LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Happily Ever After



🍃Akhir yang manis untuk dikenang selamanya🍃


Waktu bergulir begitu cepat, mentari seakan terbit dan terbenam lebih cepat dari hari-hari sebelum Langit yang dingin menemukan cintanya. 


"Morning sayang." Langit mengecup bibir istrinya sebelum membawa tubuh dengan perut yang kini membuncit itu ke dalam pelukannya. 


"Wow." Seru Langit saat merasakan pergerakan dari perut istrinya. "Morning my baby girl. Kamu seperti Mommymu." Langit mengecup perut buncit Kinan yang masih polos di balik selimut. 


"Memang aku kenapa?" Kinan masih tak mengerti dengan ucapan suaminya. 


"Cemburuan." Jawab Langit dengan senyum di wajah tampannya. 


"Bukankah kamu lebih pencemburu dibanding aku?" Kinan menggerutu. 


"Baiklah, kalau begitu Junior kita memiliki sifat seperti orang tuanya." Langit tak ingin merusak mood wanita hamil di pelukannya itu. 


"I love you." Kinan mengendurkan pelukannya suaminya untuk mengecup bibir yang selalu menciuminya. 


"I love you more." Balas Langit dengan ciuman yang lebih panas dibanding ciuman istrinya. 


Kinan mengakhiri ciuman mereka saat merasakan sesuatu yang mengeras di bawah. "Sudah cukup untuk pagi ini, kita akan telat menuju tempat resepsi pernikahan Fadli." 


Kinan pun beranjak dari tempat tidurnya saat mentari sudah terasa mulai menghangat. 


Ini adalah hari dimana Fadli dan Rianti melangsungkan pernikahan. Pesta yang akan diadakan di sebuah vila keluarga Fadli yang bertempat di puncak membuat Kinan dan Langit harus berangkat lebih awal agar terbebas dari kemacetan. 


"Sayang!" Teriak Langit yang tidak terima ditinggalkan begitu saja oleh istrinya. "Kita mandi bersama ya!" 


"Aku tau apa yang ada di otak mesummu!" Balas sang istri yang tak lupa mengunci pintu kamar mandi mereka. 


💞💞💞


Acara perhelatan janji suci Fadli dan Rianti berjalan dengan sangat khidmat, tak banyak tamu yang mereka undang, hanya kerabat dari kedua belah pihak pengantin juga beberapa sahabat terdekat mereka termasuk pasangan Langit dan Kinan. 


Acara yang digelar secara outdoor di halaman villa keluarga Fadli itu terkesan romantis, warna putih dan hijau mendominasi dekorasi pesta tersebut. 


"Selamat ya!" Kinan memberi selamat kepada kedua pengantin saat mereka menghampiri Kinan dan Langit, karena tak ada pelaminan di acara pernikahan  tersebut. Kedua pengantin memilih berkeliaran menyalami para tamu undangan daripada harus dipajang di pelaminan. 


"Aku tak butuh selamat, aku menagih hadiah pernikahan kami." Jawab Fadli, ucapannya ia tujukan pada sang Presdir. 


"Cih, memang pada saat aku menikah kau memberi kami apa? Hanya sumpah serapahmu, bukan begitu?" Sindir Langit. 


Fadli terbahak-bahak mendengar sindiran pria yang sepertinya masih sering terlihat memasang wajah tak sukanya kepada Fadli. "Jangan suka mengingat-ingat kejadian buruk. Marilah kita gapai kebahagiaan kita saja di masa depan." Balas Fadli di sela tawanya. 


"Hai baby girl." Si mempelai pengantin wanita dengan balutan kebaya modern berwarna putih mengelus perut buncit Kinan. 


"Hallo aunty, you're so beautiful in white." Jawab Kinan yang memang terkagum melihat penampilan Rianti yang sangat cantik nanti ayu. 


Rianti tersipu mendengar pujian yang dilontarkan ibu hamil tersebut. 


"Cantik mana aku dengan Rianti saat aku jadi pengantin?" Kinan bertanya pada suaminya. 


"Walaupun dulu kamu lebih banyak cemberut daripada tersenyum, tapi dulu kamu sangat cantik." Langit mencari jawaban yang paling aman untuk kedamaian hidupnya. Bisa panjang urusannya jika dia menjawab dengan jujur. 


"Paket honeymoon di Gili trawangan selama 7 hari." Langit menyerahkan sebuah amplop kepada Fadli. 


"Aku kira kau akan memberikan tiket bulan madu kami ke Maldives. Ternyata kau tak sekaya yang kami sangka." Fadli menyindir pria di hadapannya seraya mengambil amplop di tangan Langit. 


"Cih." Respon Langit saat melihat Fadli dengan sigap mengambil amplop dari tangannya dan memasukkannya ke dalam jas pengantinnya yang berwarna putih, senada dengan yang Rianti kenakan. 


"Tadinya dia ingin memberikan paket bulan madu kalian ke Jepang, tapi aku sudah tidak bisa bepergian jauh-jauh." Keluh Kinan. 


Kedua pengantin tersebut mengerutkan keningnya. Tak mengerti dengan ucapan Kinan. Apa hubungannya bulan madu mereka dengan dirinya yang tidak bisa bepergian jauh. Pikir sepasang suami-istri baru tersebut. 


"Karena dia merengek ingin ikut kalian bulan madu. Jadi aku pilihkan tempat honeymoon yang ada di sekitar sini saja." Langit yang menjawab. Walaupun pada kenyataannya David lah yang pusing mencari tempat yang aman dan cocok untuk istri cerewetnya itu. 


Kedua pengantin itu langsung menarik sudut bibir mereka saat mendengar penjelasan Langit. 


Seperti biasa, Langit tak banyak berbicara kepada orang yang belum dikenalnya, dia lebih memilih menemani istrinya kemanapun ia pergi. Dan sekarang kedua calon orang tua itu sedang duduk di tepi kolam ikan koi yang ada di samping villa, tempat tersembunyi yang jauh dari kerumunan para tamu. 


"Kamu sepertinya sangat mengenal tempat ini?" Tanya Langit melihat istrinya dengan mudah menemukan tempat persembunyian yang cukup indah. 


"Aku bahkan masih sangat hafal jalan menuju keluar walaupun aku ditutup matanya." Jawab Kinan. "Ini adalah vila tempat aku kabur dari segala masalah. Sejak kami masih SMP hingga sebelum kau menikah." Lanjutnya. 


Langit tak berkomentar, dia memilih mendengarkan cerita istrinya. 


"Aku dan Fadli sudah sangat dekat sejak dulu. Saking dekatnya banyak yang mengira kami menjalin kasih." Kinan terkekeh. "Sempat terlintas di benakku dulu, aku akan mengajaknya menikah, karena aku sudah sangat frustasi selalu ditanya 'mana calon suamimu?' oleh para kerabat dan teman-temanku" Kinan kembali terkekeh.


"Tak ada yang pernah tahu kapan jodoh kita datang, dengan siapa itu ataupun dimana kita akan bertemu dengan jodoh kita. Seperti kita yang awalnya terpaksa menikah karena sebuah perjanjian bodoh, juga Fadli dan Rianti yang bertemu dan menjalin kasih karena tadinya hanya ingin saling menguatkan satu dengan lainnya." Langit menimpali ucapan istrinya. 


"Tapi aku tak menyesal telah melakukan hal bodoh itu kepadamu." Kinan mengingatkan kembali awal pertemuan mereka karena sebuah ciuman yang Kinan  lakukan kepada suaminya. 


"Tapi aku menyesal sekarang." Jawab Langit sambil menatap penuh cinta wajah cemberut istrinya yang sepertinya tidak terima dengan ucapannya. 


"Aku menyesal mengapa dulu aku tak menyambut ciumanmu." Langit tersenyum seraya menjentikkan dagu istrinya. 


Mereka pun kembali berciuman di bawah pohon ceri besar yang ada di dekat kolam ikan tersebut. 


"Aku mencintaimu, sekarang, besok dan seterusnya." Ucap Langit tulus dari dalam lubuk hatinya. 


Kinan tersenyum mendengar ucapan manis suaminya. Di bawah sinar senja Kinan memeluk mesra tubuh pria yang telah menuntunnya menemukan sebuah rasa cinta. Suara melodi dari tempat resepsi masih samar-samar terdengar, seperti mengiringi kisah romantis mereka petang itu. 


Cinta memang manis, bagi siapa saja yang membuka hatinya untuk cinta baru yang lebih bergairah. 


...~Tamat~...


...Terima kasih untuk para pembaca yang masih senantiasa menunggu hingga akhir part ini. ...


...Mohon maaf jika endingnya tidak sesuai ekspektasi kalian selama ini. ...


...Sekali lagi terimakasih 🙏💕...


...Luv u all❤️😘...