Lovely Yours

Lovely Yours
Malaikat Pencabut Nyawa



Narmi yang saat itu sedang di rumah, kembali merasakan tubuhnya yang kesakitan. Narmi langsung berjalan menuju tempat tidur. Ia duduk, berusaha mengontrol kepalanya yang kembali sakit memusingkan. Walau memang sangat nyeri tapi agaknya Narmi sudah terbiasa dengan rasa sakit ini.


Narmi memegang kepalanya yang pusing. Nafasnya pun kini tersendat-sendat. Dia merasa dirinya semakin lemah dan daya tahan tubuhnya semakin menurun. Dia seperti 30 tahun lebih tua. Semua kekuatan dan energi tubuhnya seperti manula saja.


Air mata Narmi mengalir. Ada apakah


dengannya????


----skip----


~ Flashback ~


… Kejadian satu setengah tahun yang lalu saat Kwangmin mengalami kecelakaan…


Narmi melihat ke luar jendela rumahnya. Hujan turun rinik-rintik.


Narmi menunduk. “Hhh..” Ia menghela nafas. Ia memandang sekeliling rumahnya yang kecil ini. Tak ada siapapun selain dirinya. Sudah sejak seminggu yang lalu ayahnya dirawat di panti jompo karna sakit struk. Ibunya juga sekarang entah dimana karna sudah lama bercerai dengan sang ayah. Narmi merasa hidupnya begitu menyedihkan. Dia kesepian. Dan tak ada hal yang dapat ia lakukan.


Narmi mengambil payung bening, ia akan keluar saja berjalan-jalan untuk menenangkan pikiran.


Narmi berjalan sambil melihat ke bawah, melihat tetes-tetesan air hujan yang jatuh ke jalan yang ia lewati.


Narmi memandang langit dengan hati terluka. ‘Aku mohon… seandainya ibu dan ayah tidak bercerai… Kenapa ini terjadi padaku?’ Narmi menahan air matanya yang sudah akan mengalir. ‘Atau… setidaknya… buatlah ayahku sembuh. Aku ingin ayahku sehat, tidak sakit… Kumohon~’


Narmi menghapus air matanya. Matanya tiba-tiba melayang ke depan, melihat seorang lelaki yang baru saja terpeleset dan jatuh di jalan.


Mata malaikat hitam itu memandangnya membuat Narmi bergidik. Narmi pernah mendengar bahwa ada juga yang disebut malaikat pencabut nyawa. Ya seperti itu.


Narmi merinding dan melihat pria yang terjatuh itu terlihat seperti sedang menangis.


Narmi langsung berlari mendatanginya yang merupakan Kwangmin. Ia memayungi pria itu, entah apa yang membuatnya mau melakukan hal seperti itu.


“Kau baik-baik saja?” tanyanya cemas dan melirik sekilas malaikat pencabut nyawa yang masih berdiri di sebelah Kwangmin.


Kwangmin menengadah dan melihat seorang wanita tak ia kenal. ‘Sial…’ pikir Kwangmin. Di saat kacau begini mengapa muncul seorang wanita?


Kwangmin berusaha berdiri namun sulit juga karna kakinya yang nyeri. Narmi berusaha membantu Kwangmin dengan memegang tangan Kwangmin namun langsung saja Kwangmin tepis. Kwangmin terkejut juga mengapa sikapnya bisa jahat begini bahkan yeoja itu hanya berusaha menolongnya berdiri.


Narmi terdiam kaku dan tetap berdiri memayungi Kwangmin. Dia tidak tersinggung justru dia sangat mencemaskannya. 'Apakah yang akan dialami lelaki ini selanjutnya? Apa akan menghadapi kematian?'


Kwangmin menunduk, malu karna sudah bertindak kasar dan salah. “Maaf…” ucapnya pelan, “Dan trimakasih…” Kwangmin pun langsung pergi berlari kembali menerobos hujan sekalipun lututnya masih kesakitan.


Narmi menatap kepergian Kwangmin dengan cemas sementara malaikat hitam itu juga terus mengikuti Kwangmin. Narmi menggigit bibirnya. Dia berharap tidak ada sesuatu buruk yang terjadi.


Itu adalah kejadian satu setengah tahun yang lalu dan Narmi sudah melupakannya. Dia juga sudah tidak mengingat wajah lelaki yang pernah diikuti oleh malaikat maut itu…


~ Flashback end ~