
Tiga jam kemudian, setelah pingsan panjang, Narmi pun pelan-pelan membuka matanya. Walau tubuhnya masih terasa begitu lemah. Dilihatnya tau-tau Beomgyu sudah ada di sebelah tempat tidurnya.
“Aa……” erang Narmi sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
Beongyu langsung mengambil gelas dan memberikannya pada Narmi. “Minumlah dulu.”
Perempuan itu menurut dan minum banyak-banyak. Dia memang sangat kehausan. Narmi berusaha duduk. Dia menyadari kalau sepertinya beberapa jam yang lalu dia sudah sekarat dan hampir mati. Narmi melihat lengannya yang sudah diperban. Dia ingat kalau lengannya berdarah karna pecahan kaca. Jadi Beomgyu yang sudah membalut lukanya?
Dan… apakah malaikat di hadapannya ini sebenarnya adalah… Kwangmin..?
‘Tidak mungkin..’ gumam Narmi dalam hati. Dia memberitau dirinya sendiri bahwa tadi dia sudah berfatamorgana sehingga bisa melihat Beomgyu sebagai Kwangmin—walau ia sangat tau bahwa keduanya tidak ada kemiripan.
“Makasih…” gumam Narmi serak.
Beomgyu tersenyum tipis. “Kali ini aku tidak akan menasihatimu macam-macam. Kau sudah memilih jalanmu…”
Narmi mendongak.
“Aku tidak akan memaksamu lagi untuk melupakan Youngmin……” lanjut Beomgyu.
Narmi menunduk. Apapun konsekuensi yang harus ia hadapi, Narmi memilih untuk menghadapinya saja. Biarlah kehendak Tuhan saja yang jadi atas nyawanya. “Iya… trimakasih dan maaf.”
“Seharusnya aku yang mengucapkan itu..” gumam Beomgyu miris. Ia ingin mengucapkan ‘trimakasih’ karna berkat Narmi, dia akan kembali menjadi manusia. Juga ingin mengucapkan ‘maaf’ karna Narmi sebentar lagi akan mati.
Keduanya saling berpandang-pandangan dan Beomgyu sudah tidak akan mengatakan apapun lagi.
----skip----
Tiga hari kemudian,,,
Kwangmin berada sendirian di kamar Youngmin. Ia begitu asik memandang foto-foto mereka yang tertempel memenuhi dinding kamar. Sesekali ia tertawa sendiri melihat kekonyolan pose keduanya di dalam foto. Lagipula di tiap foto ada banyak cerita dan kenangan tersendiri. Kwangmin seolah flashback dan menonton rekaman masa lalu dirinya dengan Youngmin.
Betapa berharganya kenangan masa lalunya bersama dengan Youngmin. Kenangan selama Kwangmin masih hidup……
Kwangmin menyentuh foto Youngmin yang sedang tersenyum lebar. Di foto itu mereka sedang berangkulan bahu.
“Hyung……” gumam Kwangmin tersenyum.
Air matanya mengalir membuktikan bahwa senyumnya saat ini adalah senyum kesedihan. Kwangmin mengeluarkan sebuah kotak bening kecil dari celananya. Di dalam kotak itu ada kapsul hitam.
Dia sudah membulatkan tekatnya. Dia akan meminum kapsul hitam ini.
.
.
.
Youngmin sedang berjalan sendirian. Pikirannya mumet. Dia sedang mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya dan merenungkan semuanya. Alasan mengapa Narmi terlihat sakit dan lemah… alasan mengapa seolah perempuan itu tengah menutupi sesuatu..? Youngmin benar-benar sampai sulit tidur. Ia benar-benar cemas dan takut.
“Hhh…” Youngmin menghela nafas kuat-kuat sambil mengacak rambutnya dengan putus asa. “Apa yang harus aku lakukan, apa?”
Tes.
Tiba-tiba air matanya mengalir dari mata kirinya. Youngmin langsung menghapusnya. Bahkan dia sampai menangis kan mengingat Narmi? Betapa dia sudah sangat mengkhawatirkan wanita itu.
Eh?)
Youngmin tersentak seolah menyadari sesuatu. Tadi… air matanya mengalir dari mata kiri…? Bukankah itu merupakan tanda bahwa terjadi sesuatu menyedihkan pada diri saudara kembarnya?
Youngmin berbalik badan dan memandang rumahnya yang sudah jauh beberapa blok. Firasatnya mengatakan Kwangmin kini berada di kamar… dan saudara kembarnya itu… sedang mengalami hal menyedihkan serta menyakitkan!
“Kwangmin..?” Air mata kembali mengalir dari mata kiri Youngmin. Hatinya tiba-tiba terluka. Pria ini pun langsung berlari sekuat tenaga menuju rumahnya. Semoga dia belum terlambat—sekalipun dia tidak tau apa yang tengah dialami malaikat penjaganya.