LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Menghapus luka



Udara kafe terasa begitu aneh untuknya saat itu, terasa sesak, penat hingga dia terlihat gelisah, tapi hal apa yang membuatnya segelisah itu pun dia masih belum tahu. Tanpa dia sadari Kinan terus saja memandang layar handphonenya berharap ada pesan atau telpon masuk dari suaminya. Kelakuannya membuat Fadly menyunggingkan senyum. 


"Akhirnya kamu bisa merasakan apa yang disebut jatuh cinta." Ucapan Fadly membuat Kinan memalingkan wajahnya ke arah Fadly. 


"Maksud lo?" Kinan bingung dengan ucapan sahabatnya. 


Fadly tersenyum melihat wanita pujaannya tidak menyadari kalau dirinya sedang jatuh cinta pada suaminya sendiri. 


"Lagi nungguin telpon masuk dari Tuan Rentenirmu itu kan?" Goda Fadly. 


Kinan menaikkan satu alisnya dia masih belum bisa menerima jika dirinya telah jatuh cinta pada suaminya. 


"Aku? Jatuh cinta?" Kinan mencibir. 


"Terus apa perasaan kamu pada dia jika bukan cinta? Masih benci?" Fadly menyudutkan sahabatnya. 


Kinan mulai berfikir, sejauh ini dia memang tidak bisa jauh dari Langit terutama saat malam hari. Bau tubuh suaminya membuatnya nyaman, pelukan hangat suaminya membuatnya terlelap, dia pun sangat menikmati setiap sentuhan suaminya. Apa ini bisa disebut cinta? 


Ataukah hanya sebatas kebiasaan? 


Bahkan sampai saat ini pun Kinan belum pernah mendengar suaminya menyatakan cintanya pada Kinan? 


Apa yang sebenarnya terjadi? 


Mereka saling mencintai ataukah hanya sebatas saling membutuhkan?


Pemahaman Kinan tentang cinta memang sangat dangkal. Hingga harus ada seseorang yang menyadarkannya bahwa dia telah mencintai suaminya. 


"Did you get the answer? What your heart feels?" Tanya Fadly ketika melihat Kinan hanya termenung tanpa kata. 


"I can't understand my feelings yet. This is too complicated for my heart to understand." Jawab Kinan sambil menangkup wajahnya di atas meja kafe. Dan kembali menyelami pikirannya sendiri. 


Satu jam kemudian Kinan dan Fadly kembali ke ruangan Rianti. Suasana sudah mulai mencair tak sekaku saat pertama dia memasuki ruangan itu. Rianti dan Langit terlihat sedang tertawa, entah apa yang mereka tertawakan. Mata Rianti terlihat lebih bengkak dari sebelumnya, tapi sudah tak terlihat lagi kekecewaan dan kesedihan di matanya seperti saat pertama Kinan jumpai. Pastinya dia telah banyak mengeluarkan air matanya waktu Kinan dan Fadly tinggalkan. 


"Bawa apa?" Tanya Langit melihat tas plastik di tangan istrinya. 


"Makanan untukmu." Jawab Kinan datar, tak bisa Kinan pungkiri ada gemuruh hebat saat dia melihat suaminya tertawa dengan wanita lain, karena ini pertama kalinya Kinan melihat Langit akrab dengan orang lain apalagi wanita. 


Tahu mood istrinya sedang tidak baik dia menghampiri istrinya yang sedang melihat game baru buatan Fadly. 


Langit menggeser Fadly dengan tubuhnya dan duduk diantara mereka. "Aku sudah bilang, aku tidak suka kau berdekatan dengan pria ini." Ucap Langit sambil menepuk-nepuk bahu Kinan yang tadi di rangkul Fadly. 


"Aku berdekatan dengan Fadly kamu tidak suka, aku dekat dengan Natan juga tidak boleh, bahkan kamu marah waktu Rendi dekat denganku." Ucap Kinan tanpa mengalihkan matanya pada gadget milik Fadly yang sedang ia kuasai. 


"Tanya saja sahabatmu, apa dia juga akan melakukan hal sama denganku jika dia jadi suamimu?" Balas Langit. 


Kinan menjulurkan kepalanya karena terhalang suaminya untuk melihat Fadly. "Apa itu benar?" Tanya Kinan pada Fadly. 


"Entahlah, mungkin jika aku sangat mencintaimu aku akan melakukan hal yang sama dengannya." Fadly sengaja menyindir Langit.


"Lihatlah betapa bodohnya istriku." Ucap Langit seraya bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Rianti yang sedang kesulitan mengambil gelas di nakas samping tempat tidurnya.


Cih, lihat dia berusaha mengalihkan pembicaraan. Sesenang itukan kau melihat mantanmu masih mencintaimu.


Kelakuan Langit itu kembali membuat dada Kinan kembali panas. Tapi dia berusaha menutupi gemuruh hatinya dengan terus sibuk berbicara dengan Fadly, membahas game baru yang akan Fadly luncurkan.


"Fad apa lu ga takut kesaingan sama game battle royal yang lain? Apa kelebihan dari game yang kalian buat dibandingkan game produsen lain? Kan kita harus punya poin plus untuk menarik minat pasar." Ucap Kinan sambil mencoba permainan baru yang Fadly buat. 


"Coba saja dulu olehmu, dan kamu akan tau apa kelebihan game buatanku. Setelah itu aku buat para investor untuk datang kepadaku tanpa aku harus repot-repot menyodorkan proposal apapun." Ucap Fadly dengan penuh percaya diri. 


Langit yang mendengar perbincangan mereka pun ikut tertarik dengan game yang dibuat, jiwa bisnis terpanggil mendengar perbincangan mereka. Lagi-lagi Langit duduk diantara mereka, membuat Fadly hampir terjungkal dari sofa, hingga akhirnya Fadly lebih memilih berbincang dengan Rianti. 


"Mereka berdua benar-benar pasangan yang tidak punya hati nurani, bisa-bisanya bermesraan di atas penderitaan orang lain."Fadly sengaja menyindir mereka, berusaha memberikan dukungan moril pada Rianti agar dia bisa tegar melihat kemesraan pasangan yang tidak tahu tempat itu. 


"Aku tidak tahu jika kau lihai dalam permainan seperti ini." Langit terus memperhatikan Kinan yang terlihat khusyuk dalam permainannya.


"Aku punya julukan Queen of the game." Kinan membanggakan dirinya.


"Tapi aku lebih suka dengan julukan Queen of the bed." Bisik Langit. 


Kinan menggerakan bahunya kasar, berusaha melepaskan tangan suaminya yang sedang merangkul dirinya. "Dasar mesum! Otakmu hanya penuh dengan kemesuman."


"Hei, kalian benar-benar tidak sopan. Kenapa kalian terus memamerkan kemesraan di tempat umum? Benar-benar jahat." Kali ini Rianti yang sengaja menyindir mereka. 


"Berhenti bicara yang tidak-tidak! Dasar otak mesum!" Kinan kembali menggerak-gerakan bahunya agar suaminya menyingkir. Tapi apa yang Langit lakukan, dia semakin menggoda istrinya dengan terus berbisik kata-kata vulgar di telinga Kinan.


"Gimana game terbaru buatanku?" Tanya Fadly tak memperdulikan Langit yang terus-terusan mengganggu Kinan yang tengah asik bermain game. 


"Keren, aku suka. Kapan dirilis?" Tanya Kinan yang masih sibuk. 


"Apa kau suka gamenya?" Tanya Langit yang kini memperhatikan jempol istrinya yang sangat lihai menari-nari di atas layar gadget. 


"Hmmmm." Kinan mengangguk.


"Kalau begitu aku akan jadi investor proyek game ini."


Ucapan Langit membuat Kinan dan Fadly terkejut. Mereka tak menyangka jika manusia es itu akan menginvestasikan uangnya hanya untuk sebuah game yang sepertinya dia tidak terlalu tertarik di dalamnya. 


"Bagaimana jika gagal? Karena pastinya akan banyak uang yang akan kau keluarkan." Tanya Kinan memastikan ucapan suaminya. 


"Aku tak akan jatuh miskin hanya karena membuang beberapa digit nominal uang." Kesombongan Langit terpancing, membuat semua orang serempak menarik sebelah sudut bibirnya melihat betapa sombongnya pria berwajah tampan itu. 


"Cih, sombongnya dirimu." Kinan mencubit pipi suaminya, gemas.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, jam dinding di ruangan itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kala itu Fadly dan Langit baru selesai membahas proyek kerja sama mereka. Rianti sedang berbincang dengan asistennya yang datang dua jam yang lalu, sedangkan Nyonya Langit tengah terlelap di pangkuan suaminya. Tak ada lagi ketegangan di antara mereka. 


Walaupun tak bisa dipungkiri luka yang Langit torehkan untuk Rianti masih sangat basah, dan nyeri. Tapi dia akan berusaha mengobati luka itu walaupun dia tahu akan ada bekas luka setelahnya yang tak akan pernah hilang.