
Sore ini setelah pulang sekolah, Narmi memandang dirinya di depan cermin. Ia menatap bayangan dirinya yang tengah memegang pipi. Kulitnya agak membiru dan memucat. Tadi dia langsung menutupi wajahnya dengan syal saat hantu hijau mengejeknya karna kulitnya yang seperti lumba-lumba. Dan Narmi juga langsung meminta pulang cepat pada Youngmin dengan alasan dia banyak tugas dan test.
Matanya nanar. Bibirnya sudah kering dan patah-patah. Tadi pagi juga sebenarnya dia sempat mimisan dan pusing mematikan.
Deg!
Rasa sakit itu kembali menyerangnya.
Air matanya mengalir saat ia kembali merasakan rasa sakit di tubuhnya. Ini adalah kematian tahap 6 yang dialami Narmi. Wanita itu tetap berdiri di sana, menguatkan dirinya bahwa dia akan baik-baik saja menghadapi rasa sakit yang membakar tubuhnya.
Hidungnya kembali mimisan.
Kepalanya pusing dan menyakitkan seperti dipukul godam. Ia merasa aliran darah dalam tubuhnya pun seolah sedang tersendat dan tidak lancar. Dan jantungnya pun memukul keras-keras membuatnya tak berdaya. Tapi Narmi tetap berusaha berdiri dan memandang dirinya di cermin, walau air matanya mengalir deras karna rasa sakit yang dideritanya.
“Huaaaa……” jerit tangisnya. Ia memukul-mukul dadanya seolah menyadarkan tubuhnya untuk kembali normal. “Huaaaaa!! Hik… hik… huaaaa Ibu… Ayah……”
Tapi rasa sakit itu makin menyebar. Narmi oleng dan jatuh terduduk di lantai. Ia melap hidungnya yang berdarah dan berusaha dengan sangat menghentikan pendarahan itu, tapi darah terus saja mengalir.
Narmi meremas bajunya, menahan rasa sakit yang menyerangnya itu. “Hentikan…” bisiknya lirih, “Ambil saja nyawaku… aku sudah tak tahan hik.. hik…”
Narmi menggeliat di lantai. Tubuhnya begitu panas seperti dibakar padahal suhu Seoul hari ini hangat.
“Kyaaaa…”
Ada apa ini? Apa dia akan mati sampai dia berfatamorgana melihat kenangan manisnya selama hidup?
“Akh…”
Kepalanya begitu berat dan nyeri. Narmi berusaha merangkak. Dia sangat kehausan dan butuh minum. Kerongkongannya sangat kering dan panas, butuh diairi. Narmi merangkak susah payah menuju meja di dekatnya untuk mengambil gelas.
“A… a…” erangnya berusaha menggapai gelas itu tapi apa daya tangan tak sampai dan tenaganya juga sudah tidak memungkinkan untuk berjongkok apalagi berdiri.
Narmi makin menangis. Ia merasa dirinya sekarang begitu menyedihkan. “Huaa…”
Tangannya akhirnya tak sengaja menarik taplak meja. Gelas di atas meja itu pun ikut tertarik yang menyebabkan gelas itu langsung jatuh ke lantai. Pecahan kacanya mengenai lengan Narmi. Beberapa goresan yang berdarah kini ada di lengan Narmi. Memang perih dan sakit… tapi sejujurnya luka ini tidak sebanding dengan luka lain di organ-organ tubuhnya.
Narmi menangis tanpa suara. Dia sudah lemas. Tiba-tiba dia melihat Beomgyu muncul. Malaikat itu selalu datang di saat yang tepat. Beomgyu pasti mau menolongnya.
Namun entah Narmi yang berhalusinasi atau apa, wajah Beomgyu itu kini tergantikan menjadi wajah……Kwangmin???? Ya itu memang Kwangmin—bukan Youngmin.
Wajah itu berubah-ubah, terkadang dilihatnya Beomgyu atau Kwangmin. Kabur dan samar-samar.
Apa Narmi berfatamorgana kembali akibat sakit kepala yang dideritanya?
Mata Narmi semakin berat dan redup. Hal terakhir yang ia lihat adalah Kwangmin—kembaran Youngmin itu—mendekatinya dengan cemas. Ia pun pingsan.