa melihatnya. Murid-murid yang masuk ke sekolah anteng saja berjalan karna memang tidak melihat apa yang dilihat Narmi. Taulah Narmi kalau dia kembali melihat hal-hal mistis.


“I…” Narmi sudah bersiap akan berteriak namun hal yang tak terduga terjadi di hadapannya.


Mayat wanita itu mendelik, menoleh pada Narmi (padahal Narmi kira hantu itu memang benar-benar mati!). Ia tersenyum licik, terbang dari tempat gantungannya dan berhenti di depan muka Narmi. Dari sedekat ini wajah hantu itu tampak semakin mengerikan. Seperti hantu professional yang ada di film-film horor box office.


“Wanna die with me?” tukas hantu itu.


“Uaa—“ Narmi sudah akan berteriak kencang ketakutan namun lagi-lagi teriakannya itu tertahan. Seseorang dari belakang mendorong tubuhnya ke depan.


“Pagi!” sapa seseorang. Orang itu yang ternyata Lee Jeongmin.


Alhasil karna dorongan Jeongmin itu membuat wajah Narmi menempel ke wajah hantu sialan itu. Ini adalah mimpi horor terburuk yang pernah dialami Narmi! Ah tidak~ ini bahkan bukan mimpi!!! Mata hantu yang merah menyeramkan… hidung bengkoknya… rambut blonde acak-acakkan…


“Gyaaaa!!!!” pekik Narmi syok luar biasa. Lantas ia pun lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu. Orang-orang memperhatikannya dengan kebingungan.


“Hey, Narmi!” panggil Jeongmin heran karna yeoja yang ia sapa malah berteriak ketakutan. ‘Apa aku sudah membuatnya kaget dan takut ya? Tapi kenapa???’ pikir Jeongmin.


Narmi berlari tunggang langgang secepat yang ia bisa. Sementara hantu-hantu lain malah berdatangan mempermainkannya, membuatnya makin takut. Si makhluk hijau menakuti-nakuti Narmi dengan muncul-hilang muncul-hilang di depan mukanya. (ya kontanlah bikin siapa aja takut merinding)


Ada juga hantu seperti nenek lampir versi korea mengejarnya sambil tertawa ‘hihihi’ menakutkan.


Youngmin yang sedang berjalan dekat situ hendak ke toilet, heran melihat lari marathon Narmi dari kejauhan. ‘Ada apa dengan wanita sinting itu? Seperti dikejar hantu saja.’


Sengaja, Youngmin menjulurkan kakinya pada Narmi yang berlari di depannya. Alhasil Narmi terpeleset dan terjatuh ke aspal. Youngmin cukup terkesima juga karna perempuan itu benar-benar terjatuh dengan jebakan entengnya.


Narmi mengerang, pergelangan kakinya kesakitan. Ia menoleh dan langsung berang melihat Youngmin. Ketakutan akan hantu pun sampai dilupakannya. “Yahhh!!!”


Youngmin tersenyum tipis. Hari ini ia tampan sekali. Postur badannya yang tinggi, kulit putih, rambut kecoklatan… Yeah sekalipun senyumnya menyebalkan… tapi tetap tampan.


Dalam hati Narmi pun mengakuinya. Hanya saja kepribadian buruk namja itu.. ukh…


“I’m sorry… Aku tidak melihat ada cewek yang lari marathon tadi…”


“Apa kau bilang?!” Narmi bangkit berdiri dan melotot.


Hantu-hantu yang tadi mengejar Narmi langsung berdiri di pinggir. Hening. Dan kenapa Narmi mendadak tidak ketakutan lagi ya saat bertemu dengan pria ini?? Hantu-hantu itu jadi tidak bisa mempermainkan Narmi kan.


Youngmin sudah akan pergi namun Narmi menahannya. “Hey! Karna kau aku jadi berhenti berlari dikejar hantu-hantu ini!”


Youngmin tercengang. Ia hampir tersedak. “Apa??”


Narmi tersadar sudah. Ia melirik hantu-hantu di pinggir yang juga memandanginya. As-ta-ga. Dia sampai lupa akan ketakutannya tadi.


“Hantu?” tanya Youngmin setengah menertawakan. “Sekarang bahkan masih pagi belum malam…”


Narmi kembali bergidik. Dengan cepat ia berbalik pergi dan kembali lari tunggang langgang. Hantu-hantu itu pun kembali melanjutkan aktivitasnya mengejar-ngejar Narmi sambil menakut-nakuti.


“Hey!!” panggil Youngmin yang tidak digubris Narmi, “Hey, cewek gila!!”


Youngmin melongo saja melihat Narmi yang tau-tau sudah kembali lari marathon lagi. Youngmin geleng-geleng. ‘Silly… Pagi-pagi sudah lari marathon. Hantu? Hantu apaan.’


----skip----


Hosh.. hosh……


Rambut acak-acakkan, nafas amburadul… wajah ketakutan… Begitulah kira-kira gambaran akan Narmi pagi ini. Setelah tadi dia lari marathon akibat dikejar hantu-hantu tidak tau diri itu… kini di ambang pintu kelas dia ditatap aneh oleh teman-temannya.


Si makhluk hijau terbang lincah di dalam kelas. Ia tertawa keras. “Hahahaha… ini sangat menyenangkan sekali. Akhirnya aku bisa menakut-nakuti manusia! Cihuuuy!”


Mendengar ejekan itu, Narmi langsung berteriak, “Hantu sialan! Lihat dirimu di cermin! Dasar makhluk hijau busuk!”


Murid-murid yang mendengar itu tercengang. Hantu sialan? Makhluk hijau busuk??? Apa Narmi ngelindur melihat hantu lagi ya di kelas?


Bukannya tersinggung, si makhluk hijau malah tertawa semakin keras. “Gyahahaha… Aku paling senang dipanggil makhluk hijau busuk. Trimakasih ya…”


Narmi memandang jengkel hantu itu—yang tentunya hanya dia saja yang bisa melihat. “Iya! Kau adalah hantu hijau busuk menjijikkan yang pernah kulihat! Kau puas??”


Hening…


Yang terdengar hanya kekehan panjang si makhluk hijau. Ia tertawa karna puas Narmi sudah dianggap tak waras oleh manusia lain yang ada di kelas itu.


Narmi tersadar. Ia melihat ke sekeliling. Semua memandangnya aneh. Ada yang mengernyit… ada juga yang simpatik, menganggapnya sudah sakit jiwa!


“Hei, Narmi-ssi… apa semalam kau baru menonton film horor?” celetuk seorang siswa.


“Dia cewek aneh…”


“Lagipula penampilannya nyentrik…”


“Apa mungkin dia anak penyihir?”


“Aku takut……”


blahblahblah…


Mendengar semua ucapan miring chingudeulnya, Narmi menunduk kelu. Ia ke bangkunya dengan sangat malu. Pagi ini merupakan awal dia dianggap wanita aneh oleh chingudeul sekolahnya.


----skip----


Saat pulang sekolah ini, Narmi celingak celinguk sendiri. Ia mencari Donghyun oppa yang tumben-tumbennya tidak bergabung di kantin. Narmi melirik tajam pria di hadapannya. Yang menyebalkan justru yang muncul (baca: pangeran songong Youngmin).


Narmi meneguk lattenya dalam-dalam, berusaha menepis kekesalan. Dia mana mungkin lupa sikap Youngmin yang membuatnya terjatuh kemarin pagi.


“Donghyun oppa mana?” tanyanya akhirnya tak tahan.


“Akhir-akhir ini dia sibuk…” sahut Jiyoung, “Dia mengatakan kalau dia diminta eomma appa untuk fokus belajar. Kalian tau kan ujian Negara sebentar lagi…”


“Benar…” sahut Hyunseong, “Sudah sepatutnya begitu.”


Eunsu mengetuk-ngetuk kepala Narmi. “Oi, banyak yang membicarakanmu akhir-akhir ini?”


“Kenapa???” tanya Narmi datar, walau dia sendiri sudah tau jawabannya.


“Narmi si murid aneh… Narmi si anak penyihir… Apa-apaan itu?” ujar Eunsu.


“Bagus kan?” sahut Narmi masih datar dan tak berminat. Youngmin malah mendengus tawa membuat Narmi langsung melayangkan mata mautnya.


Jiyoung juga mengangguk-angguk. “Apa kau sedang ditimpa banyak masalah akhir-akhir ini? Ayahmu baik-baik saja kan?”


Narmi menghela nafas. “Hhh… tak perlu khawatir…”


Jeongmin memandang Narmi cemas. Ada apa dengan cewek itu ya? Dan sebetulnya Jeongmin paling anti dengan namanya dunia mistis. Dia termasuk manusia yang tidak mempercayai hantu dan sejenisnya. “Apa kau sehat??”


Mendengar semua pertanyaan chingudeulnya itu, Narmi sedikit jengkel juga. “Aku sudah bilang tak apa-apa!”


Jeongmin tersentak. Ia merasa bersalah.


Eunsu yang melihat cowok ia sukai seperti itu jadi merasa tidak enak. “Anni, Jeongmin-ah… Narmi tidak bermaksud seperti itu…” Eunsu menepuk-nepuk punggung tangan Jeongmin.


Youngmin melirik Jeongmin, melihat ekspresinya yang tidak biasanya. Sejujurnya Youngmin juga sering mendengar rumor mengenai Narmi yang disebut-sebut bisa melihat hantu. Banyak pria yang membicarakannya. Dan banyak yang tidak menyukai tipe cewek aneh seperti itu. Bagi mereka mengerikan.


“Kalau dia bisa melihat hantu… itu bagus…” ujar Youngmin tiba-tiba membuang keheningan kaku, “Dia bisa mencari teman spesiesnya…”


“Yahh!” tukas Narmi emosi mendengar ucapan Youngmin itu.


Jiyoung, Eunsu, Hyunseong dan Hwayoung mengekeh. Ternyata Youngmin bisa juga ya melucu. Perlahan-lahan Jeongmin juga ikut tertawa. Ia memukul-mukul punggung Youngmin, puas juga melihat chingunya ini mulai melucu seperti dirinya. “Hahaha… lucu sekali, Youngmin-ssi…”


Sementara Narmi memelototi Youngmin dengan berang. ‘Dia ini apa sih maunya…!’


Jeongmin tersenyum. Moodnya kembali normal. Dalam hati dia berterimakasih pada Youngmin yang sudah mencairkan suasana. Jeongmin berdiri dan memandang Narmi. “Ayo… ikut aku untuk membeli es krim. Aku mau mentraktir kalian semua.”


Senyum Narmi merekah, lega juga Jeongmin sudah kembali seperti biasa. “Beneran?” Narmi bangkit berdiri.


Youngmin menaikkan sebelah alis melihat senyum Narmi itu. ‘Ish…’


“Ayo…” ucap Jeongmin lagi dengan eye smile khasnya.


Keduanya pun pergi menuju kios eskrim tak jauh dari sana. Eunsu mempoutkan bibirnya. Envy, kenapa Jeongmin tidak mengajaknya.


“Betul?” Wajah Narmi memerah malu.


Jeongmin mengangguk manly.


Narmi menoleh ke arah kios es krim untuk melihat rasa apa kira-kira yang enak. Namun… Doeng! Kepalanya langsung pusing melihat hantu kecil melayang dan malah bermain-main dengan es krim di dalam panci besar.


Tangannya yang kotor itu asyik saja mengocok-ngocok es krim. Yeah… walau memang tangannya itu tembus pandang dan tidak menyentuh es krim sama sekali.. tapi kan tetap saja terlihat jorok menjijikkan.


“Lalala… lalalala~~” ucap si hantu cilik riang terus saja mengocok-ngocok es krim (gayanya sudah ala chef professional). Sesekali ia meludah ke es krim, “Cuh, cuh, cuh… bumbu rahasia… hihihi…” Ia mendongak pada Narmi yang sejak tadi memandangnya. Hantu cilik itu terkekeh, “Mau rasa apa??”


Narmi menahan mulutnya yang mual dan sudah akan muntah. Ia langsung membuang muka.


“Kenapa?” tanya Jeongmin heran melihat Narmi seperti tidak berselera, padahal beberapa detik yang lalu masih semangat.


“E-engga.. aku tidak jadi memesan. Kalian saja.”


Jeongmin mengernyit. Sementara si hantu cilik melayang ke dekat wajah Jeongmin. Konyolnya, ia malah menjilat wajah Jeongmin. Tapi Narmi yang melihatnya spontan marah. Air liur menetes-netes dari mulut hantu itu.


“A-apa yang kau lakukan??” bisik Narmi marah memandang sebal hantu itu.


“Hah???” Jeongmin semakin tercengang.


“Hantu picisan…” tukas Narmi, “Kau menjilati Jeongmin? Kau kira dia es krim?”


Hantu cilik botak itu malah mengikik, “Walau rasanya sedikit pahit.. tapi aku suka.”


“Apa maksudmu dengan pahit, hah?”


“Na-Narmi…” Jeongmin mulai paranoid, dia sedang dijilati hantu??? “Kau sedang berbicara dengan siapa?”


Narmi tidak menghiraukan Jeongmin saking fokusnya menatap hantu menyebalkan itu. Hantu itu meleletkan lidahnya, semakin ngajak ribut. Ia melayang di atas kepala Jeongmin.


“Kau tau… kami para hantu juga bisa mengeluarkan kotoran.”


Narmi menganga. Apa coba yang akan dilakukan hantu itu??


“Mau kutunjukkan? Akan kukeluarkan di atas kepala ahjussi ini…” gumam si hantu mengekeh dan mulai bersiap-siap mengeluarkan kotoran hantu di atas kepala Jeongmin.


“Yahh!!” tukas Narmi sudah tak bisa menahan amarahnya.


“Ke-kenapa??” tanya Jeongmin makin ngeri karna wanita di hadapannya ini terus menerus bicara sendiri dan melihat ke atas kepalanya.


Narmi mengambil papan daftar harga es krim. Dia akan memukul hantu itu seperti pukulan home run.


“Narmi-ah???” tanya Jeongmin ketakutan.


“Sst, Jeongmin… Ada hantu di atas kepalamu. Tapi tenang… akan kupukul dia…” bisik Narmi.


Narmi sudah bersiap dengan alat pukulnya.


“Na-Narmi—“


Dan… BUKK!!


Bodohnya pukulan Narmi itu meleset. Ia malah memukul kepala Jeongmin (pria yang malang). Kepalanya berputar tujuh keliling, pusing. Hidungnya pun sampai mimisan. Matanya berkunang-kunang melihat yeoja di hadapannya yang sudah speechless dan merasa bersalah.


“Na-Narmi… mengapa—???” ucap Jeongmin terakhir kalinya lalu jatuh pingsan di lantai.


“JEONGMIN!!!” seru Eunsu kaget melihat namja itu tiba-tiba jatuh pingsan. Eunsu memang sempat melihat adegan Narmi memukul kepala namja tak berdosa itu. Eunsu berlari panik mendatangi Jeongmin dan Narmi. Begitu pula Jiyoung, Hyunseong dan Hwayoung. Sementara Youngmin hanya memukul jidat sambil geleng-geleng.


Kantin pun menjadi ricuh. Banyak orang yang mengelilingi Jeongmin yang pingsan di lantai.


Narmi menggigit kuku, merasa sangat-sangat bersalah atas pingsannya Jeongmin. Si hantu cilik tertawa puas sekali. Ia merayakannya sambil melayang ke sana ke mari.


Eunsu berusaha menolong Jeongmin. Wanita ini terlihat sangat cemas. Hyunseong pun akhirnya yang menggendong Jeongmin menuju UKS.


Kwangmin yang menyaksikan adegan konyol itu mengekeh di atas atap. Sejak tadi dia di sana. Ia tertawa geli melihat kericuhan para manusia.


“Akhirnya aku menemukannya… Cewek itu…” gumam Kwangmin pelan sambil menatap Narmi yang masih menggigit kuku kebingungan. “Ternyata memang benar… dia salah satu manusia yang diberi anugrah khusus…”


----skip----


Hari-hari Narmi menjadi bulan-bulanan para hantu di sekolah. Hantu-hantu itu terus saja mengganggu Narmi. Seperti misalnya saat Narmi akan buang air kecil, tau-tau si makhluk hijau muncul membuat Narmi lari tunggang langgang dan tidak jadi buang air kecil. Atau misalnya saat Narmi ulangan, ada saja hantu yang berdiri di sisinya membuatnya bergidik dan tidak konsentrasi. Hantu-hantu itu memang sangat senang sekali bisa mempermainkan Narmi… apalagi tingkah Narmi yang kocak, membuat para hantu sekolah ketagihan untuk mengganggunya.


Saat ini di kelas Biologi, Narmi berusaha tetap fokus pada penjelasan sangsaenim. Walau ada dua hantu kecil berlarian ke sana-kemari menjadikan ruang kelas sebagai arena bermain bola hantu. Hantu-hantu itu memang sengaja ingin mempermainkan mental Narmi rupanya.


“Jadi…pernafasan kita dimulai dari hidung, tenggorokan, batang tenggorokan kemudian ke paru-paru…” ujar sang guru di kelas pada murid-muridnya, padahal di belakang sangsaenim salah satu hantu cilik meniru-nirukan gaya mengajarnya. Narmi tidak konsentrasi dibuatnya, antara jengkel dan juga ingin tertawa.


“Hei, kalau kita tidak diajari demikian kan?” celetuk salah seorang hantu cilik yang memegang bola. “Kita bahkan tidak bisa bernafas.”


Hantu cilik di belakang guru cekikikan. Ia memegang hidungnya. “Hidung kita ini tidak seperti punya manusia. Punya kita hanya hiasan.”


Narmi langsung tertawa mendengarnya dan beberapa saat kemudian ia langsung menahan tawanya karna sangsaenim dan murid-murid lain menoleh heran padanya.


“Narmi-ssi, apa ada yang lucu?” tukas guru tersinggung.


“Ti-tidak…” sahut Narmi menunduk minta maaf.


Dua hantu cilik malah terbahak-bahak. Mereka sudah sukses mengerjai Narmi.


Guru pun kembali mengajar. “Sedangkan untuk hewan, ada yang bernafas dengan paru-paru, insang ataupun dengan kulit…”


“Hei, sepertinya kita termasuk makhluk yang bernafas dengan kulit…” celetuk hantu yang memegang bola.


“Kenapa?” tanya hantu cilik lain.


Hantu yang memegang bola malah bingung sendiri. “Karna kita tidak punya paru-paru lagi…”


“Betul..” sahut temannya, “Jadi kita sebangsa dengan cacing kan maksudmu?”


Hantu yang memegang bola semakin kebingungan. “Lha kalau begitu.. kita hewan.. bukan hantu?”


“Dasar bodoh!” tukas hantu cilik yang lain. “Kita tidak bernafas!”


Narmi kembali tertawa sendiri mendengar semua itu. Apa-apaan ini? Apa hantu-hantu memang bodoh semua ya?


Guru berhenti menjelaskan, matanya tajam mengawasi Narmi yang lagi-lagi tertawa. “Narmi-ssi!”


Narmi berhenti tertawa dan mendongak terkejut.


“Sebaiknya kau selesaikan tawamu di luar.” tukas guru sudah sangat kesal.


“Ta-tapi—“


“Keluar sekarang!” serunya.


“HOREE!!!” seru dua hantu cilik malah bersukaria saat tau Narmi disuruh keluar. Siasat mereka berhasil mengerjai manusia itu.


Dengan lesu, Narmi pun beranjak dari tempatnya dan keluar dari kelas. Murid-murid semakin mencap Narmi itu benar-benar cewek super duper FREAK. Dua hantu cilik turut mengikuti Narmi di belakang.


Saat di luar Narmi langsung membentak dua hantu itu. “Yahh! Untuk apa kalian mengikutiku! Sana main bola di kelas!”


Dua hantu itu mengikik. Mereka malah meleletkan lidahnya lalu terbang meninggalkan Narmi. Ternyata dua hantu itu memang hanya berniat mengerjai Narmi.


Hantu-hantu lain juga sibuk mengejek Narmi, mengatakan bahwa Narmi manusia idiot, jeleklah dan sebagainya. Ada juga hantu yang berusaha menakut-nakuti Narmi.


Narmi menggeram. Dia mengepalkan tangannya dengan marah.


‘Oke… Kalau Tuhan membiarkan aku melihat hantu-hantu ini… artinya aku pasti tidak akan takut. Kalau aku bisa mati ketakutan, Tuhan pasti takkan membiarkanku mempunyai indra keenam ini…’ pikir Narmi dan memulai memotivasi diri. Ia menyadari kalau sebetulnya dia tidak perlu takut. Antara manusia dan hantu, manusialah yang lebih tinggi kedudukannya. Lagipula hantu-hantu itu tidak dapat melakukan apa-apa atas hidupnya selain hanya menakuti dan mengejek.


Nafas menggebu-gebu keluar dari dua lubang hidung Narmi. “Heh, hantu jelek! Aku tidak akan takut pada kalian!”


Hantu-hantu berhenti beraktifitas dan menoleh kaget pada Narmi.


“Kalian pikir kalian siapa! Kalau sekali lagi kalian berani menggangguku…” tukas Narmi dengan mata berkilat-kilat, “Akan kuusir kalian dan langsung kukirim ke neraka!”


“KYAA… kyaaa…!!” Hantu-hantu malah memekik ketakutan dan berlarian pontang panting. Manusia yang sudah menyadari posisinya seperti Narmi ini membuat para hantu kapok dan ketakutan. Lagipula hantu memang tidak mempunyai kuasa apapun menyentuh dan menyakiti manusia.


Narmi tersenyum puas lalu pergi saja menuju perpustakaan.


Kwangmin yang sejak tadi duduk di atas atap kelas Narmi, terkekeh saja melihat perbuatan berani yeoja itu. Kwangmin pun akhirnya semakin yakin kalau cewek itu memang merupakan salah satu manusia yang mendapatkan anugrah untuk melihat. Pintu keluarnya semakin terbuka dengan adanya cewek itu. Kwangmin tersenyum lirih.