
Kwangmin berdiri di balik pintu rumah. Ia mengintip ke dalam, melihat saudara kembarnya yang sedang membereskan kamar. Kwangmin tersenyum tipis.
“Kau mengerti kan?” ucap Andrew pada Kwangmin, “Kau tidak boleh masuk saat itu terjadi…”
“Kenapa?” tanya Kwangmin entah untuk yang keberapa kalinya. Tadi Andrew mengatakan kalau sebentar lagi Youngmin akan merasakan perasaan luka Kwangmin semasa hidup. Kwangmin takut dan cemas sekali. Hyungnya itu kan memiliki perasaan yang sensitif. Kwangmin takut Youngmin malah jatuh sakit.
“Aku kan sudah bilang ini adalah konsekuensi yang harus diterima saudara kembarmu karna kau sudah menjadi malaikat penjaganya. Semua duka dan kesedihan semasa kau hidup akan ditransferkan pada Youngmin.” tutur Andrew.
“Tapi untuk apa?” tukas Kwangmin sebenarnya ingin marah dan protes. “Untuk apa dia harus menerima konsekuensi konyol itu?”
Andrew menghela nafas. “Seorang malaikat sudah tidak sepatutnya menyimpan duka dan kesedihan lagi. Dan karna ini merupakan kasus khusus, semua duka nestapamu akan ditransfer pada saudara kembarmu sehingga kau tidak akan menyimpan duka manusia lagi…”
“Tapi hyungku itu sangat lemah hatinya…” ucap Kwangmin dengan wajah sedih, “Biarkan aku di sisinya.. Aku takut terjadi sesuatu pada kesehatannya…”
Andrew menggeleng. “Tidak bisa. Kalau kau mendekatinya, luka yang ia rasakan akan semakin sakit. Biarkan dia sendiri hari ini kalau kau memang tidak ingin melihatnya mati…” Andrew menepuk bahu Kwangmin lalu menghilang.
Bibir Kwangmin melengkung ke bawah. Ia kembali mengintip Youngmin. Luka dan kesedihan apakah yang akan tertransfer pada hyungnya??? Kwangmin sangat-sangat takut…
‘Maaf, Youngmin……’ Kwangmin memukul dinding.
.
.
“Aigoo, mana sih si malaikat itu…” ucap Youngmin bicara sendiri sambil membereskan tempat tidur. “Sebenarnya dia keluyuran ke mana?” Youngmin menepuk-nepuk bantal yang berbentuk pisang. Tadi dia baru membelinya dan akan dia hadiahi pada Kwangmin karna Kwangmin sangat menyukai pisang. Lagipula Kwangmin senang sekali tidur-tiduran di tempat tidur, walau dia bukan manusia lagi.
DEG!
Tiba-tiba sesuatu seperti menghujam jantungnya. Youngmin sempat tak bernafas beberapa detik. Ia memegang dadanya yang mendadak perih, seperti sedang mengalami kesedihan mendalam. Padahal seharian ini tidak ada hal yang membuatnya sedih.
DEG!!
“Apa ini??”
Youngmin menekan dadanya yang semakin sesak dan sakit tak tertahankan. Pikirannya bercampur aduk, bersahut-sahutan. Seperti ada sebuah ingatan menyedihkan yang langsung memenuhi kepalanya. Tapi dia sendiri tidak tau apa.
Air matanya mengalir. Youngmin mengerang kesakitan. Seperti ada banyak jarum yang terus menerus menusuk hatinya.
“Akhh…”
Youngmin jatuh terduduk di lantai. Ia meremas bad covernya, menahan rasa sakit di hati yang tak kunjung berhenti. Ada apa dengannya.
“Ibu……?”
Entah kenapa ucapan itu mengalir saja dari mulutnya. Air matanya semakin deras mengalir. Youngmin menangis terisak-isak, tiba-tiba saja teringat dengan kematian ibunya. Namun hari ini terasa lain. Bahkan lebih pedih dibandingkan saat hari dimana ibunya meninggal. Luka menyedihkan bertubi-tubi itu menimpa hatinya, membuat Youngmin hanya bisa menangis.
“Kwang…?” panggil Youngmin. Jemarinya semakin kuat meremas bad cover. Dia membutuhkan dongsaengnya sekarang. “Kwangmin…”
“Akhhh!!!” isaknya karna perih hatinya tak tertahankan. “Akhh, stop it… stop it…!!” pekiknya sambil memegang kepala dengan dua tangan. Sebenarnya ada apa dengannya?
Rasa sakit itu kian menyebar dan membuat tubuhnya lemas. Pria ini memang paling tidak kuat menahan perih dan kesedihan. “Hik… Hentikan.. jebal!!!”
Kwangmin yang berada di luar hanya bisa melihat dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya kesedihan yang ditransfer pada hyungnya adalah kesedihan saat kematian ibu. Keperihan Kwangmin saat melihat kematian ibu secara langsung… rasa bersalah Kwangmin atas kematian ibu… dan duka kerinduannya pada sang ibu… kini ditransfer pada jiwa hyungnya. Ini benar-benar menyedihkan. Kwangmin menangis.
Tumbuhan di luar ikut layu karna air matanya.
Kwangmin menutup mulutnya dan semakin menangis. Ini adalah salahnya karna masih menyimpan luka sampai kematian menjemputnya. Dan ketika sekarang dia sudah menjadi malaikat, luka yang belum terselesaikan itu harus ditimpakan pada hyungnya yang masih hidup.
“Kwangmin…!!” seru Youngmin memanggil dongsaengnya, meminta bantuan. Kepedihan yang tidak ia tau sebabnya, terus menyebar dan membuatnya merana. Dia tidak bisa hanya sendiri di sini. Youngmin takut sekali… Rasa sepi, perih dan kesedihan mengelilinginya, membuatnya tak berdaya dan hanya bisa menangis. “Hik…” Youngmin meremas dadanya. Ia berharap semua ini berhenti. Kenangan-kenangan kelam dan gelap yang memenuhi pikirannya… rasa luka ini.. Dia berharap berhenti!
“Hik… Kwangmin……”
Youngmin makin lemas. Air mata masih mengalir dari ujung matanya. Dia pun akhirnya terjatuh pingsan di lantai tak kuasa lagi menahan semuanya.
----skip----
Pagi ini Kwangmin menatap Youngmin yang sudah ia baringkan di atas tempat tidur. Sejak semalam (setelah hyungnya itu pingsan) Kwangmin mengompres kepala Youngmin. Hyungnya itu mendadak demam tinggi. Pasti karna kesedihan yang sudah tertransfer yang menyebabkan semua ini.
Ternyata kesedihan yang ia simpan bertahun-tahun sudah menyebabkan hal seekstrim ini pada hyungnya. Kwangmin menyesal karna dia terus menerus memendang rasa luka akibat kematian eomma juga rasa bersalahnya yang belum dibereskan.
Kwangmin memegang kepala Youngmin yang masih agak hangat. Hyungnya itu pun sejak semalam tidur dengan resah dan tak tenang.
Sejujurnya… saat ini Kwangmin merasa satu beban dukanya seperti tercabut dan diambil. Hatinya seperti sudah disembuhkan dan dipulihkan. Kedukaan akibat kematian ibunya kini Youngmin yang menanggungnya.
Kwangmin menggenggam tangan hyungnya. Ia berjanji dia akan berusaha maksimal untuk membuat dirinya bisa kembali menjadi manusia. Sehingga saat dia sudah kembali menjadi manusia… semuanya ini pun tidak akan terjadi… Hidup mereka akan mundur ke belakang, ke masa satu setengah tahun yang lalu sebelum kecelakaan…
.
.
Pelan-pelan Youngmin membuka matanya. Matanya perih sekali saat membuka, seperti baru disiram air keras saja.
“Hyung, kau baik-baik saja?”
Dilihatnya Kwangmin yang duduk di sisinya. Youngmin berusaha duduk dibantu Kwangmin. “Apa yang terjadi padaku?” tanya Youngmin sambil memegang kepalanya yang pusing seperti dipukul godam.
Kwangmin tersenyum tipis. Hyungnya ini ternyata tidak ingat apa-apa. “Kau hanya sakit…”
“Benarkah…?” Youngmin berusaha mengatur nafas. Entah kenapa dadanya terasa aneh.
Kwangmin menatap Youngmin. “Apa masih ada yang sakit?”
Youngmin berdehem karna suaranya serak seperti habis menjerit. “Tidak sih…hanya saja… dadaku terasa berat dan perih.”
Kwangmin merasa bersalah. Ia menunduk kelu.
“Tapi aku baik-baik saja…” ucap Youngmin menambahkan saat melihat wajah saudara kembarnya itu. Dia tidak ingin Kwangmin jadi cemas begitu. “Ini hanya sakit ringan saja…”
Kwangmin menatap Youngmin dalam-dalam. Ia menelan ludah. “Hyung… apa kau selalu ingin bersamaku?”
Youngmin mengerutkan keningnya, heran dengan pertanyaan Kwangmin. “Tentu saja... pertanyaanmu itu terdengar stupid bagiku.”
Kwangmin masih menatap saudara kembarnya. Firasat Kwangmin mengatakan kalau Youngmin masih akan ditransfer kedukaan lain. Karna masih ada satu luka kesedihan yang disimpan Kwangmin setelah ia meninggal. Kwangmin mengepalkan tangannya. Dia berharap Youngmin tidak akan mendapat transfer kesedihan lagi.
“Apa kau akan sekolah?” tanya Kwangmin.
“Iya… aku pasti sekolah, tenang saja..” sahut Youngmin menyangka Kwangmin sedang menyindirnya, “Aku takut kalau aku bolos, kau akan menghilang dari hadapanku.”
Kwang tersenyum haru. Ia bangkit berdiri dengan semangat. Hyungnya ini saja tetap bersemangat setelah apa yang terjadi kemarin, masa dia mengecewakan hyungnya. “Kau mandilah… Aku akan buatkan sarapan……”
Youngmin terpana melihat Kwangmin langsung pergi untuk menyiapkan sarapan. Youngmin menggaruk kepalanya. Apa yang terjadi pada saudara kembarnya itu pagi ini…?
Youngmin kembali meremas dada. Dia sendiri lupa sebenarnya apa yang sudah terjadi kemarin sampai dia sakit semalaman. Namun yang ia tau… sekarang hatinya terasa sesak dan berat… seperti sedang menanggung suatu kesedihan yang menambah masuk dalam hatinya.
----skip----
Beomgyu (alias Kwangmin) berdiri di atas tiang listrik sore ini. Dari atas sini dia bisa melihat sekeliling radius 1 km. Ada para manusia yang sedang beraktifitas, para hantu yang beterbangan tanpa tujuan… juga para malaikat yang menjaga tiap rumah orang baik…
Dari jauh Beomgyu bisa melihat Narmi dan sesosok tak dikenalnya. Beomgyu menyipit. Apa itu adalah Minho yang pernah diceritakan Narmi ya? Beomgyu memperhatikan Minho, namja yang tinggi dan sangat terlihat bukan hantu. Beomgyu sudah bertanya pada Andrew dan Andrew menjawab tidak ada setengah hantu setengah malaikat. Yang ada hanyalah iblis dan malaikat. Dan Beomgyu juga tidak pernah mendengar ada malaikat yang bernama Minho.
‘Jadi siapa dia sebenarnya…?’
Beomgyu mengernyit saat dilihatnya hantu sekitar menghindar ketika Minho lewat. Beberapa hantu malah ada yang langsung ngacir sejauh-jauhnya seolah Minho adalah sosok yang berkuasa dan menakutkan.
“Hey!” Beomgyu memanggil sesosok hantu yang tadi lari.
Hantu tua ringkih itu menoleh dan mendekat.
“Kalau boleh aku tau, kenapa kalian para hantu menghindari hantu yang berdiri di sebelah manusia itu???” tunjuk Beomgyu ke arah Minho dan Narmi.
Hantu itu terlihat ketakutan, “Dia bukan hantu sembarangan… dia sudah masuk dalam level iblis walau seharusnya iblis itu mengganggu pikiran manusia dan bukannya berkeliaran…”
“Apa? Iblis?” Beomgyu tercengang. Pantas saja dia merasa aneh saat melihat lelaki itu. Ternyata memang iblis. “Lantas apa kau tau kenapa dia malah berkeliaran?”
Hantu tua itu menunjuk ke arah Narmi yang sedang tertawa bersama Minho. “Aku tak tau. Tapi kurasa dia mengincar manusia yang bisa melihatnya itu.”
Beomgyu menelan ludah. Sudah dia duga. Minho memang memiliki tujuan khusus mendekati Narmi. Dan sepertinya tujuan itu sangat mengerikan. “Untuk apa?”
Hantu tua itu angkat bahu. “Tapi tentu saja berhubungan dengan anugrah yang dimiliki perempuan itu.” Hantu tua langsung pergi meninggalkan Beomgyu.
Beomgyu menatap menyelidik pada Minho. Iblis memang tidak seperti hantu yang berkeliaran dan tidak ada kerjaan. Iblis lebih suka mengganggu pikiran manusia, mendorong manusia melakukan kejahatan dan merusak jiwa manusia. Tapi iblis satu itu apa tujuannya..?