
“Aku berangkat dulu ya, Kwang…” seru Youngmin semangat pagi-pagi ini. Tumben sekali ia berangkat sangat pagi, biasanya kan kesiangan.
“Tumben sekali kau berangkat pagi…” sindir Kwangmin.
Youngmin tertawa lebar. “Tentu saja aku mau menjemput kekasihku, Kwang…”
Kwangmin tersentak dan memperhatikan wajah hyungnya yang ceria bersinar itu. Semenjak Youngmin jatuh cinta, lelaki itu terlihat banyak perubahan positif. Lebih ceria, lively dan ramah. Itu bagus bukan? Tapi kenapa Kwangmin tidak terlalu senang saat ini??
“Anyyeong~~” ucap Youngmin lalu pergi sambil berlari kecil dengan ceria.
Kwangmin masih berdiri di dalam kamar yang kini kosong itu. Ia menatap nanar. Kenapa di hatinya saat ini dia tidak begitu senang?? Kenapa???
Kwangmin menyentuh dadanya. Ia menunduk. Benarkah apa yang kini ia lakukan? Membiarkan Narmi mati supaya dirinya hidup? Waktu wanita itu tidak banyak lagi.
Kwangmin tersenyum tipis.
Selain itu…… kenapa ada bagian hatinya yang tidak terima kalau Youngmin dan Narmi kini menjalin cinta? Apa dia cemburu?
Kwangmin berjalan pelan mendekati tembok-tembok kamar yang dipenuhi foto-foto Jo Twins sejak kecil sampai besar. Semua foto yang ada di rumah ini sudah ditempel di dinding kamar mereka.
Kwangmin memandang satu per satu foto-foto itu. Semua momennya bersama dengan hyung tercinta ada di sana. Segala kenangan yang tidak dapat dibayar dengan harta apapun yang ada di dunia ini. Betapa sulitnya memperoleh kembali kehidupan seperti itu setelah kau mati.
Semua keceriaan dan cinta yang ada pada foto itu…
Sanggupkah ia merelakan dirinya untuk dihapus dari ingatan Youngmin saat waktunya sebagai malaikat telah habis? Mata Kwangmin nanar membayangkan di foto-foto itu tidak akan ada gambar dirinya lagi. Tidak akan ada senyum dan tawanya di foto itu lagi. Tidak akan ada manusia yang mengingatnya pernah ada. Ayah, Ibu…… bahkan Youngmin!!
Kwangmin menangis.
Sanggupkah ia merelakan hyungnya tidak mengingat semua kenangan manis di antara mereka lagi? Sanggupkah ia membiarkan dirinya dianggap tak pernah ada dan tidak pernah menjadi saudara kembar Youngmin?
“Tidak!!” bentaknya tegas dengan bercucuran air mata.
Bagaimanapun juga dia tidak akan membiarkan hal mengerikan itu terjadi menimpanya. Bagaimanapun dia memang harus menjadi manusia. Apapun caranya…
.
.
Tin… Tinn..!
Tin.. Tinnn.!!
Pintu rumah terbuka, Narmi keluar terburu-buru. Wajahnya masih terlihat pucat dan kebiruan. Tubuhnya pun sebenarnya masih sangat lemas. Tapi ia tidak peduli, dia harus tetap beraktivitas untuk melupakannya dari rasa sakit.
Youngmin tersenyum namun ia heran juga, wanita itu kenapa? Wajahnya aneh sekali. Sangat pucat.
Narmi tersenyum ceria dan berusaha menutupi apa yang baru menimpanya semalam. Saat ia akan menerima helm pemberian Youngmin, tiba-tiba tubuh cewek itu seperti oleng. Ia hampir terjatuh dan untungnya Youngmin langsung memegang tangan Narmi.
“Kau baik-baik saja?” tanya Youngmin khawatir.
Narmi mengganguk dan tersenyum simpul. “Ya. Tadi aku hampir tergelincir saja.”
“Tapi wajahmu pucat-”
“Tidak kok… Ini hanya warna bedakku saja. Aku baru ganti merk…” sahut Narmi lagi-lagi berusaha ceria dan menutupi segalanya. Dia hanya tidak mau membuat Youngmin cemas. Mereka kan baru saja pacaran, rasanya akan sangat menyedihkan kalau Youngmin mendengar cerita buruk ini.
Youngmin akhirnya mengangguk dan mengacak-acak rambut Narmi. “Oke… Ayo, naiklah…”
“Em!” Narmi mengangguk dan langsung naik ke atas motor Youngmin. Bagaimanapun juga ia harus menahan semuanya di depan Youngmin.
Tiba-tiba sesosok hantu muncul dan terbang di dekat Narmi. Hantu lelaki pucat pasi dan jelek itu menertawakan Narmi tanpa sebab.
Narmi berusaha tak peduli. Dia sudah tidak mau mengurusi dunia hantu. Lagipula tak ada lagi yang ia takutkan mengenai mereka, selain wajah saja.
“Hahahaha.. hihihi…” tawa hantu itu, “Kau akan mati… Hahaha…”
Narmi terkejut mendengarnya. ‘Apa? Apa maksud hantu itu?’
Youngmin menstarter motornya dan motor itu melaju pesat meninggalkan tempat itu, juga hantu lelaki yang menertawakan Narmi.
Narmi menggertakkan giginya. Sejujurnya ia sedikit takut dengan apa yang akan menimpa tubuhnya kelak. Bahkan hantu pun menyumpahinya kalau dia akan mati.
Narmi menyandarkan wajahnya di punggung Youngmin sambil menahan tangis. Dia benar-benar sangat ketakutan sekarang.
Youngmin yang sekalipun fokus mengendarai motor, bisa merasakan ada sesuatu yang salah pada Narmi. Youngmin hanya menepuk tangan Narmi yang memeluk pinggangnya.