Lovely Yours

Lovely Yours
Without you



Andrew—si malaikat—duduk di atas atap rumah si kembar sambil memandang langit yang mendung. Petir sudah berhenti menyambar. Baru saja Kwangmin ‘dilenyapkan’ dari muka bumi ini.


Andrew menatap langit dengan sedih. “Kenapa, Kwangmin…? Kenapa kau memilih jalan ini? Padahal sedikit lagi…”


Dan sebentar lagi dunia manusia akan mengalami ketidakseimbangan. Bagaimanapun juga semua ingatan mengenai Kwangmin harus dihapuskan dari semua manusia yang pernah mengenal Kwangmin. Dan ini artinya… waktu harus berputar mundur drastis. Youngmin harus dilahirkan sebagai anak sulung—bukan kembar. Dimensi waktu benar-benar akan tidak seimbang.


Air mata Andrew mengalir, jatuh ke bumi. Dan sekarang ini…… saudara kembar Kwangmin pasti mengalami hal yang sama menyedihkannya……


Mata Youngmin nanar dan merah. ‘A-apakah yang sudah terjadi…? Kwangmin…… Mana adikku…? Mana malaikat penjagaku…??’


Dengan terseok, Youngmin berjalan mendekati letak tadi Kwangmin menangis. Sudah tak ada. Tak ada sosok Kwangmin lagi??


Youngmin menggigit bibirnya. Ia mengerang saat merasakan rasa sakit hebat di kepalanya. “Tidak…” ucapnya sambil geleng-geleng. Hatinya pedih sudah.


Matanya tak sengaja tertuju pada dinding kamar, dimana foto-fotonya dan Kwangmin tertempel. Satu demi satu portrait diri Kwangmin perlahan-lahan menghitam lalu menghilang, lenyap seperti sihir. Hingga hanya tersisa portrait diri Youngmin saja dalam tiap foto.


Youngmin semakin menangis. Kepalanya pun sakit semakin hebat. “Huaaaa….” isaknya sambil menjambak rambut dengan frustasi. Ia menggeleng-geleng. “Jangan….” Kepalanya pusing mematikan, seperti ada sesuatu yang tengah memporakporandakan memorinya mengenai Kwangmin.


Youngmin berjongkok di lantai sambil memegangi kepala dengan dua tangan. Ia menangis keras. “TIDAAAAKK!!!!!!!!!”


Youngmin terkulai tak berdaya di lantai. Air mata deras masih membasahi pipinya. Ia pingsan.


.


.


.


.


----skip----


Setelah kejadian itu, dunia manusia memang mengalami perombakan habis-habisan. Waktu kembali terulang. Dan Youngmin terlahir sebagai anak tunggal dan tidak memiliki saudara kembar. Ibunya tidak jadi meninggal akibat kecelakaan karna toh Kwangmin tidak menjadi anaknya.


Kini Youngmin sudah tumbuh menjadi lelaki tampan. Namun hatinya begitu dingin pada orang-orang di luar keluarganya. Di sekolah dia anti sosial dan hanya memiliki sedikit teman mengobrol.


“Saengil chukahamnida… saengil chukkahamnida… Saranghae, Jo Youngmin~ saengil chukkahamnida…”


Orangtua Youngmin yang tadi menyanyikan lagu ulangtahun itu bertepuk tangan. Pagi ini setelah Youngmin bangun, ayah dan ibunya menyambut Youngmin dengan cake ulangtahun. Ada 17 lilin yang tentu saja artinya dia memasuki umur 17 tahun.


Jo Youngmin tersenyum lirih. Ia memejamkan matanya dan berdoa di usianya yang dewasa ini. Setelah berdoa ia pun meniup lilinnya. Ayah dan ibu langsung memberikan peluk cium pada anak tunggalnya itu.


Youngmin tertawa bahagia. Ia pun makan kue bersama-sama dengan orangtuanya.


Sore ini Youngmin memasuki kamarnya. Ia memandang sekeliling. Melihat dinding kamarnya yang dipenuhi oleh fotonya sejak masa kecilnya. Ada ketika dia bermain di kolam renang. Ada saat dia di kelulusan SMP. Ada saat dia bermain perosotan. Saat dia tertawa. Ataupun saat dia menangis.


Begitu banyaknya portrait mengenai dirinya,,,


Youngmin mengambil bola basketnya dan mulai bermain sendirian di kamar itu.


Dung~ Dung~


Youngmin mendrible bola basketnya. Sama sekali tidak ada ekspresi. Hanya mata yang kosong.


Dung~ Dung~ Dung~


Ia mendrible lagi. Sesekali ia memantulkannya ke tembok dan menangkapnya kembali.


Tes.


Tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja. Youngmin berhenti mendrible. Bolanya itu pun menggelinding menjauhinya hingga membentur ke pintu kamarnya. Youngmin menjatuhkan dirinya dan duduk di lantai. Ia memegang kepalanya sementara air matanya mengalir tanpa sebab.


Ada apa ini?


Youngmin menatap kosong ke depan. Ia merasakan kehampaan yang begitu mendalam. Seperti ada sesuatu yang direnggut dari dirinya. Tapi apa?


Ini hari ulangtahunnya. Seharusnya ia bahagia. Ayah dan ibunya merupakan orangtua terbaik yang pernah ada. Mereka selalu akur dan sangat menyayanginya. Seharusnya dia bahagia. Sekalipun dia bukan anak brilian dan temannya pun sedikit, tapi dia menikmatinya. Seharusnya dia bahagia.


Tapi kenapa… air mata ini…… kehampaan ini……


Youngmin menghapus air mata dari mata kirinya itu. Ia mendesah dan bersandar ke tembok. Kesepian, itulah yang dirasakannya sekarang.