
Langit mengangkat wajahnya ketika David memberitahukan bahwa desainer yang sedang mereka tunggu telah tiba dengan raut wajahnya yang pucat.
"Kau kenapa? Apa kau baru saja mendengar lengkingan istriku?" Kelakar Langit melihat David yang begitu pucat di depan pintu.
Tak selang lama seorang wanita yang sangat tak asing baginya masuk dengan wajah yang tertunduk seperti hendak menyembunyikan diri darinya.
"Rianti?" Langit mendesis, memastikan orang yang ada di hadapannya kini adalah benar-benar wanita yang telah memporak-porandakan hatinya beberapa tahun lalu.
Perlahan wajah itu mengangkat dan menatap orang yang telah memanggil namanya.
Oh God, Langit seperti dihantam tongkat baseball di kepalanya. Hingga membuatnya menjatuhkan diri ke kursinya.
Langit menatap wanita cantik berlesung pipi dihadapannya, tanpa memperdulikan seorang asisten yang dibawa oleh Rianti.
Jantungnya berdegup kencang, wanita yang selama ini ingin dia lupakan, dan bahkan sudah berhasil dia lupakan itu tiba-tiba duduk di hadapannya dengan wajah yang terus merona.
Mimpi apa dia semalam hingga harus bertemu mantan tunangan yang telah mencampakkannya begitu saja?
"Ehem…" Rianti mengusir rasa gugupnya ketika mata mereka saling bertemu beberapa detik.
"Well,,, Apa bisa kita mulai sekarang?" Ucap Rianti dengan ringan walaupun hatinya juga sama bergemuruh dengan Langit.
Hanya ada empat orang manusia di ruang rapat yang terlihat sangat besar itu, biasanya ruangan itu dipakai untuk rapat besar bulanan para pemegang saham.
Seorang wanita cantik berkebangsaan luar sedang mempresentasikan rencana proyek mereka, dia adalah asisten Rianti yang dia bawa dari Milan, tapi tak ada sedikit pun yang dia ucapkan menempel di kepala Langit, beberapa kali matanya dan Rianti bertemu hingga menciptakan desiran yang menyesakan hati.
Langit tidak bisa mencerna apa yang asisten Rianti terangkan kepadanya, matanya memang menatap layar proyektor yang menampilkan berbagai diagram yang sedang dijelaskan oleh sang asisten dengan bahasa Inggris, tapi mata Langit hanya tertuju pada kursor yang turun naik mengikuti petunjuk sang asisten. Sedangkan hatinya masih tertuju pada wanita di seberang mejanya
"Vi conoscete?"
(Apakah kalian saling mengenal?)
"Era il mio amante."
(Dulu dia adalah kekasihku)
Sang asisten begitu terkejut mendengarnya. Dia baru memahami situasi canggung yang terjadi diantara mereka.
"Its seems like you need time to talk." Ucap sang asisten dengan logat Itali yang begitu kental.
Kemudian dia dan David keluar dari ruang rapat yang bisa menampung lebih dari tiga puluh orang.
🌲🌲🌲
Kinan dan Arin sedang beristirahat di kamar hotel mereka karena acara akan dimulai setelah coffee break sore nanti, tak lama Febi, Siska dan Noni mendatangi kamar mereka membawa berbagai macam cemilan untuk mereka nikmati. Walaupun sebenarnya mereka ingin mengorek tentang cerita rumah tangga Kinan dan Langit yang begitu mengguncang jiwa mereka sejak beberapa hari lalu.
"Mbak cape?" Tanya Febi yang terdengar sangat basa-basi.
"Kamu mau nanya apa?" Tanya Kinan yang sedang menangkupkan tubuhnya di atas kasur hotel sambil membuka akun instagramnya.
Febi cekikikan karena niatnya sudah tercium Kinan. "Aku penasaran kok bisa kalian nikah? Ceritain donk Mba awal mulai kalian bertemu!"
Kinan membalikkan tubuhnya dan menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidurnya.
Kinan mengangkat wajahnya berusaha mengingat pertemuan pertamanya dengan Langit. Dia kemudian cekikikan sendiri mengingat takdir mempertemukan mereka beberapa bulan lalu itu.
"Ih si Mbak, belum cerita udah ketawa-ketawa sendiri." Febi mulai merajuk.
"Aku bingung kok bisa Pak Langit yang sedingin es balik bisa nikah sama Mbak Kinan yang cerah ceria seperti mentari pagi? Sifat kalian tuh bertolak belakang banget tau Mbak." Sambung Noni.
Lagi-lagi Kinan tertawa. "Itu namanya takdir." Jawab Kinan asal.
"Mbak, jadi bener ya kata yang anak-anak yang dibilang di kantin?" Febi malu-malu ketika bertanya hal yang tidak jelas maksudnya itu.
"Itu loh yang dibilang sama Mbak Ajeng waktu kita di kantin, Kalo cowok dingin itu liar di ranjang." Gadis bertubuh kecil itu berujar dengan wajah sangat penasaran.
Walaupun sedikit terkejut Kinan berusaha menutupinya. "Mmmm,,, gimana ya kasih tau ga ya?" Kinan pura-pura berfikir membuat para teman wanitanya semakin penasaran.
"Cerita dong Mbak!" Febi mulai tidak tahan ingin tahu lebih dalam lagi.
"Menurut aku sih biasa aja." Jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya seolah tak ada yang spesial dengan hal itu.
"Gimana bisa biasa aja, tadi aja waktu kalian ciuman di ruangan Pak Langit dia agresif banget nyium Mbak Kinan ampe aku yang liatnya aja panas dingin." Timpal Airin sambil memasukan cemilan ke mulutnya.
Sontak semua mata yang ada di kamar itu tertuju pada asal suara Arin, seolah meminta penjelasan lebih terperinci lagi. Tapi tidak untuk Kinan wajahnya mulai terasa panas ketika tahu Arin memergoki mereka berciuman tadi pagi.
"Kamu liat semuanya?" Kinan penasaran.
Arin mengangguk malu. "Semuanya lah Mbak, tangan Pak Langit yang gerayangan kemana-mana juga aku liat." Jawab Arin malu-malu.
Kinan menenggelamkan wajahnya di bantal. Malu. Benar-benar sangat malu, hingga ia ingin pergi dari tempat itu.
"Gerayangan gimana maksudnya Rin?" Siska jadi ikut penasaran, padahal tadinya dia malas membahas urusan ranjang atasannya.
"Jangan diterusin!" Teriak Kinan yang kini semakin merah wajahnya.
Tapi penyataan Arin membuat fantasi liar di kalangan teman-temannya dengan apa yang dilakukan Langit dan Kinan pagi tadi.
🏢
"Sudah lebih dari tiga tahun sejak kamu mengembalikan cincin pertunangan kita ya?" Langit memulai perbincangan mereka berusaha menutupi gemuruh hebat dalam dirinya.
Tak ada jawaban dari Rianti membuat suasana hening sejenak.
Rianti hanya tersenyum getir, bayangan kebersamaan mereka kembali hadir dalam ingatannya yang sudah lama ingin dia hapus.
"Kamu masih sama." Suara lembut itu memecah keheningan mereka.
Langit memperhatikan raut wajah wanita berlesung pipi di hadapannya sambil mencerna maksud perkataan Rianti. "Apa maksudmu?"
"Masih tampan, dingin tapi berkharisma." Rianti mencoba memberanikan diri menatap mata yang selalu menampilkan kesan dingin itu.
Langit tersenyum miring seperti mencemooh perkataan mantan tunangannya itu. "Lalu sekarang kamu mau bilang jika menyesal telah meninggalkanku?" Terdengar jelas ejekan dari nada suara yang Langit keluarkan.
"Sejak hari itu hingga detik ini aku terus menyesali setiap kata yang telah aku ucapkan kepadamu." Ucap Rianti lirih.
"Aku selalu berharap bisa memutar waktu, kembali ke hari dimana aku memutuskan pertunangan kita, dan menarik semua kata-kata yang aku ucapkan.." Ujar Rianti dengan mata yang berkaca-kaca berusaha menahan deraian air matanya.
Tapi itu bukan jawaban yang diharapkan Langit, dia tidak menyangka jika Rianti akan mengutarakan semua isi hatinya selama ini. Dia kira Rianti akan dengan angkuhnya menyangkal semua yang Langit ucapkan. Tapi nyatanya, kini hatinya seperti luluh melihat air mata yang mulai menetes di pipi wanita cantik itu.
Kebencian yang selama ini dia pendam untuknya mulai terkikis melihat penyesalan yang Rianti ungkapkan kepadanya.
Telepon dari Bara memecah pikiran Langit yang sedang berperang melawan hatinya.
"Ada apa?"
"Kak sepertinya kepala bagian pemasaran sedang berusaha menggoda istrimu. Dia terus saja berdekat-dekatan dengan Kak Kinan. Dia terang-terangan berusaha mendekati istrimu." Ucap Bara menggebu-gebu ketika melihat kakak iparnya didekati pria lain.
Langit seketika menjadi marah dan melupakan kisah cintanya yang telah lama kandas. "Apa kau bilang? Berani-beraninya dia berusaha menggoda istriku. Lalu apa yang kau lakukan disana hah?" Bentak Langit gusar.
"Kau harusnya menjauhkan bedeb*h tengik itu dari istriku Bodoh!" Bentak Langit tanpa mempedulikan Rianti yang terkejut mendengar perkataan Langit dengan seseorang di seberang telepon sana yang dia tidak tahu siapa.
"Istri?"