
Orang tua mana yang tidak kaget jika anak gadisnya dilamar seorang pria secara tiba-tiba, apalagi yang melamarnya adalah seorang milyuner terpandang seperti Langit.
Itulah yang sekarang dirasakan oleh kedua orang tua Kinan, yang tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, Kinan membawa seorang Presdir ternama di negeri ini dan melamarnya hari itu juga.
Kedatangan Langit yang tiba-tiba saja sudah menjadi kejutan besar, ditambah laki-laki tampan dan mapan itu melamar anak mereka, siapa yang bisa menolak?
Tapi tak urung kejadian itu menjadi tanda tanya besar untuk Sang Papa.
"Apa kamu hamil Kin?" Tanya Papa dengan wajah penuh tanya.
"Apa aku harus menghamilinya dahulu, baru kalian menikahkan kami?" Ucap Langit, tanpa beban sedikitpun menjawab pertanyaan Sang calon mertua.
"Maksud Papa kenapa tiba-tiba? Bahkan sebelumnya kamu belum pernah mengenalkannya kepada kami."
"Aku takut aku akan berubah pikiran jika terlalu lama menunggu. Bahkan jika memungkinkan aku ingin dinikahkan sekarang juga."
"APAAA???" Tanya semua orang yang ada di ruangan tamu itu, termasuk Kinan dan David yang ikut berada di situ. Karena itu tidak ada dalam skrip yang mereka hapalkan di apartemen Langit beberapa waktu lalu.
"Maaf, tapi setidaknya kamu bisa memberi waktu kami untuk berfikir." Ucap Papa. Karena bagaimanapun Kinan adalah putri mereka, dia tidak ingin anaknya menikah dengan pria sembarangan.
Tapi sepertinya tak ada alasan untuk keluarga Kinan menolak Langit. Apa yang kurang dari pria di hadapan mereka saat ini, ketampanan, kemapanan semua dia miliki.
"Apa kamu mencintainya?" Papa kembali bertanya, tapi kali ini ditujukan kepada putrinya.
"Ya. Aku yakin." Jawab Kinan walaupun tak terlalu bersemangat.
Mencintainya?
Bagaimana bisa aku mencintai orang jahat seperti dia?
Sesuai kesepakatan mereka, akhirnya acara pernikahan Kinan dan Langit akan diadakan bulan depan.
Langit meminta keluarga untuk tidak menggembar-gemborkan acara pernikahan mereka, yang akan dilaksanakan di rumah keluarga Langit. Atau kasarnya, Langit meminta keluarga Kinan menutupi pernikahan mereka. Tanpa memberi alasan apapun kepada Kinan atau pun keluarganya.
•
•
•
"Dek, jadi beneran lu selama ini punya hubungan sama Dia?" Tanya Bagas yang masih tidak percaya dia akan memiliki adik Ipar seorang milyuner.
"Hmmm" Jawab Kinan malas, ditambah dia sedang melakukan perawatan wajah oleh terapis yang dikirim keluarga Langit.
"Bukannya dulu lo bilang, kalo sampe lo mati, dia orang yang harus gue salahin?" Bagas mengingatkan cerita Kinan ketika dirinya ingin meminjam uang kepadanya.
"Itu masih berlaku sampe seterusnya." Jawab Kinan.
"Lu kalo ngomong jangan sepotong-sepotong gitu napa Dek! Gue jadi harus mikir kan jadinya."
Belum sampai Kinan menjawab Sang terapis menyuruhnya untuk jangan bicara dulu, karena akan dilakukan perawatan laser.
Bagas meninggalkan Kinan dengan beribu pertanyaan dihatinya.
Sementara itu Fadli yang baru mengetahui kabar pernikahan Kinan begitu terkejut. Saat itu dia menghubungi Kinan di Bandara, selepas ia berkunjung dari rumah salah seorang anggota kerabatnya di Belanda.
"Becandaan kamu makin ekstrim." Jawab Fadli ketika Kinan memberitahukan kabar itu.
"Gue ga becanda Fad, kita ketemuan aja deh di Kafe biasa. Ntar gue ceritain semuanya."
Ketegangan terlihat jelas di wajah Fadli saat dia menunggu kedatangan Kinan. Tak setetes pun jus jeruk yang dipesannya masuk ke mulutnya.
"Sorry lama nunggu." Ucap Kinan yang terlihat cantik saat memakai kemeja berwarna merah yang dipadukan dengan celana jins.
"Gue juga baru nyampe."
Setelah memesan minuman dan cemilan untuk menemani mereka ngobrol, Kinan memulai ceritanya.
Saat ini sudah tidak ada lagi harapan Fadli untuk memiliki Kinan, dan yang lebih mengecewakan Kinan akan menikah dengan pria yang tidak mencintai ataupun dicintainya.
Sifat emosional Kinan tak jarang memang sulit untuk dikontrol, bahkan dia pernah berhadapan dengan pihak berwajib karena pernah berkata-kata kasar terhadap salah satu karyawan butik yang kala itu terlihat meremehkannya hingga membuat keributan di butik yang ia kunjungi.
Fadli adalah orang yang paling tahu sifat wanita cantik itu tidak begitu terkejut mendengar cerita Kinan yang tiba-tiba mencium bibir Langit hanya untuk membuat Helen merasa terhina.
"Biar aku yang akan menemuinya dan berbicara langsung kepadanya, ini bisa disebut pemerasan. Aku akan berusaha membantumu sebisaku. Aku janji Kin." Ucap Fadli tulus.
Tanpa mereka sadari seseorang sedang menguping pembicaraan mereka.
'datang ke kantorku sekarang! Bawa sekalian orang yang ada bersamamu kesini! Bukankah ada yang ingin dia sampaikan kepadaku?'
Kinan yang terkejut melihat pesan yang masuk ke WhatsApp-nya memberitahukan kepada Fadli isi pesan yang dikirim Langit.
"Berarti ada orang diantara mereka yang mengikuti kamu dan menguping pembicaraan kita dari tadi." Ucap Fadli tanpa rasa takut sedikitpun.
Tidak begitu dengan Kinan, sekujur tubuhnya merinding, dan menjadi lemas. Ketakutannya pun semakin bertambah, bahkan ia sekarang mencemaskan kondisi perusahaan ayahnya.
"Ayo kita temui dia sekarang!"
Kinan dan Fadli sudah berada di depan sebuah gedung pencakar langit tempat Langit bekerja sebagai Presdir.
Seorang resepsionis dengan sopan mempersilahkan mereka memasuki lantai tertinggi di perusahaan itu tempat Presdir mereka bekerja.
"Gue takut Fad." Ucap Kinan setelah mereka berada di depan sebuah pintu berwarna coklat yang lebar dan tinggi.
Perlahan Kinan memberanikan diri untuk mengetuk pintu berwarna hitam yang terlihat sangat kokoh itu.
"Masuk!" Ucap seseorang yang suaranya sangat ia kenal.
Kinan masuk ke dalam ruangan yang jauh lebih luas dan lebih mewah dibanding ruangan kantor di hotel yang kemarin ia kunjungi. Dia terus berpegang pada lengan David agar tak terjatuh, karena untuk saat ini tenaganya seperti terkuras habis melihat seorang Langit yang duduk dibalik meja kebesarannya. Dia seperti seorang raja yang bisa dengan mudah menjatuhinya hukuman mati.
"Haruskah aku membeli semua perkebunan teh keluarga mu dengan harga rendah? Atau menghancurkannya dengan sedikit sentuhan?" Ucap Langit tanpa menatap dua orang yang kini berdiri tepat di depan mejanya.
Fadli sangat terkejut mendengar ancaman dari Langit yang ditujukan kepadanya.
"Jangan coba-coba menyentuh perkebunan milik keluargaku!" Jawab Fadli dengan nada tinggi.
"Aku akan diam saja bila kau tidak ikut campur terhadap urusanku!" Langit bangkit dari kursinya menghampiri mereka berdua.
"Bukankah tadi ku dengar kau akan menggagalkan rencana pernikahanku dengan gadis bod*h itu?" Sambil menunjuk Kinan dengan matanya. Langit sedikit menyentuhkan bokongnya di meja kerjanya dan menarik tangan Kinan yang masih melingkar di lengan Fadli.
"Atau haruskah aku sedikit mendandani PT. Mahakarya milik calon mertuaku?" Langit menyeringai melihat Kinan yang gemetar ketakutan mendengar ancaman dari Langit.
Kini tak ada yang bisa mereka berdua lakukan. Fadli hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarah tanpa ada yang bisa dia perbuat.
"Kumohon jangan ganggu perusahaan Ayahku ataupun mengganggu perkebunan teh milik keluarga Fadli!" Kinan mengiba.
"Baiklah jika itu keinginanmu. Tapi tunjukkanlah padanya bagaimana kau menciumku waktu itu!"
Mendengar ucapan Langit, Fadli tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan?" Fadli berteriak sambil mengarahkan tinjunya kepada Langit, tapi dengan cepat Langit menangkap kepalan tangan Fadli dan menghempaskannya.
"Kau ingin aku menghancurkan perkebunanmu seperti ini?" Ucap Langit memperlihatkan sebuah foto perkebunan teh yang luas milik keluarga Fadli kemudian meremas foto itu dengan sebelah tangannya.
"Jangan lakukan! Aku akan melakukannya." Jawab Kinan cepat kemudian tubuhnya berbalik menghadap Langit yang masih setengah duduk di mejanya hingga tingginya tidak terlalu jauh dengan Kinan.
Dengan masih gemetar Kinan berusaha mengulang kembali kejadian hari itu.
Kini bibirnya telah menempel sempurna dengan bibir Langit. Tapi Langit menarik pinggang kecil Kinan yang saat itu hanya dibalut kemeja santainya. Langit merapatkan tubuhnya dengan tubuh Kinan, tubuh mereka saling menempel, tangan kirinya memegang tengkuk Kinan dan tangan kanannya memegang erat pinggang ramping Kinan agar dia tidak bisa melepaskan diri darinya sementara bibirnya masih melekat erat pada bibir Kinan, dia mencium bibir Kinan dengan lembut, dan terus menyesap bibir mungil wanita cantik seolah memberi tahu Fadli bahwa kini Kinan miliknya.
Kinan pasrah, air matanya yang menetes tak dipedulikan oleh Langit yang terlihat sangat menikmati bibir Kinan. Sedangkan Fadli hanya bisa memejamkan mata, dia tak sanggup melihat wanita yang dicintainya dicium pria lain apalagi Langit sengaja mencium Kinan dihadapannya.