LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Mabuk



"LANGIIIIIT!" Suara teriakan Kinan membuat Langit bangun dari tidurnya, secepat kilat dia masuk ke kamarnya. Karena semalam dia memilih tidur di ruang TV.


"Ada apa?" Dia terlihat khawatir ketika menghampiri istrinya.


"Lu ngapainin gue semalem?" Suara Kinan masih setinggi tadi.


"Kau pikir apa yang akan aku lakukan pada wanita gila sepertimu? Bisa-bisanya kau membuat onar di klub dan mempermalukanku." Jawab Langit sinis.


Kinan memutar otaknya, mengingat kembali memori yang tertinggal di otaknya. Tapi sayangnya dia tidak ingat apa-apa.


"Kau mabuk, memelukku, dan menciumiku di klub!" Langit berbicara dengan nada mengejek.


"Dasar pembuat onar!" Lanjutnya masih dengan sinis.


Kinan kembali mengingat-ingat memori yang Langit ceritakan, dan lagi-lagi dia tidak ingat semua kejadian yang Langit sebutkan tadi.


"Aku tidak ingat minum minuman beralkohol, hal yang terakhir aku ingat, aku sedang mengobrol bersama Bara dan itu pun aku hanya memesan segelas soda." Ingatan Kinan memang hanya sebatas itu.


Langit masih memandang sinis kepadanya. Masih tidak percaya dia melupakan kejadian memalukan itu semalam.


"Lalu kenapa kau menelanjangiku?" Teriak Kinan dan melemparkan bantal ke arah suaminya.


Yang Kinan maksud menelanjangi adalah dia terkejut melihat kondisinya yang hanya mengenakan tanktop dan celana dalam, selebihnya tak ada yang menempel di tubuhnya.


"Aku tak mau ranjangku bau muntahan mu!" Jawab Langit, menunjukkan setelan kantornya yang teronggok di sudut kamar. Kemudian pergi meninggalkannya keluar kamar.


*


Pagi berganti siang cahaya mentari semakin terasa menusuk-nusuk kepala Kinan yang habis mabuk semalam. Ini pertama kalinya dia meminum minuman yang mengandung alkohol, dan hal itu membuat kepalanya sangat pusing.


"Langiiiit." Kinan merengek kepada suaminya yang tengah menonton acara TV.


"Hmmm?"


"Kepalaku pusing, perutku mual." Rengeknya lagi.


"Lalu?" 


"Bantu aku mengobatinya Bodoh!" Bentaknya karena kesal dengan respon suaminya yang terlihat masa bodoh.


Langit bangkit tanpa melihat istrinya yang duduk di sampingnya, dia mengambil sebotol madu dan segelas air hangat untuk Kinan.


"Minum ini." Ucapnya masih dengan nada datar dan tanpa melihat Kinan.


"Haruskah aku campur madu ini dengan air ,atau aku hanya meminumnya dengan sendok?" Bentak Kinan lagi, yang masih memegangi kepalanya.


Langit menuangkan beberapa sendok madu ke dalam gelas air hangat untuk Kinan minum. Wajahnya terlihat sangat kesal saat melakukannya.


Gadis sinting ini benar-benar tidak mengingatnya.


Flashback On


"Kak lihat suamimu, dia sedang merokok disana. Aku sudah bosan melarangnya untuk berhenti merokok." Ucap Bara pada Kinan yang sudah mulai terlihat mabuk karena minuman pesannya yang dicampur banyak alkohol oleh Bara.


"Biar aku yang urus. Dasar anak nakal!" Kinan terlihat kesal dan berjalan menuju meja Langit.


"Merokok itu tidak baik untuk kesehatanmu Sayang. Itu bisa membuatmu kalah dariku di ranjang. Bersiaplah aku akan menetralkan racunnya dari tubuhmu." Kinan menangkup wajah Langit lalu mengecupnya.


"Bibirmu manis. Aku suka." Dan lagi-lagi dia mengecupnya.


"Aku akan mulai membersihkan racunnya dari tubuhmu Sayang." Kali ini Kinan tidak hanya mengecupnya tapi dia m****** habis bibir suaminya. Sehingga membuat semua orang terkejut dengan tingkahnya. Kecuali Bara dan David yang terlihat sangat menikmati kekacauan yang Kinan perbuat.


Bahkan Fadli hampir pingsan melihat tingkah Kinan, dia berusaha menjauhkan Kinan dari pangkuan Langit, tapi Bara dan David menghentikannya.


Para teman-teman Kinan pun menjadi salah tingkah dengan kelakuan Kinan, karena tidak ada diantara mereka yang tahu bahwa mereka adalah pasangan suami istri.


Setelah puas menikmati bibir suaminya, Kinan dengan santainya tidur dipelukan Langit yang masih belum bisa menerima semua perlakuan yang Kinan lakukan kepadanya.


"Aku suka wangi tubuhmu." Bisiknya di telinga Langit, membuat Langit merinding.


Membawa Kinan pulang bukan perkara mudah, dia harus berdebat dengan Fadli yang tidak merelakan Kinan pulang bersama Langit, dia khawatir Langit akan bertindak yang tidak-tidak kepada wanita yang dicintainya itu.


Tapi kekuasaan Langit atas Kinan lebih tinggi dibanding Fadli, bagaimanapun Langit adalah suami sahnya Kinan. Dan mau tak mau Fadli harus merelakan Kinan pulang bersama Langit, yang terlihat sangat nyaman tidur di pelukan suaminya, hal itu membuat Fadli sangat cemburu.


Bara, David dan beberapa pegawai Klub harus direpotkan dan harus memberikan klarifikasi kepada pengunjung, dan memeriksa handphone para pengunjung satu persatu, waspada jika diantara mereka ada yang mengambil foto atau video Kinan dan Langit.


Sedangkan si pembuat onar, telah terlelap tidur dipelukan sang suami. Dia mengalungkan tangannya posesif, sambil membenamkan wajahnya di tengkuk Langit.


Dalam perjalanan pulang Kinan kembali berbuat ulah, dia mengotori mobil kebanggaan Langit karena muntah. 


Hingga Langit harus melepaskan pakaian kerjanya yang dia pakai dan hanya menyisakan pakaian dalamnya yang terlihat sangat menggoda jiwa lelaki Langit malam itu.


Hampir saja Langit hilang akal dan menerkam Kinan ketika dia harus melepaskan pakaian istrinya. Sebabnya dia memilih tidur di ruang tengah dari pada harus tersiksa tidur dengan istri yang setengah telanjang.


Flashback off


"Langiiiit." Kinan kembali merengek.


"Apa lagi?" Kali ini suara Langit mulai meninggi, dia sudah sangat kesal dengan tingkah laku istrinya.


"Aku lapar. Tapi juga sangat pusing."


Dia mengepalkan tangannya, merapatkan giginya menahan kemarahannya. Ingin sekali Langit memasukan Kinan ke dalam keranjang sampah, saking kesalnya.


"Bar, bawakan makanan untuk Kakak Ipar mu tercinta kesini secepatnya!" Langit berkata dengan penuh penekanan ketika menelpon adiknya.


Dilihatnya Kinan masih menekan-nekan kepalanya sambil memejamkan matanya di sofa ruang TV, dia menjadi sedikit khawatir melihat apa yang Kinan rasakan saat ini. Lalu menghampiri wanita yang hampir merobohkan pertahanannya semalam.


"Apa sesakit itu?" Ucap Langit khawatir.


"Iya, aku seperti sedang mabuk laut." Rengeknya lagi.


"Sepertinya aku salah menimum gelas milik orang lain semalam." Kinan tidak tahu bahwa itu adalah ulah adik iparnya.


**


Bara datang ke apartemen Langit sekitar satu jam kemudian, seperti biasanya dia masuk ke apartemen Langit tanpa memencet bel. Dia masuk begitu saja seperti masuk ke dalam rumahnya sendiri.


Pemandangan yang sangat mengejutkan hingga membuat Bara menutup mulutnya untuk tidak berteriak. Kinan tidur dipangkuan Langit melingkarkan tangannya di perut seksi suaminya, dan Langit merebahkan tubuhnya di sandaran sofa sedangkan tangannya masih menempel di kepala istrinya.