
Narmi merasa pinggangnya sakit luar biasa. Ia tertatih-tatih ke toilet dan muntah-muntah di sana campur darah. Belum semuanya menjadi lebih baik, Narmi kembali merasa kepalanya diserang rasa sakit luar biasa. Begitu pula dengan jantung dan ginjalnya.
Air matanya mengalir. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat. Dia tidak mau berteriak. Dia tidak mau berteriak.
“Emmhh…” tangisnya dan terus menggigit bibir. Tubuhnya demam tinggi dan keningnya mengeluarkan bulir-bulir keringat dingin. Wajahnya juga sudah pucat pasi.
“Hik… hik……” tangisnya saat hidungnya kembali mimisan.
Narmi berjalan sesempoyongan keluar dari kamar mandi. Darah sudah menetes-netes di lantai rumah akibat hidungnya yang terus mengeluarkan darah.
“Ayah…” bisiknya lemah, “Apa aku akan mati…??”
Di tempat lain……
Youngmin berlari terburu-buru ke dalam rumahnya. Ia akan ke lantai 2, ke kamarnya. Semoga saudara kembarnya itu masih ada di sana. Entah kenapa Youngmin merasa cemas dan takut kehilangan Kwangmin. Ia seolah mendapatkan komunikasi batin dengan dongsaengnya. Tapi belum jelas apa yang terjadi pada saudara kembarnya itu.
BRAKK~
Youngmin membuka pintu kamarnya. Nafasnya tereengah-engah. Dilihatnya seorang lelaki yang begitu mirip dengannya berdiri di dalam kamar. “Kwangmin…” serunya karna Kwangmin membelakanginya.
Kwangmin menoleh.
Deg!
Youngmin melihat dari ujung mata kiri Kwangmin mengalir air mata darah. Dan wajah adiknya itu sudah kelihatan putus asa.
Youngmin mengerjapkan matanya dan kali ini yang tampak adalah Kwangmin yang tersenyum padanya. Tak ada air mata darah dari mata kiri ataupun wajah putus asa seperti yang tadi sudah dilihat Youngmin. Apakah Youngmin tadi berhalusinasi??? Tadi itu jelas dia tidak salah lihat… tapi Kwangmin sekarang di hadapannya… terlihat biasa. Tidak ada air mata darah.
“Eh hyung…” sapa Kwangmin dengan senyum ceria. Dilihatnya Youngmin yang masih tampak beku dan berwajah pucat itu. “Kenapa? Something wrong about me?”
Youngmin terkesiap. “Kwa-Kwangmin……”
“Ahahaha… kenapa, hyung?” tanya Kwangmin menunjukkan wajahnya yang lebih ceria, menutupi segalanya dengan sempurna. “Ah~” Kwangmin seolah teringat sesuatu, “Lebih baik kau ke tempat pacarmu sekarang… Aku rasa dia sangat membutuhkanmu.”
Alis Youngmin berkerut. “Narmi??”
Pertanyaan Youngmin itu terpotong, ponselnya tiba-tiba berdering. Panggilan masuk dari Narmi. Youngmin pun langsung menjawabnya. “Ne, Narmi-ah?”
Yang terdengar hanyalah suara isak tangis dari seberang. Narmi tidak sanggup mengatakan apa-apa. Dia terus menangis. Tangisannya begitu memedihkan didengar Youngmin. Seperti sebuah ratapan.
“Narmi? Narmi?” tanya Youngmin mendadak cemas luar biasa.
“Huhuhu.. hik hik… huhuhu……” isak Narmi, “Youngmin…… a-aku… tidak mau kehilanganmu…”
“Narmi??” tanya Youngmin cemas dan tak mengerti.
“Narmi?!!!” seru Youngmin.
Kwangmin memandang hyungnya nanar. “Pergilah… Kau harus ke rumahnya.”
Youngmin menatap Kwangmin dalam-dalam. Sekarang bagaimana ini? Dia serba salah. Di sisi lain hatinya terus menyuruh supaya dia tetap stay di ruangan ini bersama Kwangmin. Tapi Narmi…
“Hyung…”
Setengah stres, akhirnya Youngmin berkata pada Kwangmin, “Aku akan ke tempatnya sekarang. Kau tetap di sinilah, jangan kemana-mana. A-aku akan segera kembali…”
Youngmin menatap mata Kwangmin lekat-lekat sebelum akhirnya dia berbalik pergi dan berlari secepat yang ia bisa menuju rumah Narmi.
Kwangmin memandang kepergian Youngmin dengan perih. Ia membungkuk dan langsung menangis terisak-isak.
Nafas Youngmin menderu dengan cepat. Ia berlari melewati blok demi blok menuju rumah Narmi. Dia takut, sangat takut dengan apa yang menimpa wanita itu… dengan apa yang akan dia hadapi selanjutnya… Apakah dirinya akan kuat saat melihat kondisi Narmi sekarang?
Youngmin mendorong pintu rumah Narmi dan melihat perempuan yang ia cintai terkapar di lantai sambil menangis kesakitan. Youngmin langsung menangis dan mendekati Narmi. Ia memeluk Narmi yang terus saja menangis. Wajah Narmi begitu pucat dan darah sudah mengotori baju Narmi, darah yang terus mengalir dari hidung perempuan itu.
“Narmi… hik Narmi…” isak Youngmin memeluk tubuh kekasihnya itu di lantai, berharap dia bisa mentransferkan setengah hidupnya pada Narmi.
“Huaaa… A… a…” Narmi terus memejamkan mata. Tangannya sudah tak dapat digerakkan lagi. Sudah mati rasa. “Ayah… Ayah…”
Youngmin menangis semakin keras. Ia mengelus-elus kepala wanita itu. “Tenang.. tenang ya.. Aku ada di sini… Aku akan menemanimu…”
“Huaaa…” isak Narmi lagi. Rasa sakit makin menyelimutinya.
Sementara itu Kwangmin menangis di kamar si kembar. Tangannya bergetar hebat saat memegang kapsul hitam yang baru ia keluarkan dari kotak bening. Sejujurnya dia sangat ketakutan. Saat dia menelan kapsul hitam—seperti yang dikatakan Yesung—dirinya akan musnah dan lenyap dari muka bumi ini, bahkan semua kenangan mengenai dirinya akan dihapuskan dan dia akan dianggap tidak pernah dilahirkan.
Di luar cuaca tiba-tiba mendung, sayup-sayup terdengar petir. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun padahal sekarang ini seharusnya musim panas. Apa bahkan bumi pun bereaksi karna air mata malaikat ini?
“Hik.. hik…” isak Kwangmin dan tubuhnya makin gemetaran. Ketakutan yang paling mengerikan dalam hidupnya kini menerjangnya.
Kwangmin menutup matanya erat-erat. Dia tidak mau egois, dia tidak mau mengambil keuntungan dari nyawa manusia… Dia tidak mau membuat dunia manusia mengalami ketidakseimbangan… Dia tidak akan tega membiarkan Narmi meninggal sementara ayahnya masih dirawat di panti jompo… Dia tidak akan tega melihat Youngmin sedih dan kehilangan cinta pertama…
Dia tidak mau egois!!! Sekalipun Andrew terus mengatakan kalau semua ini takdir ataupun peluang 1 %, Kwangmin masih memiliki hati nurani. Dia tidak akan sanggup melihat kematian Narmi. Lagipula wanita itu sudah terlalu menderita.
“Youngmin… maaf… aku tak bisa memegang kata-kataku untuk selalu bersamamu…” isaknya parau.
Kwangmin memejamkan matanya makin erat, air matanya mengalir deras. Dengan tangan gemetar, ia pun memasukkan kapsul hitam itu ke dalam mulutnya. Kwangmin menelan kapsul hitam itu. Seketika tubuhnya seperti dibakar dan diserang sesuatu. Panas membara seolah membakar tubuhnya sekarang walau tak ada api sama sekali.
“KYAAAA~~~!!” pekiknya beberapa saat kemudian.