LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Kado ulang tahun Langit



Mentari masih malu menampakkan wajah cerianya ketika sepasang makhluk bernama manusia itu menunggu Sang Surya terbit di balkon kamar mereka. Pertengahan tahun pada bulan Agustus adalah hari dimana seorang bayi mungil pertama kali menangis menyambut dunia 36 tahun lalu, persis seperti saat ini sebelum fajar menyingsing sepasang suami-istri tengah berbahagia menyambut malaikat tampan yang sudah sembilan bulan bersemayam di perut ibunya. Bayi mungil calon penguasa kerajaan bisnis keluarganya, yang kemudian mereka beri nama Langit Mahesa Pradipa. 


Ini adalah ulang tahun paling membahagiakan untuk pria Sang Presdir, duduk menyambut mentari ditemani istri cerewetnya. Wanita yang berhasil membuatnya tertawa lebar dan sekaligus membuat hidupnya kacau balau. Ditambah lagi dengan kehamilan Kinan pada ulang tahunnya ini, sebuah hadiah dari Tuhan yang tak ternilai harganya. 


"Langit!" Ucap Kinan yang kini menutup sekujur tubuhnya dengan selimut untuk menghindari udara dingin menyentuh kulitnya. 


"Hmmm?" Pandangan matanya masih tertuju ke ujung cakrawala. 


"Apa kau mencintaiku?" Tanya Kinan sambil menatap wajah suami yang sedang menikmati indahnya langit kalau fajar. 


Mendengar pertanyaan istrinya, dia baru menyadari jika selama ini dirinya belum pernah mengutarakan cintanya pada wanita yang berhasil mengisi setiap sudut hatinya. 


Dia pikir sikapnya selama ini sudah sangat mewakili isi hatinya. Tapi sepertinya tidak untuk Kinan, dia masih meragukan perasaan suaminya. 


Langit mulai memancarkan warna jingga keemasan dengan gradasi warna ungu violet yang unik ketika Langit menyatakan perasaan cintanya pada istrinya. 


Dia menatap lekat-lekat mata indah itu. "Jangan pernah bertanya apakah aku mencintaimu? Karena jawabannya sudah jelas bahwa aku benar-benar tergila-gila padamu, apa sikapku selama ini masih kurang membuktikan bahwa aku mencintaimu? Apa itu masih kurang cukup?" Sebuah pernyataan cinta yang begitu sederhana tanpa ada yang dilebih-lebihkan disetiap katanya. 


Ada rasa yang menggelitik dada Kinan saat Langit mengucapkan hal yang baru ia dengan selama lebih dari enam bulan pernikahan mereka. Wajah hinga telinganya terasa panas hingga membuat rona merah di wajah cantiknya, detak jantungnya berpacu tiga kali lebih cepat dari biasanya karena begitu senang mendengar untaian kata dari Langit. 


Tapi entah mengapa Kinan meneteskan air mata saat mendengarnya. Kinan menangis dalam pelukan suaminya, hawa dingin fajar sudah tergantikan dengan kehangatan pelukan pria yang dulu begitu dia benci. 


Ini bukan pertama kali Kinan mendengar pernyataan cinta dari seorang pria, tapi ini pertama kalinya dia merasakan hal yang membuat dadanya berguncang hebat. Perasaan aneh yang terus menjalar mengaliri setiap deru nafasnya. 


"Kenapa kau menangis? Apa kau tak suka jika aku mencintaimu?" Goda Langit sehingga sebuah pukulan kecil mendarat di punggungnya. 


"Aku juga mencintaimu." Bisik Kinan di sela isak tangisnya.


Mendengar ucapan istrinya membuatnya menyunggingkan senyum. Aku sudah tahu bodoh! 


"Bukankah kau dulu berjanji akan bertekuk lutut jika nanti kau mencintaiku?" Langit sangat senang menggoda istrinya yang terlihat menggemaskan dengan wajah meronanya. 


Kinan jadi teringat tentang janjinya dulu yang dengan sangat angkuh mengucapkan kata-kata itu saat mereka bertengkar dulu.


Raut wajah memelas ia tunjukkan kepada suaminya agar dia terbebas dari sumpahnya. "Apa aku harus melakukan itu?"


Langit sekuat tenaga menahan tawanya, kemudian seutas senyum tersirat di wajahnya. "Janji adalah janji, aku adalah orang yang tidak suka dengan orang yang mengingkari janji. Walaupun itu istriku."


"Tapi aku kan sedang hamil anakmu!" Nada suara memelas kali ini Kinan pasang. 


"Itu juga anakmu, bukankah kau juga turut berkontribusi besar untuk pembuatan Junior." Langit menyudutkan Kinan dengan seutas senyum jahil. 


🐣🐣🐣🐣


Seperti tahun-tahun sebelumnya semua para pekerja rumah tangga di kediaman keluarga Langit tengah disibukkan dengan persiapan pesta ulang tahun sederhana yang diadakan keluarganya. Sedangkan para pemilik rumah terlihat khawatir dengan kondisi Kinan yang tak henti-hentinya mual dan muntah. 


"Apa kita perlu membawa dia ke rumah sakit?" Kepanikan terlihat jelas di mata Langit saat bertanya pada dokter keluarganya yang baru selesai memeriksa kondisi Kinan. 


"Walau dibawa ke rumah sakit pun tak akan ada obat yang bisa menghilangkan rasa mualnya. Karena itu adalah perubahan hormon secara alamiah pada setiap wanita yang hamil. Tapi jika kondisinya semakin memburuk dengan tidak mau memakan makanan apapun bawalah dia ke rumah sakit untuk mendapatkan cairan infus." Ucap sang Dokter muda itu santai.


"Simpan senyummu itu! Cih, bisa-bisanya kau tersenyum melihat istriku menderita seperti ini." Langit murka melihat dokter itu terus saja tersenyum kearahnya. 


"Tenanglah, semua wanita hamil mengalami apa yang istrimu alami saat ini." Dia menepuk pundak Langit seperti meremehkannya. 


Langit buru-bru menepis tangan dokter yang menempel di pundaknya. "Singkirkan tanganmu itu!" 


Terdengar tawa terbahak-bahak dari Sang dokter yang sepertinya seumuran dengan Langit, saat keluar dari kamarnya. 


"Peluk!" Kinan merentangkan kedua tangannya saat semua anggota keluarganya meninggalkan kamar mereka. 


Dengan senang hati Langit pun menyambutnya. 


"Kau mau makan apa?"


Tak ada jawaban dari Kinan dia tengah menikmati aroma tubuh suaminya, aroma parfum dan aroma tubuh Langit menjadi perpaduan yang unik dan menarik indra penciuman Kinan. 


"Maaf aku mengacaukan hari ulang tahunmu, bahkan aku tidak memberikan hadiah apapun kepadamu." Suara kesal dan menyesal keluar saat dia mengucapkannya. 


"Aku tak perlu hadiah, kau dan Junior sudah cukup menjadi kado terindahku tahun ini." Langit mengeratkan pelukan mereka.


"Langit! "


"Hmmm?"


"Aku mencintaimu!"


"Aku bahkan lebih mencintaimu!"


"Tapi ini adalah pengalaman pertama bagiku. Aku seperti selalu ingin dekat denganmu, selalu merindukanmu. Apa semua orang juga begitu jika sedang jatuh cinta? Kenapa aku jadi seperti orang bodoh ya?" Ucapnya polos. 


Langit tertawa, dia tidak tahu harus berkata apa. Istrinya telah benar-benar jatuh kedalam cintanya. Langit seperti melihat seorang gadis yang baru mengenal rasa cinta, Kinan begitu menggemaskan baginya. 


"Tenang, semua orang merasakan semua yang kau rasakan saat ini." 


"Sejak kapan kau mulai mencintaiku?"


"Entahlah, mungkin sejak melihat kau menangisi tragedi pemecatanmu." Ucap Langit jujur. "Karena pada hari itu aku merasa kesal dan marah saat melihat kau menangis dengan wajah berantakanmu itu."


Kinan terkejut mendengarnya, dia meregangkan pelukannya untuk melihat mata suaminya. "Sudah selama itu?"


Langit mengangguk kecil dan tersenyum. "Sudah selama itu dan kau saja yang bodoh tidak menyadarinya."


Kinan terus mencari kebohongan di mata suaminya, tapi dia tidak menemukannya. "Kau bertahan selama itu untuk tidak menyentuhku? Waaaaahhh, kau benar-benar hebat." Kinan malah terkagum-kagum. 


"Karena kau bodoh. Kau tega sekali menyiksaku!"


"Cih, bukannya kau sendiri yang bilang kau tidak akan mau tidur denganku. Kau juga dengan sombongnya menyuruhku menjauh darimu." Balas Kinan tak Terima dengan ucapan Langit. 


Cup… 


Sebuah kecupan mendarat di bibir Kinan. 


"Mana bisa aku bertahan dengan wanita sepertimu, kebodohanmu begitu mudah meruntuhkan pertahananku."


Kali ini bukan hanya kecupan tapi lumatan lembut yang Langit berikan. 


"Apa kau mau itu?" 


"Apa boleh?"


Kinan tersenyum. "Kado ulang tahunmu!"


Dan akhirnya Langit pun membuka kadonya petang itu dengan bermandikan peluh.