
Malam ini Narmi dan Eunsu menginap di rumah Jiyoung. Mereka menggunakan momen ini untuk curhat-curhatan dan saling menguatkan. Narmi sendiri sebenarnya bisa dibilang sebatang kara. Sejak kecil ayah dan ibunya bercerai. Narmi tinggal bersama dengan ayahnya. Namun sejak setahun lalu, sang ayah terkena struk parah dan kini dirawat di panti jompo. Ayahnya sudah tidak bisa berbicara, hanya menghabiskan waktu di kursi roda. Namun beliau masih mengenali Narmi. Ia juga masih bisa mendengar dengan baik walaupun sudah tidak bisa berbicara lagi. Jadi Narmi tinggal sendirian di rumah dengan biaya hidup yang sangat pas-pasan dari uang asuransi ayahnya. Makanya terkadang Narmi tidak sarapan atau harus berhemat sedemikian rupa untuk kebutuhan sekolahnya yang kian banyak.
Jiyoung dan Eunsu merupakan sahabat terbaik yang pernah dimiliki Narmi. Mereka menerima kondisi Narmi dan bahkan banyak membantu Narmi.
Jiyoung memeluk Narmi dengan hangat saat Narmi sudah menceritakan kenangan terbaiknya dengan sang ayah. “Narmi…” Entah kenapa mata Jiyoung ikut-ikutan berkaca-kaca. “Tapi ingatlah.. kalau kau tidak pernah sendirian… Kami akan selalu di sampingmu…”
“Iya…” sahut Eunsu ikut memeluk Narmi, “Sekalipun kita sudah tidak sekelas lagi tapi persahabatan kita tak kan berubah!”
Narmi tersenyum terharu. “Trimakasih… kalian orang-orang yang paling berarti untukku…”
Jiyoung terkekeh, “Ah… apa kau tidak punya laki-laki yang kau sukai?”
Narmi tercengang.
“Benar!!” seru Eunsu, “Kau belum pernah menceritakan hal ini.”
“A..a…” Mendadak Narmi menjadi gugup. Tentu saja dia memiliki orang yang ia sukai! Ia menyukai Donghyun. Pria itu adalah cinta pertamanya dan Narmi berharap itu pun menjadi cinta terakhirnya! Dan… Narmi teringat pada Jeongmin… Sikap Jeongmin yang terkadang salah tingkah dan memperlakukannya dengan spesial, membuat Narmi ikut-ikutan malu. Apa Jeongmin benar-benar sudah menyukainya? Narmi sama sekali belum berpengalaman soal cinta.
“Ah aku tau!” celetuk Jiyoung, “Pasti kau menyukai Youngmin kan?”
“Apa???” Wajah Narmi yang awalnya bagaikan malaikat itu langsung berubah seperti devil. “Jo Youngmin? Kau gila?”
“Eh kenapa?” Eunsu mengikik, “Dia tampan sekali menurutku…”
Narmi menggeleng-geleng, “Laki-laki sinting itu… aku tidak akan pernah menyukainya! Titik!”
“Lantas siapa dong?” tanya Jiyoung penasaran.
Narmi tersenyum malu, “Aku memang sedang jatuh cinta… tapi aku bingung apa pria itu menyukaiku atau tidak… Dan.. ada juga satu pria yang membuatku berdebar akhir-akhir ini karna sikap spesialnya. Sikapnya yang salah tingkah membuatku ikut malu dan berdebar-debar.”
Eunsu mengernyit, “Apa kau menyukai pria itu?”
Narmi angkat bahu, “Aku juga tidak tau. Tapi kalian tau kan kalau aku ini termasuk wanita yang mudah bersimpatik dengan tipe orang seperti itu??”
Eunsu dan Jiyoung mengangguk-angguk dan terkekeh konyol. Sifat Narmi yang satu ini memang sangat aneh sekali.
“Kalian sendiri bagaimana?” Narmi berbalik menginvestigasi.
Jiyoung mengekeh, “Aku juga ada menyukai seseorang… dan aku beruntung. Dia juga menyukaiku…”
“Wah!!” seru Eunsu envy, “Beruntung sekali!”
“Siapa, siapa??” rengek Narmi penasaran tingkat dewa sambil menarik-narik lengan Jiyoung.
“Nanti juga pasti aku beritau.. Tapi tidak sekarang. Tunggu saja tanggal mainnya.”
“Jadi kalian diam-diam pacaran?” tanya Narmi.
“Bisa dibilang begitu. Kami memang lebih suka menikmatinya sendiri.”
“Ish, apa kau tidak menganggap kami sahabatmu,“ tukas Eunsu ikut kesal.
Jiyoung makin mengekeh, “Pasti nanti kalian aku beritau kok… Kau sendiri bagaimana, Eunsu-ah?”
Eunsu melongo, gilirannya ditanya. “Aku tidak seberuntung kalian. Aku menyukai pria yang sepertinya tidak terlalu peduli padaku…” Eunsu melirik sekilas pada Narmi. Sebenarnya yang Eunsu sukai adalah Jeongmin!! Tapi ia merasa pria itu menyukai Narmi.
“Kenapa?” tanya Narmi jadi sedih.
“Sepertinya dia hanya memedulikan satu orang wanita saja…” sahut Eunsu menunduk kelu.
“Tidak, tidak…” Jiyoung geleng-geleng sambil merangkul bahu Eunsu, “Kau tidak boleh menyerah dulu. Sampai pria itu belum pacaran dengan wanita manapun kau tidak boleh menyerah!”
“Benar!” seru Narmi ikut menyemangati, “Kau harus tetap menunjukkan rasa sukamu. Aku yakin dan percaya laki-laki itu pun akan tertarik padamu. Aku mendukungmu!”
“Benarkah?” Mata Eunsu berkedap-kedip menatap Narmi.
“Yap! Fighting!” ucap Narmi.
Eunsu pun akhirnya mengangguk. Benar juga ya.. untuk apa menyerah. Dan kalaupun nantinya Jeongmin pacaran dengan Narmi.. itu kan hak mereka. Eunsu memilih untuk tidak akan menyerah. Dia akan mulai menunjukkan rasa sukanya pada Jeongmin. Semoga pria itu pun menyukainya balik.
Mereka bertiga berpelukan bersama dengan bahagia. Mereka mengikik.
“Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaanku juga…” ucap Narmi tulus.
“Sama!” sahut Jiyoung dan Eunsu berbarengan.
“Ahh~ apa ya yang sedang dilakukan pria-pria kita sukai ya???” gumam Narmi mengekeh.
*
*
Sementara itu… di tempat lain…
“Kwangmin…” panggil Youngmin seperti anak kecil yang pergi ke rumah temannya. Youngmin berjalan menaiki tangga menuju kamar. “Kwangmin-ah…”
Youngmin membuka kamar dan tersenyum melihat saudara kembarnya sedang duduk di atas tempat tidur sambil membaca majalah (Kwang merindukan kehidupannya sebagai manusia, makanya dia baca majalah, keke)
Youngmin senang menjalani hidupnya yang sekarang, seolah Kwangmin belum meninggal. Bahkan sekarang Kwang menjadi malaikat penjaganya, keke.
“Kwangmin-ah!” seru Youngmin semangat dan menepuk pundak Kwangmin membuat namja itu terkejut seperti tersetrum.
“Aish! Aku kaget…” ucap Kwangmin
Youngmin mengekeh sambil menggosok hidung. Dia duduk di sebelah adiknya dan bersandar manja.
“Ada apa?” tanya Kwangmin melirik aneh pada hyungnya.
“Tidak… tidak…” Young menggeleng-geleng. Baginya diam seperti ini bersama Kwangmin sudah cukup. Rasa sepi dan sedihnya menghilang seketika.
“Ish…” ucap Kwangmin, “Kau ini berbeda sekali saat di sekolah. Di sekolah kau seperti monster: galak, angkuh dan anti sosial..”
Youngmin mengerang pelan. Dia paling malas kalau Kwang sudah membahas hal seperti ini.
“Aku benar kan?” tanya Kwangmin, “Coba kau bersikap begini ke teman-temanmu.. Aku yakin.. dengan sangat.. kau akan punya banyak fans!”
Youngmin tertawa hambar. Dia tidak berminat punya fans. (Dia kan anti yeoja—sifat buruk baru yang ia punya sebagai konsekuensinya bisa bersama Kwangmin) “Cih…”
“Aish! Kau harus bersosialisasi…”
“Ye, ye, ye…” Young malah berbaring sambil melipat tangan di belakang kepala. “Saat ini aku masih belum bisa mempercayai orang selain dirimu. Kau tau kan kalau aku cukup trauma bersosialisasi dengan orang? Hanya menambah kepedihan saja…”
Kwangmin menatap hyungnya. Memang benar. Youngmin itu sejak dulu tidak kuat menyimpan kesedihan. Teman-temannya di masa lalu slalu menghianati Youngmin membuat hati Youngmin hanya terluka tiap hari. “Tapi bukan berarti semua manusia seperti itu. Carilah orang yang baik. Okey?”
“Yeah.. okey, okey…” Youngmin tertawa pelan saja. Ia bangun karna mendapat sebuah ide di benaknya. “Ah! Ayo kita melakukan kegiatan yang lebih berguna dibandingkan membicarakan hal konyol seperti ini.”
“Apa maksudmu dengan hal konyol?“ tukas Kwangmin. “Memang kita mau melakukan apa?”
Youngmin bangkit berdiri dan mulai mengacak-ngacak lemari. Ia mengeluarkan semua foto mereka sejak kecil. “Ayo kita tempel foto-foto kita ini di dinding kamar kita!”
“Hah?!” seru Kwang tidak percaya hyungnya bahkan punya sifat konyol kekanakkan begini.
“Ayoo…” Youngmin menarik lengan dongsaengnya itu.
Akhirnya keduanya pun mulai menempel foto-foto di seluruh penjuru kamar. Ada foto saat mereka bayi, saat anak-anak, hingga foto terakhir adalah seminggu sebelum kematian Kwangmin. Mereka mengenang tiap momen yang ada dalam foto. Dan semua itu membuat keduanya terenyuh dengan kebahagiaan mereka di masa lalu.
“Ah lihat ingusmu…” celetuk Kwangmin sambil terbahak saat mengambil sebuah foto. Di foto itu Youngmin hingusan. Maklum saat difoto ayah, Youngmin sedang pilek.
Kwangmin malah terbahak-bahak. Youngmin juga jadi ikut-ikutan tertawa.
Mereka terus menempel foto-foto mereka hingga memenuhi dinding kamar. Ada foto saat mereka di theme park, saat mereka duduk sebangku di sekolah, saat Youngmin menggendong Kwangmin… saat bermain di gunung, ataupun saat berpelukan.
“Aku rindu Ibu…” gumam Youngmin tiba-tiba saat ia menempel foto mereka yang difoto bersama sang ibu.
Kwangmin tersenyum tipis. Intimidasi kembali memenuhi hatinya. Kematian ibu juga merupakan pukulan terberat dan memberikan kesedihan mendalam. “Aku juga…”
Youngmin menoleh dan melihat ekspresi Kwangmin yang begitu sedih. Ia menepuk hidung dongsaengnya, “Sudahlah… kita harus menerimanya… Kan masih ada aku di sampingmu, keke…”
Kwangmin hanya tersenyum saja. Dalam hati dia berkata, ‘Seandainya kau tau, hyung, bahwa penyebab kematian Ibu adalah karna diriku……’
“Finish!!” seru Youngmin karna semua foto sudah mereka tempel. Ia memandang sekeliling kamar dengan bahagia. “This is awesome! Kamar kita kini menjadi kamar yang menyimpan semua kenangan hidup kita!”
Kwangmin juga ikut memandang sekeliling kamar. Tembok-tembok sudah penuh dengan foto, keke. “Yeay! Ini adalah tempat terbaik!”
Youngmin tersenyum dan memandang dongsaengnya. “Apapun, Kwang… Aku sudah tidak peduli apapun. Asal kau terus di sisiku…”
Kwangmin tersentak.
“Bisa kan kita terus bersama seperti ini?? Jebaal…” gumam Youngmin memegang tangan dongsaengnya, “Sekalipun kau adalah malaikat…”
Mata Kwangmin berkaca-kaca mendengar permintaan Youngmin. “Apa kau benar-benar berharap aku selalu di sisimu selamanya?”
“Yap…” jawab Youngmin cepat.
Kwangmin tersenyum tipis. Sedangkan waktunya bersama dengan Youngmin kurang dari 6 bulan lagi! Bagaimana ini? Kwangmin harus cepat-cepat menemukan seorang wanita yang diberikan anugrah melihat hantu dan malaikat. ‘Hanya itu satu-satunya jalan supaya aku dan hyung terus bersama selamanya…’ ucapnya dalam hati.
----skip----
~ Flashback ~
*Masa-masa setelah kematian Kwangmin… (saat masih SMP kelas 3) sebelum Kwangmin menjadi malaikat penjaga bagi hyungnya……
Youngmin berbaring di tempat tidur kamarnya sore itu. Ia memandang langit-langit. Matanya kosong dan hampa.
‘Aku sendiri… sendiri……
Ayah sudah kembali sibuk bekerja di luar negeri…… meninggalkanku yang masih terluka…
Kwangmin tidak akan kembali lagi…? Dia meninggalkanku dan memasuki dunia kematian.
Aku benci ini! Kenapa bukan aku saja yang mati duluan? sehingga aku tak perlu merasakan sesaknya kesepian… Aku……’
Air mata Youngmin pelan-pelan mengalir.
‘Kumohon… aku tak bisa hidup sendiri… Ibu meninggalkanku.. dan sekarang Kwangmin… Apalagi yang tersisa??’
‘Wae????’
Namja itu duduk bangun. Ia memeluk dua lututnya dan menangis sedih. Youngmin menjambak rambutnya frustasi. Lama-lama dia bisa gila menanggung semua kesedihan ini.
----skip----
Hari-hari Youngmin semakin menyedihkan. Dia sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Dia meninggalkan pergaulannya, meninggalkan komunitas chingudeulnya dan tenggelam dalam kesedihan. Sendirian.
Teman sekelasnya yang lain berusaha menghibur dan menguatkannya tapi Youngmin tidak butuh semua itu. Yang ia mau, Kwangmin kembali. Tapi orang yang sudah mati tentu saja tidak dapat kembali lagi.
Youngmin berjalan menuju sekolah dengan langkah lambat. Dari cara langkahnya saja, semua orang akan tau kalau dia mengalami keputusasaan. Depresi dan tidak punya semangat hidup.
Sesekali Youngmin tak sengaja menubruk murid lain yang berlalu lalang. Ia sudah tidak peduli lagi.
Di kelas pun Youngmin hanya melamun. Kadang ia berpikir, dia mau menyusul Kwangmin… dibandingkan hidup di dunia ini tanpa kegairahan. Bukannya dia tidak mensyukuri hidupnya.. Luka di hatinya kian hari membesar dan menyakitkan… pelan-pelan akan membunuh dan menggerogotinya.
Sepanjang hari dia tidak beranjak dari bangkunya. Hanya duduk melamun atau tidur di meja sambil menahan tangis. Banyak chingunya yang prihatin. Mereka berusaha mengajak Youngmin hang out dan bersenang-senang tapi Young menolak semua itu. Menjalin hubungan dengan sesama membuatnya terus trauma. Dia tidak mau apa-apa. Dia tidak mau siapapun.
Youngmin pulang ke rumah. Rumah besar yang sepi dan sunyi.
Ia berdiri di ambang pintu dengan hati pedih. “Menyakitkan……” Suaranya pahit terdengar.
Youngmin memandang ke sekeliling rumahnya yang kini hanya tersisa debu dan benda-benda mati tak bersuara.
Dulu sekalipun ibu sudah meninggal ataupun ayah sibuk bekerja di luar negeri, Youngmin tetap merasakan kehangatan. Karna ada Kwangmin yang selalu di sisinya. Mereka itu bagaikan sepasang sumpit, tidak dapat dipisahkan dan saling bergantung.
Tapi kini……
Youngmin merindukan ibu. Wanita itu merupakan wanita yang paling ia hormati dan banggakan di dunia ini. Ibunya sangat penuh kasih. Youngmin menyayangkan ibunya mati sia-sia karna kecelakaan. Dan saudara kembarnya pun mengalami nasib yang sama. Menyedihkan bukan?
“Kenapa kalian semua meninggalkanku…?” tanyanya pada rumah yang kosong dan sunyi. Youngmin berjalan sambil berlinang air mata. Ia merasa lebih baik hidupnya diakhiri saja. Ia sudah tidak punya alasan lagi untuk hidup. Ia menyeka air matanya seperti anak kecil yang menangis.
Sebenarnya Youngmin pernah mencoba bunuh diri dua kali. Tapi keduanya gagal.
Yang pertama gagal karna temannya yang tiba-tiba datang. Dan yang kedua gagal karna ia terlalu takut. Menyayat nadimu dengan cutter bukanlah hal yang mudah dilakukan. Ia pun takut dengan dosa.
Youngmin duduk di anak tangga paling bawah. Ia menangis frustasi. Suara tangisannya begitu memilukan, sarat dengan kesepian dan luka. “Hik… hik… Kwangmin…… hik…”
Kwangmin yang sepanjang hari mengikuti hyungnya itu pun ikut menangis.
“Youngmin……” rintihnya melihat betapa merananya hyungnya itu. Kwangmin tak menyangka kalau kematiannya berpengaruh sebesar ini atas kehidupan Youngmin.
Andrew, si malaikat muncul. Ia juga menatap Youngmin iba. Pikirnya, manusia kadang sulit melupakan masa lalu dan beralih ke masa sebenarnya. Andrew heran juga, apa perasaan manusia kembar itu memang sebegitu rumitnya ya… hingga dia pun tidak bisa memahaminya.
----skip----
Sore ini Youngmin duduk di balkon sendirian. Matanya kosong dan hampa. Sudah sebulan semenjak kepergian Kwangmin. Ia masih berharap semua ini hanyalah mimpi. Tapi tiap kali ia bangun tidur dan mendapati dirinya hanya sendirian, Youngmin pasti menangis pilu. Biasanya Kwangmin selalu membangunkannya, menepuk-nepuk lengannya supaya dia bangun. Tapi sekarang… hidup yang ia jalani hanya seorang diri. Tidak ada lagi keceriaan Kwangmin yang menghiasi harinya.. cerewetnya Kwangmin, teriakan Kwangmin mengajaknya bermain… Tidak ada lagi saudara alasan dia bertahan hidup……
Youngmin berdiri dan menaiki tembok pembatas dengan berani. Sudah ia putuskan.
Ia melihat ke bawah, ke halaman yang jaraknya 6 meter dari pijakan ia berdiri. Kalau ia jatuh ke bawah, akankah dia langsung bertemu dengan Kwangmin?? Youngmin memegang dadanya yang slalu terasa sakit sejak kematian Kwangmin. Dan ia sudah tak tahan menyimpan semua ini.
Setetes air mata mengalir dari ujung mata Youngmin. Hidupnya terasa kosong tanpa kehadiran Kwangmin. Di rumah ini dia sudah sendirian… dia merasa sama saja seperti mati. Tanpa Kwangmin dia merasa hidupnya dingin dan kosong. Tanpa saudara kembarnya, sebagian jiwa Youngmin seolah terenggut.
Youngmin berdiri dan menatap langit. Ia memejamkan matanya sekali. ‘Aku…… aku sudah tak tahan lagi… Mianhe, appa…’
Baru dia akan melompat, sebuah seruan mengagetkan dirinya. “Youngmin!!!!”
Youngmin terkejut mendengar suara yang familiar di telinganya. Suara yang selama ini ia rindukan. Youngmin menoleh dan kaget saat melihat Kwangmin di belakangnya. Ia mengerjap berkali-kali, menyangka ia berhalusinasi atau bermimpi.
“Kwa-Kwangmin…?”
“Youngmin!!!!” teriak Kwangmin lagi. Matanya tampak berkaca-kaca. “Apa yang mau kau lakukan? Apa kau mau bunuh diri? Bodoh! Cepat turun…!”
Youngmin masih tercengang namun ia turun juga dari pijakannya. Kalau ini mimpi dia tidak mau bangun. Air matanya langsung berlinang dan ia berlari memeluk dongsaengnya…
Kwangmin menepuk-nepuk punggung Youngmin sementara hyungnya itu terus menangis tersedu-sedu di pelukannya.
“I-ini bukan mimpi kan…?” isak Youngmin, “Kau memang Kwangmin kan…?”
“Ya…” gumam Kwangmin lembut, merasakan kerinduan hyungnya itu.
Youngmin terus menangis. Dia merasa doanya sudah terjawab. Dia tidak akan merasa sendirian lagi. Dia tidak akan merasa kesepian lagi. Dia tidak akan merasa hidupnya tidak berguna lagi. Karna orang yang berarti untuknya sudah hadir… “Kau tidak akan meninggalkanku kan, Kwangmin?”
Kwangmin melepaskan pelukannya dan menyeka air mata hyungnya. Kwangmin berusaha tersenyum walau hatinya kembali pedih. “Aku… Mulai sekarang… adalah malaikat penjagamu, Youngmin*…”
~ Flashback end ~