
🍀Jika dulu kau adalah musibah, tapi saat ini kau adalah anugerah🍀
Malam ini Kinan sedang mempersiapkan semua barang bawaannya karena besok Kinan dan para karyawan kantor melaksanakan gathering yang akan dilaksanakan selama tiga hari kedepan. Belum juga berangkat Langit sudah uring-uringan membayangkan dirinya akan ditinggal pergi istrinya.
"Kenapa kau terlihat begitu senang akan meninggalkan suamimu seperti ini Bodoh?" Langit begitu kesal melihat istrinya tidak terlihat galau sedikit pun akan meninggalkannya.
"Lalu mau mu aku harus bagaimana?"
Langit menjentikkan jarinya kepada istrinya dan mata tajamnya menunjuk ke pahanya.
Paham akan kode dari suaminya Kinan langsung menghampirinya dan duduk di pangkuannya.
"Apa?" Tatapan mata mereka bertemu, ada banyak cinta dari mata yang selalu menghipnotis para karyawannya agar menundukkan wajahnya itu ketika memandang wajah cantik istrinya.
"Aku hanya ingin ini." Jawab Langit dan membenamkan wajahnya di perpotongan leher istrinya.
Entah sejak kapan dia mencari candu dengan wangi tubuh wanita yang membuatnya kesal setengah mati ketika pertama kali bertemu. Terkadang dia tertawa sendiri ketika membayangkan kesan pertama saat mereka bertemu, dengan angkuhnya Kinan berkata semoga mereka tidak bertemu lagi karena tak sengaja bertabrakan di depan toilet hingga membuatnya terjerembab jatuh.
Tapi siapa sangka gadis sombong itu kini berada di pangkuannya. Jika awalnya dia menganggap memperistri Kinan adalah kesalahan besar, tapi kini dia sangat bersyukur karena telah memperistrinya.
Tak seorangpun bisa menentukan cinta, bahkan orang yang sangat dia hindari dulu bisa membuatnya tergila-gila setengah mati saat ini.
🌚🌚🌚
Kinan dan Langit sedang menatap Langit malam tanpa bintang di depan balkon kamar mereka.
"Apa kau tau kenapa orang tuamu memberikan nama Langit untukmu?" Kinan tersenyum membandingkan dua Langit yang berbeda, Langit malam yang gelap tak berbintang dan Langit suaminya dengan wajah putih bersih, dengan mata tajam dan alis yang tebal membuatnya jadi terkesan dingin.
"Itu nama pemberian Mami. Dia ingin aku seperti langit yang berwarna biru yang membuat tenang mata yang melihatnya." Jawab Langit sambil tersenyum tapi terdengar lirih.
Kinan menatap wajahnya. "Mami? Bunda maksud kamu? Tenang? Ga salah? Kamu tuh lebih tepatnya kayak Langit waktu lagi badai petir, nyeremin." Kinan cekikikan.
"Bunda itu istri kedua Papi. Dia ibu tiriku. Bisa tidak kau tidak mengajakku perang mulut sehari saja?"
Kinan begitu terkejut mendengarnya, dia tidak pernah menyangka jika Bunda adalah ibu tiri suaminya, karena Bunda begitu baik dan terlihat sangat tulus menyayangi Langit.
"Lalu Bara?"
"Dia anak Papi dan Bunda, Mamiku meninggal sewaktu umurku lima tahun. Waktu itu aku dijemput dari sekolah oleh supir dan langsung membawaku ke rumah sakit. Aku sudah sedikit lupa, tapi yang jelas ketika aku diantar ke ruangan rumah sakit untuk pertama kalinya aku melihat Papi menangis sambil memeluk tubuh Mami. Setelah itu aku tidak ingat lagi, karena kata Nenek aku pingsan setelah tahu Mami meninggal. Tapi aku benar-benar lupa." Langit kembali menerawang ke kejadian puluhan tahun lalu. Dia mengambil nafas panjang dan dan menghembuskannya dengan kasar sebelum memulai bercerita lagi.
"Beberapa tahun kemudian Papi menikah lagi dengan Bunda yang adalah teman wanitanya sewaktu kuliah, saat itu Bunda tak sengaja melamar kerja di kantor Papi dan akhirnya dia menjadi sekretaris Papi seumur hidup, kemudian lahirlah Bara ketika umurku sembilan tahun. Sebenarnya aku mengharapkan adik perempuan tapi sialnya aku mendapatkan dia." Ucap Langit dengan nada terdengar kesal seolah itu adalah sebuah kesialan mempunyai adik seperti Bara.
"Pantas saja aku tidak melihat kemiripan diantara kalian. Ku kira tadinya kau anak pungut mereka tapi kau tidak tahu sehingga kau jadi congkak, dan setelah tahu nanti kau akan terpuruk dan depresi. Disaat itulah aku berniat akan menjatuhkanmu dulu." Ucap Kinan tanpa menyadari apa yang telah dia ucapkan kepada suaminya dan masih memandang Langit malam dengan pikiran yang melayang entah kemana.
Mendengar ucapan istrinya yang begitu polos membuat Langit menahan tawa nya. "Apa kau bilang tadi? Kau akan menjatuhkanku? Waaah kau benar-benar jahat sekali. Dasar licik." Langit pura-pura marah dan memasang wajah kesalnya.
"Apa aku bicara seperti itu?" Kinan terkejut saat tahu suami mengetahui apa yang ada di otaknya pikirkan tadi.
Bukankah aku hanya bergumam dalam hati?
Apa dia bisa mendengar suara hatiku?
Dan seringai licik pun kini telah terpancar di wajah suaminya, dan pastinya Kinan harus membayar mahal untuk ini dengan malam yang erotis.
☀☀☀
Para karyawan begitu terkejut ketika melihat semua para karyawan yang ada di divisi perencanaan berkumpul di ruangan Presdir mereka.
Karena seperti yang sudah-sudah tak ada satu orang pun yang berhasil keluar dari ruangan penghakiman itu dengan wajah berseri.
Ada apa? Kesalahan apa yang telah mereka perbuat? Apakah ini adalah hari terakhir mereka hidup di dunia ini? Suara hati mereka tergambar jelas dari raut wajah tegang yang mereka tunjukkan.
Kedelapan orang itu berbaris rapi di seberang singgasana Langit. Wajah mereka pun serempak menatap jari-jari mereka yang kini saling bertautan.
Doa terus menggema di hati masing-masing, berharap ini bukanlah hari pertama dan terakhir mereka memasuki ruangan keramat itu.
"Kenapa kalian tidak menatap wajahku?" Sebuah pertanyaan sederhana, tapi membuat bulir-bulir keringat bercucuran.
"Siapa diantara kalian yang satu kamar dengan istriku?"
Perlahan Arin mengangkat tangannya, dengan wajah yang masih menatap lantai marmer ruang kerja Si Gunung es.
Apakah ini adalah kesalahan?
Bukankah pembagian kamar sudah diatur oleh para panitia? Arin begitu gugup sambil melipat bibirnya yang sedikit bergetar.
Langit tersenyum, entah apa arti dari senyumannya tapi yang jelas mereka semakin takut dan berharap senyuman itu bukanlah suatu ancaman untuk mereka.
"Karena tak ada seorangpun selain kalian yang tahu bahwa si cerewet itu istriku, jangan biarkan seorang pun mendekatinya, begitu pun denganmu!" Langit menunjuk Natan yang terlihat tampan dengan pakaian casualnya.
Natan menelan ludah dengan susah payah, dia sadar jika selama ini dia selalu mendekati Kinan. Itupun bukanlah salahnya, salah mereka menyembunyikan pernikahannya kepada semua karyawan.
Natan semakin menundukkan kepadanya, dan sedikit menggigit bibir bawahnya.
"Jika sampai kulihat lagi kau berusaha menggoda istriku, akan kupastikan kau dipecat tanpa pesangon!" Ancam Langit kepada laki-laki yang pernah mengganggu kencannya dengan Kinan.
🐣🐣
Kinan berjalan mengendap-endap menuju ruangan suaminya agar tidak diketahui oleh para karyawan yang kini sedang berkumpul di loby sambil menunggu bus yang akan membawa mereka pergi.
Dia sangat dikejutkan dengan penampakan para rekan kerjanya yang sedang menundukkan ketakutan di depan meja suaminya.
"Apa apa ini?" Pertanyaan penuh kekhawatiran.
Langit tersenyum melihat gadis cantik berambut panjang itu berjalan menghampirinya. "Aku hanya sedang memberikan sedikit pengarahan kepada mereka sebelum mereka berangkat, dan berharap jalan-jalan kali ini bisa berdampak positif bagi perusahaan." Sebelah tangan kekarnya direntangkan agar istrinya datang ke pelukannya.
Kinan hanya ber oh ria tanpa suara, sebelah tangannya sudah melingkar di pinggang suaminya.
Cih berdampak positif pada perusahaan apa untukmu Tuan? Hati mereka mencemooh pria yang terlihat begitu penurut kepada istrinya itu.
"Kalian boleh pergi." Dan secepat kilat mereka pun bubar seperti segerombolan semut yang ditetesi air.
"Apa apa?" Tubuh Langit sudah menghadap sempurna ke arah tubuh Kinan yang kini telah merapat satu sama lain.
"Pamit, sebentar lagi kami akan berangkat." Senyum indah itu mengembang melihat suami tampannya.
Arin teman sekamar Kinan berlari menuju ruangan keramat itu dimana Kinan berada, karena bus akan berangkat lima menit lagi.
Berkali-kali dia menelpon tapi tak diangkat, akhirnya dengan sangat terpaksa dia kembali ke kandang singa itu lagi.
Arin bersyukur melihat pintu ruangan itu terbuka, jadi dia tak harus mengetuk pintu itu.
Tapi betapa terkejutnya Arin melihat Langit dengan rakusnya mencium bibir istrinya dengan satu tangannya dengan nakal mer*m*s bokong istrinya.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Hati Arin menjerit.