
“Narmi…??” ucap Youngmin parau saat dilihatnya Narmi sudah tidak mengeluarkan suara apa-apa lagi. “Narmi??? NARMI!!!!!”
Youngmin menangis memeluk perempuan itu. Apa Narmi meninggal? Apa dia sudah kehilangan wanita yang ia cintai?
Dan ada apa ini? Kenapa air matanya yang mengalir terus dari mata kiri??
Perlahan-lahan Narmi membuka matanya. Entah kenapa dia sudah tidak merasa sakit lagi. Dia sudah merasa baik-baik saja. Dia merasa seolah dirinya kembali dihidupkan dan diberi energi baru. “Youngmin…?” tanyanya serak pada Youngmin yang masih menangis dan memeluknya.
Youngmin terkejut dan menatap Narmi tak percaya.
Narmi memberikan seulas senyum. “Aku baik-baik saja.. Aku… entah kenapa tiba-tiba aku merasa sudah sehat…” Narmi melap hidungnya yang sudah tak mengeluarkan darah lagi. Dan lagipula ia justru kembali merasa muda, seolah tidak pernah merasakan sakit atau diserang sebelumnya. Semua ini tak lain karena Kwangmin yang telah menelan kapsul hitam.
“Benarkah..?” tanya Youngmin masih cemas. Air mata terus saja mengalir dari mata kirinya.
“Iya…” sahut Narmi dan melepas diri dari pelukan Youngmin. Ditatapnya Youngmin yang masih saja menangis. Narmi mengernyit. “Apa ada sesuatu yang salah…?? Kau terus menangis…..”
Deg!
Youngmin merasakan luka perih di hatinya. Kwangmin… Ya. Dia teringat pada dongsaengnya itu!
Youngmin langsung bangkit berdiri. “A-Aku harus pergi……” ucap Youngmin kini mendadak mencemaskan dongsaengnya. “Tidak apa kan kalau aku harus meninggalkanmu dulu..?”
Narmi mengangguk dalam-dalam. Walau dia tidak mengerti, tapi dia tau ada sesuatu yang sangat sangat penting yang harus diperbuat Youngmin. “Pergilah…”
Beberapa ratus meter sebelum rumahnya, Youngmin melihat awan mendung hitam melingkupi daerah sekitar rumahnya. Dan petir pun terdengar beberapa kali. Jantung Youngmin berdebar kencang, ketakutan.
Air mata terus mengalir dari mata kiri Youngmin. Ia mempercepat larinya semampu yang ia bisa, menuju tempat dongsaengnya berada. Dan semoga semuanya baik-baik saja.
Youngmin membuka pintu kamarnya keras-keras. Nafasnya masih tak karuan saat dilihatnya Kwangmin di tengah kamar berjongkok sambil berteriak kesakitan. Dan ada empat malaikat mengelilingi Kwangmin. Mereka tidak melakukan apa-apa. Mereka di sana seolah mengawasi Kwangmin.
Air mata Youngmin mengalir lagi. Ia memegang kepala. Kalap dan frustasi melihat kondisi dongsaengnya yang tiba-tiba begini. Ada apa? Bukankah Kwangmin itu malaikat? Mengapa Kwangmin berteriak seolah menderita sakit? Tangisannya pun terdengar begitu menyedihkan bagi Youngmin.
“Kwangmin……??” ucap Youngmin parau sambil berjalan mendekat. Namun ia langsung seperti tersetrum saat sudah akan 3 meter mendekat pada Kwangmin. Ternyata ada sejenis lingkaran kaca tak kelihatan yang mencegah siapapun dan apapun yang mencoba untuk mengganggu prosesi ini.
“Kwangmin!!!” pekik Youngmin kalap dan ia menangis tersedu-sedu. Ia tak mengerti dan sangat takut! Takut kehilangan dongsaengnya. Lagipula mendengar ratapan Kwangmin, membuatnya ikut terluka.
Udara di sekitarnya menjadi begitu dingin di bawah nol derajat. Atmosfer terasa begitu menyedihkan dan sesak. Semua ini karna seorang malaikat tengah mengalami transformasi besar-besaran. Segala memori mengenai dirinya akan dihapus dari muka bumi ini. Petir terdengar menyambar di luar.
“KYAAAKK!!!” seru Kwangmin seolah tidak mendengar seruan Youngmin. Tubuhnya mengalami transformasi besar-besaran. Ia kira saat ia menelan kapsul hitam, dengan sekejap dia langsung menghilang, ternyata ia juga harus mengalami rasa sakit. Tujuh tahap kematian kini sekaligus harus ditimpakan pada Kwangmin—hal yang tidak diberitaukan oleh Yesung.
“KWANGMIN!!!!!” seru Youngmin dan kembali berusaha menembus lingkaran kaca tembus pandang itu. Sia-sia saja, Youngmin terpental seolah tersetrum. Dia tidak bisa menjangkau dongsaengnya. Sekujur tubuhnya bergetar.
“Tidak…tidak… Apa yang kalian lakukan pada Kwangminku??” isak Youngmin bertanya pada 4 malaikat yang sejak tadi tak bergerak dan tak menghiraukannya. “Lepaskan dia… Aku mohon…”