
Narmi berjalan pagi itu menuju sekolah. Dia lesu sekali. Pagi ini dia memang tidak terlambat tapi perutnya lapar sekali. Dia belum sarapan. Untuk bulan ini dia mesti menghemat karna banyak uang yang harus ia keluarkan untuk praktikum.
“Aishh…” Narmi menghentakkan kakinya. Seandainya dia ini orang kaya, bisa makan ini itu sepuasnya.
“Narmi!!”
Narmi menoleh ke belakang dan melihat Jiyoung berlari menghampirinya. Wanita yang sekalipun agak tomboy itu tetap saja terlihat cantik.
Jiyoung terengah-engah dan berusaha mengatur nafas. Ia pun memberi sebuah bekal makan untuk Narmi.
“Apa ini?” tanya Narmi menerimanya dan tidak mengerti.
“Itu bekal makanan untukmu..” sahut Jiyoung, “Aku sengaja membuatkan untukmu…”
“Sungguh?” Narmi mendadak terharu dan ia memeluk Jiyoung sungguh-sungguh, “Kau sahabat yang mengerti aku, Jiyoung-ah…”
Jiyoung nyengir. “Kau sedang berhemat lagi ya?”
Narmi mengangguk. Matanya yang bening sedikit basah, masih terharu.
Jiyoung menepuk-nepuk bahu Narmi, “Tapi harus tetap jaga kesehatan ya… Kesehatan itu nomor satu.”
“Iya.” ucap Narmi menurut.
“Ayo…” Jiyoung dan Narmi pun pergi sambil saling berangkulan.
Narmi merasa beruntung sekali mempunyai chingu yang baik seperti Jiyoung. Jiyoung sangat care dan sering menolong Narmi. Begitu pula dengan Eunsu. Sekalipun hidup Narmi memang sangat sulit dan pas-pasan tapi ia merasa bahagia karna mempunya sahabat yang baik. Ada juga Donghyun, Jeongmin dan Hyunseong yang menjadi teman bicara menyenangkan dan menerima Narmi apa adanya.
Saat istirahat, Narmi pergi ke toilet sementara teman-teman sudah berkumpul di kantin, di meja biasa.
Setelah buang air dan sedang mencuci tangan di westafel, mata Narmi tak sengaja melihat hantu wanita sedang duduk di atas cermin tempat para yeojadeul berdandan dan mencuci tangan. Sontak Narmi menahan nafas. Lagi-lagi kan dia melihat hantu… Narmi pura-pura saja tidak melihat dan berusaha normal.
“Ih… ada jerawat di pipiku…” gumam seorang siswi sambil melihat bayangan dirinya di depan cermin padahal ada hantu bertengger di atas cermin itu.
“Mungkin karna kemarin olahraga di lapangan…” sahut siswi lain.
Hantu wanita yang sejak tadi mendengarkan langsung berkomentar. “Kalian itu manusia hanya mempedulikan penampilan saja. Aku pun dulu sebenarnya cantik tapi mati di toilet ini seratus tahun yang lalu karna dianiaya teman sendiri yang iri pada kecantikanku…”
Narmi menelan ludah mendengarnya. Benar-benar kisah mengerikan!
Hantu itu mengerlingkan matanya pada Narmi, menyadari perubahan ekspresi wajah manusia itu. “Hey kau!”
Spontan Narmi melirik langsung ke mata hantu itu. Hal terbodoh yang ia lakukan.
“Kau bisa melihat kami kan?” ucapnya, “Si Hijau memberitau kami…”
Glek!
Narmi makin menelan ludah. Ternyata makhluk hijau yang waktu itu melihatnya sudah melaporkan kepada hantu lain bahwa Narmi punya kemampuan spesial?!!
Hantu wanita itu menyengir seram. “Akhirnya ada manusia untuk kami dipermainkan… hihihi…”
“Ma-maaf..!!” seru Narmi langsung buru-buru meninggalkan toilet membuat siswi-siswi di dalam toilet terheran-heran dengan sikap Narmi.
Narmi berlari ketakutan. Badannya merinding. ‘Gawat… ini gawat…! Kenapa ini harus terjadi pada diriku sih??!’
Brukk!
Saking ketakutannya Narmi sampai tidak sadar sudah menubruk pria yang berjalan berlawanan ke arahnya.
“Ahh hidungku..” keluh si pria sambil memegang hidungnya yang seperti patah.
Narmi juga merasa kepalanya sangat sakit karna sudah menubruk orang. Ia mendongak dan terkejut saat melihat orang yang ia tubruk ternyata Youngmin!
“Aish, kau lagi…” tukas Youngmin kesal.
Badan Narmi masih gemetaran karna takut. Bahkan bertemu dengan musuh bebuyutan saat ini tidak membangkitkan emosinya.
Sesosok hantu lain lewat di belakang tubuh Youngmin. Hantu itu nyengir pada Narmi membuat Narmi makin bergidik.
“Kau ini kalau jalan lihat-lihat, seperti banteng saja menyeruduk…” tukas Youngmin masih mengomel tidak menyadari dengan ketakutan yang Narmi rasakan saat ini.
Jeongmin yang sejak tadi mencari-cari Youngmin langsung lega saat melihat teman yang ia cari ternyata tengah bersama dengan Narmi.
“Youngmin… Narmi…!” seru Jeongmin sambil menghampiri mereka.
Youngmin mencelos saat melihat Jeongmin. Sebenarnya tadi Youngmin berusaha kabur dari Jeongmin. Youngmin tidak mau kalau diajak bergabung lagi dengan para chingu Jeongmin.
“Kalian sedang apa?” tanya Jeongmin.
“A… a…” Narmi berusaha bicara namun mulutnya mendadak gagu, sepertinya masih terlalu syok.
Youngmin dan Jeongmin mengernyit. Heran juga pada wanita itu yang hari ini tampak aneh. Jeongmin jadi khawatir. Jeongmin menyentuh kening Narmi siapa tau Narmi sakit. Tapi tidak panas kok.
“Aku antar ke kantin ya…” sahut Jeongmin akhirnya sambil menepuk punggung Narmi.
Wanita itu hanya mengangguk. Walau sebetulnya dia ingin berteriak pada semua orang kalau dia melihat banyak hantu di sekolah ini, tapi Narmi tidak bisa. Dia takut malah dianiaya para hantu sekolah.
Jeongmin melirik pada Youngmin yang sudah akan angkat kaki itu, “Youngmin, kau juga ikut ke kantin ya…”
“Ah.. uh… Aku mau ke toilet dulu…” sahut Youngmin mencari alasan.
“Oke, nanti menyusul ya…” ucap Jeongmin lalu pergi bersama dengan Narmi meninggalkan Youngmin.
“Wanita itu kenapa? Seperti melihat hantu saja…” ucap Youngmin pada dirinya sendiri. “Sinting.”
“Yang sinting itu kau karna bicara sendiri…” celetuk Kwangmin.
Youngmin menoleh kaget dan melihat Kwangmin duduk di atas atap sebuah kelas sambil memandanginya. Entah sejak kapan Kwangmin sudah ada di sana. Tapi Youngmin senang melihat Kwangmin muncul di sekolah.
“Kwang, temani aku di belakang sekolah ya.. kita mengobrol selama istirahat ini…”
“Tak mau. “
“Ahh jeongmal…” Youngmin lirik kiri kanan, untungnya sedang tidak ada siapa-siapa jadi tidak akan aneh kalau dia berbicara dengan Kwangmin.
“Kau juga harus mulai berbaur, Youngmin.. Ubah sifat burukmu itu.” ucap Kwangmin.
“Iya… ini juga aku sedang berusaha berubah. Tapi untuk saat ini saja.. temani aku di belakang sekolah ne… Pikiranku suntuk karna ulangan barusan.” Youngmin memasang wajah memelas dan memohon-mohon.
Kwangmin menghela nafas dan akhirnya mengangguk membuat Youngmin yes-yes sendiri. Kwangmin memandang ke jalan yang tadi dilalui Narmi dan Jeongmin. Kwangmin mengerutkan keningnya. Tadi dia salah lihat atau apa ya? Kok rasanya tadi ada hantu yang nyengir pada wanita tadi?
‘Apa dia salah satu manusia yang diberikan anugrah untuk melihat makhluk lain??’
----skip--
Pagi ini, hampir sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Narmi berlari menuju sekolah. Lima menit lagi bel akan berbunyi. Narmi berhenti sesaat karna lelah. Perutnya perih, mungkin karna belum makan. Ia menyeka keringatnya dan berusaha mengatur nafas. Gedung sekolah masih lumayan jauh.
Tiba-tiba dari belakang terdengar suara derum motor. Bising dan mengganggu. Si pengendara memberhentikan motornya di samping Narmi.
Narmi menoleh dan mencelos saat melihat motor sport silver. Tak salah lagi.. di balik helm itu pasti… Jo Youngmin.
‘Apa yang membuat dia berhenti di sini?’ pikir Narmi heran.
“Hei, rumahmu di mana?” tanya Youngmin.
Narmi mengernyit. “Kenapa? Aish.. bicara denganmu disini nantinya akan membuatku terlambat…”
Narmi sudah akan pergi namun Youngmin menahan dengan kata-katanya. “Oy… kembalikan sapu tanganku.”
Narmi menoleh, “Apa??” Jadi pria itu sengaja berhenti hanya untuk menagih sapu tangan? Itu bahkan hanya sapu tangan biasa.
Youngmin meringis. “Itu bukan milikku. Jadi kau harus mengembalikannya.” Sapu tangan itu sebenarnya milik Kwangmin dulu yang diberikan Kwangmin.
“Oke, oke… Tapi aku lupa membawanya. Besok saja.”
“Ish…” Youngmin mendengus kesal, “Kalau perlu tulis di jidatmu supaya kau tidak lupa.”
“Hey!” Narmi sudah mulai terpancing marah lagi.
Pria itu berlagak melihat jam tangan dan seolah terkejut. “Wah… satu menit lagi!” Dia menggerum motornya dan melesat begitu saja meninggalkan Narmi sebelum Narmi sempat mengomel lagi.
“Yaish!” Narmi rasanya ingin sekali menggetok kepala namja itu menggunakan helmnya.
Tiba-tiba Narmi tersadar dan sayup-sayup bel sekolah berbunyi. Aigoo… ini sih dia terlambat lagi.
“Laki-laki sialan!!” serunya sambil berlari menuju sekolah, “Dia pasti sengaja mengulur waktu mengajakku bicara supaya aku terlambat.”
Narmi sampai di sekolah satu menit setelah bel berbunyi, dan dengan sadis guru kedisiplinan tetap menghukumnya sama seperti murid lain yang terlambat 10 menit ataupun setengah jam.
Narmi berdiri di tengah lapangan mulai menjalani hukuman dan Youngmin yang santai berjalan dari parkiran. Pria itu datang tepat waktu jadi tidak dihukum.
Youngmin nyengir boyish dan melambai pelan, seolah berkata : “Duluan ya, Cewek Sinting.”
Narmi menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan jengkel. Maunya sih ingin dia jahit senyum Youngmin itu, karna senyum Youngmin itu membuatnya kesal sekaligus meleleh. ‘Aish… sial, sial..!!’
Saat jam istirahat dimana Youngmin masih mencatat catatan Science yang ada di papan tulis, Jeongmin dengan semangat mendatangi Youngmin. Pria ceria dan cerewet ini ternyata tak bosan-bosannya ingin akrab dengan Youngmin.
“Youngmin-ssi…” sapanya lambat namun renyah. Ia menunjukkan eyesmilenya pada Youngmin yang mendongak.
“Ya?” tanya Youngmin. Dia hanya berharap Jeongmin tidak mengurusi hidupnya.
Jeongmin tersenyum. “Kau masih mencatat ya…” Jeongmin mengambil kursi dan duduk di depan Youngmin. “Kalau begitu aku akan menunggumu.. Kita makan sama-sama ya…”
Youngmin tersenyum perih. Pria ini sebetulnya tidak ada minat bersosialisasi indah di masa-masa belianya saat SMA. Youngmin terlalu trauma untuk membuka hubungan persahabatan dengan siapapun. Karna toh akhirnya dia pasti akan ditinggalkan sendiri, sama seperti Ibu dan Kwangmin yang meninggal.. serta Ayah yang meninggalkannya dan sibuk bekerja di luar negeri. Dan lagipula.. Youngmin tidak mau menyimpan kesedihan akibat menjalin hubungan dekat dengan orang lain. Baginya Kwangmin cukup di sisinya.
Jeongmin mengeluarkan sebuah permen coklat susu dan memberikannya di atas meja Youngmin. “Ayah dan Ibuku membuka usaha membuat permen coklat seperti ini…” Jeongmin kembali tersenyum, “Cobalah…”
Youngmin memegang permen itu tercengang.
Kwangmin yang sedari tadi duduk di kursi kosong di sebelah Youngmin mengangguk-angguk. “Dia orang baik, hyung… Kurasa dia bisa menjadi sahabat terbaikmu.”
Youngmin mengerling ke arah Kwangmin dan memutar kedua bola matanya.
“Kau ini…” tukas Kwangmin jengkel juga, “Berkali-kali kan aku sudah bilang, jangan membatasi diri dalam bergaul. Orang ini bahkan pria…”
“Ya-ya…” sahut Youngmin walau masih kesal.
“Eh apa?” tanya Jeongmin karna Youngmin bicara sendiri.
“Engga…” sahut Youngmin. Ia membuka permen itu dan memakannya. “Thanks…”
Senyum Jeongmin melebar. “Kita ke kantin saja yuk, bergabung dengan chinguku yang lain.”
Sejujurnya Youngmin paling tidak suka yang seperti ini. Ia melirik pada Kwangmin yang tengah memelototinya. Dongsaengnya itu pasti berharap dia mau ikut ke kantin. “Oke, oke…” ucap Youngmin pasrah akhirnya.
Di kantin yang lain sudah berkumpul. Narmi, Jiyoung, Eunsu, Donghyun, Hyunseong dan Hwayoung. Mereka tengah makan dan mengobrol ceria.
“Jadi tadi pagi kau dihukum di lapangan lagi?” ucap Eunsu terbahak saat Narmi bercerita kalau dirinya dihukum lagi karna terlambat.
Narmi mengangguk malu sementara yang lain menertawainya.
“Aigoo… kau ini… Apa perlu aku yang tiap pagi membangunkanmu?” celetuk Donghyun membuat Narmi semakin malu saja.
“Ti-tidak…” sahut Narmi gelagapan, “Aku slalu bangun tepat waktu kok.”
“Lalu apa yang menyebabkanmu sering terlambat?” tanya Hyunseong mengekeh.
“Narmi bahkan jarang sarapan…” gumam Jiyoung, “Aku heran kenapa dia masih saja terlambat.”
“Bu-bukan begitu…” ucap Narmi, “Tadi pagi itu—“
“Anyyeoooong!!” Omongan Narmi itu terpotong karna sapaan heboh dari Jeongmin yang datang. Di sebelahnya Youngmin berdiri malas-malasan.
Narmi mendongak. Melihat Youngmin, si pelaku utama yang membuatnya terlambat, Narmi langsung bangkit berdiri dan menunjuk Youngmin lurus-lurus. “Dia! Dia yang membuatku terlambat!”
Semuanya tercengang menganga. Youngmin menoleh tenang. Alis matanya terangkat sebelah, “Apa??”
“Narmi… ??” Jeongmin juga heran dengan sikap Narmi yang tiba-tiba menuding Youngmin yang baru datang. Lagipula yang semua orang tau, Narmi dan Youngmin tidak saling mengenal.
“Dia yang sudah membuatku terlambat. Aku tidak berbohong!” tukas Narmi lagi karna yang lain terlihat belum percaya.
“Narmi, Narmi…” Jiyoung langsung menyuruh Narmi untuk duduk, “Kau ini bicara apa sih.”
Narmi memonyongkan bibirnya, kesal karna tak akan ada yang mempercayainya.
Youngmin dan Jeongmin duduk. Youngmin dengan tenang duduk di hadapan Narmi dan memandang Narmi seolah tadi wanita itu baru saja bicara ngawur. (padahal memang tadi pagi Youngmin sengaja mengerjainya)
Donghyun menepuk kepala Narmi, berusaha menenangkannya yang entah kenapa langsung emosi jiwa saat melihat Youngmin. Donghyun melirik yang lain. Suasana mendadak menjadi canggung. Donghyun mengambil gitar yang tadi ia bawa dan memberikannya pada Jeongmin. “Jeongmin, mainkan sebuah lagu agar ramai…”
Jeongmin mendapatkan tanda dari Donghyun itu. Ia menepuk punggung tangan Narmi. “Narmi… kau mau lagu apa..?”
Narmi menatap Jeongmin. Lagi-lagi… pria ini… Narmi selalu merasa Jeongmin itu menyukainya, atau… hanya perasaannya saja ya? Narmi menggeleng ragu.
Jeongmin tersenyum. “Pasti ada sebuah lagu yang sejak tadi pagi kau nyanyikan dalam hati kan..?”
Jiyoung dan Eunsu langsung tertawa pelan. Narmi memang selalu menyanyikan lagu dalam hati tiap harinya, pokoknya berbeda-beda. Dan bagi mereka, itu sangat konyol.
Narmi menatap Jeongmin. Sikapnya yang emosian pasti sudah merusak suasana. Narmi akhirnya tersenyum saja. Ia berusaha rileks. “Butterfly…”
Jeongmin tersenyum lebar. Ia sudah menduga Narmi pasti hari ini menyanyikan lagu itu. Sejujurnya Jeongmin pun menyanyikan lagu itu dalam hati sepanjang hari. Maka Jeongmin pun mulai bermain gitar sambil bernyanyi. Hyunseong dan Donghyun sesekali ikut menyanyi membantu chingunya itu.
Youngmin melirik Jeongmin. Sesekali ia bisa melihat kalau Jeongmin seolah menyanyikan lagu cinta ini untuk Narmi. Youngmin melirik Narmi. 'Wanita itu juga… wajahnya kenapa begitu merah? Apa dia malu?' Youngmin langsung membuang muka, melihat ke arah lain. ‘Akh, untuk apa aku mengurusi percintaan orang lain?’
Jeongmin kembali bernyanyi diikuti dengan suara Hyunseong dan Donghyun.
Narmi dan yang lainnya langsung bertepuk tangan kecil saat Jeongmin menyudahi lagu itu. Jeongmin tertawa malu.
----skip----