
Di meja makan bundar itu kini hanya ada Rianti dan Fadly, karena sepasang suami-istri itu telah pergi meninggalkan mereka. Lebih tepatnya Kinan yang terlebih dahulu undur diri disusul suaminya yang terus tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Dari gelagat mu sepertinya kamu masih memiliki perasaan lebih terhadap mantan tunanganmu itu." Ucapan Fadly membuat Rianti gugup.
"Kamu lihat mereka, apakah kamu masih berharap lebih setelah melihat apa yang kamu lihat barusan?" Sekali lagi Fadly membuat Rianti salah tingkah.
Rianti hanya menundukkan kepalanya, bibirnya bergetar menahan air mata yang terus berangsur ingin keluar. Dia tidak berusaha memungkiri kata-kata Fadly.
"Tapi setelah takdir mempertemukan aku dan dia lagi, aku yakin takdir ini juga lah yang akan mempersatukan kami lagi." Ucap Rianti terbata-bata.
"Kamu yakin? Sepertinya takdir mempertemukan kalian bukan untuk mempersatukan mu dengannya tapi untuk memberitahu mu agar kamu berhenti berharap dan melanjutkan hidupmu." Kata-kata bijak dari Fadly membuat Rianti sedikit berfikir tentang itu. Mungkinkah ini yang ingin takdir beritahukan kepadanya?
Memang tak bisa dipungkiri dari semua yang dia lihat barusan dapat disimpulkan bahwa Langit sangat mencintai istrinya.
"Tak ada cinta yang akan kamu dapat jika kamu masih mengharapkan lelaki itu. Karena itulah yang aku rasakan selama ini."
Rianti terkejut mendengar ungkapan isi hati Fadly. "Maksudmu?"
"Jauh sebelum Langit mengenalnya, dia adalah wanita yang lebih dulu aku cintai. Tapi aku yang pengecut ini tak berani untuk mengungkapkan isi hatiku kepadanya, bahkan ketika mereka masih saling membenci aku yang bodoh ini masih bertahan untuk memendam rasa ini. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa cinta yang aku pertahankan selama ini adalah sia-sia. Dia sudah dimiliki orang lain, bukan hanya raganya tapi juga hatinya."
"Mereka saling membenci? maksudnya?" Rianti masih belum mengerti apa yang Fadly ucapkan. Bukankah mereka terlihat saling mencintai, hingga rasa cemburu Kinan membuatnya terlihat marah kepada suaminya.
"Awalnya pernikahan mereka bukan dilandasi rasa cinta, hanya kesepakatan yang akan saling menguntungkan, banyak air mata yang Kinan tumpahkan untuk sampai menyadari perasaannya. Jika benar takdir ingin mempersatukan kalian, harusnya kamu datang sekitar enam bulan lalu sebelum mereka menikah, ataupun sebelum Langit mulai tergila-gila pada Kinan. Tapi apa yang takdir berikan padamu sekarang? Sebuah kenyataan pahit agar kamu berhenti berharap."
Air mata Rianti sudah tak terbendung lagi saat Fadly menceritakan kisah mereka dengan penuh kegetiran di setiap kata yang dia ucap.
"Seberapa manisnya masa lalunya bersamamu, dia akan tetap menjadikanmu masa lalu karena dia sudah berdampingan dengan masa depannya." Senyuman pahit dari Fadly menyadarkan Rianti tentang status dirinya di mata Langit yang hanya sekedar masa lalu yang mungkin sulit dilupakan tapi akan selamanya jadi masa lalu.
Sementara itu.
Kinan memilih untuk pulang ke kediamannya dengan Langit yang terus mengekorinya.
"Kau kenapa? Apa kau ingin aku menerkam mu saat ini juga? " Goda Langit yang berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Kinan membalikkan tubuhnya. "Kau masih bertanya aku kenapa? Hehh, dasar bodoh!"
Langit terbahak-bahak mendengar jawaban dan tatapan istrinya. "Aku bahagia sekali hari ini. Sangat bahagia." Langit meninggalkan istrinya yang masih terlihat kesal dan marah di ruang tengah.
Begitu bahagianya kah dirinya bisa bertemu dengan sang mantan. Menjijikkan.
Langit sudah berganti pakaian ketika Kinan masuk ke kamar mereka.
Mau kemana dia dengan pakaian casualnya itu? Dan lagi-lagi Kinan kembali kesal melihat suaminya yang terlihat tersenyum bahagia.
"Kita menginap di rumah Bunda malam ini." Ucap Langit kemudian menarik tengkuk istrinya dan mendaratkan ciuman di bibir ranum Kinan.
Kinan lupa bahwa mereka telah berjanji untuk menginap di rumah Bunda akhir pekan ini. Buru-buru dia menyiapkan barang-barang keperluan untuk mereka berdua.
Mereka tiba di rumah keluarga Langit menjelang sore, seperti biasa Bunda sedang berjalan-jalan bersama Papinya Langit di taman berumput hijau dengan semerbak wangi bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Sejak menikah dengan Kinan sikap dan sifat Langit sudah banyak berubah, kini dia sudah tidak acuh lagi pada para pelayanan keluarganya. Walaupun dia masih tidak pernah berkomunikasi dengan mereka tapi kini dia suka membalas sapa mereka bahkan membalas senyum mereka.
"Bunda! Papi!" Sapa Kinan sambil menghampiri mereka.
Senyum langsung terukir di wajah kedua manusia paruh baya tersebut. "Kenapa wajahmu terlihat kesal begitu?" Tanya Papi yang kini telah digandeng tangannya oleh Kinan.
Kinan tidak menjawabnya, pertanyaan mertuanya malah membuatnya semakin cemberut.
"Apa anak nakal itu yang membuatmu kesal?" Tanya Bunda.
Langit terbahak-bahak melihat istrinya yang terlihat lucu setiap dia memasang wajah kesalnya.
"Cih, sesenang itu kah kamu bertemu dengan masa lalumu?"
Ucapan Kinan berhasil membuat dua orang paruh baya itu terkejut. Masa lalu? Maksudnya Rianti? Karena hanya dia satu-satunya wanita yang pernah hadir dalam hidup anaknya. Sang Bunda menatap wajah putranya yang terus menertawakan istrinya.
"Apa maksudnya?" Tanya Bunda pada si Sulung.
"Dia sedang cemburu, karena kebetulan Rianti adalah Desainer yang bertanggung jawab atas proyekku yang baru." Jawab Langit santai seperti tak ada beban saat mengucapkan nama Rianti yang selama ini dia tutup rapat dari siapapun.
"Cemburu? Aku cemburu? Cih,,, jangan mimpi!"
Cemburu? Apa benar aku cemburu? Apa ini yang disebut cemburu? Rasanya sangat menyesakkan dada. Dia masih bingung dengan perasaannya, karena ini adalah pertama kali untuknya bisa merasakan rasa yang disebut cemburu.
"Bunda, bukankah dia jadi semakin cantik ketika marah-marah? Benar kan!" Langit terus menggoda istrinya.
Tanpa mereka sadari Nenek sedang tersenyum melihat tingkah cucu kesayangannya yang terlihat sangat bahagia bisa memiliki istri seorang Kinan yang jauh dari kriteria menantu idaman untuknya.
💔💔💔
Rianti tampak kacau setelah mendengarkan cerita Fadly, dia seharusnya tidak kembali kesini, dia seharusnya menolak untuk mendapatkan tugas ini, atau bahkan dia seharusnya tidak pernah memutuskan hubungan pertunangan mereka dan meninggalkan Langit. Bertahun-tahun dia mencoba melenyapkan perasaannya terhadap Langit, tapi pada akhirnya takdir mempertemukan mereka dengan sangat jahat.
Bersama tenggelamnya matahari Rianti harus menenggelamkan perasaannya juga.
"Mau aku antar pulang? Sepertinya kondisimu sangat sedang tidak baik." Fadly menawarkan tumpangan untuk gadis cantik dihadapannya itu.
💖💖💖
Kinan dan Langit sedang menikmati sore mereka di teras samping bersama keluarganya ketika handphone Kinan berbunyi.
"Dari siapa?"
"Fadly."
Langit langsung menempelkan telinganya ke handphone Kinan untuk menguping pembicaraan mereka, membuat para orang tua geleng-geleng kepala kecuali Bara yang terlihat mencibir kakaknya.
"Mantan tunangan suamimu pingsan dan kini sedang dirawat di rumah sakit. Aku tak tau harus menghubungi siapa." Kata-kata Fadly membuat sepasang suami-istri itu terkejut, dan saling berpandangan.
"Ayo kita ke rumah sakit!" Ajak Kinan.
💔💔💔
Wajah khawatir Langit tak bisa disembunyikan ketika melihat Rianti yang terbaring di ranjang pasien.
Ternyata dia sudah sadarkan diri, matanya yang masih sembap menyiratkan kesedihan dan kekecewaan dari wajah cantik itu. Rianti sedikit terkejut melihat Langit dan istrinya masuk ke ruangannya.
"Kamu kenapa?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Kinan.
"Aku baik-baik saja, mungkin akhir-akhir ini aku terlalu lelah." Ucapnya dengan sedikit memaksakan senyum. Walaupun Langit sudah tahu jika dia sedang berbohong.
Kinan meninggalkan suaminya dan berjalan menuju sofa tempat Fadly merebahkan tubuhnya.
"Ada apa?" Bisik Kinan.
Fadly hanya mengangkat kedua bahunya. Juga berbohong.
Rianti terus meneteskan air matanya melihat Langit yang kini hanya membisu di kursi samping tempat tidurnya.
"Aku keluar dulu ya sama Fadly mau cari makan." Ucap Kinan ketika melihat situasi canggung diantara pasangan masa lalu itu.
Langit tersenyum. "Jangan duduk terlalu dekat dengan pria itu. Aku tidak suka." Melirik ke arah Fadly yang berdiri di belakang istrinya.
"Aku akan membawa kabur istrimu!" Fadly mencibir jijik ke arah Langit.
Sepeninggal kedua orang itu, Rianti semakin meluapkan kesedihannya. Tak ada lagi yang bisa dia sembunyikan, kesedihan dan kekecewaan dia tumpahkan di hadapan Langit.
"Menangislah sepuas hatimu! Tapi pastikan ini yang terakhir kau menangisi diriku." Ucap Langit sambil memeluk tubuh wanita cantik itu untuk sekedar memberi dukungan kepadanya.
"Maafkan aku." Sudah lama sekali dia ingin mengucapkan kata-kata itu.
"Aku juga minta maaf, karena dulu aku terlalu egois hingga tidak pernah memikirkan perasaanmu." Ucap Langit betul-betul menyesal.
"Dan aku berharap kau segera mendapatkan cintamu."
Ucapan Langit terdengar seperti sebuah salam perpisahan untuknya. Dia seperti memberitahukan bahwa sudah tak ada lagi cinta untuknya. Sudah tak ada lagi kehangatan cinta dari pelukannya yang Langit berikan untuknya.
Tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan perasaan Rianti saat ini, dan tak ada pula kata-kata yang berhasil keluar dari mulutnya, percuma. Sebab apapun yang akan dia katakan tak akan mampu membuat Langit kembali padanya.