LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Sekretaris Baru



Kinan memulai hari dengan senyum mengembang yang membuat Langit ikut tersenyum melihatnya.


" Selamat pagi suamiku." Sapa Kinan sambil mengoleskan selai ke roti yang akan di makannya.


Langit tak menimpali, dia sedang fokus dengan laporan yang sedang diberikan David tentang kondisi hotelnya yang menurun.


David hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kinan yang terus bersenandung riang, entah lagu apa yang dia senandungkan David tak pernah mendengarnya.


"Ada apa dengan Nona Tuan? Aku merinding melihatnya." David memberanikan diri bertanya pada Tuannya yang sepertinya tidak terganggu dengan suara senandung istrinya yang memekakkan telinga.


"Jangan pedulikan dia! Mungkin dia terlalu senang bisa menggangguku di kantor nanti." Ucap Langit yang tengah sibuk membaca neraca keuangan di laptopnya.


"Harusnya aku yang bertanya bagaimana bisa dia menjadi sekretarisku? Apa yang kau dan Bara iming-imingi pada dia hingga wanita lulusan Columbia university itu mau hanya menjabat posisi itu?" Tanya Langit datar


Tapi bagi David pertanyaan Langit seperti sebuah ancaman bagi David.


📔Flashback On📔


"Kau sebenarnya mau mendekatkan mereka apa mau menjauhkan mereka?" Bentak Bara yang terlihat sangat kesal kepada David.


Bara sangat terkejut mendengar Kinan akan di tempatkan di posisi Kepala Staf keuangan.


"Bukankah divisi keuangan selalu melaporkan laporannya kepadamu? Apa jangan-jangan kau yang ingin lebih dekat dengan istri Kakakku?"


David mendesah. Spekulasi Bara membuat David geram. Bagaimana dia bisa berpikiran hal yang bahkan memikirkannya saja membuatnya merinding.


"Karena saya pikir posisi itu yang cocok untuk Nona, dia sudah sangat ahli di bidangnya. Jadi…"


Bara menggebrak meja, dia benar-benar sangat kesal dengan manusia di hadapannya.


"Jadikan dia sekretaris Kakakku. Kita mempekerjakannya bukan untuk menyuruhnya sibuk bekerja, tapi untuk mendekatkan mereka."


"Tapi apa Nona Kinan mau hanya dipekerjakan sebagai sekretaris? Sedangkan kita semua tahu dia adalah mantan Kepala Cabang Bank." David khawatir.


"Aku yang urus!"


Tanpa sepengetahuan Kakaknya Bara menemui Kinan dan menawarkan posisi sekretaris dengan gaji yang dua kali lipat lebih besar dibandingkan ketika dia menjabat sebagai Kepala Cabang Bank.


Awalnya Kinan tidak percaya tapi setelah Bara merayu dan meyakinkannya barulah Kinan menyanggupinya.


📔Flashback off📔


"Sekretarisku! Ambilkan sepatu dan tas kantorku. Cepat!" Langit memulai aksinya untuk membuat Kinan kesal.


"Tunggu, aku sedang memakai eyeliner dulu!" Balas Kinan dari dalam kamar.


"Dengar olehmu apa jawabannya? Mana ada sekretaris yang membuat atasannya menunggu dengan alasan sedang memakai eyeliner?" Langit menyindir David yang kini hanya tertunduk.


"Kau mau berperan sebagai apa hari ini? Sebagai istri atau sebagai sekretaris?" Langit kembali meneriaki istrinya.


"Sabar Bodoh!" Balas Kinan ketus.


Langit kembali menatap sinis ke arah David saat mendengar jawaban istrinya.


"Sekretaris mana yang memanggil atasannya 'Bodoh'?"


Lagi-lagi pertanyaan Langit membuat David semakin terpojok.


Kenapa gadis itu tidak punya rasa takut sama sekali kepada suaminya?


Lipstik merah menyala membuatnya terlihat energik, aura cerdasnya terpancar dibalik setelan kerja yang membuat Langit terpesona.


Langit mengalihkan pandangannya dari Kinan agar menghilangkan rasa canggungnya. 


Kini Kinan sedang berperan sebagai istri yang baik, dipakaikannya sepatu suaminya, kemudian memasangkan jas yang terlihat sangat pas di tubuh atletis suaminya, dan membenarkan letak dasi yang sedikit miring.


"Elus rambutku Bodoh!" Pinta Kinan yang sudah kembali ke wujudnya semula.


Dengan terpaksa Langit mengelus rambut panjang istrinya, tapi sedikit menarik ujungnya.


"Keluar dari pintu ini kau adalah sekretarisku!" Ancam Langit, dan melepaskan rambut istrinya yang tadi dia tarik.


"Baiklah Sayang, jadi kau bisa memerankan peran sebagai Presdir yang jatuh cinta pada sekretarisnya, seperti drama Korea yang pernah aku tonton." Kinan berlalu kembali bersenandung riang meninggalkan Langit yang terlihat geram melihat tingkah Kinan.


"Lihat! Orang macam dia akan kau jadikan sekretarisku? Sebenarnya apa yang ada di otak kalian? Aku terlebih dulu terkena serangan jantung sebelum dia jatuh cinta padaku." Dia terus berbicara pada David yang kini hanya membisu.


Dia melihat Kinan pergi dengan wajah kesal dan hati berbinar-binar, membayangkan si cerewet itu akan menghiasi hari-harinya di kantor sepanjang hari, membuat dia semangat untuk terus membuat kesal istrinya.


*


Kinan berjalan dengan santai di lobi kantor suaminya dengan hati bergejolak semangat. Dia seperti dihidupkan kembali dari koma selama berhari-hari jadi pengangguran, hidupnya kini kembali bergairah. Tanda pengenal karyawan telah tergantung di lehernya membuatnya bangga. Tak ada yang lebih menggairahkan selain bekerja di kantor.


Dilihatnya Bara yang telah datang beberapa langkah lebih awal darinya.


"Hai Bar!" Sapa Kinan dan berlari menyamai langkahnya dan berjalan bergandengan menuju lift, membuat para karyawan wanita cemburu melihat keakraban mereka.


"Itu sekretaris Pak Langit yang baru?"


"Iya, kayaknya dia masuk sini juga lewat jalur nepotisme." Jawab yang lainnya.


"Cantik." Jawab seorang karyawan pria yang terlihat tertarik dengan Kinan, dibalas cibiran dari yang lain.


**


Langit datang tiga puluh menit setelah Kinan datang, dilihatnya istrinya sedang tertawa renyah dengan adiknya. Entah apa yang mereka bicarakan Langit pura-pura tidak peduli. Bahkan dia seolah tidak melihat Kinan dan Bara, dia jalan lurus bersama David yang mengekori dua langkah dibelakangnya.


Tak seperti Langit, David menyunggingkan senyum ke arah Kinan, dengan sedikit membungkuk.


"Pagi Pak!" Sapa Kinan. 


Tapi Langit tidak bergeming, bahkan melirik pun tidak, dia berubah menjadi atasan yang dingin dan berwibawa.


"Dia tidak akan pernah menyapa bawahnya." Ucap Bara dan meminta Izin kepada Kinan untuk ke ruangannya yang berbeda satu lantai.


"Nanti aku jemput makan siang." Lanjutnya, dan berlalu meninggalkan Kinan.


Sepeninggal Bara, Kinan mulai memperkenalkan dirinya kepada karyawan lain yang satu ruangan dengannya, hanya dibatasi oleh sekat antar bilik.


"Kamu pacarnya Pak Bara?" Tanya seorang wanita cantik tapi memiliki raut wajah jutek.


"Bukan, dia adalah adik…" Kinan hampir keceplosan mengatakan jika Bara itu adik iparnya. "Maksudnya dia teman adik saya." Kinan tersenyum ramah, jawaban Kinan membuat semua karyawan wanita tersenyum lega.


"Selamat bergabung! Aku Natan." Sapa seorang pria yang berada di samping biliknya, pria hitam manis itu tersenyum ramah kepada Kinan.


"Aku Kinan. Salam kenal." Kinan tersenyum manis kepada pria yang menjadi tetangga di biliknya.