
Narmi berjalan sendirian meninggalkan sekolah. Dadanya masih berdebar tak karuan. Ia menepuk-nepuk pipinya yang hangat. Omo apa yang tadi sudah terjadi di pesta dansa??
Narmi menyentuh bibirnya. Tadi itu perasaannya atau apa ya... bibirnya dan bibir Youngmin tak sengaja bersentuhan? Walau hanya sedetik tapi kan tetap saja ciuman.
Narmi memegang dadanya yang tiba-tiba sakit. “Ahh……” erangnya. Ada apa pula sekarang dengan dirinya? Apa karena debaran hatinya membuat dadanya sesak?? Bukankah ini aneh sekali.
Narmi menggeleng-geleng sambil menampar pelan pipinya. “Tidak tidak… Apa yang kau pikirkan? Masa kau menyukai si cowok sinting itu? Apa kau juga sekarang sinting, Narmi?”
Narmi menarik nafas dalam-dalam dan menguatkan dirinya kalau dia tidak jatuh cinta sedikit pun pada Youngmin! Dan mengenai skinship tadi… Itu hanyalah kebetulan dan tak sengaja! Titik!!!
Narmi yang sedang berjalan sambil melamun itu hampir saja bertubrukan dengan seorang lelaki tampan.
“Maaf…” ucap Narmi membungkuk dan meminta maaf. Ia mendongak dan melihat seorang cowok tinggi, bermata besar dan tampan. Narmi pun baru sekali ini melihatnya. Ia menyangsikan kalau pria itu adalah murid sekolahnya.
Cowok itu tersenyum. “Tidak apa-apa.” Ia mengulurkan tangannya tanda ingin bersalaman, “Perkenalkan aku Minho…”
“A.. oh…” Narmi menerima jabatan tangan itu. Ia malu sekali karna ada juga pria tampan yang ingin berkenalan dengannya. “Namaku Narmi."
“Ternyata memang benar…” gumam Minho tersenyum, “Kau bisa melihat hantu…”
“APA??!!” Narmi spontan terbelalak. Tubuhnya mundur reflex. Jangan bilang kalau lelaki tampan di hadapannya ini adalah hantu????
Minho tertawa kecil dan mengangguk, seolah menjawab pertanyaan dalam hati Narmi itu. “Aku adalah hantu.”
Narmi berusaha mengatur nafas. Dia gila ga sih? Kenapa dia banyak bertemu dengan hantu dan malaikat? Lantas kenapa hantu satu ini tampan sekali? Biasanya kan hantu yang ditemui Narmi itu menyeramkan dan menakutkan.
Minho tertawa keras tiba-tiba membuat Narmi menjadi kaget. “Hahaha… Aku ini setengah hantu dan setengah malaikat sebenarnya.”
“Eh?”
“Ah ceritanya panjang…” sahut Minho. Ia menatap Narmi dengan sungguh-sungguh, “Aku mencarimu… dan akhirnya kutemukan…”
Glek!
Narmi menelan ludah. Setengah hantu setengah malaikat ini bicara apa sih? Apa sedang menyatakan cinta?.
Minho memegang tangan Narmi dan menatap mata cewek itu lakat-lkat. “Bolehkah aku berteman denganmu??”
“A-apa maksudnya?” tanya Narmi sedikit takut sambil berusaha menjauhkan tangannya. Dia masih mau normal, mana mau dia menjalin cinta dengan hantu ataupun malaikat. Yeah sekalipun Minho itu sangat charming.
“Jadilah temanku…” gumam Minho dengan senyum lebar.
----skip----
“Minho??” tanya Beomgyu *alias Kwangmin* saat mendengar nama itu dari cerita Narmi di rumahnya pagi ini.
“Iya…” sahut Narmi sambil sibuk memasukkan buku dan alat tulisnya. “Kemarin aku berkenalan dengannya. Dan dia mengaku setengah hantu setengah malaikat.”
Beomgyu mengernyit. Dia baru mendengar bahwa ada setengah malaikat setengah hantu. Atau dia saja yang masih awam belum tau apa-apa? Ia juga baru mendengar nama Minho. Setaunya di antara para malaikat tidak ada yang bernama Minho. Dan lagipula memang tidak ada setengah hantu setengah malaikat. Dunia kebaikan dan kejahatan tak bisa dicampuradukkan.
“Dia tertarik sekali dan ingin berteman denganku, keke… Apa kau juga mau kukenalkan dengannya?”
“Ah.. tidak perlu…” sahut Beomgyu. Baginya lebih baik menghabiskan waktu saja dengan Youngmin dibandingkan dengan teman baru. Dia kan malaikat penjaga untuk Youngmin.
Narmi tersenyum, “Kurasa dia baik dan perhatian. Haha, apa dunia kalian begitu sepinya ya sampai ingin berteman dengan manusia?”
Kwangmin tersenyum tipis. Justru kebalikannya. Adalah hal yang aneh kalau ada hantu atau malaikat yang ingin berteman dengan manusia.
“Aku berangkat sekolah dulu ya…” ucap Narmi lalu bergegas pergi meninggalkan rumah.
Beomgyu yang sudah ditinggalkan kembali berubah wujud menjadi Kwangmin. Ia menggaruk-garuk kepala. “Minho??? Aku baru kali ini mendengar nama itu.”
.
.
Narmi yang sedang berjalan santai menuju sekolahnya ditepuk seseorang dari belakang. Narmi menoleh dan melihat Minho, si setengah hantu dan setengah malaikat itu. Makhluk ini ternyata sudah semangat sekali ya menemui Narmi pagi ini setelah perkenalan mereka semalam.
Minho tersenyum manis. “Mau ke sekolah ya?”
Narmi mengangguk dan balas senyum. Diantar pria tampan ke sekolah siapa sih yang ga mau?? Ah~ Narmi berharap kalau Minho adalah manusia, dirinya pasti akan lebih bahagia lagi.
“Apa hantu juga tidak sekolah?” canda Narmi.
Minho mengekeh. “Kalau kami sekolah tak ada yang menakut-nakuti manusia…”
Mendengarnya Narmi merinding. “Ja, jadi kau bertugas menakut-nakuti manusia?”
Minho terbahak. “Hahaha… Menakuti siapa? Yang bisa melihatku hanya dirimu.”
Benar juga ya… Narmi baru sadar.
“Kalau pun hantu menakut-nakuti manusia, para malaikat sudah siap akan mencegahnya…” ujar Minho, “Yeah kecuali manusia sepertimu yang memang bisa melihat hantu… para malaikat tak mungkin menolongmu.”
Narmi mengangguk. Dia ingat kalau dulu hantu sekolah sangat senang sekali menakutinya dan pernah menyebutnya sebagai ‘mainan baru’. Ternyata ini maksudnya toh. Malaikat tak akan mencegah para hantu yang mencoba menakutinya.
“Apa kau punya teman di duniamu?” tanya Narmi penasaran.
Minho mengerling. Sesaat dia seperti terkejut dan sulit menjawab pertanyaan Narmi itu. “Tentu saja ada. Kami sesama hantu dan malaikat saling mengenal.”
“Benarkah?” Bukannya kurang percaya, tapi Narmi teringat pada Beomgyu yang tadi mengatakan tidak mengenal Minho sama sekali. “Apa kau mengenal Beomgyu? Dia adalah malaikat.”
Minho menaikkan sebelah alisnya. “Beomgyu? Tidak, aku baru mendengarnya.”
Narmi garuk-garuk kepala jadi bingung. “Kau tidak mengenalnya? Atau dia itu malaikat baru ya??”
Minho terdiam. Setaunya tidak ada malaikat yang bernama Beomgyu. Minho tau semua malaikat yang ada di dunianya. Dan Beomgyu adalah nama yang baru ia dengar. “Dia sering mendatangimu?”
“Iya.. kami juga berteman. Dia teman bicara yang asik sekali. Dia juga tampan… hihi.”
Minho mengernyit. Jadi selain dirinya ada juga malaikat yang mendekati Narmi. Apa tujuannya?? Firasatnya mengatakan kalau malaikat bernama Beomgyu itu punya tujuan khusus hingga mendekati Narmi. Tidak biasanya malaikat bersosialisasi dengan manusia. Hanya malaikat tertentu yang ingin kembali menjadi manusia yang bergaul dengan manusia beranugrah khusus seperti Narmi.
“Tidak mungkin…” bisik Minho.
Narmi langsung menoleh. “Apa? Apa yang tidak mungkin?”
“Ah tidak kok…” sahut Minho cepat dan merangkul bahu Narmi. Rasanya mustahil sekali kalau malaikat bernama Beomgyu itu mengetahui rahasia khusus untuk menjadi manusia kembali. Lagipula itu hanya berlaku bagi manusia kembar.
**Tiin… Tinnn..!
Brum**~
Narmi langsung meloncat ke sisi saat sebuah motor melaju kencang di sampingnya. Walau dia memang sudah bersalah karna berjalan hampir ke tengah, tapi bukan berarti si pengendara motor seenaknya begitu dan hampir mencelakainya!
Narmi mencelos melihat lagi-lagi motor sport silver.
Si pengendara memberhentikan motornya di parkiran sekolah. Ia turun dari pijakannya dan membuka helm. Tentu saja—siapa lagi kalau bukan Jo Youngmin yang mengendarai motor itu.
“Dia manusia yang menyebalkan…” tukas Narmi pelan pada Minho yang masih di sebelahnya sambil menatap tajam Youngmin.
“Temanmu?” tanya Minho sambil memperhatikan manusia yang ditatap Narmi.
“Ish… dia justru musuh.”
Youngmin menoleh ke arah Narmi, seolah merasa sudah dijelekkan. Rambut lelaki ini diikat pendek. Style yang baru dan fresh di pagi ini. Ia tersenyum tipis melihat Narmi.
Youngmin berjalan mendekati cewek itu. Tidak menyadari ada setengah hantu dan setengah malaikat di samping Narmi.
“Apa kau tidak ingin mengucapkan terimakasih?” tanya Youngmin tenang.
Narmi meleletkan lidahnya. “Apa? Haha~ untuk apa?”
Wajah Narmi kembali memerah mendengarnya. Entah kenapa yang ia ingat adalah ciuman tak sengaja itu. “Aish.. untuk apa aku berterimakasih karna bibirku menyentuh bibirmu!”
Mendengar itu Youngmin tertawa sumbang. “Bibir bersentuhan apa. Kau gila? Itu hanya kecelakaan dan tak sengaja. Maksudku.. apa kau tidak mau berterimakasih karna aku sudah mengajakmu berdansa sehingga kau tidak perlu malu karna tidak punya pasangan…”
“APA?!” Narmi memelototi lelaki di depannya dengan marah. Sedangkan Minho sudah berusaha menenangkan Narmi yang emosi jiwa itu.
Youngmin mendengus. “Jadi… mengenai semalam… yang kau ingat hanyalah ciuman kecelakaan itu…? Itu bahkan tidak bisa disebut kiss. Sedetik pun kurasa tidak ada.”
Wajah Narmi merah padam karna marah dan malu.
Youngmin tersenyum evil untuk terakhir kalinya lalu pergi meninggalkan Narmi yang mendidih itu.
“Hey!! Kau kira aku senang diajak dansa olehmu! Oi!” seru Narmi yang tidak dihiraukan lagi oleh Youngmin yang terus pergi.
“Sudah tenanglah…” ucap Minho sambil menepuk-nepuk punggung Narmi, “Apa dia mantan kekasihmu?”
Narmi mencelos dan langsung menoleh marah pada Minho. Sekalian saja ia lampiaskan kekesalannya pada hantu-malaikat ini. “Apa kau tidak menyimak? Dia adalah musuh! Musuh!!”
“Iya, iya, maaf…” sahut Minho mendadak ngeri dengan cewek ini yang sedang marah.
Narmi tak percaya, kemarin Youngmin begitu berkharisma dan seperti pangeran yang mengajakseorang putri untuk berdansa, begitu lembut dan manly. TAPI… ternyata yang kemarin itu hanya akting busuk sajakah?
Youngmin yang sudah berjalan jauh itu menoleh ke belakang, ke arah Narmi, melihat sepertinya Narmi sedang berbicara sendiri, entah dengan siapa. Youngmin mengernyit. ‘Dia……… apa sungguhan memang bisa melihat dan berbicara dengan hantu?? Atau… memang gila saja?’
----skip----
~ Flashback ~
… Kematian ibu si kembar……
“Dadah!!!” seru Kwangmin kuat-kuat meninggalkan rumah. Si kembar masih berusia 10 tahun di masa ini.
“Dadh, Kwang~” balas Youngmin sambil melambai cemberut. Kwangmin dan Ibu akan pergi ke department store membeli belanjaan untuk sebulan dan juga mainan baru. Youngmin ingin sekali ikut tapi dia pilek jadi harus tinggal bersama dengan appa. Di masa ini ayah jo twins belum sibuk bekerja di luar negeri. Beliau masih bekerja di Korea.
Ibu menepuk kepala Youngmin dan mengecup bibir anaknya. “Kami akan cepat kembali, Youngmin… Ibu juga akan membelikan mainan untukmu. Oke??”
Youngmin akhirnya tersenyum. “Iya, Bu.. Hati-hati ya, Bu… cepat pulang ya.”
Ibu menepuk kepala Youngmin dan tersenyum manis.
Kwangmin mengikik, “Dadah….!!” serunya lagi lalu pergi bersama eomma meninggalkan Ayah dan Youngmin.
.
.
Ibu dan Kwangmin keluar dari department store. Mereka sudah belanja banyak sekali. Lagipula ini sudah terlalu sore. Kwangmin sibuk memainkan mainan barunya yang berupa helikopter remote control itu. Anak kecil ini semangat sekali langsung memainkan mainannya padahal belum sampai rumah.
“Kwangmin… masukkan mainanmu.. bahaya kalau nanti kena orang.” tegur ibu.
Kwangmin tidak menyahut. Dia terus fokus bermain, mencoba tombol-tombol remote control yang ada. Sesekali ia tertawa sendiri saat melihat kecanggihan helikopternya yang bisa berputar-putar.
“Kwang…..” tukas ibunya, “Kita di pinggir jalan, bahaya kalau kena orang.”
Kwangmin tidak menurut dan terus saja memainkan helinya.
“Jo Kwangmin!”
Kwangmin tersentak dan menoleh kaget pada ibunya. Kalau ibu sudah menyebut namanya disertai dengan Jo, itu artinya kesalahannya sudah fatal. “I-ibu…?”
Karna Kwangmin menoleh, dia sampai tidak memperhatikan helikopter mainannya yang terbang makin tinggi itu.
Brakk.
Kwangmin langsung menoleh dan melihat helikopternya menabrak tiang listrik dan terjatuh ke jalan. Rusak sudah mainan barunya, padahal belum sejam ia mainkan.
“Huaaa…” Dengan spontan Kwangmin langsung saja menangis dan menunjuk mainannya yang sudah patah terbelah dua. Ia sudah akan berlari mengambil mainannya namun ibu langsung menarik lengannya.
“Kau diam di sini, biar ibu yang mengambilnya…” ujar ibu sambil menepuk pucuk kepala anaknya supaya tidak menangis lagi. Kwangmin mengangguk.
Ibunya itu berlari ke jalan untuk mengambil mainan itu. Ia mengambil mainan Kwangmin di tengah jalan raya itu. Namun sepertinya ia tidak melihat ke kiri atau ke kanan dulu saat menyebrang jalan. Dari arah kiri sebuah truk yang sedang ngebut melaju. Supirnya yang sedang mengantuk terkejut saat tersadar ada orang yang membungkuk di tengah jalan.
Tiiinnn..!!!
Tabrakan pun tak terhindarkan.
Kwangmin tercengang. Matanya membesar dan air matanya merebak keluar saat melihat ibunya tergeletak di jalan dengan penuh darah setelah terlempar ke aspal karna ditabrak truk. Pemandangan paling mengerikan yang ia lihat seumur hidupnya.
“Kyaaa!!!! Ibuuu!!!!” pekik Kwangmin histeris dan berlarian menuju ibunya. “Bu… Ibuu..!” Ia memeluk tubuh ibunya yang sama sekali tidak bergerak.
Kwangmin menangis melihat mainan heli yang dipegang oemmanya, yang kini berlumuran darah. Ia berteriak kencang. “Ibuuu!!!!”
Orang-orang di sekitar berusaha menolong dan memanggil ambulans. Keadaan semakin kacau tak terkendali. Orang-orang iba pada anak kecil yang menangis menjerit-jerit di samping tubuh korban tabrakan itu.
Kwangmin menatap mainannya. Kecelakaan ini karna dirinya yang memainkan helikopter kan? Jiwa Kwangmin terluka melihat tubuh eommanya sendiri. Kepala Kwangmin pusing. Jantungnya pun tiba-tiba seperti ditusuk.
Kwangmin jatuh pingsan di sisi ibunya dengan berlinang air mata.
----skip----
Hik… hik…
Hik…
Kwangmin menangis di pojok ruang tengah rumahnya. Ia terus menangis sejak kemarin. Tadi ibunya baru saja dimakamkan. Hatinya sangat pedih. Apa ibunya meninggal karna dirinya juga???
Kwangmin melihat di sofa, ayah yang memejamkan mata sambil menutup wajah. Ayahnya sangat terpukul sekali dan sejak kemarin tidak mengucapkan apapun pada si kembar. Keluarga masih berkumpul di rumah ini untuk memberi penghiburan. Tapi Kwangmin sejak tadi tidak mau bersama siapapun. Dia terus menangis dan memendam lukanya sendiri. Dia ingin menceritakan segalanya. Tapi dia terlalu takut. Keluarga hanya tau ibunya meninggal saat menyebrang di jalan raya.
Tiba-tiba ada yang menepuk kepalanya dari belakang. Kwangmin menoleh dan melihat saudara kembarnya.
“Hik…” Kwangmin makin menangis melihat saudaranya. “Ibu, hyung…”
Mata Youngmin masih sembab dan berkaca-kaca. Ia memeluk dongsaengnya dan menepuk-nepuk punggung Kwangmin.
“Huaaaa…” Tangisan Kwangmin semakin menjadi dan ia memeluk Youngmin dengan kencang. Dia tak tahan, dia harus menceritakan semuanya pada saudara kembarnya ini. Mengenai penyebab kematian eomma. Sekalipun mungkin dia akan dianggap sebagai penyebab kecelakaan oemma…itu tidak apa-apa baginya…dibandingkan harus memendam semuanya sendiri menjadi duri dalam daging.
“Youngmin,,, ibu… ibu meninggal karena—“
“Tidak apa-apa, Kwangmin… tenang…” potong Youngmin dan masih mengelus punggung dongsaengnya. Ia menangis di bahu dongsaengnya. “Aku tau pasti berat bagimu karna melihat kematian ibu… Tidak apa, Kwang…” isak Youngmin.
“Hyung…” Kwangmin terisak-isak.
Youngmin melepaskan pelukannya. Ia menghapus air matanya sendiri lalu memegang kedua bahu Kwangmin. Dia berusaha memberikan senyum kekuatan pada dongsaengnya. “Kau masih memilikiku untuk bersandar… Paham? Jangan menangis lagi ya?”
Youngmin menghapus air mata Kwangmin.
“Sudah, jangan menangis…” ucap Youngmin, “Kalau kau menangis lama kelamaan aku bisa jatuh sakit.”
Kwangmin menghapus ingusnya. Memang benar. Saudara kembarnya yang satu ini tidak kuat melihat kesedihan dan luka. Sekali Youngmin merasakannya, jiwanya akan sangat tersiksa. Ibu bilang itu karena hati Youngmin masih murni, belum pernah dilukai oleh iri atau benci.
Youngmin tersenyum melihat saudara kembarnya mulai menguatkan diri. “Aku masih ada di sampingmu, Kwangmin…”
“Iya, hyung…” sahut Kwangmin dan kembali memeluk saudara kembarnya. Pelan-pelan ia berusaha melepaskan bebannya atas kematian eomma. Kasih sayang Youngmin melegakan dan membuatnya tidak kesepian dan terintimidasi lagi.
Pada akhirnya Kwangmin tidak pernah menceritakan kepedihan hatinya itu pada siapapun juga.
~ Flashback end ~