
Kwangmin menggeliat-geliat. Tubuhnya seperti dibakar. Seperti inikah rasanya akan dilenyapkan dari muka bumi? Kwangmin sudah tak tahan lagi. Dia menangis keras-keras. “Huaaaa…!!” Suara petir menyambar-nyambar di luar. Tumbuhan dan bunga pun sudah layu dan menghitam sejak tadi.
Youngmin menggeleng-geleng melihat dongsaengnya yang kesakitan itu. “Hik…… tolong… lepaskan dia……” Youngmin memegang kepala dengan dua tangannya. Frustasi. Dia merasa sudah tak berguna sebagai seorang hyung. Dan sebentar lagi dia merasa dia akan gila melihat semua ini.
*Plok.
Seseorang menepuk bahu Youngmin. Lelaki yang masih menangis itu menoleh dan melihat ibunya di sebelahnya!
“Ibu…?” isak Youngmin parau. Dan apakah dia sudah berhalusinasi macam-macam sampai bahkan melihat ibu di sampingnya?
Manusia yang sudah meninggal itu memandangi Kwangmin. Air mata ibu mengalir deras melihat penderitaan Kwangmin. Beliau juga ikut hadir di sana, menyaksikan prosesi kepergian Kwangmin untuk selamanya.
Youngmin mengalihkan wajahnya kembali menatap Kwangmin. Youngmin sudah tak dapat melakukan apa-apa. Dia berdiri beku di sana dengan air mata deras yang terus berlinang hingga membasahi bajunya.
“Huaaaa!!” isak Kwangmin sambil memegangi wajah, merasakan panas yang membakar tubuhnya.
Sebuah asap hitam kini melingkupi Kwangmin. ”KYAAAA!!!!!” pekiknya untuk terakhir kalinya. Asap itu perlahan-lahan membakar Kwangmin menjadi butiran-butiran debu kecil. Dan dengan sekejap Kwangmin pun menghilang. Dari muka bumi ini.
Empat malaikat juga ikut menghilang. Begitu pula dengan ibu. Kamar itu menjadi sepi hanya menyisakan Youngmin di sana.
Mata Youngmin nanar dan merah. ‘A-apakah yang sudah terjadi…? Kwangmin…… Mana adikku…? Mana malaikat penjagaku…??’
Dengan terseok, Youngmin berjalan mendekati letak tadi Kwangmin menangis. Sudah tak ada. Tak ada sosok Kwangmin lagi??
Youngmin menggigit bibirnya. Ia mengerang saat merasakan rasa sakit hebat di kepalanya. “Tidak…” ucapnya sambil geleng-geleng. Hatinya pedih sudah.
Matanya tak sengaja tertuju pada dinding kamar, dimana foto-fotonya dan Kwangmin tertempel. Satu demi satu portrait diri Kwangmin perlahan-lahan menghitam lalu menghilang, lenyap seperti sihir. Hingga hanya tersisa portrait diri Youngmin saja dalam tiap foto.
Youngmin semakin menangis. Kepalanya pun sakit semakin hebat. “Huaaaa….” isaknya sambil menjambak rambut dengan frustasi. Ia menggeleng-geleng. “Tidak….” Kepalanya pusing mematikan, seperti ada sesuatu yang tengah memporakporandakan memorinya mengenai Kwangmin.
Youngmin berjongkok di lantai sambil memegangi kepala dengan dua tangan. Ia menangis keras. “TIDAAKK!!!!!!!!!”
.
.
~ Potongan Flashback si kembar di masa lalu ~
Seorang nenek tua yang sedang berjalan, melihat anak kembar itu. Matanya membesar dan langsung mendatangi mereka. Nenek tua itu memegangi telapak tangan Kwangmin.
“Kenapa, Nek?” tanya Kwangmin lugu sambil masih menjilati manisannya.
Youngmin juga ikut menoleh.
Melihat Kwangmin diperlakukan begitu oleh orang asing, Youngmin langsung menghalangi nenek itu. “Jangan ganggu dia. Dia dongsaengku…”
Nenek itu tersenyum datar. “Ya… aku tau itu.” Nenek itu kini memperhatikan wajah Youngmin dengan cermat. Wajah nenek tua itu berubah sangat serius. “Kau akan mengalami banyak kejadian menyakitkan.”
Mata Youngmin membesar. Apa coba yang baru saja dikatakan nenek tua ini. Seringai jeleknya membuat Youngmin naik darah.
“Maaf, tapi aku tidak percaya pada ramalan dan nenek penyihir sepertimu!”
Nenek tua itu malah mengekeh. “Aku bukan peramal dan aku juga bukan penyihir.” Ia mendekat ke wajah Youngmin, “Kau bahkan tidak tau aku ini siapa kan?”
Youngmin mundur selangkah.
Nenek itu terbahak keras. Ia menarik Kwangmin yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung hyungnya. “Kau! Selalu berhati-hatilah… Karena akan datang saatnya kalian dipisahkan dan tak dapat disatukan lagi..”
Kwangmin ketakutan dan berusaha melepas tangannya dari nenek itu. Alhasil manisan kapasnya malah terjatuh.
“Kalian akan dipisahkan secara kekal…” lanjut nenek itu setengah berbisik.
Youngmin menarik dongsaengnya yang matanya sudah berkaca-kaca itu. “Sudah aku bilang jangan ganggu dia! Dan berhenti mengatakan yang tidak-tidak. Atau kalau tidak aku akan berteriak!”
Nenek itu hanya mengekeh. “Aku hanya ingin mengatakan apa yang ingin kukatakan, anak bawel.” Nenek itu pun pergi meninggalkan YoungKwang.
.
.
.
----skip----
cuap author...
hai... author memang sangat cepat sekali memposting tiap episodenya ya wkwkw.. kayak kejar setoran #plak
sebenarnya author sudah menyelesaikan novel ini sejak lama dan rasanya udah gemes pengen lihat logo "END" di novel ini wakakak.
author udah ga tahan pengen publish novel author lainnya.. yang pastinya lebih rame dari ini (?) lol
dan pengennya... noveltoon tuh ngasih fasilitas membuat novel ala twitter. kagak ngarti kan? yah abaikan #plak