LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Perubahan Kinan



"Kamu mau pilih yang mana?" Langit mengarahkan kamera handphonenya ke rak susu khusus ibu hamil.


"Menurutmu lebih enak yang mana?" Kinan malah balik tanya. 


"Mana aku tahu. Bukankah kamu sendiri yang sendiri meminum dan merasakannya?" Langit geram, sudah hampir satu jam dia mengitari minimarket yang berada di dekat apartemennya.


Troli yang ia dorong sudah penuh dengan pesanan si ibu hamil yang seperti ingin mengerjai suaminya. 


"Ya sudah tak usah beli susu, persediaanku masih banyak." Jawab Kinan dengan entengnya.


Langit mengepalkan sebelah tangannya, ingin sekali dia menjerit. Percuma dia berkeliling mengitari rak susu khusus ibu hamil bertanya ini dan itu tentang susu apa yang Kinan inginkan.


"Baik nyonya kalau begitu apa aku bisa pulang sekarang?" Langit tersenyum kecut saat mendengar jawaban istrinya. 


"Memang kapan aku pernah menyuruhmu tidur di Minimarket?" 


Sambungan video pun ditutup tanpa senyum dari Kinan, dan pastinya Langit harus bekerja keras lagi untuk bisa merayu istrinya agar kembali tersenyum. 


"Bayar! Aku tunggu di mobil!" Ucap Langit pada David yang terus menahan tawanya. 


Baru pertama kali dalam hidupnya David melihat seorang Langit mendorong troli belanjaan dan lucunya lagi di troli yang dia bawa hanya berisi berbagai macam cemilan pesanan Sang Nyonya besar. 


Semoga saja aku tak harus menikah dengan wanita macam dia. David membatin. 


Kinan sedang menikmati wafel yang dibawa Bara langsung dari Singapura, karena pagi tadi tiba-tiba saja sang kakak ipar ingin makan waffle yang ada di salah satu restoran yang ada di negeri tersebut. 


Berbagai rengekan dan rayuan dari Bara tak membuat Kinan berhenti untuk tidak meminta Bara membelikan wafel pesanannya. 


Akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka, sudi tidak sudi dengan berat hati Bara pergi ke negara tersebut hanya untuk membeli wafel untuk si ibu hamil yang tengah mengandung keponakan pertamanya. 


"Bagaimana rasanya Kak?" Bara mengambil toples cemilan yang ada di meja. 


"Entahlah, aku sudah lupa rasanya, karena itu sudah lama sekali, sekitar tiga atau empat tahun yang lalu. Tapi jika kau membelinya di restoran yang sama ya mungkin seperti inilah rasa yang aku makan dulu." Jawab Kinan dengan santainya dan tanpa rasa bersalah sedikitpun. 


Jawaban Kinan membuat Bara ingin sekali mencakar wajah cantik Kinan yang terlihat tak berdosa telah mengerjainya.


Tahu begitu Bara bisa saja membelinya di restoran yang ada di sekitar sini dan mengaku bahwa ia mendapatkannya di Singapura. Pikirnya. 


Tak lama Langit pun datang dengan David yang tangannya penuh belanjaan. Kemudian memindahkan kantong-kantong belanja itu ke tangan Bara. 


"Bagaimana harimu Sayang?" Tanya Langit, bukan pada istrinya, bukan pula pada Bara, tapi pada Juniornya. 


"Ada apa dengan wajahmu?" Langit bertanya kepada Bara yang terlihat kesal. 


Bara pun menceritakan apa yang membuatnya kesal kepada kakaknya dengan jengkel. Sedangkan Langit hanya bisa terbahak-bahak mendengar keluhan si tampan Bara.


"Bersikaplah seperti seorang paman yang baik brother!" Langit menimpali keluhan adiknya. 


Selama hamil banyak perubahan dari Kinan, dia selalu menjaga kebersihan, Kinan jadi sering merapikan rumah mereka, ya walaupun dia harus dibantu seorang pembantu yang dikirim mertuanya. Tapi Kinan seperti tak ingin melihat rumah mereka berantakan. Bahkan Langit kadang sering menjadi korban moodnya, Langit terpaksa ikut merapikan rumahnya walaupun dia merasa lelah setelah seharian bekerja. 


Semenjak hamil Kinan lebih sering tinggal di rumah, dia sudah sangat jarang pergi ke kantor, membuat para karyawan lain iri karena wanita cantik itu bebas kapan saja datang dan pergi ke kantornya. 


Sekarang Kinan menjadi seperti ibu rumah tangga pada umumnya, menyiapkan perlengkapan kerja suaminya sebelum berangkat kerja, juga menyediakan air hangat untuk suaminya berendam setiap malamnya sama seperti malam ini. 


"Air hangatnya sudah siap Sayang." Kinan mengecup singkat bibir Langit yang sedang fokus pada layar laptopnya. 


"Mau menemaniku?" Kerlingan mata penuh arti dia berikan kepada istrinya.


"Hanya menemani ya!" Kinan tahu arti dari kerlingan yang suaminya berikan. 


"Dan menggosok punggungku." Langit kembali menyunggingkan senyum menggodanya sambil menutup laptop di pangkuannya dan ganti memangku istrinya yang semenjak hamil ini berubah seperti wanita dewasa, ya walaupun kadang dia lebih menyebalkan dibanding saat dia belum hamil. 


Langit mengecup bibir Kinan mesra, melingkarkan lengan kekarnya di perut sang istri yang kini tengah mengandung buah cinta mereka. 


"Ayolah, mau sampai kapan kamu terus menciumiku?" Langit segera bangkit mendengar rengekan istrinya, bisa fatal akibatnya jika ibu hamil itu berubah jadi monster. 


Mereka pun beranjak ke kamar mandi. 


"Kamu juga ikut berendam Sayang?" Tanya Langit melihat istrinya membuka seluruh pakaiannya. 


"Karena aku tahu maksud dari senyumanmu tadi." Gerutu Kinan. 


Langit tertawa puas. "Kau semakin pintar." Sambil mencium bibir Kinan yang saat itu sudah tak mengenakan apapun. "Dan mesum." Langit membisikkan kalimat terakhirnya. 


Keduanya pun mengawali adegan panas mereka dengan sebuah ciuman panas hingga keduanya saling menginginkan. 


Permainan pun pun dimulai di dalam bathtub berisi air hangat dengan penuh foam. Ya seperti itulah ritual mandi yang sangat Langit dambakan, melepas penat dengan ritual mandi bersama istri cerewetnya.


Maafkan diriku yang baru nongol setelah seribu purnama ini... 🙏🙏🙏🙏


Terima kasih buat kalian yang masih bersedia baca cerita kisah cinta Kinan dan Langit ini ya.. 🤗🤗🤗