LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Makan Siang



Sejak terbongkarnya hubungan mereka Kinan dan Langit selalu berangkat dan pulang bersama, atau Kinan akan diantar oleh supir jika Langit sedang pulang telat. Semua karyawan otomatis menundukkan wajahnya bila bertemu mereka. Dan bergunjing setelahnya, mereka seperti belum menerima jika Langit telah dimiliki wanita lain. Apalagi setelah melihat betapa cintanya Langit pada istrinya. 


"Aku masih nyesek tau liat mereka jalan berdua. Apalagi setelah liat badan seksi Pak Langit. Makin tersiksa batinku."


"Elo pikir gue kagak? Ampir tiap malem gue mimpiin badan seksi itu."


"Beruntung banget tuh cewek bisa menikmati pujaan gue tiap hari." Timpal yang lain. 


Seperti itulah obrolan-obrolan mereka setiap harinya. Dan Kinan pun tahu tentang itu semua.


Kinan sedang berleha-leha di biliknya, dia sudah menyelesaikan tugasnya dari satu jam yang lalu. Langit sedang rapat bulanan bersama para pemegang saham saat ini, hingga dia tak bisa menemani suaminya. 


Pertanyaan Bara beberapa waktu lalu terus saja terngiang-ngiang di telinganya. 


🐣Flashback On🐣


Kinan dan Langit sedang menikmati akhir pekan mereka di rumah orang tua Langit, sore itu Langit dan ayahnya sedang membahas tentang perkembangan perusahaan.Sedangkan Bunda sedang menemani nenek cek up ke klinik. Maklum lah penyakit usia senja kadang suka datang tiba-tiba. 


Hanya Kinan seorang diri yang tengah duduk di depan ruang TV sambil sesekali mencuri pandang kepada suaminya yang begitu serius mengobrol perkembangan perusahaan walaupun kadang diselingi senyum yang membuat Kinan ikut tersenyum juga. 


"Kak kapan kalian akan memberikan aku keponakan?" Tanya Bara memecah lamunan Kinan. 


Sejauh ini Kinan belum pernah memikirkan tentang anak, karena dia merasa hubungannya dengan Langit hanya sebatas saling membutuhkan.


"Aku belum memikirkan tentang seorang anak, bahkan perasaanku terhadapnya pun aku belum bisa mengerti." Ucap Kinan sambil memandang wajah suaminya yang kali ini sedang memijat batang hidungnya saat berbicara dengan mertuanya di teras rumah. 


Dia benar-benar bodoh. 


"Memang selama ini apa perasaanmu terhadap kakakku?" Suara Bara kini naik satu oktaf karena kesal mendengar jawaban Kinan. 


"Aku tak tahu."


Bara menarik nafas dalam-dalam untuk mengontrol emosinya. "Sekarang ku tanya padamu. Apa kau merasa rindu saat kalian berjauhan?" 


"Ya, aku rindu. Bahkan sekarang aku sulit tidur jika jauh darinya." Jujur. 


"Tapi bukankah itu wajar, bahkan waktu pertama aku berpisah dengan orang tua ku pun aku merasakan hal yang sama. Aku juga merindukan Bunda dan Papi jika aku tidak berkunjung kesini." Lanjutnya. 


"Kau ini benar-benar bodoh tentang cinta ya!" Bara mulai kesal mendengar jawaban Kinan. 


"Sekarang ku tanya lagi apa kau pernah merasa cemburu kepada Kakakku? Saat dia sedang bersama Mantan tunangannya apa kau juga merasa kesal dan ingin marah?"


"Apakah itu yang disebut cemburu? Kalo memang seperti itu cemburu, aku merasakannya."


Jawaban Kinan membuat Bara antusias. 


"Tapi bukankah itu juga hal yang wajar, saat milikmu diambil atau dikuasai orang lain kau juga akan merasa marah kan!"


"Kakakku itu bukan barang. Kau ini sudah mencintai Kakakku, tapi kau tidak sadar. Dasar bodoh!" Bara sudah tidak bisa lagi menahan emosinya untuk tidak mengumpat kakak iparnya itu membuat Kinan tersulut emosi.


"Hei kau kenapa terus memanggilku bodoh? Bahkan Kakak kebanggaanmu saja belum pernah mengucapkan cintanya kepadaku." Bentak Kinan. 


Disaat itu Langit datang bergabung bersama mereka. "Ada apa ini?" Langit melihat ketegangan di antara kedua orang yang dia sayangi. 


"Istrimu itu bodoh! Benar-benar bodoh. Setelah semua perlakuan yang kau berikan untuknya, dia masih saja meragukan perasaanmu." Bara mengendus kesal. 


"Cih, dasar adik ipar durhaka!" Balas Kinan. 


"Kak sepertinya kau harus mencari istri baru yang lebih mengerti perasaanmu!" Ucap Bara yang kini lebih memilih menikmati acara kartun favoritnya. 


"Istri satu saja sudah membuat hidupku jungkir balik." Langit tertawa kecil. 


"Langit sudah menemukan bintangnya. Bukankah nama tengahmu adalah Bintang? Bahkan nama kami pun sudah saling melengkapi." Langit mengecup bibir istrinya yang masih cemberut karena ulah Bara.


"Tapi aku lebih suka menjadi bintang laut daripada menjadi bintang di langit." Jawaban Kinan kembali menyulut emosi Bara. 


"Iya memang kau pantasnya jadi bintang laut, karena kau sama bodohnya dengan dia." Bara menunjuk karakter kartun bintang laut berwarna pink bernama Patrick.


Langit tidak berusaha melerai pertengkaran mereka berdua, karena Langit tahu bahwa istrinya juga mencintainya, walau mungkin tak sebesar cinta Langit untuknya.


"Kak sekarang aku tanya padamu kapan kalian akan memberikan keponakan untukku?" Bara bertanya pada Langit. 


"Segera, aku akan mencetak beberapa ponakan yang lucu-lucu untukmu." Ucap Langit seraya menggendong tubuh ramping Kinan dan membawanya ke kamar mereka di lantai atas. 


Kelakuan pasangan itu selalu berhasil membuat para penghuni rumah tersenyum melihatnya termasuk para pembantu yang takjub melihat perubahan besar manusia es yang selalu membuat udara menjadi dingin bila di dekatnya. 


Kinan berjalan ke bilik Arin, dia melihat tumpukan dokumen yang menunggu untuk diselesaikan membuat Kinan ingin membantu menyelesaikan pekerjaannya seperti biasanya. 


"Ada yang bisa aku bantu?" Kinan menawarkan diri. 


"Banyak. Tapi aku takut suamimu menegurku lagi." Jawab Arin sambil memindahkan tugas-tugasnya dari hadapan Kinan.


"Kapan dia menegurmu?"


"Bukan dia saja tapi kita semua." Keluh Febi yang juga sedang sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk. 


Kinan terkejut mendengar ucapan Arin dan Febi, dia tidak menyangka suaminya akan  menegur teman-temannya yang suka meminta bantuannya. 


Hingga akhirnya dia memilih kembali ke biliknya, karena tak ada satupun dari mereka yang ingin mendapatkan bantuan darinya. 


Satu jam kemudian ruang rapat terbuka, menandakan rapat telah usai, ada sekitar dua puluh orang petinggi perusahaan yang keluar dengan raut wajah yang berbeda. Ada yang terlihat gusar, ada yang terlihat kecewa, tapi banyak juga diantara mereka yang terlihat senang. 


Beberapa terdengar merutuki Sang Presdir yang sepertinya telah mengetahui kelakuan culas mereka.


"Ayo kita makan siang!" Ajak Langit sambil melirik jam tangannya. Waktu jam makan siang masih lima menit lagi. 


"Aku ingin makan siang dengan teman-temanku. Sudah lama aku tak makan dengan mereka." Jawab Kinan yang masih kesal dengan kelakuan suaminya yang telah menegur rekan kerjanya. 


"Tak masalah. Aku ikut-ikut saja." Jawab Langit yang kini tengah duduk di meja kerja istrinya. 


Jawaban Langit sontak membuat teman-teman Kinan merinding membayangkan makan satu meja dengan pria dingin tersebut. 


"Aku kira teman-temanmu juga tak akan keberatan tentang itu. Bukan begitu?" Tanya Langit pada para karyawannya. 


Mau tak mau para karyawan pun langsung menganggukan kepala mereka tanda setuju. 


"Kau tak tahu saja, aku sering mengajak mereka mengobrol di ruanganku." Ucap Langit yang terus memperhatikan isi meja kerja istrinya. 


Mengobrol baginya tapi ancaman bagiku. Batin mereka. 


Kinan tak menimpali.


"Kau harusnya memasang foto suamimu di meja kerjamu." Usul Langit. 


"Aku tak ingin melihat teman-temanku ketakutan melihat fotomu." Jawab Kinan ketus. 


Hal itu membuat Langit terbahak-bahak, tapi tawa Langit membuat para karyawannya terlihat ketakutan.


"Mbak kita duluan." Ucap Arin. 


"Ya kalian duluan saja, ada yang ingin aku selesaikan dulu dengan istriku."


Jawaban Langit membuat Arin tersenyum karena dia teringat adegan mesum yang mereka lakukan di ruangan Langit.


Tepat seperti dugaan Arin, Langit meminta sebuah ciuman panas setelah melihat mereka menghilang dibalik lift. 


Kedatangan Langit di kantin perusahaan membuat suasana kantin menjadi riuh beberapa detik dan sunyi setelahnya. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang tersedak makanan dan minuman mereka. Hal itu membuat Kinan tak enak hati karena membuat ketegangan di waktu istirahat mereka. 


"Kita pindah tempat saja. Aku tidak enak membuat karyawan yang lain tegang karena berada satu ruangan denganmu." Bisik Kinan pada suaminya yang kini tengah dirangkul Langit. 


Tapi Langit seolah tak peduli, dia terus berjalan menghampiri para rekan kerja Kinan. 


Melihat wajah teman-temannya yang terlihat tegang Kinan mengajak suaminya untuk pindah tempat. "Kita duduk di sebelah saja ya. Disini sempit."


Semua rekan kerja Kinan langsung menghembuskan nafas lega ketika Langit berpindah meja. 


Sunyi sekali keadaan kantin siang itu, kecuali kedua orang makhluk yang menciptakan ketegangan itu, mereka tampak santai menikmati makan siang mereka. Bahkan sesekali saling menyuapi makanan mereka masing-masing, membuat hati para karyawan wanita meleleh dibuatnya. 


Tujuan Langit makan disana sebenarnya bukan hanya untuk sekedar makan, tapi juga untuk memberitahu semua warga kantor bahwa dia yang lebih mencintai istrinya, tidak seperti anggapan mereka selama ini yang menuduh Kinan menggodanya selama ini. 


"Sesek nafas gue. Ampe nahan nafas gue."


"Berasa mimpi satu udara sama Singa."


"Pak Seksiku kok kayak orang yang cinta mati ma bininya ya!"


"Gue ga ikhlaaaaass." Rengek yang lainnya. 


Itulah salah satu komentar-komentar para karyawan sepeninggal mereka berdua.