
Langit duduk di depan Bara dan David, raut wajah lelahnya tidak bisa disembunyikan. Sepanjang malam dia tidak bisa memejamkan mata, karena kelakuan Kinan yang tidur dengan memeluk erat tubuhnya. Dan paginya Langit kembali dipusingkan oleh rengekan Kinan ketika melihat pantulan wajahnya di cermin dengan mata bengkak karena efek dari menangis semalam.
"Kau kenapa Kak?" Tanya Bara yang bingung melihat wajah kusut Kakaknya.
"Gara-gara ide bodoh kalian aku tidak bisa tidur semalaman, bahkan lenganku sakit sekarang karena menjadi bantal wanita itu sepanjang malam." Ucapnya dengan nada kesal.
"Apa Kak Kinan meminta 'itu' padamu?" Tanya Bara, hati-hati.
"Dia menangis sampai hampir pingsan semalam jadi aku harus menenangkannya."
"Apa Kakak Ipar kaget melihat 'anu' mu?" Bara mengalihkan pandangannya pada celana Kakaknya.
"Apa yang ada di otakmu Bodoh?" Sebuah map tebal berhasil mendarat di jidat Bara.
Langit menceritakan kejadian semalam, bagaimana dia dibuat kerepotan oleh istrinya gara-gara menemanimu nonton film horor, hingga dia tidak bisa memejamkan mata karena adik kandungnya tidak bisa diajak kompromi.
Bara dan David berusaha menahan tawa mereka agar tidak pecah, bisa lain urusannya jika membuat ulah disaat Kakaknya sedang marah, nyawa mereka bisa jadi taruhannya.
"Aku sudah tidak mau mendengar ide-ide konyol lagi dari kalian. Aku akan melakukannya dengan caraku! Jangan panggil aku Langit jika aku tidak bisa menaklukkannya!" Tegasnya kemudian berlalu meninggalkan Bara dan David.
Setelah kepergian Langit, Bara dan David tak henti-hentinya tertawa, dia membayangkan kesusahan apa yang Langit rasakan semalam.
"Sepertinya Kakakku yang cerdas telah masuk perangkap kita." Bara kembali terbahak-bahak.
*
Kinan meregangkan otot-otot tubuhnya dia sedang berusaha membuang kepenatan hidupnya, hari yang sangat melelahkan, pekerjaannya begitu menumpuk hari ini, untungnya esok adalah akhir pekan, dia sudah membayangkan akan bermalas-malasan seharian di ranjang suaminya yang nyaman.
Sebuah pesan masuk membuatnya tersenyum lebar, pesan yang seperti angin segar di tengah terik matahari.
"Ke klub yuk!"
Reni salah satu sahabatnya, selalu tahu apa yang dia butuhkan. Menari di lantai dansa mungkin akan bisa menghilangkan penat, pikirnya.
"Gue cabut sekarang!"
Sebelumnya dia mengirim pesan kepada Langit bahwa sepertinya dia akan pulang malam, tak lupa dia pun memberitahukan alasannya.
Walau bagaimanapun dia masih ingat statusnya adalah seorang istri.
"Lihat apa yang akan dia lakukan sekarang. Bisa-bisanya seorang wanita karir sukses dan cerdas seperti dia pergi ke klub malam."
Langit memberikan handphonenya kepada Bara, agar adiknya melihat pesan yang Kinan kirimkan.
"Sepertinya akan seru melihatnya menari-nari di lantai dansa." Senyum Bara mengembang, sebuah ide cemerlang pun mampir ke otak cerdasnya.
"Cari tahu dimana keberadaan Kakak Iparku!" Perintah Bara pada David.
Tak butuh waktu lama, posisi Kinan pun sudah diketemukan, yang tak lain adalah klub malam milik Langit.
Gemerlap lampu dan dentuman musik yang disuguhkan DJ bisa menghipnotis pengunjung untuk menggoyangkan tubuh mereka.
Bau alkohol dan asap rokok semerbak mengisi ruangan yang didominasi wanita-wanita berpakaian seksi, tapi itu bukan tujuan Kinan kesini, dia belum pernah sekalipun menenggak minuman memabukkan itu. Dia hanya ingin menari-nari menikmati musik yang DJ mainkan.
Kinan dan beberapa orang temannya sudah berkumpul di salah satu klub malam terkenal di kota itu, tak lupa Fadli pun ikut hadir di sana, karena ada beberapa teman prianya juga yang ikut berpesta. Mereka teman-teman Kinan sewaktu di SMA dulu, dan masih saling berhubungan hingga sekarang.
Kinan tak tahu bahwa Langit sedang memperhatikannya di salah satu sudut ruang VVIP yang berada di lantai atas.
"Waaaahhh,,,lihat Kak istrimu berpesta dengan mengenakan setelan kerjanya. Dia benar-benar wanita luar biasa." Bara menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Langit melirik ke arahnya, dilihatnya Kinan yang mengenakan blazer berwarna merah senada dengan celana panjang yang ia kenakan. Dia jadi terlihat berbeda diantara para pengunjung klub yang rata-rata mengenakan pakaian yang menonjolkan lekuk tubuh mereka, sama seperti yang teman-teman wanitanya kenakan saat datang ke klub malam kali ini.
Seutas senyum terbit dari bibirnya, entah apa maknanya hanya Langit yang tahu.
Dilihatnya Kinan begitu menikmati irama elektrik dance yang disuguhkan DJ di klubnya. Fadli terlihat selalu menjaga Kinan dari para lelaki hidung belang yang berusaha menggodanya ataupun sekedar mengajaknya menari.
"Kak, apa pria itu kekasih Kakak Ipar? Dia terlihat sangat menjaga istrimu." Bara mulai memanas-manasi Langit.
"Dia hanya pria bodoh yang menyiksa dirinya sendiri." Ucap Langit sinis.
Langit dan Bara beranjak turun menuju lantai dansa, pesona yang dimiliki Langit memang tidak bisa diragukan lagi, kehadirannya selalu menjadi pusat alam semesta. Kilaunya tak bisa dihindarkan oleh orang lain untuk tak hanya sekedar meliriknya.
Langit sengaja jalan melewati istrinya yang tengah asyik bergoyang mengikuti irama musik.
"Hati-hati dengan langkahmu Nona!" Bisik Langit tepat di telinga istrinya.
Kinan memandang sinis saat menyadari suaminya ada di hadapannya, Fadli juga ikut terkejut melihat Langit yang tiba-tiba ada bersama mereka. Tatapannya setajam belati seolah dia bisa menusuk Langit dengan tatapannya. Melihat suaminya ada di hadapannya Kinan sudah tidak berminat lagi meneruskan tariannya, dia pergi ke arah bar untuk memesan minuman.
"Malam Kakak Ipar."
Suara Bara membuat jantungnya hampir copot.
"Sedang apa kamu disini?"
"Aku dan Kakak memang biasa menghabiskan malam akhir pekan kami disini. Kukira Kakak sengaja kesini untuk menemui suamimu." Tersenyum manis ke arah Kinan.
Aku bahkan ingin melenyapkannya dari kehidupanku.
Kinan tidak menimpali, dia memesan minuman kepada Bartender, segelas soda dingin menjadi pesanannya malam itu. Tapi Bara lagi-lagi memulai aksinya.
🌟🌟🌟
"Suamikuuuuu!" Kinan tersenyum manis ke arah Langit yang sedang duduk sambil menikmati rokoknya di sudut Klub.
Wanita cantik itu menghamburkan dirinya ke pelukan Langit dan duduk manis di pangkuannya kemudian mengecup singkat bibir suaminya membuat Langit dan yang lainnya terkejut melihat tingkah Kinan yang tak biasa.