
Siang ini begitu panas dan pelajaran Matematika menjadi sangat sangat menyedihkan. Mata murid-murid sudah kering kerontang memandang whiteboard. Kerongkongan pun sudah minta diairi. Beberapa murid bahkan sudah mengantuk, nyaris tertidur.
Narmi mengipas-ngipas lehernya. Panas kota Seoul hari ini mengapa begitu menyiksa ya. Narmi memandang ke luar jendela. Dia berharap dia bisa berada di ruangan ber-AC, mendinginkan suhu tubuhnya.
Sesosok makhluk meloncat di atas atap, dilihat oleh Narmi. Sosok itu seperti manusia jadi-jadian, berwajah lonjong, hijau dengan matanya yang celingak celinguk mengerikan. Melihat yang seperti itu lagi, membuat Narmi langsung menunduk.
‘Lagi-lagi kan…’ Dia merutuki dirinya dalam hati. Kenapa dia sering melihat hal yang seperti itu sih. Dan bahkan kali ini di sekolah?!
Narmi memang sesekali bisa melihat hantu atau malaikat. Entah darimana bakatnya itu.
Narmi membuka matanya sedikit, penasaran juga apa yang tengah dilakukan makhluk itu di atas atap. Yang ternyata oh ternyata, makhluk itu malah menari karna mendengarkan lagu dari ruang kepala sekolah di bawahnya.
Narmi memukul dahi. ‘Aigoo… Apa di dunia mereka tidak ada musik?’ Narmi mengikik pelan, lama-lama terbiasa juga dengan indra keenamnya yang seperti ini. Baginya seperti sedang menonton horor komedi saja.
Mata Narmi dan makhluk itu tak sengaja bertemu. Glek!
Kaget, Narmi langsung buang muka dan pura-pura menyibukkan diri dengan bukunya sementara tangannya bergetar. Dia hanya berharap makhluk itu tidak menyadari indra keenamnya.
Yang tak disangka, makhluk itu langsung meloncat dari atap itu hingga menempel ke jendela kelas tempat Narmi duduk. Narmi menahan nafas dan masih pura-pura tak sadar (padahal jantungnya sudah melorot).
Makhluk itu menatapi Narmi dengan rasa ingin tau, antara yakin dan tak yakin apa manusia itu tadi bisa melihatnya. Makhluk itu pun pergi setelah lama memperhatikan Narmi.
“Huft…” Narmi menghela nafas sambil mengelus dada. “Syukurlah…”
PLOK!
Dengan tiba-tiba makhluk itu muncul lagi mengagetkan Narmi dan bahkan kali ini dekat sekali dengan wajah Narmi. Narmi dan makhluk itu saling berpandangan. Narmi menahan nafas ketakutan. Mata makhluk itu begitu besar memandangnya seolah akan menelannya. “Kau manusia… bisa melihatku kan?”
“A.. a…” Narmi merasa tenggorokannya tercekat seperti tercekik.
“Apa kau tidak takut?” tanya makhluk itu lagi dan spontan membuat Narmi langsung berteriak ketakutan. Awalnya ia anggap makhluk itu konyol karna tadi sedang berjoget. Tapi saat makhluk itu di sisimu dengan matanya yang menyeramkan…
“Waaa!!!” teriak Narmi dan langsung saja keluar dari bangkunya sampai tersungkur ke lantai. Semua murid menoleh kaget dengan teriakan Narmi.
“Ada apa, Narmi-ssi?” tanya guru dengan cemas namun heran juga.
Narmi masih menatap makhluk itu. Ia menunjuk ke sana. “I-itu…”
Guru itu akhirnya mendekati Narmi sambil melihat ke jendela yang tidak ada apa-apa itu, “Kenapa?”
“Di sekolah ini ada hantu!!!”
Mendengar seruan Narmi itu, murid-murid malah terbahak keras bahkan sampai memukul-mukul meja. Di jaman modern ini sudah tidak ada lagi yang peduli dengan yang namanya hantu. Film horor memang masih ada.. tapi kalau untuk takut… apa masih jaman? Bagi mereka hanya anak kecillah yang ketakutan dan berimajinasi berlebihan.
Guru itu juga ikut tertawa. “Narmi-ssi… aku sarankan kau pergi ke kamar mandi dan cuci mukamu, supaya kau tidak berfatamorgana.”
Narmi melotot. Makhluk di jendela itu malah mentertawakannya. “Ta-tapi…”
“Sekarang!” tukas guru sudah tidak mau bercanda.
----skip----
“HaHaHaHa…”
Tawa lebar membahana di kantin sepulang sekolah itu. Narmi yang bahkan belum menceritakan keseluruhan kejadian, malah disambut tawa oleh dua sahabatnya: Jiyoung dan Eunsu. Dua wanita itu adalah sahabatnya sejak SMP namun di SMA ini Narmi tidak sekelas dengan mereka.
Narmi meneguk jusnya dalam-dalam. Dia bukannya dipercaya malah ditertawakan.
“Tadi apa kau bilang? Makhluk hijau?” ucap Jiyoung lagi di sela tawanya, “Ahaha… kurasa bisa jadi itu Hulk. Dia terbang dari Amerika untuk syuting di Korea.”
“Aigoo…” sahut Eunsu pada Narmi, “Kau pasti terlalu mengantuk di jam pelajaran Matematika ya?”
“Ah terserah kalianlah…” tukas Narmi jengkel juga.
“Anyyeong…!” sapa Donghyun oppa mendatangi meja itu dengan semangat. Donghyun oppa datang bersama dengan Hyunseong dan kekasihnya yang bernama Hwayoung. Donghyun adalah senior, setahun lebih tua daripada Narmi. Sedangkan Hyunseong dan pacarnya seumuran dengan Narmi.
Narmi, Jiyoung dan Eunsu akrab sekali dengan dua pria ini sejak kelas 1 SMA. Berawal dari perkenalan tidak disengaja akhirnya mereka sering berkumpul seperti pulang sekolah ini. Sebenarnya juga masih ada pria lain yaitu Jeongmin tapi orang itu belum terlihat batang hidungnya.
“Oppa, masa Narmi mengatakan dia melihat hantu di kelas?” ucap Jiyoung yang langsung saja menceritakan. Wanita ini sifatnya memang ceria, menyenangkan dan yah.. mudah juga membuka aib orang.
“Benarkah?” tanya Donghyun sambil menatap Narmi.
Narmi menunduk saja. Malu juga, dia kan menyukai Donghyun oppa.
“Omo…” celetuk Hyunseong dan lantas tertawa keras, “Apa kau melihat casper? Atau… hantu Jepang yang menyeramkan itu?”
Narmi sudah tidak mau peduli lagi dan dia tidak akan menyahut lagi.
Donghyun menepuk-nepuk kepala Narmi membuat Narmi mendongak malu. “Tidak apa-apa…”
Wajah Narmi memerah. Donghyun, Hyunseong dan Hwayoung pun duduk bergabung di sana. Narmi melirik Donghyun diam-diam. Dia menyukai Donghyun sejak lama, yah sejak dia baru mengenal Donghyun dua tahun lalu. Namja itu tampan, dewasa dan baik hati sekali. Donghyun juga merupakan anak orang kaya, pergi ke sekolah dengan mobil pribadi. Pokoknya Narmi menyukai segala sesuatunya mengenai Donghyun. Tapi Narmi memang belum mengerti cinta dan tidak ada pengalaman dengan yang namanya cinta.
“Dia agak terlambat…” gumam Hyunseong mengekeh kecil. “Jeongmin sedang berusaha mengajak temannya kesini.”
Narmi mengernyit. “Siapa?”
“Ada teman sekelas Jeongmin…” jawab Hyunseong, “Padahal pria itu senang menyendiri tapi entah kenapa Jeongmin sangat ingin berteman dengan orang itu.”
“Oh ya?” tanya Donghyun menahan tawa. Yang lain juga tak menyangka kalau Jeongmin sedang berusaha berteman. Penasaran juga dengan pria yang membuat Jeongmin yang ceria dan humoris itu sampai ingin mengajaknya kesini.
“Aku ikut senang kalau mendapatkan teman baru…” sahut Jiyoung semangat.
“Ah itu mereka…” ucap Hyunseong saat melihat Jeongmin dan seorang namja berjalan ke arah mereka.
“Wahh…” Jiyoung dan Eunsu bergumam bersamaan karna pria yang dibawa Jeongmin ternyata tampan sekali.
“Hah?” seru Narmi terkejut saat melihat pria yang dimaksud adalah pria yang beberapa hari lalu pernah membuatnya sial.
Melihat wanita itu saja, Youngmin langsung membuang muka mual. Ia melirik Jeongmin kesal. Orang ini kenapa sih bersikeras mengajaknya ke sini? Dan berusaha sekali ingin berteman dengannya.
“Kenapa?” tanya Donghyun pada Narmi, “Apa kau mengenalnya?”
“Ti-tidak…” Narmi langsung meralat dan ikut membuang muka dengan tidak melihat ke arah Youngmin.
“Ah itu teman-temanku…” ucap Jeongmin semangat sambil menarik Youngmin untuk bergabung di sana.
Ogah-ogahan, Youngmin bergabung saja, duduk namun wajah dan setengah badan tidak menghadap orang-orang. Youngmin itu sebenarnya ingin sekaliiii pulang. Dia lebih baik ke balkon rumahnya, berbincang-bincang dengan Kwangmin seharian… daripada di tempat ini kan?
“Perkenalkan ini teman sekelasku, Jo Youngmin yang tampan…” ucap Jeongmin ceria dan semangat memperkenalkan Youngmin pada teman-temannya.
Youngmin melempar pandangan mautnya pada Jeongmin. ‘Sinting…’ tukasnya dalam hati.
“Anyyeong…” sapa yang lain semangat kecuali Narmi.
Cewek itu tersenyum hambar saja. ‘Jadi namanya Youngmin…? Aku kira namanya Daniel atau Brad Pitt. Cih.’
Jeongmin pun dengan semangat memperkenalkan semua satu per satu pada Youngmin. “Ini Hyunseong… Hwayoung… Jiyoung… Eunsu… Donghyun… dan Narmi…”
Youngmin tersenyum tipis saat matanya beradu dengan mata Narmi. Donghyun dan Jiyoung yang menyadari atmosfer di keduanya jadi merasa tidak enak.
Sebenarnya Youngmin dan Narmi itu sudah saling mengenal atau tidak sih?? Rasanya seperti musuh bebuyutan saja.
“Ah, bagaimana kalau sekarang kita memesan makanan?” celetuk Donghyun untuk mencairkan suasana. “Karena kita punya teman baru… aku dengan senang hati bersedia menraktir kalian semua.”
“Horee!!” seru Hyunseong dan Jeongmin sambil bertos ria.
Donghyun melirik Narmi. “Ng… sementara aku dan yang lainnya akan memesan makanan, Narmi, kau disini ne temani Youngmin…”
“Apa?” tukas Narmi tidak terima.
“Betul…” sahut Eunsu menahan senyum dan lantas menarik Jiyoung untuk ikut pergi juga.
“Tunggu sebentar ya, Youngmin-ssi…” ucap Jeongmin tersenyum dan menepuk bahu Youngmin. Si Jeongmin ini sangat peduli sekali pada Youngmin. Dia juga tidak tau kenapa.
Akhirnya Narmi dan Youngmin ditinggalkan begitu saja membuatnya keduanya jengkel. Youngmin menghela nafas panjang, seolah pasrah saja ditinggalkan bersama dengan Narmi.
Mendengar helaan nafas panjang itu saja Narmi naik darah. “Jangan salah, kau kira aku juga mau disini denganmu?”
“Cih…” Youngmin kembali menunjukkan devil smilenya. “Kalau tau kau itu teman Jeongmin, aku pasti tidak mau kesini.”
“Hey!!” Narmi memelototi Youngmin. “Kau masih saja terus menghinaku? Apa kau tau semua pertengkaran kita ini karna apa? Karna ulahmu sejak semula.”
Youngmin geleng-geleng. “That’s wrong. Karna ocehanmu dan karna kau tidak pasrah sudah terkena kubangan air.”
“Mwo???” Narmi langsung bangkit berdiri dan memelototi namja di hadapannya.
Youngmin menggosok-gosok kupingnya seolah suara Narmi mengganggunya. Namja itu bangkit berdiri dan matanya yang tajam membuat Narmi tidak dapat berkutik. “Kau—wanita—yang—berisik.” Youngmin terkekeh pelan. “Anyyeong~” ucapnya songong lalu berbalik pergi dan meninggalkan kantin dengan langkah gontai.
“Hey! Cowok sinting!!” panggil Narmi kesal namun tidak Youngmin gubris sama sekali.
Donghyun dan yang lainnya saat datang sambil membawa makanan, heran karna Youngmin sudah tidak ada di tempatnya.
“Lho mana Youngmin?” tanya Jeongmin.
Narmi duduk dengan kesal, “Dia pergi. Mungkin ada urusan.”
“Apa???” ucap Jeongmin terlihat kecewa sekali. Dia sebetulnya mengharapkan bisa menjadi sahabat Youngmin.