
Hujan turun rintik-rintik. Beomgyu masih berjalan luntang lantung dan sedih. Kenapa dia masih saja seperti ini?
Narmi…… wanita itu… lugu dan tak tau apa-apa… mencintai hyungnya dengan murni… namun akan menghadapi konsekuensi yang pahit… Mati akibat cinta hyungnya sendiri.. yang kemudian akan menghidupkan Kwangmin menjadi manusia, kembali ke masa 2 tahun silam, sebelum dirinya meninggal akibat kecelakaan.
Air mata Beomgyu mengalir. Udara di sekitarnya menjadi sangat dingin akibat air matanya itu. Tumbuhan-tumbuhan pun mendadak layu dan keriput.
Sejujurnya Beomgyu tidak rela… karna dia sudah terlanjur memendam perasaan pada Narmi. Dia sudah terlanjur jatuh cinta pada manusia itu! Bagaimana ini…? Dan sekarang Narmi adalah kekasih saudara kembarnya sendiri.
“Apakah seorang malaikat juga bisa kehujanan?”
Beomgyu menoleh terkejut. Dilihatnya tau-tau Narmi sudah ada di sebelahnya dan memayunginya dengan payung. Perempuan itu tersenyum manis meneduhkan hati Beomgyu yang sedih dan merana.
“Kenapa???” tanya Beomgyu campur isak tangis.
“Hem?” Narmi mengernyit tak mengerti. “Tadi aku melihatmu kehujanan dari kejauhan… jadi aku langsung datang ke sini. Walau aku tau malaikat tak mungkin bisa sakit, keke…”
Beomgyu menggigit bibirnya. Maksud pertanyaannya tadi ialah mengapa Narmi harus datang di saat seperti ini? Di saat hatinya sedang kacau dan kebingungan.
Beongyu langsung memeluk Narmi membuat payung yang dipegang Narmi terlepas begitu saja. Ia memeluk wanita itu dengan kencang dan menangis di bahunya.
Narmi hanya tercengang. Ada apa dengan malaikat ini? Dia tak pernah menyangka kalau malaikat juga bisa menangis. Dan tangisan Beomgyu kenapa begitu menyedihkan di bahunya? Apakah malaikat ini baru mengalami hal yang menyedihkan?
Kwangmin—malaikat itu—menangis tersedu-sedu. “Maaf…” isaknya, “Aku sungguh-sungguh minta maaf……”
Bagaimanapun sudah tak dapat diapa-apakan lagi. Mungkin adalah takdir kalau nantinya Narmi akan meninggal. Kwangmin mengucapkan maaf dengan sungguh-sungguh… sekalipun dia ini menyayangi Narmi…
Narmi sebetulnya tidak mengerti apa-apa. Dia hanya menepuk-nepuk punggung Kwangmin, menenangkan pria itu supaya tidak menangis lagi.
Sementara hujan pun terus turun… seolah ikut menangis bersama-sama dengan Kwangmin……
Kwangmin menatap saudara kembarnya yang sedang begitu bahagia memandangi fotonya bersama dengan Narmi. Foto itu adalah foto yang diambil panitia saat Party School. Di foto itu Youngmin memegang bahu Narmi. Saat kejadian itu keduanya memang belum saling menyukai. Keduanya sebenarnya terpaksa difoto karna disangka couple saat masuk ke dalam aula sekolah.
Youngmin tersenyum. “Kami cocok kan?” tanyanya pada Kwangmin.
Kwangmin hanya mengangguk lemah. Apakah salah kalau sekarang dia sangat iri pada saudara kembarnya? Youngmin adalah manusia, masih hidup.. tidak seperti dirinya yang adalah malaikat dan bukan manusia lagi. Youngmin kini sedang bahagia-bahagianya mengalami cinta pertama. Kwangmin sebetulnya iri. Dia juga ingin kembali menjadi manusia. Dan dia juga menyukai Narmi.
“Kau semakin mencintainya, ya?” tanya Kwangmin.
Youngmin mengangguk. “Aku ingin selalu bersamanya… melihat senyum dan tawanya… dan aku juga ingin selalu menjaganya…”
Kwangmin meringis. Bahkan Youngmin sudah memiliki perasaan sedalam itu terhadap Narmi?! 'Bagaimana ini?'
“Hari-hariku sudah tidak sesunyi dulu lagi, Kwang…” lanjut Youngmin, “Kini hariku penuh dengan senyum dan kebahagiaan.”
Entah kenapa hati Kwangmin terluka mendengarnya. Apa ini artinya Youngmin sudah memiliki semangat hidup lagi? Dan kalaupun Kwangmin akan meninggalkan Youngmin selamanya, sudah ada Narmi kan yang akan menggantikan posisi Kwangmin dan memberikan Youngmin semangat hidup lagi..?
Kwangmin mengepalkan tangannya. Tidak. Tentu saja Youngmin tetap membutuhkannya kan? Dan Kwangmin sendiri sudah berjanji bahwa dia akan menjadi manusia. Lagipula… peluang 1% itu sudah ada di tangannya.
Kwangmin memandang Youngmin. “Cintamu begitu dalam pada wanita itu, Youngmin…”
Youngmin menoleh dan tertawa pelan. “Hahaha.. aku jadi malu.”
Kwangmin tersenyum tipis. “Tapi tidakkah kau pernah mendengar sebuah paradoks bahwa cinta juga bisa membunuh seseorang?”
Youngmin mengernyit tak paham. “Apa??”
“Tidak… tidak…” sahut Kwangmin cepat, “Itu hanyalah ungkapan berlebihan saja.” Padahal maksud ucapannya barusan adalah bahwa semakin Youngmin mencintai Narmi maka ajal semakin pula mendekati perempuan itu. Cinta—ya cintalah yang akan membunuh Narmi dan dengan cinta itu pula Kwangmin akan dihidupkan kembali menjadi manusia.