
Youngmin berbaring di atas tempat tidurnya sambil memegang kepala. Ia menatap langit-langit kamarnya. Dia benar-benar bosan kalau sendirian begini. Kwangmin belum muncul juga. Kemana sih malaikatnya itu??
Youngmin duduk bangun. Ia menghela nafas. Matanya tak sengaja melihat sebuah syal biru laut yang tergeletak di atas meja. Itu adalah syal Narmi. Wanits itu tak sengaja meninggalkannya di kantin tadi siang.
Youngmin mengambil syal itu. Ia tersenyum. Sekarang ia sudah punya sesuatu untuk dikerjakan. Hehehe *devil smile* Youngmin pun pergi. Dia akan ke rumah Narmi sekarang juga.
Sementara itu di rumahnya, Narmi sedang memasak mie instan. Dia lapar sekali dari siang belum makan. Yeah, hanya mie instan yang ada di rumahnya, apa boleh buat.
Seseorang melangkah tanpa suara, mendekati Narmi dari belakang.
Narmi sedang bersenandung sendiri sambil mengambil panci dari atas lemari. Dan ketika dia berbalik, betapa tekejutnya ia saat melihat Minho sudah ada di hadapannya. Iblis itu bahkan sudah tidak terlihat tampan lagi, malah menyeramkan. Panci terlepas dari pegangan Narmi menimbulkan suara berisik di lantai.
Minho tersenyum licik. “Anyyeong.. lama tidak bertemu..”
Narmi mundur dan langsung tertahan karna di belakangnya adalah tembok. “K-kau mau apa…? Kau tidak bisa melakukan apa-apa padaku…”
“Ye ye ye…” tukas Minho, “Kau sudah meminum kapsul putih kan.. akh bagaimana ini?”
Narmi menahan nafas, darimana Minho tahu tentang kapsul putih? Wajahnya pucat pasi. Dia takut dengan apa yang mau dilakukan Minho ini.
“Tapi…” lanjut Minho, “Bukan berarti.. aku tak bisa membunuhmu kan?!”
Minho langsung mencekik Narmi. Wanita itu bahkan sudah tidak bisa menjerit karna nafasnya berhenti akibat cekikan itu.
“To—tolong…” desisnya. Ia ingin berteriak tapi tak bisa. Dia berharap Minwoo datang menyelamatkannya saat ini.. karna nafasnya sudah…
“Aku tak akan membiarkan si malaikat itu berhasil dengan rencananya… Jadi kau harus mati.”
Nafas Narmi makin tersengal. Lehernya membiru dan wajahnya pucat pasi. Sedikit pun Narmi tidak pernah mengharapkan mati seperti ini.
Tiba-tiba Kwangmin (yang menyamar menjadi Beomgyu) muncul. Ia menarik bahu Minho dan memukul wajah iblis itu. Minho langsung terpelanting jauh hingga ke tembok. Narmi yang terlepas dari cekikannya terduduk lemas sambil memegang leher. Dia hampir saja mati.
Kwangmin melirik wanita itu. Syukurlah dia tepat waktu. Kwangmin sudah curiga kalau Minho tak akan dengan mudahnya begitu saja melepaskan Narmi. Minho kan iblis. Mana ada sih iblis yang baik.
Minho merintih melihat lagi-lagi ia diganggu. Ia terbang cepat dan menerjang Kwangmin. Kwangmin dicekik dan dibawa melayang di udara. Tapi Kwangmin tidak bisa membiarkan dirinya kalah begitu saja. Akhirnya keduanya pun beradu di atas udara. Sesekali keluar sinar menyilaukan dari serangan masing-masing.
Narmi menatap keduanya yang kini berkelahi di rumahnya. Oh yeah, mimpi apa dia sampai rumahnya ini bisa menjadi arena pertandingan malaikat vs iblis?!
Narmi berharap kalau Beomgyu bisa menang dan mengalahkan Minho. ‘Ya Tuhan…’
Minho menunjukkan taring dan tanduknya. Dia sudah tidak mau main-main lagi. Dengan sekali pukulan bercahaya petir yang keluar dari tangannya, Kwangmin dibuat terpelanting hingga menubruk tembok. Kekuatan Minho yang menyerangnya barusan membuat Kwangmin hampir-hampir tak dapat berdiri.
Minho mendekati Narmi dan kembali mencekik leher manusia itu. Kali ini Narmi dicekik tinggi sampai kakinya sudah tak dapat memijak ke tanah lagi. Kaki Narmi meronta-ronta di udara.
Minho memperkuat cekikannya. Minho merasa dia harus cepat membunuh manusia ini sebelum Kwangmin kembali menyerangnya.
“Akh.. akh…” erang Narmi karna kini sakitnya lebih luar biasa dibandingkan cekikan sebelumnya.
“Narmi!!!” seru Kwangmin dan sudah berlari akan melawan Minho. Namun dengan satu tangannya yang bebas, lagi-lagi Minho mengeluarkan seperti sebuah kilat dan melemparkannya pada Kwangmin. Kwangmin kembali terlempar ke dinding. Malaikat itu sudah lemas dan tak berdaya lagi.
Mata Narmi sudah terpejam. Apa dia akan mati konyol seperti ini?? Dia sudah tidak bisa bernafas lagi. Kian lama kakinya yang sejak tadi meronta makin lemas. Inikah dunia kematian yang sebentar lagi menyambutnya…?
Tiba-tiba seperti sebuah kilatan dahsyat menyambar di sana. Dua malaikat lain yang bersinar-sinar—yang bahkan wajahnya tak terlihat—muncul. Sinar yang meyilaukan itu membuat Minho kesakitan seperti terbakar. Tangannya langsung melepas leher Narmi.
Narmi jatuh ke lantai memegangi leher. Dia tidak bisa melihat apa yang terjadi karna sinar yang menyilaukan itu. Ia hanya mendengar suara teriakan Minho.
WUSSHH!!
Angin menerpa rumah itu, Minho dan dua malaikat menghilang. Sebagai gantinya, Andrew muncul. Ia membantu Kwangmin untuk berdiri. Andrew melihat ke arah Narmi.
“Semuanya sudah dibereskan, kau tidak akan diganggu lagi…”
Narmi yang merasa kalau malaikat itu berbicara mengenai dirinya, mengangguk pelan, masih memegang lehernya yang nyeri. Dia masih belum mengerti dengan semuanya, dengan apa yang baru saja terjadi. Kenapa dia terseret dalam urusan seperti ini??
Andrew menghilang. Beomgyu mendekati Narmi dengan cemas. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya sambil membantu Narmi untuk duduk di atas tempat tidur.
Narmi mengangguk dan terbatuk kecil. Dia masih agak sulit bernafas. Paru-parunya mungkin terlalu kaget dengan insiden barusan.
Tiba-tiba terdengar suara motor di luar. Beomgyu tau betul itu suara motor siapa. Dalam hati heran juga tumben hyungnya itu datang ke rumah Narmi.
“Narmi…” panggil Youngmin dari luar. “Apa kau di rumah?”
Beomgyu menghela nafas. Dia harus menghilang. Sekalipun dia ini sedang menyamar sebagai Beomgyu tapi di mata Youngmin dia tetap akan terlihat seperti Kwangmin. “Sambutlah dia…”
Narmi mengerang. Dia sendiri heran untuk apa Youngmin tiba-tiba datang. Dalam sekejap, Beomgyu langsung menghilang.
Narmi tersenyum tipis, dia bahkan belum mengucapkan terimakasih! Lagian untuk apa Beomgyu pergi? Youngmin kan tidak bisa melihat hantu atau malaikat (inilah isi pikiran Narmi)
Narmi berusaha mengatur nafasnya. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya, melihat seorang namja tampan tinggi berdiri di sana. “Ada apa??” tanya Narmi dengan suaranya yang serak.
Youngmin mengangkat syal berwarna biru laut. “Aku mau mengantarkan ini. Punyamu kan?”
Narmi masih memegang lehernya. Ia tersenyum tipis. Untuk apa Youngmin repot-repot ke sini dan membawanya? Besok kan bisa diberikan saat di sekolah. “Iya.. makasih…” jawab Narmi dan menerima syal itu.
Youngmin mengernyit. Dilihatnya wanita itu seperti yang menahan kesakitan dan lagipula leher wanita itu kenapa merah sekali, seperti ada bekas cakaran?
Narmi terbatuk-batuk. Sial… akibat cekikan Minho, Narmi jadi seperti ini.
“Kau baik-baik saja?” tanya Youngmin melihat wajah pucat Narmi. “Lehermu kenapa?”
Narmi berusaha menggeleng namun terbatuk lagi.
Youngmin langsung menarik lengan wanita itu. “Ayo.. aku antar ke klinik…”
Youngmin tetap menarik lengan Narmi. Ia akan membawa Narmi ke klinik terdekat. Pria itu tak akan tega kalau tidak melakukan apa-apa. Baginya leher Narmi terlihat parah, apalagi cewek itu terbatuk-batuk. Youngmin memang berpikir kalau Narmi seperti habis dicekik. Namun siapakah yang mencekik Narmi? Rasanya mustahil.
Narmi diperiksa di klinik dan diberikan salep serta obat. Youngmin yang menanggung semua biaya itu.
Kini mereka tengah duduk di bangku depan klinik. Tadi dokter sudah mengoleskan salep ke leher Narmi. Dokter juga sempat bertanya apakah Narmi baru saja dicekik oleh orang berotot(?) dan dengan tenangnya Narmi bilang kalau lehernya akibat digigit serangga.
Youngmin melirik wanita di sebelahnya yang menunduk malu karena terus dipandangi. “Sebenarnya ada apa?” tanya Youngmin pelan.
Narmi mendongak. “Hah?”
“Lehermu itu…” Youngmin mendesah. “Jangan katakan kalau itu perbuatan hantu-hantu yang kau lihat…”
Narmi tercengang. Ia langsung memaksa diri untuk tertawa. “Puhahaha… kau gila?? Sejak kapan aku bisa melihat hantu??”
Alis Youngmin mengerut. Lho? Jadi wanita ini memang tidak bisa melihat hantu?? Lalu apa maksud rumor yang beredar?
Narmi memukul-mukul punggung Youngmin sambil tertawa. Ia terpaksa berbohong saja. Kalau dia mengatakan yang sebenarnya, bisa-bisa Youngmin juga lari kocar kacir seperti pria lainnya.
Youngmin mendengus. Dia sebenarnya tidak begitu anti dengan dunia lain, toh dia sendiri memiliki adik yang kini menjadi malaikatnya. “Ye whatever…”
Narmi masih tertawa dibuat-buat. Tiba-tiba perut Narmi berbunyi. Wanita ini kan memang belum makan dari siang. Mie instan yang tadi mau dibuatnya tidak jadi dimakan karna kedatangan Minho.
Kini giliran Youngmin yang tertawa. “Apa kau belum makan? Perutmu bunyi keras sekali.”
Wajah Narmi memerah malu.
Youngmin bangkit berdiri sambil mengekeh. “Ayo…”
Narmi mendongak, melihat Youngmin berdiri di depannya. Matahari sore membuat wajah Youngmin tampak begitu bersinar. Dan eeehh..? Pria itu tersenyum padanya?
“Ayo kita cari makan..” ucap Youngmin tersenyum, “Kebetulan aku juga lapar…”
Wajah Narmi memerah kan jadinya. Lagi-lagiii!!!
Kenapa akhir-akhir ini dia lemah sekali?? Mudah berdebar dan malu karna senyuman Youngmin…
“Ayoo…” ucap Youngmin lagi karna Narmi masih tidak bergeming.
Narmi berusaha menahan senyum. Wanita itu bangkit berdiri, “Trimakasih…” ucapnya tulus. “Untuk biaya pengobatan juga…”
Youngmin menoleh. Ia tersenyum tipis. “Aigoo.. biaya klinik tadi mahal sekali, apa kau tau itu?”
“Iya…” sahut Narmi membungkukkan badan, “Trimakasih banyak..”
Youngmin menahan senyum. Dia pura-pura keberatan. “Anniyo… uang tetap saja uang. Sebagai gantinya kau harus menjadi pembantuku selama 1 hari ya??”
Narmi mengangkat wajahnya impuls. “Apa?????” tanya terkejut. 'Menjadi pembantu?!'
Youngmin mengangguk-angguk serius sambil memegang dagu. “Kurasa biaya itu cukuplah sebagai ganti kau menjadi pembantuku 1 hari.”
“Apa?!”
“Atau kau ingin 1 minggu?”
“Tidak!!!” tukas Narmi. “Cukup 1 hari saja!!”
Youngmin tertawa.
----skip----
Malam ini Narmi begitu semangat membersihkan rumah sambil sesekali bersenandung menyanyikan lagu Sistar – Loving U. Ia tak henti-hentinya tersenyum, kenapa ya?? Entah kenapa Narmi tidak keberatan sama sekali menjadi pembantu Youngmin untuk 1 hari. Bisa bersama dengan pria itu seharian??? Aih senangnya~
Narmi tertawa kecil. “Lalalala~~” Ia mengipas-ngipas debu di atas lemari dengan semangat.
Narmi menghela nafas puas melihat rumahnya kini sudah bersih. Narmi pun berjalan ke teras rumah. Ia berdiri memandang ke langit, melihat bintang-bintang bertaburan di sana.
Ia tertawa sendiri lagi. Dia akan memberikan yang terbaik sebagai pembantu Youngmin 1 hari. Ahh… Narmi merasa dirinya sudah jatuh cinta ya?? Narmi sendiri sekarang sudah tidak keberatan menyadari perasaannya ini. Kalaupun dia kini menyukai lelaki yang dulu sangat ia benci,,, tak masalah kan? Kekeke.
“Sepertinya kau senang sekali…”
Narmi menoleh terkejut ke sumber suara dan melihat Beomgyu sudah berdiri di sampingnya. Pria itu memberikan senyumnya.
Narmi hanya mengekeh. “Malam ini cerah ya… banyak bintang…”
Beomgyu mengangguk. Dilihatnya wanita itu yang tak henti-hentinya tersenyum. Entah kenapa Beomgyu (alias Kwangmin) senang sekali menemui Narmi. Terkadang ia datang saat Narmi sudah tertidur. Baginya, Narmi itu manusia yang menyenangkan dan berharga.
Narmi sendiri sibuk dengan pikirannya, mengenang semua kenangannya dengan Youngmin. Perkenalannya yang konyol dengan Youngmin dimana cowok itu membuat seragamnya terkena kubangan air. Pertengkaran-pertengkaran mereka yang sekarang kalau diingat Narmi, mengapa terasa manis ya? Pria itu juga mengajaknya berdansa.. menyelamatkannya dari preman-preman… dan mengantarnya ke klinik…
Narmi tersenyum.
Kwangmin membelai rambut cewek yang sejak tadi dipandangnya. Kwangmin sendiri tidak menyadari apa yang sudah ia lakukan ini.
Narmi menoleh, agak heran juga. Apa malaikat ini tengah membelai rambutnya???
Melihat ekspresi Narmi, Kwangmin tersadar. “Oh… tadi ada debu di rambutmu…”
“Ohh…” Narmi hanya tersenyum dan kembali menatap langit penuh bintang.
Kwangmin melihat tangannya sendiri yang tadi membelai rambut Narmi. Apa yang baru saja ia lakukan ini? Apa jangan-jangan dia mulai tertarik dengan wanita ini?