LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Perebutan Singgasana



Bara melihat Langit dengan posisi telentang dan Kinan berada di atasnya. Pemandangan yang benar-benar tidak seharusnya dia lihat.


"Maaf aku telah mengganggu acara penting kalian!" Ucap Bara, tertunduk malu.


Kinan segera turun dari tubuh suaminya.


"Apa yang kamu lakukan di kamarku?" Ucap Langit yang kini sudah dalam posisi duduk di tepi ranjangnya.


"Aku melihat pintu kamar terbuka dan mendengar Kakak seperti sedang membentak Kak Kinan, tadinya kupikir ada yang tidak beres dengan hubungan kalian. Tapi sepertinya aku salah." Bara seperti menyesali perbuatannya yang telah salah berpikir.


"Silahkan lanjutkan pertempuran kalian, aku harus mencuci mataku, karena telah tercemar melihat kelakuan kalian tadi." Bara keluar dari kamar mereka, dengan menutup pintu kamarnya dengan keras.


"Sepertinya kita harus segera keluar dari rumah ini. Sandiwara kita akan cepat terbongkar karena ulahmu." Ucap Langit dengan sinis ke arah Kinan yang sekarang sudah merebahkan tubuhnya di kasur.


"Bukankah aku yang sudah menolongmu? Jika saja Bara tidak melihat posisiku yang berada di atasmu mungkin dia dengan cepat mencium sandiwara ini. Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku." Kinan mematahkan tuduhan Langit.


Mereka berniat tinggal di rumah orang tua Langit selama satu minggu, tapi sepertinya Langit tidak akan sanggup jika mereka harus menunggu selama itu. Sudah tiga malam dia tidak bisa tidur, karena lagi dan lagi Kinan menguasai ranjangnya.


Ketika makan malam, Langit mengungkapkan niatnya untuk segera pindah ke apartemen miliknya.


"Sepertinya besok aku dan Kinan akan mulai tinggal di apartemen." Ucap Langit di sela-sela makan malam mereka.


"Bukankah kau berjanji akan tinggal disini selama satu minggu?" Ucap Nenek.


Semua orang yang berada di meja makan pun terkejut mendengar ucapan Langit, begitu pun Kinan yang tidak diajak kompromi masalah ini.


"Aku masih betah disini Sayang." Kinan melingkarkan tangannya di pinggang Langit. Karena dia tahu apa yang akan dilakukan Langit kepadanya setelah mereka sampai ke apartemen.


Ya, dia akan membalas dendam atas perilaku Kinan selama ini.


"Aku hanya ingin berdua denganmu saja, tanpa ada yang mengganggu." Langit membalas ucapan Kinan dengan lembut dan melirikan matanya ke arah Bara.


"Maaf Kak, aku tidak akan mengulanginya lagi." Bara menunduk malu. "Itu Pun bukan kesalahanku sepenuhnya, salah kalian tidak mengunci pintu kamar kalian." Bara berusaha membela diri.


"Apa sih yang kalian bicarakan?" Bunda masih tidak mengerti.


"Aku tanpa sengaja mendengar perbincangan Kakak dan Kak Kinan, dia bicara dengan nada kesal kepada Kak Kinan sambil mengucapkan 'Kau lupa siapa dirimu? Kau budakku' Kakak mengatakan itu dengan nada tinggi, hingga aku masuk ke kamarnya yang memang sedikit terbuka untuk meminta penjelasan Kakak. Tapi…" Bara menggantung ucapannya.


"Tapi apa?" Tanya Nenek.


"Tapi aku melihat adegan yang tak seharusnya aku lihat. Aku melihat Kak Kinan sedang menguasai Kakak." Jawabnya polos.


Jawaban Bara membuat semua orang tertawa mendengarnya dengan berbagai macam spekulasi di otak mereka masing-masing, kecuali pasangan pengantin baru itu.


"Harusnya Kakak tidak boleh bilang begitu kepada Kak Kinan. Kalau Kakak yang ingin mengusainya kenapa Kakak tidak merayu dia!" Lanjut Bara, kali ini ucapannya ditujukan langsung kepada Langit.


"Karena dia tidak mempan dirayu." Jawab Langit santai.


"Bara sudah janji tidak akan mengganggu kita lagi. Jadi kita tidak perlu pindah sekarang ya." Kinan kembali memohon.


"Tapi aku takut anak itu masih ingin tahu dan mengulangi perbuatannya, bahkan mungkin saja dia akan melihat yang lebih dari yang dia lihat kemarin." 


Aku tidak akan mengalah lagi kepada mu wanita gila. Langit tersenyum iblis.


Kinan dan Langit sudah berada di depan pintu apartemen Langit, tapi kakinya enggan untuk melangkah dia sudah membayangkan apa yang akan Langit lakukan kepadanya setelah selama beberapa hari lalu dia sudah sangat membuatnya kesal.


"Bisakah aku tetap di rumah orang tuanya saja?" Pertanyaan konyol itu keluar dari seorang gadis cerdas yang terlihat ketakutan di depan pintu apartemen Langit yang telah terbuka lebar.


"Bukankah kau bilang bahwa kau istriku Sayang?" Goda Langit, sambil menarik tangan Kinan yang masih berpegangan pada tiang pintu.


"Mamaaaa,,,tolong akuuuu."


Ini bukan pertama kali Kinan memasuki apartemen mewah milik Langit, tapi aura mencekam masih ia rasakan, bahkan sekarang auranya semakin mengerikan. Tapi ia tidak menunjukkan ketakutannya kepada Langit.


"Dimana kamarku?" Tanya Kinan.


Langit menunjuk pintu berwarna coklat tua dengan matanya.


Bukankah itu kamarnya? 


Tapi dia pura-pura tidak terkejut dan masuk ke dalam kamar yang Langit tunjukan beserta koper kecil yang berisi beberapa pakaiannya.


Waaaahhh, apa benar ini adalah kamar tidur?


Luas sekali, bahkan ini lebih mewah daripada suite room hotel.


Dilihatnya ranjang ukuran besar buatan Amerika yang berada di tengah kamar tidur itu. Kinan sangat antusias dan segera merebahkan tubuhnya di kasur ratusan juta yang hanya dimiliki kalangan tertentu.


"Nyaman sekali, ini akan membuatku mimpi indah setiap malam." Kinan bicara pada dirinya sendiri. Dia berguling-guling kesana kemari, seperti anak kecil.


Tanpa dia sadari Langit sedang memperhatikannya, dan entah sejak kapan dia masuk ke dalam kamar.


"Apa yang kau lakukan di kasurku?" Bentak Langit.


Tapi Kinan seolah tidak memperdulikan perkataan suaminya itu.


"Turun dari kasurku!" Ucap Langit dengan nada tinggi, sambil menarik kaki Kinan.


"Bukankah kamu bilang ini kamarku? Harusnya aku yang tanya apa yang kamu lakukan di kamarku?" Kinan balik bertanya.


"Ini memang kamarmu dan kamarku juga." Ucap Langit dengan nada menggoda, membuat Kinan menyilangkan kedua tangannya.


"Tapi ini ranjangku dan itu tempat tidurmu!" Lanjut Langit, menunjukkan sofa bed berwarna coklat di sudut ruangan itu.


"Aku tidak mau. Aku tidak pernah tidur di sofa. Aku harus mendapatkan tidur yang berkualitas setelah lelah pulang kerja." Kinan kembali merebahkan tubuhnya.


"Kau boleh tidur di sini, asalkan…" Langit tersenyum mesum ke arah Kinan.


"Asalkan apa?" Kinan bertanya tanpa mengerti maksud dari senyuman suaminya.


"Asal kau mau melayani ku seperti layaknya seorang istri." Jawab Langit dengan tatapan menggoda.


Mendengar godaan suaminya, Kinan langsung bangkit dan berlari ke sofa yang akan menjadi tempat tidurnya selama 2 tahun ke depan.


Langit terbahak-bahak melihat tingkah Kinan, dia seperti seorang yang telah memenangkan sebuah pertarungan.


Sedangkan Kinan sedang memutar otaknya untuk bisa merebut singgasana Langit.